"Gila!" Seru Dian yang tengah meneguk jus alpukatnya dan menyembur ke arah wajah tampanku tepat sasaran. Dasar! Punya temen satu ini jorok banget sih.
"Gak usah nyembur juga dong Yan. Mukaku yang cakep jadi ternoda nih" Gerutuku sambil membersihkan semburan jus dengan tissu yang disodorkan Dian padaku.
"Sorry Bi... reflek campur kaget!"
Dua hari setelah insiden menjijikan itu aku menemui Dian di rumahnya. Selain dengan Ani aku juga memiliki teman akrab meski tak seakrab dengan Ani. Namanya Dian Pramesti jurusan yang sama dengan Ani, aku mengenalnya lewat Ani juga. Dua sahabat perempuanku yang sering menghabiskan waktu bersama, kemanapun kami pergi pasti bertiga. Kadang jika Dian berhalangan maka Ani mengajak Om-nya yang masih single atau bahkan hanya aku dan Ani saja.
Aku tidak punya teman akrab perempuan selain mereka berdua, juga jarang menghabiskan waktu dengan teman laki-laki untuk menghabiskan waktu senggang. Dari semester awal aku sudah aktif di organisasi kampus. Semester lima aku berhasil menjabat sebagai ketua BEM di kampus sehingga waktuku banyak terkuras dengan diskusi ataupun acara kampus, seminar, galang dana, baksos. Aku bukan tipe laki-laki yang suka dengan dunia gemerlap. Masih ingat bukan jika aku penggemar film Bollywod? Nah.. akhir pekan biasa kugunakan dengan menikmati film-film tersebut.
Dan setelah kegiatan KKN yang mempertemukanku dengan Ani membuat hobi ini memiliki partner, beruntungnya Dian juga penikmat film tersebut. Jadilah kami dekat dan menghabiskan kepingan-kepingan DVD setiap weekend dengan menginap di dalam satu rumah Dian atau Ani secara bergantian dan sekalipun tidak pernah kuajak menginap di rumahku yang secara masih rumah kontrakan. Apa kata ketua RT jika aku membawa dua perempuan menginap, bisa-bisa digrebeklah kami bertiga.
Akh.. bicara tentang Ani membuat memori dalam otak mengingat perlakuan bejatku padanya. Aku tak bermaksud melecehkan sedikitpun. Entah kenapa penolakanya padaku membuat khilaf. Saat itu aku hendak meminta maaf atas nama Indri karena sudah menabraknya. Namun ketika aku mendapatinya tengah berjalan ke ruang dosen pembimbing dan tanpa sengaja melihat kemesraan mereka membuatku berpikir negatif. Hingga terjadilah kejadian yang membuatku malu, kecewa, menyesal dan entah apalagi.
Beruntung Ani mampu mencegah pukulan suaminya. Jika tidak, mungkin aku sudah tak bernyawa. Akh... iya ternyata dosen yang kulihat saat itu aku yakini bahwa dia suaminya. Tanpa sengaja aku melihat foto wallpaper handphone milik Ani, foto mereka berdua saat mengangkat buku nikah masing-masing persis acara akad nikah.
Dan aku harus berterima kasih juga pada tetanggaku Madesu sudah berbaik hati merawatku. Gadis itu... entah kenapa setiap bertemu denganya selalu saja ada pertengkaran yang timbul. Namun.. hanya dengan melihatnya kesal dan marah membuatku senang bukan main.
"Aku gak nyangka kamu bisa setega itu sama sahabat kita. Ya ampun... owh.. Abi.. kalau saja aku ada disitu langsung kugorok lehermu!"
"Kamu tega bener Yan. Sumpah aku khilaf" Belaku saat melihat Dian menghunuskan garpunya ke leherku seakan-akan hendak disembelihnya diriku.
Aku menemui Dian di cafe yang biasa kami bertiga datangi,menceritakan kejadian waktu itu. Dan lihat reaksi Dian yang super lebay, dia juga terlihat shock saat diakhir cerita kuberitahukan padanya Ani memang menikah dengan dosenya pembimbingnya.
"Trus sekarang kamu mau apa? Nemuin dia? Mau nyerahin muka yang penuh stempel gak jelas tu lagi?"
"Ini masih mending gak kentara. Kemaren malah kayak disengat lebah. Bonyok semua. Cakepku kan jadi ilang kalo gini"
"Ampun Bi... kamu muka aja diurusin. Noh urusin luka hati perasaan dan jiwa raga sahabat kita yang udah hampir kamu nodai. Narsis aja sih bisanya" Cerocos Dian yang lebay lagi.
"Iya... aku mau nemuin dia. Mau minta maaf. Sama suaminya juga" Putusku yang diiringi jempol dua dari Dian.
* * * * * *
"Yan.. cepet ke Rumah Sakit Bhakti Tama"
"........"
" Ani ditabrak mobil"
"......"
"Cepet makanya"
Klik...
Kuakhiri panggilan teleponku dengan Dian. Hari ini niat hatiku pergi ke kampus untuk menemui dosen -suami Ani - untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun saat aku hendak ke ruanganya kulihat Ani tengah berlari sambil menangis dan tiba-tiba saja sebuah mobil menghantam tubuhnya. Aku yang saat itu dekat dengan TKP langsung membawa tubuh Ani yang bersimbah darah ke rumah sakit terdekat dengan taxi.
Sesampai di rumah sakit Ani langsung ditangani dokter. Saat menunggunya kulihat Pak Ari datang dan hendak memukulku namun sempat dengan sigap kutepis. Masih dengan amarah yang membara, aku menawari duduk berdua sembari mengajaknya berbincang sementara Ani masih ditangani di dalam.
Menjelaskan kejadian yang sebenarnya waktu itu dan meminta maaf adalah hal yang kulakukan kemudian. Meskipun beliau masih tidak percaya dengan ucapanku, akhirnya penjelasanku tentang alasan mengapa aku melakukannya dengan begitu pankang lebar, Pak Ari dapat menerima. Tak lupa ia mengucapkan berterima kasih sudah membawa Ani kemari.
Hati tak sepantasnya beradu dengan emosi. Saat logika tak sanggup menelusup dalam nurani, diriku rela merusak segalanya. Sahabat, cinta dan kepercayaan.
Kuakui salah, karena aku hanya seorang manusia.
Beberapa saat kemudian dokter memanggil pihak keluarga untuk berbincang tentang keadaan Ani. Pak Ari berjalan mengikuti langkah dokter menuju sebuah ruangan yang kuyakini sebagai ruangan dokter tersebut, sepeninggalnya segera kuhubungi Dian.
"Gimana keadaan Ara?" Tanya Dian yang masih dengan nafas terengah-engah baru saja sampai.
"Lagi ditangani dokter, tadi Pak Ari dipanggil ke ruangan. Nah itu mereka sudah keluar. Ayo kita ke kamar Ani" Kuajak Dian mengikuti Pak Ari yang berjalan menuju ruangan Ani.
Begitu masuk aku dihadapkan dengan kenyataan yang menyesakan hati bahwa sahabatku tengah terbaring tak berdaya. Dengan keadaan hamil pula. Oh tuhan berarti saat kejadian itu dia tengah hamil? Betapa hina dan ehoisnya diriku
Ani
Bangunlah, aku ingin meminta maaf padamu.
Maaf sudah menyakitimu
Maaf sudah menghianati kepercayaanmu
Maaf karena begitu lemahnya aku mebgontrol diri
Maaf Ani, menjadikanmu pelampiasan emosiku
Dan siapa yang tega menabrakmu hingga seperti ini? Sepertinya hal ini disengaja. Apa Indri?
"Bi.. ayo pulang" Ajak Dian setelah kami sempat berbincang sebentar dengan Pak Ari, mungkin mereka butuh waktu berdua. Kami pamit kemudian.
Meski kuakui aku kecewa dengan hatiku yang enggan melihat kedekatan mereka berdua. Namun apa daya jika jodoh tak berpihak padaku. Mungkin Ani lebih bahagia dengan Pak Ari. Hati ini meraung, menangis dalam diam melihat tanganya digenggam erat oleh laki-laki lain padahal dengan jelas dia suaminya, orang yang lebih berhak menggenggam hati sahabatku. Aku, hanga seorang sahabat yang keberadaanya hanya sekubik kecil dalam ruang hatinya.
Aku kalah, sangat kalah sebelum dan sesudah berperang. Semoga kau bahagia Ni. Bangunlah dan beri aku keaempatan mengucapkan maaf agar kita tetap menjadi sahabat.
* * * * *
Ceklek....
"Eh kamu Re, ada apa?" Tanyaku saat membuka pintu dan mendapati Madesu tengah berdiri di depan rumah.
"Ehm... ehm..." Tumben ni anak pake gagu begini.
"Apa sih Madesu? Kamu ada perlu apa? Ganggu waktu tidurku aja" Agak kesal, karena aku benar-benar lelah hari ini, lelah dengan badan juga hati.
"Cuma mau ....." Lama hanya untuk menunggunya bicara dengan jelas. Belum sampai diujung kalimatnya aku menarik masuk Madesu kedalam rumah. Menggiringnya ke sofa depan televisi yang masih kubiarkan menyala. Kududukan dia di sofa dan akupun begitu.
"Nah... sekarang kamu mau ngapain? Kalo mau ngoceh, bertengkar, atau mau sembelih diriku yang tak berdaya ini mending besok aja. Sekarang aku bener-bener capek banget" Kataku cepat sebelum Madesu protes atau bertanya kenapa aku mendudukanya.
Masih dengan muka bingungnya, kuselonjorkan badanku di sofa dengan berbantal paha Madesu. Sepertinya aku butuh sandaran untuk saat ini.
Mataku perlahan terpejam. Entah karena teramat lelah atau karena nyamanya bantalku saat ini, lamat-lamat kurasakan belaian di rambut hingga mimpi yang begitu nyata ini membiusku dalam lelap yang teramat.
-----------------------