Rere - Tak Kusangka

1353 Kata
Dirga telah menerima kado dariku. Membukanya dengan cepat meski wajahnya tampak datar namun ucapan terima kasih dari mulutnya yang aduhai gak ketulungan itu saja sudah membuatku lonjak-lonjak kegirangan mirip ibu-ibu dapat arisan sejeti yang pasti bikin heppi. Sengaja menemuinya empat mata kayak acaranya Tukul Arwana untuk menyerahkan kado istimewa yang telah kupilihkan eh ralat Abi yang memilihkan di pinggir lapangan basket siang tadi saat anak-anak lain sudah banyak yang meninggalkan sekolah. Hatiku bersorak riang... Oh Dirga... cuek pun aku tetep cinta kok. Miss you pulllll...... Yang penting tujuanku sudah terlaksanakan. Semoga langsung dipakai dan dipamerin ke seantero dunia kalo kaosnya itu dapet dari Rere yang amat sangat cantik dan perhatian (harapan orang narsis akut). Mengingat kado buat Dirga membuatku mengingat kembali kejadian memilih kado bersama Abi. Saat sibuk memilihkan kado entah kenapa tanganya bertaut menggenggam tanganku. Mungkin dikira aku anak kecil yang perlu digandeng biar gak hilang kali ya? Dan sialnya aku diem aja... Hello.... ke mana hilangnya mulut comelku saat melawan semua aksi kambing tetanggaku ini? Ah... udah kena sindrom Kambingnisme mungkin ya sampai-sampai aku nurut aja mau diapain sama dia. Tapi... tolong diingat ya... pertama kalinya kami begitu akrab tanpa ada cemoohan diantara kami padahal kalian tahu sendiri bagaimana kehidupan kami yang mirip Tom &Jerry. Ah.... coba kalo tiap hari kami lalui tanpa olokan dan perang dunia melainkan candaan manis dan perlakuan romantis aih...........pasti hidup terasa dipenuhi permen gulali, gula aren, rambut nenek, lolipop dan... sirup Marjan yang adanya cuma bulan puasa itu. Loh loh... kok jadi bahas Abinaya sih. Yah.. intinya aku seneng kemaren udah dibantuin milih kado, makan gratis dan terlebih digandeng mesra sama abang Abi. Nah lho mulai lagi gilanya. Aku sudah berada di rumah. Bersantai di teras sambil cekikikan sendiri dalam khayal semu. Hari ini aku pulang lebih awal. Yah meskipun bukan pulang pagi kayak zaman SD saat gurunyan ada rapat, tetep pulang siang sebelum jam dua belas karena ada Try Out yang kesekian. Ah... kelas tiga kalo tidak dijejali dengan les pasti sama ujian yang gak pernah ada habisnya. Saat masih melamun sendiri kulihat sebuah mobil menuju rumah Abi. Seseorang dengan setelan baju kerja formal yang mungkin orang itu pekerja swasta atau kerja di perusahaan tengah keluar dengan terburu-buru dari mobilnya. Wajahnya tersirat kecemasan dan amarah. Mendobrak pintu rumah Abi tanpa permisi. Ini rampok tapi kok ganteng dan rapi begini? Karena penasaran aku pun bergegas menghampiri rumah Abi. menjerit tertahan karena seorang perempuan nyaris tanpa busana tengah menangis meraung-raung. Memakai baju secepat mungkin dan menarik paksa si laki-laki bermobil. Aku yang tengah menyaksikan adegan drama 21 tahun ke atas secara live di kamar Abi sambil sembunyi di dekat pintu hanya diam dan bingung dengan tindakan apa yang harus kulakukan. Menolong perempuan itu dari tangisanya atau menolong Abi yang kuyakin wajahnya sudah babak belur. Hanya diam dengan tangan masih membekap mulutku agar tidak menjerit ataupun menangis histeris. Tak berapa lama kemudian laki-laki bermobil menghentikan tinjunya tentu dengan bujukan si perempuan tadi. Membenahi pakaian si perempuan kemudian mereka berdua pergi meninggalkan Abi. Merasa aku yang menjadi penonton gelap dan tak ingin ketahuan akhirnya saat keduanya melangkah keluar aku buru-buru sembunyi menghadap tembok. Menyembunyikan wajahku agar tidak ketahuan. Dan.. berhasil. Setelah kuyakin mereka berdua pergi aku langsung masuk menghampiri Abi tengah menyeka darah yang merembes di sudut bibirnya. "Mbing..."lirihku yang terdengar di telinganya hingga Abi menoleh. "Tunggu bentar ya Mbing" Ucapku seraya berlari mengambil air hangat yang kuletakan dalam baskom. Mengambil handuk kecil serta kotak P3K dari rumahku. Kuhampiri Abi yang kini tengah berbaring di kamarnya. Kuusap perlahan luka lebam serta darah yang mengalir. Miris melihatnya. Apa permasalahan mereka hingga terjadi pertumpahan darah sepihak seperti ini? Masih dengan tanganku yang mengobati luka Abi disertai jeritan kecil karena rasa perih aku mencoba mereka-reka kejadian tadi. Perempuan tanpa busana... Abi dihajar... laki-laki yang terlihat marah.. Ah.. apakah si perempuan tengah ketahuan selingkuh dengan Abi di dalam kamar ini? Mungkin iya.. mengingat perempuan tadi tidak memakai baju. Membayangkan kambing dengan perempuan bahkan sampai berbuat seperti itu membuat hatiku sakit. Sedikit kecewa ternyata diriku berkawan dan bertetangga dengan orang yang melakukan tindak asusila. Serta, laki-laki yang kemaren hari sempat kupuji baik ternyata.... tega berselingkuh dengan perempuan yang tengah mempunyai pasangan. "Lihat lukanya jangan malah melamun aw..." Teriak kesakitan Abi membuatku kembali ke alam sadar. Kuperhatikan wajah lebam Abi, meskipun menahan sakit namun wajahnya terlihat sebuah penyesalan. "Makanya latihan karate biar bisa hajar balik" ucapku asal yang ditanggapinya dengan senyum segaris. Cuma sedetik karena detik berikutnya dia kembali mengaduh. Selesai membersihkan luka dan memberinya obat akupun membereskan kotak P3K. Saat kakiku hendak melangkah keluar kamar, tanganku ditahan oleh cekalan Abi "Re..... jangan pergi dulu. Temenin aku di sini" Entah kapan nama itu terlontar dari mulutnya. Re.... bukan madesu seperti biasanya. Aku menatapnya. Memberi seulas senyum trenyuh nan tulus. "Iya... aku disini" ucapku sambil melepas cekalan tanganya. Duduk di tepian ranjang miliknya. Kubelai rambutnya yang lebat. Entah kenapa aku merasa miris dengan wajahnya. Terlepas dari pikiran dan bayanganku tentang kejadian tadi, aku... peduli denganya. Meskipun aku tidak begitu mengenal pribadinya, namun dalam hatinya Abi pasti memiliki alasan untuk setiap tindakanya. * * * "Makan dulu Mbing" saranku padanya. Setelah Abi tertidur tadi aku berjalan keluar meninggalkannya sejenak untuk pulang karena hari sudah sore, kubawakan serta bubur dari rumah karena dengan wajah lebamnya pasti akan susah untuk mengunyah makanan dan bubur adalah pilihan yang tepat. "Gak laper" Jawabnya pelan. Tanpa aku minta akhirnya Abi memulai kronologis kejadian barusan. Dimulai dari perkenalanya dengan seorang perempuan sahabatnya sendiri hingga insiden yang membutakan mata hatinya. "Dia sahabat sekaligus cinta pertamaku. Hanya karena perasaanku tak bersambut, dengan tega aku menghianati persahabatan kami" Ungkap Abi mengawali ceritanya Menceritakan sosok perempuan idaman Abi sempat membuatku takjub. Laki-laki yang selama hampir empat tahun menjadi tetangga serta musuh bebuyutanku tak pernah sekalipun tampak membawa perempuan datang ke kontrakan. Pengaruh seorang Maharani bagi kambing begitu mengerat dihatinya. Cinta pertama yang bergelung status sahabat. Namun entah karena dahsyatnya bisikan setan membuatnya hampir kalap merusak kepercayaan keduanya dari seorang sahabat menjadi penjahat. Sebegitu hebatkah cinta yang dikata orang buta? Mungkin lebih dari buta. Begitu pula papaku yang tega mencampakan keluarga demi kata cinta semu perempuan penggoda. Membuang semua kenangan manis yang dulu sempat bersemayam di keluarga kecil kami Dan bagi Abi, hanya nama itu yang mampu merobohkan semua pendirianya tentang makhluk berkaum hawa. Baginya dulu perempuan hanya mampu membuat laki-laki menghabiskan uang, menyita waktu untuk menemani kegiatan belanja dan berdandan, memaksa menjadi supir kemanapun tujuan. Dan hanya satu nama itu ia mengubah segala pandanganya. Selain Maharani ternyata mereka memiliki sahabat perempuan lagi bernama Dian. Hebat sangat pengaruh Maharani bagi kehidupan Abinaya. Aku iri padanya, pada perempuan yang menerima perlakuan manis seorang Abinaya yang mana setiap hari denganku hanya diisi pertengkaran, kecuali kemaren. Kalau dilihat-lihat wajah Abi memang tampan. Alis tebal dengan hidung mancung. Rambut hitam belah samping tebal yang kadang acak-acakan membuatnya semakin mempesona. Pantas saja dia selalu diperebutkan para junior maupun teman seangkatanya apalagi dia punya posisi penting sebagai (mantan) ketua BEM. Sssttt... info ini kutahu dari kakak teman sekolahku yang menjadi salah satu penggemarnya atau lebih tepatnya junior di kampus Abi Tak kusangka sosok yang selalu kasar dan jahil dengan mulut yang tak pernah absen membuat amarahku timbul tenggelam ini mampu bersikap manis. Aku iri... sungguh.. aku juga ingin mendapatkan perlakuan manis dari seorang Abi "Aku menyesal udah lakuin itu. Harusnya aku gak emosi dulu sebelum tahu kenyataanya kalau dia sudah bersuami" Wajahnya terlihat sedih dan begitu menyesali perbuatanya. Kuusap pelan punggung tanganya mencoba menenangkan. "Kukira masih ada kesempatan, nyatanya aku tak sanggup merusak tumah tangga orang" Lanjutnya membuatku mengerti begitu patah hatinya dia. "Mbing... mungkin dia bukan jodohmu. Aku tahu kamu patah hati. Tapi yakinlah suatu saat ada jodoh yang terbaik buatmu" nasehatku yang membuatnya mengangguk dan tersenyum. Aih... manisnya.. cakep lagi... kalah sama Dirga. Loh... kok malah bandingin? "Makasih ya Re udah dengerin curhatku. Aku ngrepotin banget ya?" "Banget... tapi gak papa lah. Itung-itung bales budi karena milihin kado kemaren" Kekehku mencairkan suasana hening sedari tadi. "Sekarang makan ya Mbing. Aku tinggal pulang dulu, disuruh mama nganter kue ke Bu Yani" Abi mengangguk. Segera aku berpamitan pulang karena hari sudah sore dan tugas deliveryku harus segera dilaksanakan. Kulihat Abi juga sudah lebih baik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN