Rere - Tanpamu

1293 Kata
"Sudah selesai?" Tanya Fahri saat tumpukan baju di lemari berpindah kedalam koper. "Kurang sedikit lagi Ri" Jawabku tersenyum kearahnya. "Mama udah nangis daritadi" ucapnya sambil mengangkat koper yang penuh dengan keperluanku. "Kamu sama Mama bisa mengunjungiku kesana" "Kalo perlu setiap hari aku akan menemanimu " Direngkuhnya tubuhku dari belakang, kepalanya bersandar di pundakku. "Lalu, gimana sama pasienmu di Rumah Sakit, hem?" Balasku lembut. Kuputar tubuhku hingga kami saling berhadapan. "Aku akan baik-baik saja, ok?" Semua barang sudah kumasukkan dalam koper, siang ini rencananya diriku akan menetap di Kalimantan karena perusahaan memindahkanku ke kantor pusat. Enam bulan lalu aku lulus dari UI dengan gelar S.Gz kemudian mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang produk makanan kemasan. Dua minggu lalu sebuah musibah besar mengahmpiri keluarga kami. Mama meninggalkanku dan Renita yang sekarang memasuki SMP di dunia ini. Setelah Papa yang tidak perduli lagi dengan keadaaan kami, sekarang aku harus berpikir cara bertahan hidup bersama Renita. Beruntungnya Fahri, teman culunku saat di SMA sekaligus salah satu Most Wanted di kampus berbaik hati menampungku di rumah keluarganya. Hubunganku dengan Fahri hanya sebatas sahabat bagiku, namun ternyata diartikan lain oleh Fahri bahkan seluruh keluarganya mendukung hubungan kami berlanjutbke tahap menikah. Harapan besar bagi kedua orantua Fahri. Dengan terang-terangan di pernah menyatakan perasaanya padaku namun tetap saja, detak jantung ini tak sedahsyat saat bersamanya. Iya... dia. Seseorang yang tiba-tiba hadir menemani kelamnya masa laluku, memberi warna pada setiap hariku dan memberi semangat yang selalu berkobar untuk tiap langkahku selain Mama dan Renita. Meski kutak tahu ia dimana, namun aku yakin disuatu tempat dia akan selalu ada untukku. Begitu baiknya keluarga ini karena Fahri adalah anak tunggal. Begitu Fahri mengenalkan kami, beliau begitu antusias menyambutku apalagi saat musibah itu datang, dengan tangan terbuka keluarga ini menerimaku dan Renita tinggal di kediamanya. "Ma, Rere berangkat ya?" Kuusap air mata yang merembes dikedua pipinya. Bagiku Tante Melani sudah kuanggap seperti mamaku sendiri. "Mama kesepian, Fahri sibuk di Rumah Sakit" keluhnya diantar isak tangis yang semakin lirih "Rere bisa hubungin Mama setiap saat. Kalau Fahri senggang, biar dia ajak Mama mengunjungi Rere" tawarku sambil meggenggam erat tangan rentanya. "Jaga diri baik-baik ya sayang?" Dikecup lembut kening, kedua pipiku. Beriringan kami berjalan menghampiri Fahri yang sudah siap di samping mobil. "Salam buat Om Heru dan Renita Ma" Aku masuk kemudian melambai pada wanita yang sudah kuanggap orangtuaku sendiri sejak empat tahun lalu mengucapkan beribu terima kasih karena bersedia menjadi teman untuk putra semata wayang hingga sekarang. Fan tahukah kalian jika Mama sudah mengenalkanku pada teman-teman arisan, ibu-ibu komplek bahwa diriku ini calon menantu pasalnya memang ganjil jika seseorang perempuan tanpa ada hubungan keluarga bisa tinggal dengan bebas bahkan kemana-mana aku biasa pergi dengan Fahri. Dan itulah alasan Mama saat aku bertanya kenapa banyak ibu-ibu komplek yang mendadak mewawancaraiku beberapa hari lalu. Mobil ini terasa cepat, bagiku yang ingin melambatkan laju untuk megintip deretan gedung yang menjulang, rumah, atau sekedar pohon di pinggir jalan. Hanya ingin memberi kenangan pada setiap benda yang kulewati karena beberapa hari, minggu, bulan bahkan tahun mungkin aku tak lagi menatap jalanan ini. Setiba di Bandara, Fahri mengantarku kemudian bergegaa pergi karena tiba-tiba ada pasien yang harus segera ditangani. Lagipula jadwal keberangkatanku semakin dekat. * * * * * Bandar Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan adalah tujuan penerbanganku. Sudah hampir sepuluh menit duduk menikmati roti dan sebotol minuman dingin. Bukan masalah sulit mencari travel di bandara ini karena banyak jasa yang berlomba menawarkan mobilnya, adapula taxi dengan pantauan yang lebih maksimal tersedia di dekat pintu keluar. Karena aku orang awam tentu memilih taxi yang sudah memikiki lisensi keamanan dan terpantau terus tujuan kami nantinya. Perlu dua sampai tiga jam perjlanan menuju perusahaan tempatku bekerja nantinya. Namun masih ada jeda sehari sebelum memulai aktifitas di kota ini. Yang jelas saat ini hanya ingin sampai hotel dan beristirahat. Entah sudah berapa lama aku tertidur yang jelas saat suara supir memberitahukan jika dirinya akan turun membeli minum, membuatku terbangun. Hari semakin sore, perbedaan waktu lebih cepat satu jam masih belum terbiasa. Kuamati jejeran toko kelontong disepanjang jalan, selain toko kelontong banyak juga warung makan dengan menu nasi kuning, sepertinya makanan khas daerah sini. Mobil melaju kembali dan kantukku tiba-tiba menghilang karena jalur yang kami tempuh melewati pepohonan yang menjulang, jalan naik turun fan berkelok. Bayangan tentang apakah nantinya aku harus tinggal didaerah seperti ini membuatku bergidik ngeri. Tak berapa lama perjalanan sudah memasuki daerah perkotaan. Melewati sebuah jembatan besar sebagai jalur penghubung menuju kota membuatku berdecak kagum, hari mulai gelap dan lampu kerlap-kerlip terlihat di sepanjang jalur jembatan ditambah beberapa kapal yang berjejer di sungai membuatku membayangkan sebuah kencan di kapal tersebut. Kencan? Selama empat tahun hidupku begitu serius, tak ada lawan beradu mulut, tak ada teriakan dengan julukan aneh, tak ada lagi senyum menyebalkan yang membuatku mati kutu. Hari-hari hanya untuk belajar, mengejar grafik nilai yang sudah kustandarkan sejak awal kuliah, bersama Fahri yang serius aku menjalani semua. Sani yang dulu sangat dekat denganku sudah pindah ke Jogja mengikuti orang tuanya. Mobil berhenti di depan sebuah gedung megah yang kupastikan memang benar inilah gedung yang lusa harus kudatangi. Melihat sebentar kemudian meminta sopir membawaku ke hotel di dekat gedung ini. Aku lelah dan rasanya amat ingin merebahkam diri * * * * * "Baik Pak saya akan bekerja dengan baik, terima kasih " "Ada produk lama yang akan kami kembangkan" ucap Manager Quality control padaku seraya mengikuti langkahnya menuju ruang produksi. Perusahaan makanan yang berkembang pesat ini adalah tempatku bekerja mulai sekarang. Penyambutan yang amat ramah dari semua kalangan setelah Pak Juan, memperkenalkanku pada karyawan lain. Hari pertama kulalui dengan berkenalan dengan karyawan lain, melihat proses produksi dan menghafal beberapa ruangan agar tidak salah alamat. Selesai dengan hari pertama, saatnya pulang ke rumah kontrakan yang kemarin berhasil kudapatkan berbekal internet melalui jual beli online, akhirnya kutemukan rumah yang cocok. Meskipun belum ada barang yang mengisi, hanya beberapa benda yang lebih dulu harus kugunakan seperti tempat tidur dan lemari saja karena saat aku masuk ke rumah ini benar-benar kosong tanpa perabot. Pulang menuju rumah kontrakan menggunakan taxi (bentuknya mirip angkot di jakarta hanya beda panggilan saja) dengan waktu kurang lebih tiga puluh menit. * * * * * * * Waktu magrib yang kurasa lebih malam dibanding di Jakarta, kulalui dengan sendiri. Biasanya ada Mama dan Renita atau keluarga Fahri. Dalam diam aku menangis mengingat satu-satunya orang tuaku kini pergi meninggalkan kami berdua karena kanker pankreas yang ternyata sudah stadium akhir tanpa pernah Mama sadari. Sehabis magrib kuputuskan membeli makanan di sekitar rumah, beruntungnya kontrakanku berada di kawasan kota meskipun masuk ke dalam gang namun jika ingin pergi ke toko, warung bahkan supermarket bisa jalan kaki. Warung nasi goreng yang amat ramai menjadi tujuanku, karena begitu ramai kuputuskan untuk membeli voucher pulsa di sebuah counter besar dan ramai yang letaknya berdekatan dengan warung ini. Berjalan beberapa meter menuju counter yang dari plakatnya memiliki nama AI Phone Celluler. Terlihat beberapa pegawai sedang sibuk, begitu aku masuk sambil menoleh-noleh ke arah pegawai yang kiranya sedang kosong namun nihil, semua pegawai sedang melayani customer. Ternyata counter ini selain menjual produk handphone berbagai merk, voucher perdana, pengisian pulsa juga servis yang membuat pengunjung akan duduk lama sambil berkonsultasi. Lamat-lamat pandanganku tertuju pada sebuah benda yang mengingatkanku pada seseorang. Benda limited edition yang khusus untuk seseorang. Jikapun benda itu sama, kemungkinan detail pada benda itu amat kecil. "Ada yang bisa dibantu?" Tegur seorang pegawai membuatku membuyarkan lamunan pada benda itu dan beralih menoleh pada pegawai perempuan yang tengah tersenyum ramah. "Ah iya saya mau isi ulang" Kemudian kutulis nomor milikku pada buku yang disediakan. Selesai dengan pulsa, bergegas aku kembali ke warung nasi goreng mengambil pesanan namun begitu aku keluar dari counter, sebuah mobi yang melaju sedikit oleng mengarah ketempatku berdiri. Seketika suara teriakan memekakkan telinga terdengar membahana diantara kerumunan orang yang berlari. Cciiiittttttt.... Brrraaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkk!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN