Rere -- My Hero

1986 Kata
Setelah sekian lama.... Menatap dari balik kaca cendela kelas, rumput yang bergoyang, pohon rindang bahkan dari atap gedung sekolah aku berani mengaguminya. Baru siang tadi dengan tekad sekuat baja, percaya diri segunung, Dirga.... ya Dirga... gebetan yang aku kasih kado kaos pilihan kambing waktu itu. Dia.... ya... Dia kenapa? Dirga... Dirga... Bilang aku cantik tadi. Hello.... DUNIA. Tolong dicatat ya kisah pengucapan kata "cantik" dari mulut Dirga buat Renata. Dikasih coklat juga. Satu kata yang udah bikin jantungku dag dig dug duer gak karuan. Sejak semester awal aku menyandang gelar siswi SMA dan memutuskan bergabung dengan klub basket ,aku mengenalnya pun diam-diam memperhatikanya. Selama ini aku tidak pernah dekat dengan makhluk adam dalam artian menjalin suatu hubungan, mungkin karena sifat galak dan tomboyku yang menjadi nilai minus dimata para lelaki. Tidak semuanya memang karena ada beberapa yang nekat menyatakan rasa tertariknya padaku. Bukan karena aku tidak normal atau tidak tertarik, hanya saja aku takut dengan keterikatan pada suatu hubungan berlabel pacaran yang pastinya di usia remaja menjadi selingan yang menyenangkan di samping tugas sebagai seorang pelajar tentunya. Mungkin efek perlakuan kasar Papaku yang selalu menyakiti Mama kemudian meninggalkan kelurga kami dengan tanpa hati begitu menyisakan trauma yang mendalam. Sebenarnya bukan Dirga saja yang bilang aku cantik. Maksudku dari mulut seorang laki-laki. Beberapa teman laki-laki pernah bilang kata 'cantik' tapi karena aku selalu berpikir kata cantik yang mereka ungkapkan seperti sebuah penghinaan karena bagiku mereka hanya mengejek atau menyindir entahlah yang jelas setelah kata itu meluncur dari mulut mereka langsung kugampar dengan jitakan mautku atau bogem mentah di wajahnya. Dan tadi... Dirga sendiri yang bilang aku cantik. Oh my god.... mimpi apa sih semalam.... kata cantik dari mulut seksi Dirga itu melebihi pujian dari siapapun. Meskipun aku ragu sama pujian itu yah... kalian harus tahu kalau penggemar Dirga itu melebihi orang antri konser SuJu, pacarnya ganti-ganti kayak rokok. Sekali hisap habis langsung buang, otaknya juga gak encer banget. Cuma prestasi di bidang olahraga terutama basket saja yang membuatnya 'encer' di mata sekolah karena beberapa kali memenangkan pertandingan bahkan tingkat nasional. Meskipun begitu pesona dan auranya bikin aku naksir berat. Tapi kalo sampai ketahap cinta kayaknya belum. Masih hati-hati sama hatiku yang pernah disakiti sama kaum berdada bidang dan berbelalai itu. Bisa dibilang hatiku masih tertutup. Entah kenapa saat tadi siang aku dan Sania hendak berjalan ke parkiran tiba-tiba Dirga datang dan menawari boncenganya untuk mengantarku pulang padahal biasanya aku bareng Sania jika kebetulan lagi malas bawa motor ke sekolah. "Re... pulang bareng gue yuk" Tawarnya saat aku dan Sania tengah berjalan menuju parkiran "Tapi gue sama Sani" Ucapku memang begitu kenyataanya. Dan sejak tahu Dirga sudah mensejajarkan langkahnya denganku, Sania melenggang pergi meninggalkan diriku dan Dirga. Sebenarnya mau pakek banget lah dibonceng dia tapi gimana ya... "Gak papa ntar gue bilang Sania kalo lo pulang bareng gue" Bujuknya. Kulihat Dirga setengah berlari mengejar Sani yang tengah mencari posisi motornya terparkir. Tampak mereka berdua bercakap-cakap. Sania hanya mengangguk kemudian tersenyum kearahku, dan Dirga kembali berjalan ke arahku. "Sania bilang gak papa. Lo tunggu di sini dulu gue mau ambil motor" Pesanya berlalu meninggalkan diriku yang cuma mengangguk. Aku naik motor Dirga yang boncenganya lebih tinggi. Yah.. motor cowok emang modelnya begini, punya kambing juga. Nah lo kok sempet-sempetnya inget tuh orang. Selama perjalanan jantungku rasanya lagi konser musik metal. Dari tadi kedebam-kedebum gak jelas. Tau sendiri yang bonceng ini cowok pujaan hati gimana bisa tenang jantungnya. Dan selama perjalanan pula kami diam menikmati angin yang bertiup kencang karena efek kecepatan motor Dirga mirip peserta motoGP. Sesampai di rumah, Dirga kupersilahkan mampir dan ia setuju. Kuajak ia memasuki halaman rumahku. Mama hari ini ada pertemuan wali murid di sekolah adiku. Pastinya rumah sepi dan aku hanya bisa mengajak Dirga duduk di kursi teras. Kalau diajak masuk ntar aku diterkam gimana? Kejadian di rumah kambing waktu itu aja bikin aku begidik ngeri. "Mau minum apa Dir?" "Ehm gak usah Re aku bentar aja. Oh ya ini gue punya sesuatu buat lo" Dirga mengambil sesuatu dari dalam tas ranselnya. Sebuah kotak persegi panjang dengan balutan kertas bunga-bunga dan pita yang disematkan di atasnya. "Apa ini?" "Coklat.. buat lo" Dirga tersenyum menyerahkan kotak itu padaku. "Kenapa emangnya? Gue gak lagi ultah kok" Jelasku bingung , dalam rangka api nih cowok pujaan ngasih coklat. "Gak harus nunggu ulang tahun kan kalo mau ngasih cewek cantik kayak kamu hadiah?" Dikedipkan matanya sebelah kearahku. Tolong... oh tolong... akh gak kuat please... matikan kameranya... jantungku yang udah maraton dari tadi malah langsung kena serangan mendadak gara-gara kata cantik itu. Ya ampun... so sweet banget sih.... Dan lihatlah wajahku panas. Entah sudah berganti warna jadi merah jambu apa gak aku gak tahu yang jelas kedipan Dirga langsung kususul dengan senyum merona yang paling manis. "Makasih buat kaosnya" Ucapnya lagi yang membuatku kembali ke alam nyata. Setelah berpamitan, kubawa coklat itu ke kamar. Mengusap perlahan dan manja. Mencium pita kuning yang ujungnya melambai-lambai. Ya ampun... pertama kali dapat bingkisan coklat dari orang yang dipuja. Seneng bercampur bahagia. * * * * * Tut....... Tut........ Sebel deh dari tadi pengen telpon Sani tapi gak diangkat-angkat padahal aktif. Kalo lagi bahagia tuh pengen segera dibagiin, dicurhatin bukan cuma pas ada masalah aja. Tapi yang diajak berbagi malah gak tau rimbanya. Ah... pokoknya pengen segera diungkapin biar lega. kuputuskan mendatangi rumah Abi Tok... tok.. "Mbing......." Tok.. tok.. "Kambing..." Tok... tok Masak belum pulang sih? Tapi motornya ada. Tok.. tok.. Apa lagi bokep ya? Eits... bobo cakep maksudnya. Jangan omes dulu pikiranya. Ceklek.... "Eh kamu, ada apa?" Kambing keluar membuka pintu dengan wajah kusut bangun tidurnya. "Ehm... ehm..." Gimana ngomongnya ya kalo aku nih mau curhat habis dibilang cantik sama cowok. Ntar diketawain gimana? "Apa sih Madesu? Kamu ada perlu apa? Ganggu waktu tidurku aja" Dia mulai kesal padahal aku bingung merangkai kata apa tujuanku ke sini. "Cuma mau ....." Belum sampai diujung kalimat aku jelasin malah tanganku ditarik masuk ke dalam rumah. Tubuhku digiringnya ke sofa depan televisi yang masih menyala. Kemudian didudukanlah diriku di sofa sedangkan dia tidur selonjor berbantalan pahaku. "Nah... sekarang kamu mau ngapain? Kalo mau ngoceh, bertengkar, atau mau sembelih diriku mending besok aja. Sekarang aku bener-bener capek banget" Matanya langsung terpejam selesai dia nyerocos duluan. Belum sempat aku bilang mau berbagi cerita malah udah dikasih aba-aba diem duluan. Lah trus disini cuma jadi bantal doang? Alamak.... si kambing tidur lagi. Ah bodo amat yang penting aku lega. "Mbing.... terserah kamu mau dengerin apa gak curhaku, yang penting aku udah lega cerita dan suara ngorok kmau aja udah cukup sebagai respon atas curhat penting gak penting ini. Tenang aja curhat ini happy kok dijamin efek buat kamu gak nangis bombay dengernya. Oke kita sudahi kata pengantarnya. Sekarang mulai di inti cerita.............." Dan mengalirlah cerita Dirga mulai dari parkiran sampai rumah, bahkan adegan penyerahan coklat dan dialog Dirga juga aku praktekin. Selesai bercerita kutatap lekat wajah Abi yang tertidur pulas. Suara dengkur perranda tidurnya begitu nyenyak. Entak kenapa sejak tadi tanganku memainkan rambut hitamnya. Kutelusuri wajahnya dengan jariku, wajah Abi cakep juga pantas saja banyak perempuan yang naksir. Mungkin kalo mulutnya gak rempong kayak emak-emak aku udah naksir dia dari dulu, sayangnya tiap hari kami selalu bertengkar. Kuangkat sedikit kepalanya agar pahaku bisa terlepas jadi bantalanya dan segera kugantikan pahaku dengan bantal yang terjatuh di lantai. Dengan mengendap-endap aku keluar dari rumah Abi. Kukunci rumahnya dari luar dan kuncinya aku selipkan di bawah pintu. Sedikit mendorongnya masuk agar terlihat dari dalam. * * * * * "Iya San... yang penting lo sehat" "......" "Oke say, Muach" Klik. Baru semalam ingin kuajak curhat eh ternyata Sania lagi sakit dan hari ini handphonenya baru bisa diangkat, karena Sani gak bisa masuk berarti aku naik motor sendiri ke sekolah. Sebenarnya di sekolah sudah bebas pelajaran karena ujian nasional selesai seminggu yang lalu. Hari-hari luang seperti ini kami manfaatkan untuk mengembalikan buku perpustakaan yang dipinjam selama satu semester ini kemudian kesibukan latihan untuk acara wisuda. Dan setelahnya, libur panjang menanti kelulusan. Lain halnya bagiku meskipun sudah sudah waktu lenggang dan banyak dari kami yang memilih libur sendiri, bagiku masuk setiap hari adalah demi melihat pengumuman beaiswa. Di sekolahku setiap kelulusan tahunan akan memberikan beasiswa penuh untuk dua siswa terbaik berdasarkan akumulasi nilai raport dari kelas satu. Beasiswa diberikan dengan syarat si penerima benar-benar melaksanakan perkuliahan sesuai prosedur dan lulus tepat waktu. Jika tidak memenuhi syarat tersebut beasiswa akan dihentikan atau dicabut. Dan bagiku program tersebut menjadi harapan untuk merajut masa depan. Hari ini hanya mengembalikan buku di perpustakaan, banyak yang sudah pulang atau memang berniat tidak masuk. Kuambil tas di kelasku yang berada paling ujung dari deretan kelas tiga. Kususuri koridor kelas yang nampak sepi karena penghuni kelas akhir sudah pulang sedangkan kelas dua dan satu masih dalam proses KBM. Melewati kelas Dirga yang berjarak tiga kelas dari kelasku terdengar beberapa orang masih bercakap-cakap. Mengingat coklat dari Dirga kemaren membuat hatiku berbunga. Iseng ingin melihat suasana kelas Dirga secara langsung karena jurusan kami berbeda, kucoba melongokan kepala di pintu yang sedikit terbuka. Lamat-lamat kudengar suara seseorang sedang berbincang. Dari celah pintu terlihat Dirga dan Teo sedang berbincang saling membelakangi. Kudengar lebih seksama gerangan yang mnjadi topik pembicaraan mereka. "Lo udah berhasil cium Rere?" Tanya Teo memandang kearah Dirga yang tengah memainkan game di handphone. "Bentar lagi. Ngrayu dia gak sesulit yang gue kira" sombong Dirga "Inget taruhan kita. Motor lo bakalan jadi milik gue kalo gagal" "Lihat aja bentar lagi" Yakinya Aku gak kuat... sungguh.. Kenyataan tentang taruhan itu membuat air mata yang sudah lama aku lupakan bagaimana rasanya begitu saja sudah menggenang di pelupuk mataku. Dengan langkah cepat aku berlari namun sialnya gantungan kunci tasku bergesekan dengan pintu yang menimbulkan suara berisik, alhasil keberadaanku diketahui mereka. Aku tak perduli lagi, aku hanya ingin berlari meninggalkan kenyataan tentang euforia beberapa hari lalu teramat menyakitkan. Dan sialnya lagi langkah kakiku kalah cepat dengan Dirga yang sudah mengejar dan mencekal pergelangan tanganku. Sakit.... perih... Cengkramaan Dirga semakin erat. Ditarik tanganku mengikuti langkahnya kembali masuk kedalam kelas, kulihat Teo masih berada di sana Dengan kasar Dirga mendorong hingga punggungku menabrak tembok. Dikurungnya tubuhku dengan menghimpit dan mencekal kedua tanganku kasar. "Karena lo udah tau taruhan ini. Sebaiknya kita selesaikan sekarang" Seringai iblisnya nampak jelas. Aku yang meronta di dalam himpitan tubuhnya tak dihiraukan. "Te.. siapin motor lo buat gue" Dengan gerakan cepat wajahnya maju ke arahku dan akupun reflek memalingkan wajahku kesamping. Berkali-kali seperti itu hingga ia menggeram kesal. Dilepaskan cekalan pada tanganku, ditangkup kasar wajahku membuatku berfikir cepat. Kuinjak kakinya hingga ia mengaduh, melepas cekalan seketika. Merasa mendapat angin aku segera melanglah pergi namun lagi-lagi tanganya masih bisa mencelal lebih kasar malah. "Sialan lo" Geramnya. Seketika itu juga ia kembali menangkup wajaku, saat bibirnya yang tinggal satu centi mendarat kearah bibirku, kurasakan tiba-tiba ada seseorang yang datang dan langsung memukul tepat di wajah Dirga hingga tubuhnya terjengkang ke samping. Dirga rubuh dengan Teo yang segera menghampiri hendak menolongnya bangun. Kambing... Suaraku lirih memanggilnya. Tak sempat berpikir kenapa Abi tiba-tiba disini danenghajar Dirga, tangan Abi langsung menggenggam dan menarikku menjauh dengan setengah berlari meninggalkan kelas itu. Abi menarikku menuju parkiran, disana tampak motornya terparkir. Dengan isyarat ia menyuruhku naik ke boncengan,kuda besi milik Abi segera melesat meninggalkan halaman sekolah. Selama perjalanan akhirnya pertahananku jebol, airmataku tiba-tiba merembes. Isakanku diterpa hembusan angin, punggung Abi kujadikan pelepasan air mata serta sandaran kekecawaanku. Tahu jika aku terisak, Abi tiba-tiba menghentikan motornya, menepikan ke jalan yang agak sepi. Aku duduk setengah bersandar di motor sedangkan Abi pergi membeli minum. Kuteguk pelan minuman dingin darinya Isakanku sudah berhenti, yang ada hanyalah sisa air mata yang tadi merembes melewati pipi. Tanpa kusangka jari kambing mengusap sisa airmataku. Dia tersenyum sembari mengusap pipiku. "Jangan nangis Re" Abi, dia datang bak pahlawan dalam dongeng yang kutahu tak pernah nyata dalam kehidupan Sakit hati ini seakan memudar hanya dengan tatapan lembut dan senyum menenangkan darinya. Orang yang begitu kupuja ternyata hanya topeng belaka sedangkan dia yang begitu membuat emosiku remuk redam malah menjadi sosok terhebat. Masihkan aku percaya pada makhluk berjenis kelamin laki-laki? ----------------------------------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN