"Kirimkan alamat sekolahmu saja"
"......"
"Ok beres"
"........."
Klik.
Baru saja aku membuat janji bertemu dengan Tria, seniorku di kampus. Dia sudah setahun lalu lulus dengan gelar S.H yang berhak disandang dibelakang namanya, yang sebentar lagi akan kusandang pula seandainya dosen pembimbingku sering berada di kampus.
Tria satu jurusan denganku meski aku tidak begitu dekat denganya. Sama-sama pernah menjadi kandidat sebagai ketua BEM membuat kami mengenal tanpa sengaja. Meskipun jurusan yang diambil adalah hukum namun Tria sekarang menjadi guru di salah satu SMA terkemuka dan bukan sebagai pakar hukum seperti jaksa, pengacara atau notaris.
Karena seorang guru harus berlatar belakang Sarjana Pendidikan, Tria harus menempuh kuliah kembali untuk mendapatkan ijazah akta IV sebagai gantinya. Dan hari ini aku berencana menemuinya untuk meminjam skripsinya, bukan untuk plagiat,hanya sedikit mencuri informasi untuk bab empatku. Kebetulan tempat penelitian kami sama hanya variabel penelitian yang berbeda.
Karena Tria hanya memiliki waktu senggang setelah jam istirahat pertama maka, pagi hari aku leluasa membereskan rumah kontrakan. Laki-laki begini aku juga mampu mengurus rumah, menyapu, mencuci, memasak meskipun tak seenak buatan mama setidaknya aku bisa mandiri.
Aku lahir di Bandung namun besar di Pulau Kalimantan. Meskipun orang tuaku termasuk kaum berada tapi mama menerapkan sifat sederhana dan mandiri. Papa memimpin perusahan tambang yang dibangunya bersama sahabat semasa kuliah dulu, sekarang perusahaan tersebut tengah berkembang di pulau Borneo. Berbagai kendala tak pernah surut datang menghampiri dan sejauh ini semua masalah bisa diatasi. Dan aku sebagai anak pertama diharapkan dapat meneruskan tambuk kepemimpinan, yah... meskipun aku sendiri pesimis dengan kemampuanku.
Pukul sepuluh lebih tiga puluh menit aku sampai di sekolah Tria. Suasana sekolah tampak sepi karena kegiatan belajar tengah berlangsung. Namun masih bisa kulihat segelintir siswa yang masih berbincang di parkiran, kuprediksi mungkin mereka siswa kelas tiga karena setahuku ujian nasional sudah berakhir dan tak mungkin pula jika bukan kelas akhir mereka bebas bercengkrama disaat jam pelajaran berlangsung karena sekolah ini begitu terkenal dengan kedisiplinanya.
Pandanganku menyusuri lapangan yang terdapat tiang bendera di tengahnya. Kelas yang bertingkat tiga dengan taman buatan memanjang di depan kelas membuat suasana asri. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sosok yang setiap hari bergentayangan di sebelah rumah.
Madesu Rere
Tengah berjalan sendiri menyusuri lorong, pandanganku tak salah. Bukankah aku sudah melihatnya setiap hari hampir empat tahun? Tentu saja aku hafal gerak-geriknya.
Oh... ini sekolah dia...
"Hei..." Sapa seorang dari belakang. Kubalikan tubuhku dan mendapati Tria berjalan ke arahnya sambil membawa setumpuk buku. Mungkin dia baru saja selesai mengajar.
"Iya. Udah selesai ngajarnya?"
"Hem... mau masuk ke kantor dulu?" Tawarnya yang kujawab dengan gelengan kepala.
"Di sini aja aku gak lama" Kilahku padahal aku menghindari ajakanya ke kantor. Namanya juga di sekolah dan Tria bukan kepala sekolah yang memiliki ruang sendiri.
Kami berdua duduk di kursi dekat parkiran, tampak Tria memanggil salah seorang muridnya untuk membawakan tumpukan buku yang sedari tadi dibawanya.
Kami berbincang sebentar masalah skripsi yang menjadi tujuan aku menemuinya. Tak begitu lama kami pun mengakhiri perbincangan dan skripsi Tria sudah berpindah ketanganku.
Tria pamit saat salah satu murid menghampirinya jika ada guru yang tidak bisa hadir di kelas mereka hingga Tria yang tengan piket pada hari ini bertugas menggantikan, segera Tria berjalan meninggalkanku.
Karena merasa haus aku bertanya pada salah seorang siswa yang sedang menempelkan pengumuman di mading, ditunjukan arah yang harus kuambil. Saat menyusuri lorong kelas mencari kantin aku melihat sosok Madesu tengah berdiri di dekat pintu seakan ia sedang mengintai.
Berusaha tidak peeduli dengan sosok Madesu membuatku mempercepat langkah menuju kantin. Namun tiba-tiba kulihat seorang laki-laki mencengkeram lengannya kasar dan membentaknya membuat rahangku mengeras. Kukepalkan tanganku menahan emosi atas sikap kasarnya pada Rere. Kupercepat langkahku menghampiri mereka.
Bagaimana jika Rere terluka? Saat sampai di kelasnya yang harus kutempuh dengan setengah berlari karena letaknya di ujung yang berlawanan. Begitu melihat bagaimana kasarnya laki-laki iti pada Rere membuatku murka, langsung saja kulayangkan tanganku tepat di wajahnya. Kutarik Rere berlari mengikuti langkahku meninggalkan kelas tersebut segera membawanya menuju parkiran.
Segera kusuruh ia naik ke boncengan motor milikku. Sepanjang jalan aku masih diliputi emosi atas tindakan kasar laki-laki itu pada Rere. Angin membelai wajahku dari celah helm hingga sedikit demi sedikit amarahku reda. Kurasakan kepalanya bersandar dibelakangku. Tubuhnya bergetar diiringi isak tangis, segera kutepikan motorku. Dengan sigap membelikanya minum agar kesedihanya sedikit menghilang.
Gadisku.... jangan menangis...
* * * * * *
Sudah beberapa minggu sejak kejadian aku bertemu Rere di sekolah saat itu kami tidak pernah mengobrol atau sekedar saling menyapa. Bertemu hanya sesekali namun saat mata kami berpandangan ingin menyapa,dengan sigap Rere memalingkan wajah dan berlalu pergi seakan-akan ia sengaja menghindariku.
* * * * *
Tok.... tok... tok...
Dengan malas aku membuka pintu, begitu kubuka ternyata mama Rere tengah berdiri menunggu pintu rumahku terbuka, tampak wajahnya begitu resah entah karena apa.
"Ada apa Tante ?" Tanyaku begitu melihat geliat resah di wajah wanita paruh baya di hadapanku.
"Nak Abi... Rere.... " Tiba-tiba tanganku digenggam. Genangan air menyelimuti mata senjanya
"Ya Tante Rere kenapa?" Tanyaku seakan ikut bingung. Ada apa dengan anaknya sampai wanita ini resah?
"Dia... Papanya membawa Rere pergi. Tante takut jika Rere akan di......"
"Ke mana Tante?" Tanyaku cepat menyela kalimat mama Madesu. Tak perlu dilanjutkan karena aku sedikit tahu permasalahan keluarga Madesu. Dan bayangan buruk menghantui pikiran membuat emosiku seketika naik.
Mama Madesu menyebutkan daerah atau lebih tepatnya rumah kemungkinan Rere dibawa. Dengan cepat kusambar kunci motorku, kulajukan Byson tanpa ampun menerobos lalu lintas. Teriknya siang ini tak kuhiraukan, bayangan nasib Rere yang diseret paksa Papanya melintas di otakku sehingga semakin kulajukan motorku menggila.
Dan benar, mobil Papa Rere baru saja berhenti di pelataran sebuah rumah elit. Nampak gerbang rumah tersebut hendak ditutup oleh seorang satpam, langsung saja kutancap gas dan kubunyikan klakson panjang untuk mengalihkan tiga pasang mata di sana. Dan seketika itu juga kumasukan motorku dan berhenti tepat di samping mobil.
"Maaf Om jika saya mencampuri urusan keluarga anda. Tolong jangan perlakukan Rere seperti ini" Dengan nada pelan kucoba mengatakan. Tatapanku semakin miris melihat Rere dicekal tanganya dengan kasar.
"Tahu apa kamu soal keluarga saya. Jangan sok jadi pahlawan. Rere anak saya dan saya berhak melakukan apapun padanya" Ucapnya sarkatis
"Tapi Rere punya masa depan. Tolong beri kesempatan Rere melanjutkan sekolahnya" Mohonku masih dengan nada pelan takut lelaki tua itu murka dan semakin menyakiti Rere.
"Buat apa sekolah tinggi menghabiskan uang. Memangnya berapa banyak uang yang sanggup kau habiskan membeli anakku sampai berani melawanku hah!" Hardik lelaki itu semakin membuat kesabaranku hilang.
Aku tak perduli dengan apa yang akan terjadi nantinya. Aku tak perduli usia laki-laki tua itu yang harusnya kuhormati. Dengan gerakan cepat aku melayangkan pukulan di wajahnya, tampak satpam tergopoh-gopoh menghampiri kami. Lelaki itu tak kuasa membalas pukulanku. Tarikan tangan Rere pada kerah bajuku membuatku menghentikan pukulan. Sebelum satpam melerai aku sudah bergegas tancap gas bersama Rere.
Sekali lagi, kudapati gadis itu menangis di punggungku. Kurasakan erat tangannya mencegkeram pinggangku, punggungku basah karena air matanya.
Di balik sikapnya yang acuh, tomboy, tegar ternyata menyimpan luka begitu dalam. Ia lemah meskipun aku tahu ia berusaha menyembunyikan semuanya.
* * * * *
"Kambing.... makasih ya" Ucapnya lirih sembari menatapku.
"Iya. Sama-sama Re" Kuusap rambutnya yang panjang sembari tersenyum.
Kini kami berdua tengah duduk di ruang tamu rumah Dian. Sebenarnya aku ingin segera mengajaknya pulang namun ia menolak. Tidak mungkin jika kubawa ke pinggir jalan atau ke warung karena penampilan yang sembab matanya dan rambut acak-acakan terkena angin bisa jadi aku sedang membawa kabur anak gadis orang.
Dan tidak mungkin aku membawanya ke rumah Ani takut terjadi salah paham lagi, makanya rumah Dian adalah tujuan satu-satunya. Kulihat Rere sudah tenang, Dian yang kaget dengan kedatanganku membawa perempuan dalam kondisi yang semrawut sempat menatap curiga. Mungkin dikira aku sudah berbuat asusila.
Setelah kujelaskan singkat akhirnya Dian dengan sukarela menerima, mengobati dan memberi kami asupan tenaga. Beruntung Dian sedang sendiri di rumah karena kedua orang tuanya sedang menjenguk kakaknya di luar negeri menyisakan seorang pembantu yang menemaninya.
"Yan... bajuku masih ada di kamar kan?" Tanyaku saat Dian masih sibuk mengolesi luka memar di tangan Rere.
"Hem. Ambil sendiri biasanya juga langsung masuk"
Kulangkahkan kaki menuju kamar Dian di lantai dua. Karena kebiasaan kami bertiga sering menghabiskan weekend dengan menginap dan menonton film Bollywood membuatku seringkali membawa baju ganti atau bahkan meninggalkan di rumah orang tua Ani maupun Dian.
Selesai mandi aku turun menemui Madesu yang sedang berbincang dengan Dian. Sesekali gadis kecil yang menjadi tetanggaku tertawa karena cerita Dian yang konyol. Kan memang dia aneh orangnya dan kebetulan dia sahabatku.
"Gimana Re udah baikan?" Tanyaku pada Rere yang masih memperhatikan cerita Dian.
"Hem" Ia mengangguk.
"Pulang sekarang atau mau nginep di sini?" Tanyaku memberi solusi jika memang ia belum ingin pulang.
"Nginep disini aja Re. Abi juga sering tidur disini. Kita maen giliran kok jadi kadang ke tempat Ara juga" tawar Dian seakan gadisku dijadikan pengganti Ani dalan acara rutinan kami menginap.
"Ehm... saya pulang saja Kak. Nanti tambah merepotkan"
"Ya udah deh tapi lain kali nginep disini ya. Sejak Ara hamil dan Abi bikin ulah makanya kita udah jarang nginep bertiga"
Setelah mengucap terima kasih dan berpamitan kami pulang. Madesu hanya diam sepanjang perjalanan ke rumahnya, kukira setelah suasana hatinya membaik ia akan bercerita padaku.
"Re.... kalo ada apa-apa kamu bisa cerita ke aku" kucoba mengajaknya berbicara.
"Ya"
"Lukanya masih sakit?"
"Gak"
"Tadi udah bilang Mama kalau mampir ke rumah temenku?"
"Udah" Jawabnya singkat. Padahal tadi ngobrol dengan Dian tidak irit bicara seperti ini, kenapa lagi ni anak.
Hari semakin gelap. kukendarai motor kesayanganku perlahan karena jalanan macet pada jam pulang kerja. Kulihat tangan Rere tidak lagi berpegangan pada pinggangku.
Lama berkutat dengan macet akhirnya sampai juga di rumah. Kuberhentikan motorku di halaman rumah Rere, Mamanya menyambut dengan berlari memeluk anaknya dengan wajah lega, tak henti-hentinya Mama Rere mengucapkan terima kasih. Setelahnya aku segera menghampiri rumah sendiri untuk melepas lelah.
--------------------------