Minggu-minggu pertama memasuki dunia kuliah amat menguras tenaga dan pikiranku. Padahal OSPEK aja udah ngos-ngosan sekarang ditambah kegiatan workshop selama dua hari, menginap pula. Akh... weekend yang harus kulalui tanpa molor di rumah.
Pagi ini semua peserta sedang chek in, akupun begitu. Antrian panjang membuatku bosan. Dari jauh kulihat Fahri berjalan kearahku sambil membawa sebotol air. Acara kali ini diadakan di bumi perkemahan cibubur. Setting alam bebas sebenarnya hal yang aku suka tapi tidak di hari minggu ini karena dari awal aku sudah memiliki janji dengan Sani untuk datang ke acara ulang tahunya.
"Udah daftar Re?" Tanya Fahri saat jarak kami sudah dekat.
"Belum, masih antri tuh" tunjukku pada barisan mirip main ular-ularan panjang.
Fahri sekarang jauh berbeda dengan saat di SMA, secara mental dia sudah terbiasa berkomunikasi dengan banyak orang. Secara penampilah bahkan amat jauh lebih sempurna. Tingginya yang menjulang, wajah setengah bule, hidung mancung tapi masih kalah mancung sama pinokio, dan otak mumpuni sebagai mahasiswa berprestassi. Berbanding terbalik saat di SMA yang menjadi bulan-bulanan karena semua keindahan rupawan miliknya tertutup kacamata tebal. Hanya otaknya saja yang masih sama bahkan semakin terasah mungkin.
"Gimana kabar tetanggamu yang siapa namanya...ehmm"
"Kambing?"
"Iya. Kok lucu sih kami kasih julukan?"
"Itu nama spesial dariku Ri. Hanya aku yang manggil nama itu. Kenapa emangnya?"
"Ah gak papa kok cuma tanya aja" Melihat antrian sudah semakin berkurang, Fahri menyuruhku segera bergabung sedangkan dia pergi menuju kegiatan fakultasnya sendiri yang kebetulan di lokasi yang sama.
Mengingat Abi membuatku tersenyum geli saat kemaren lihat bayinya Kak Ara yang imut, lucu dan mungil, dia mengajakku makan di kantin. Bukan hal istimewa jika masalah makannya melainkan kalimat pertnyaan yang amat menggelikan sekaligus memalukan soal wajah anak kami kelak. Lah emang kita mau bikin anak berdua? Jauh amat mikirnya. Tapi kalo emang iya juga rela aku bang....
Hari pertama dilalui dengan seminar, sedangkan esok hari akan banyak kegiatan outdoor. Malam ini kami sudah dibagi masing-masing kelompok untuk kegiatan esok hari yang kebetulan teman satu tendaku adalah teman satu kelompok.
* * * *
Hari yang melelahkan, sore pukul tiga aku baru saja sampai di rumah di antar Fahri dengan mobilnya. Sesampai di rumah, Mama menyambutku dengan girang karena pada akhirnya anak sulungnya pulang dalam keadaan utuh, pasalnya sejak berangkat aku lupa mengisi daya ponselku, sampai di sana malah aku kehilangan benda itu saat kegiatan outdoor.
Mandi kemudian melepas lelah dengan tidur adalah pilihan tepat. Hingga hari mulai gelap Mama dengan teriaka maut membangunkanku.
"Re... udah mau magrib, bangun!"
Masih dengan mata terpejam akupun duduk memastikan pada Mama jika aku memang sudah bangun.
"Kamu nih anak gadis tidur mirip kebo. Magrib jangan tidur Re gak baik"
"Iya Ma ini juga udah bangun" Meski mata masih terpejam
"Kemaren nak Abi ke sini dia pamit pergi"
Mendengar nama Abi membuat mataku langsung terbuka sempurna.
"Apa Ma? Kak Abi pamit kemana?" Ulangku kembali.
"Katanya mau kembali ke Kalimantan, rumahnya juga sudah kosong" tanpa mengindahkan penjelasan Mama aku langsung berlari keluar menuju rumah Abi.
Teras rumahnya gelap namun pintu rumahnya terbuka. Berharap masih ada harapan aku langsung menerobos masuk.
"Loh.. Pak Tria kan?" Tanyaku pada seseorang yang sedang mengangkat televisi milik Abi.
"Iya. Kamu Renata yang barusaja lulus itu kan?" Tanyanya balik
"Kok bapak kenal saya padahal bapak tidak pernah mengajar di kelas saya"
"Owh itu, iya memang tapi saya ingat nama dan wajah kamu sebagai penerima beasiswa"
"Mau dibawa barang-barangnya Pak? Abi mana?" Tanyaku padanya"
Mau dijual kan Abi sudah tidak disini lagi. Kamu kok kenal Abi?"
"Saya tetangganya. Kira-kira kemana ya Pak?"
"Ke Kalimantan"
Dengan langkah lesu aku pulang kembali ke rumah. Kenapa pergk tiba-tiba sih Mbing?
Sesampai di rumah Mama memberiku sepucuk surat bersama bungkusan. Membuka bungkusan tebal yang ternyata sebuah bantal Shaun the Sheep dan segera membuka suratnya.
Rere....
Maaf aku harus pergi, Mama harus dirawat ke Singapura dan Papa menyerahkan tugasnya padaku.
Aku harus pergi tapi tidak untuk meninggalkanmu. Kejarlah impianmu yang aku tahu teramat sulit mencapai posisi ini.
Jangan menghubungiku jika memang diriku sebagai penghambat impianmu.
Rere....
Aku tetap menjadi pahlawanmu sampai kapanpun. Berjanjilan kita akan bertemu lagi.
Terima kasih untuk hari yang telah kita nikmati bersama.
Love You - Abinaya Kambing
Bulit air mataku menetes membasahi deretan kalimat yang terukir. Kertas ini semakin basah bahkan jika sedikit digesek akan berlubang. Kuusap kasar air mata yang tiba-tiba menyeruak keluar. Berpamitan cepat pada Mam kukendarai motorku menuju rumah Kak Dian.
Ya... hanya dia harapanku mengingat sahabat terdekat Abi adalah Kak Dian dan Kak Ara yang belum kuketahui alamatnya sedangkan rumah Kak Dia pernah sekali Abi mengajakku.
Sesampai di rumahnya kuketuk dengan tidak sabaran. Keluarlah Kak Dian yang bingung dengan keadaanku, hidung merah, mata sembab, rambut acak-acakan apalagi baju yang kupakai hanya baby dool seragam tidurku.
"Ya ampun Re, ayo masuk" ajak Kak Dian begitu melihatku dating
Kak Dian mengambilkanku minum, pikiranku entah kemana sedari tadi hanya duduk diam menatap meja ruang tamu.
"Kamu kenapa begini Re?" Tanyanya
"Abi kemana Kan? Kenap dia pergi?" Isakanku kembali terdengar, dengan sigap Kak Dian merengkuhku.
"Sssttt udah ya Re jangan nangis. Kemaren dia bilang katanya mau hubungin kamu gak bisa-bisa. Dia sudah pulang ke rumahnya di Samarinda. Perusahaan tambang milik Papanya sudah diserahkan untuk dikelola sementara orang tuanya sedang berobat ke Singapura" jelasnya seperti di surat Abi
"Tapi kenapa aku gak boleh hubungi dia? Apa karena jabatanya sudah tinggi makanya gak mau kenal anak kecil kayak aku lagi?" Tangisku mulai pecah.
"Bukan Re, Abi hanya ingin kamu fokus pada kuliah dan beasiswamu. Yakin Re, Abi bukan orang seperti itu"
"Dan sejak hari ini kontak Abi tidak bisa dihubungi gak tahu kenapa "
Pertanyaan terakhir membuat tangisku meledak. Abi benar-benar memutus kontaknya agar kami semua tidak dapat menghubunginya.
* * * * *
Setiap hari kucoba menghubungi nomor ponsel Abi dan hasilnya selalu nihil. Ponsel baruku sudah terisi nomor kontak baru namun nomor kontaknya sudah kuhafal diluar kepala. Berbagai informasi kulacak untuk mendapatkan kabar Abi dan selama sebulan ini hasilnya tetap nol.
Akun f*******:, twitter, i********: dan berbagai aku sosmed sudah ratusan kali kuketik nama yang berhubungan dengan Abinaya pun tak menunjukkan hasil akurat.
Waktu berlalu hingga lambat laun aku lelah mencari informasi tentangnya. Kak Dian pun juga tidak bisa mendapatkan kabar Abi sama seperti Kak Ara maupun Pak Tria.
Dan kesibukanku semakin menguapkan semangat pencarian Abi. Aku lelah...
Hingga kuputuskan melakukan pesan Abi pada suratnya. Aku akan meraih mimpiku, meski bukan menjadi Dokter setidaknya aku membuat Mama dan Abi bangga.
Aku lelah mencarimu.
Biar waktu menjawab keberadaanmu.
Baik-baiklah di sana.
Aku merindukanmu.
----------------------------------------------