Empat tahun berlalu......
Adiyatma grup, salah satu perusahaan tambang batu baru besar yang terletak di pulau Kalimantan, lebih tepatnya daerah Samarinda Ibukota wilayah Kalimantan bagian Timur. Belasan tahun lalu perusahaan ini dibangun oleh dua orang sahabat yang salah satunya adalah Papaku, Ardinata.
Empat tahun ini hidupku berubah begitu padat. Menjabat sebagai konsultan hukum di perusahaan milik Papa membuatku semakin terdesak segera menggantikan posisinya sebagai CEO, posisi tertinggi sebagai pemilik karena sahabat Papa yang membantu mendirikan perusahaan ini sudah meninggal dua tahun lalu. Berhubung beliau tidak memiliki anak sebagai penerus hingga menyerahkan seluruh kendali perusahaan pada keluargaku. Meski begitu keuntungan perusahaan tetal kami bagi rata untuk istri beliau.
Empat tahun berlalu tanpa dirinya. Melupakan cinta pertama terasa sulit pada awalnya namun cinta yang lain tiba-tiba hadir membuatku tak sanggup menolaknya.
Renata Isabela, gadis kecil peneman mimpi saat malamku begitu penat selama ini. Madesu yang mungkin sekarang sudah mencapai level tertinggi seorang Madein.
Aku merindukanya. Tiada hari tanpa memendam rindu yang teramat namun diaaat itu pula aku ingin menahan hasrat untuk tidak menghubunginya.
Sedang apa kamu di sana Re? Tidak rindukah pada Kambingmu ini?
"Abi!" Pekik suara perempuan yang entah sejak kapan masuk ke dalam ruanganku.
"Kenapa?" Tanyaku dingin.
"Kamu melamun terus sih sayang. Mikirin aku ya?" Sungguh menjijikan mendengar suara manjanya memangil sebutan itu untukku.
"Aku sibuk, kalau tidak ada yang penting tolong segera pergi"
"Hari ini kita kan mau lihat-lihat undangan sayang" Diraihnya pundakku hendak direngkuhnya namun segera kutepis.
"Pilih saja yang menurutmu bagus, aku ikut saja"
"Ayolah sayang, aku .."
"Aku sibuk, pakai saja kartu kredit ini" Selaku cepat sambil menyerahkan kartu kredit yang selalu membuat matanya berbinar.
Segera keluar ruangan meninggalkan Indri yang berbinar menerima kartu kredit milikku.
Berurusan denganya tidak jauh dari masalah uang. Menerimanya sebagai tunangan pun hanya karena terpaksa. Jika bukan karena Mama memaksaku menerima Indri atas permintaan Papanya yang sedang sakit-sakitan menginginkan anak perempuan satu-satunya menikah, dengan tegas akan kuteriakan ketidaksetujuanku. Bagaimana aku bisa menolak jika Mama selalu berhasil mengeluarkan sifat memelas dan memohonya.
* * * * * *
"Tumben ke sini bos?" Sapa salah satu pegawaiku.
"Cuma lagi bosen sama kerjaan" menghampiri kursi di ruangan miliku, lantai dua gedung ini khusus untuk ruangan pribadiku. Selain di rumah aku biasa menghabiskan waktu di rungan ini.
Berbekal pengalaman menjualkan handphone secara online membuatku memutuskan membangun sebuah Counter Celluler sekaligus servis handphone. Mengelola counter susah-susah gampang pada awalnya namun berkat bimbingan dari seorang teman yang sempat berkenalan saat ujian PKPA, kebetulan dia sudah berkecimpung lebih dulu dan sukses meskipun bukan di kota ini. Dan inilah sekarang diriku yang teramat sibuk dengan perusahaan batu bara dan counter HP. Aku menikmatinya? Jawabnya sedikit. Karena apalah arti kesuksesan jika tidak ada seseorang yang selalu membuat harimu amat menyenangkan.
Waktu bergulir begitu cepat dan tiada hari aku tidak memikirkanya. Memintanya untyk tidak saling berhububgan adalah keinginanku agar dia lebih fokus menjalani study.
"Lusa jadi ke Jakarta bos?" Tanya Bagas, orang kepercayaanku untuk memantau counter.
"Jadi kayaknya, aku titip counter sama kamu"
"Sekalian nengok 'dia' ?" Kutatap mata Bagas yang terlihat sedikit canggung. Bagas memang tahu aku selalu merindukan Rere. Hanya karena aku selalu berlama-lama memandangi mug pemberian Rere membuatnya dengan mudah berkesimpulan jika aku tengah jatuh hati sekaligus merindu pada pemberi mug.
"Hem.. apa dia masih mau bertemu denganku?" Lirihku ragu
"Kalo jodoh gak lari kemana bos" ungkapnya membuatku menarik segaris senyum.
Dulu aku sangat mudah tersenyum, bersama kedua sahabatku dan juga karena dia. Namun empat tahun ini aku berubah lebih dingin, pendiam dan amat jarang tersenyum terlebih pekerjaanku sebagai lawyer memang dibutuhkan kesan cakap, berwibawa dan dingin.
"Oh ya gelasku mana?" Kuamati meja kerja yang biasanya si gelas berdiri manis dengan foto kami menghadap kearah kursiku, hari ini terlihat tidak ada.
"Oh saya lupa bilang bos, itu si Nina kemaren pinjem buat difoto. Bilangnya buat contoh sovenir kakaknya yang mau nikah. Dan saya yang mengiyakan permintaanya. Maaf bos kemaren belum sempat bilang" Sedikit merasa bersalah Bagas menjelaskan.
Di perusahaan, aku memang amat menjaga hubungan dengan bawahan namun berbeda dengan karyawanku di counter, aku bersikap lebih ramah.
"Ya sudah gak papa, jangan terlalu lama Nina meminjamnya" Bagas mengangguk.
Kubuka laptop yang sedari tadi masih tertutup. Lusa Papa memerintahkanku ke Jakarta untuk membahas proyek dengan salah satu instansi hukum di sana. Dan sekarang aku tengah menelaah proposal pengajuan.
Jakarta?
Aku pernag merasakan hiruk pikuk kota besar itu empat tahun. Selama empat tahun pada empat tahun lalu. Di kota itulah aku mengenalmu.
Tunggu kedatanganku sayang....
* * * * * *
Jakarta tetap padat seperti biasa. Sengatan panas matahari terasa membakar kulitku. Dengan langkah cepat aku berjalan menuju salah satu gedung tempat pertemuanku dua jam lagi. Selagi menunggu, kukeluarkan handphone dan mengetikkan pedan BBM pada Dian sahabatku.
Selama ini aku sengaja mengganti nomor dan semua akun untuk menghindari Rere. Tapi tidak dengan kedua sahabat yang selama ini menjadi mata-mataku untuk memantau keadaan gadisku meskipun tidak mendeta setidaknya informasi jika dia benar-benar aman sudah membuatku puas.
Abi
Yan... aku di Jakarta!
Ping
Ping
Dian Pram
Sumpeh? Ah kangen... ketemu nyok....
Abi
Habis meeting Aku ke rumahmu
Dian Pram
Siap...!
Kuputuskan menikmati secangkir kopi di hotel yang letaknya berdekatan dengan gedung ini. Secangkir kopi dalam diam, sesekali membuka email lalu membaca beberapa kasus yang menggunakan jasaku di luar perusahaan Adiyatma.
Kulirik jam di tangan, tak terasa satu jam sudah aku disini. Berjalan kembali menuju gedung diseberang menuntaskan tujuan agar segera menemui sahabat-sahabatku dan Madesu, mungkin.
* * * * *
"Ya ampun Abi... kenapa jadi berubah begini sis?" Berkali-kali kehebohan Dian membuatku jengah.
"Udah dong Yan, kamu kayak anak kecil aja daritadi ngelihatin aku kayak gitu" Kesalku melihat Dian tak henti-hentinya menatapku dari atas ke bawah sambil berdecak tak karuan.
"Kamu berubah banget Bi, sumpah aku kayak lihat bad boy gitu yang cool"
"Halah punya lebay dipiara terus. Emang dirimu udah ganti haluan dari sahruk khan ke lee min hoo?"
"Ya gak juga sih, cuma kadang selingkuh di film tetangga gak ada masalah kan?"
"Ck, macam abg ja gila bad boy, kayak Rere aja" Aku terkesiap dengan ucapan spontanku. Dian langsung melirikku sambil menaikkan alisnya
"Empat tahun Bi, dan kamu masih gak bisa move on dari dia"
"Gimana keadaanya sekarang?" Tanyaku pada akhirnya. Hampir sebulan belakangan ini Dian maupun Ani tidak memberitahu kabar Rere sama sekali. Dian sibuk dengan acara pertunangan sedangkan Ani sibuk dengan kehamilan kedua serta anak pertama yang mulai masuk sekolah.
"Dia pergi Bi" ucal Dian lirih.
"Kemana?" Tanyaku tak sabar.
"Mamanya meninggal dua minggu yang lalu, dia dan adiknya sekarang tinggal di rumah calon suaminya Rere" Bagai dihantam batu mendengar kabat mengejutkan barusan.
Mamanya meninggal dan dia tinggal dengan calon suami.
Calon suami? Siapa?
"Yan?" Seakan berharap jika Dian hanya bercanda namun raut wajah Dian yang sedih, takut dan khawatir terhadapku membuktikan jika ucapanya benar.
"Itulah kenapa akhir-akhir ini aku gak kasih kabar tentang di, aku gak tega bilangnya ke kamu Bi"
Hatiku terasa ditikam sembilu, sakit dengan kenyataan. Dengan bergegas aku keluar dari rumah Dian, memacu mobil menuju rumah Madesuku. Hingga tiba didepa rumahnya yang tampak sepi, kucoba masuk ke halaman rumah tempat pertama kali aku melihat dan mengahmpiri gadis kecilku yang tengah menangis.
Kuamati bunga-bunga yang dulu rajin disiram oleh Rere, tampak layu. Halaman rumah nampak kotor dengan guguran daun, teras rumah yang penuh debu.
Apa aku terlambat?
----------------------------------------