Sudah patah hati ditolak eh sampai rumah ketemu madesu gak mutu. Malah bikin hati yang sedang patah semakin diremuk.
Madesu gak mutu? Hahaha....
Melihatnya setiap hari sejak ia duduk di bangku kelas tiga SMP, bertengkar tiada habisnya, namun kue nikmat buatan mamanya membuat lidahku tergila-gila.
Dia tetangga kontrakanku. Gadis kecil nan tomboy yang gemar bermain basket. Mamanya --Tante Lidya-- memiliki usaha catering di rumah untuk menunjang finansial keluarga sejak papa Rere pergi meninggalkan mereka.
Hampir setiap hari aku bertengkar denganya,entah hanya saling mengejek atau melempar kerikil ke pintu rumah yang jelas ada saja bahan ledekan yang kami lontarkan.
Dia sudah beranjak dewasa. Ya... karena aku mengenalnya dulu saat tanpa sengaja mendengar tangisan gadis di malam hari. Aku yang saat itu masih semester awal dengan jumlah SKS 24 dan lumayan membuatku pulang malam karena tugas yang bejibun tiap minggunya, samar-samar melihatnya di malam hari ah lebih tepatnya hampir tengah malam saat sepeda motorku berjalan memasuki pelataran rumah kontrakan.
Dia... ya gadis kecil itu tengah menangis di kursi panjang halaman rumahnya sambil menagkup penuh wajahnya. Karena rumahku dan rumahnya hanya berbatas tembok isak tangisnya terdengar di telingaku saat malam sunyi begitu memperjelas isakanya. Entah kenapa aku langsung menghampirinya.
Alih-alih ia akan terhibur dengan kedatanganku karena aku yang notabene tetangga baik hati dan peduli sesama sedang menghampiri berusaha menguatkannya malah dimaki habis-habisan.
Esoknya baru aku tahu jika papanya pergi meninggalkan keluarga itu bersama wanita lain. Pukulan berat bagi keluarga Rere. Meski tangisan gadis itu yang kutahu tak ingin ditampilkan di depan mamanya, selain itu aku tau Rere sangat memendam keaedihan yang teramat. Sejak saat itu entah kenapa aku melihat sosoknya begitu dingin dan cuek. Dan gaya tomboynya semakin kentara.
Puncaknya adalah saat ia menghadiri wisuda kelulusan kelas tiga. Saat itu ia memakai kebaya dengan rambut panjangnya disanggul menyisakan poni kesamping serta hiasan bunga di rambutnya membuat semakin manis. Karena sudah terlambat ia mengetuk rumahku dan meminta bantuan mengantarnya ke sekolah. Dengan omelanya yang tak henti-henti karena dia sudah terlambat maka kulajukan motorku lebih kencang. Alhasil lampu merah tanpa diduga menyala membuatku mengerem mendadak yang mengakibatkan tubuhnya menubruk punggungku. Untung saja dadanya kecil kalau tidak pasti aku sudah ketar-ketir. Kalau saja yang kubonceng saat itu Ani-ku sayang pasti bahagianya hati.
Nah ini d**a rata pake kebaya pula. Gak ada sisi perempuan sama sekali. Bahkan sampai sekolah pun dia masih ngomel karena dandanan rambutnya berantakan.
"Hih... berantakan nih. Cantikku ilang deh" gerutunya.
"Mau dikasih konde pun gak bakalan cantik. Aku gak yakin kamu tuh cewek beneran apa gak. Body madesu kayak gitu mana ada menariknya" Balasku tak kalah sengit.
"Madesu? Apaan tuh?" Bingungnya
"Pikir sendiri. Aku langsung pulang. Bye Madesu....." Kugas motorku meninggalkanya berdiri di depan halaman sekolah sambil bingung dengan panggilanku.
Madesu... Masa Depan Suram. Itu kata-kata kiasan para kaum adam di sekolahku saat SMA untuk menilai perempuan yang ditaksir. Kalau ukuran cup nya kurang alias tidak menyembul, dinamakan Madesu sedangkan jika ukurannya memadai dan pas dalam genggaman barulah dinamai Madein (Masa Depan Indah). You know apa yang aku maksud kan?
************
Tok tok tok....
"Mbing....."
Tok tok tok.....
Siang sepulang bimbingan skripski yang harusnya kugunakan beristirahat malah diganggu dengan suara ketukan pintu. Panggilan itu... hanya Rere yang memanggilku seperti itu.
Dengan malas karena sedang berselonjor santai sambil menikmati televisi mau tak mau kubukakan pintunya.
Kudapati wajah Rere yang sumringah entah karena apa begitu membuka pintu.
"Kenapa?" Tanyaku malas. Berurusan sama perempuan jadi-jadian macam Rere ini bikin emosi selalu.
"Kamu sibuk gak?" Sibuk sih enggak tapi lagi istirahatin otak sama hati.
"Gak"
Jawaban singkatku membuatnya langsung menarik kaos hitam yang sedang kukenakan.
"Eh ngapain narik-narik !" Sebal bercampur bingung.
"Udah... ikut aja. Cepet tutup pintunya" Dan entah kenapa aku menurut saja. Segera kututup pintu rumah dan menguncinya. Rere menggandeng kaosku untuk mengikuti langkahnya. Menyerahkan kunci motor miliknya yang berarti aku diminta mengendarai motornya, tampak Rere sudah bertengger manis diboncengan.
Jalanan siang yang lumayan padat karena jam makan siang. Banyak warung-warung penuh sesak dipenuhi para pekerja dengan berbagai warna seragam.
Motor masih kulajukan menuruti arahan Rere yang kuyakini bukan menuju sekolahan seperti waktu Tante Lidya memintaku mengantar ke sekolah Rere saat penerimaan rapot. Selalu seperti iti sejak suaminya tak tinggal bersama mereka lagi.
Dan sampailah kami di tempat tujuan Rere.
Mall?
Ngapain nih bocah suruh nganterin ke Mall? Kan bisa sama temen-temenya bukan malah sama aku? Haduwh....
"Temenin aku cari kado Mbing" Ungkapnya membuat pertanyaan penasaranku terjawab.
"Kenapa aku?" Ya kan bisa sama temen-temenya yang masih AaBeGe itu.
"Kadonya buat cowok. Biar selera cowok juga yang milih"
Lah... diriku milihin kado buat cowok? Mana aku ngerti? Milihin kado buat cewek aja gak bisa. Malah nyuruh si penerima milih sendiri dan ujung-ujungnya aku patah hati.
"Tapi ak...." Belum sempat ngomong malah Rere sudah menarikku berjalan masuk ke Mall.
Sepanjang jalan kami hanya diam. Aneh rasanya karena biasanya ada saja bahan ledekan kami. Sampai di salah satu gerai DVD kulihat Rere langsung masuk. Aku yang tak tahu menahu apa yang diinginkanya juga ikut masuk.
"Aku milih film dulu. Kemaren udah lihat tapi cuma setengah" akupun mengangguk. Dipilihnya beberapa film korea. Hem... selera anak sekarang. Aku pun juga memilih beberapa film India kesukaanku dan Ara tentunya karena kami memiliki selera genre film yang sama. Ah mengingatnya lagi membuat dadaku sesak.
Selesai dengan film di tangan masing-masing aku segera membayarnya, kami pun berjalan ke arah yang Rere inginkan. Entahlah ke mana yang kutahu hanya diam mengikutinya.
"Kasih saran dong... enaknya dikasih apa ya? Kaos... sepatu....jam... atau apa sih Mbing?" Tanyanya meminta saran.
"Dia lagi pengen apa? Mungkin ngasih benda yang dia lagi pengen bisa juga" Saranku
"Gak tau. Orang aku gak deket sama dia"
"Jadi ceritanya pengagum rahasia?" Tebakku
"Yap... betul. Dapat seratus ntar aku kasih lolipop jempol kaki" Kekehnya sambil mengangkat jempolnya kearahku.
Baru sekarang aku seakrab ini tanpa ada pertengkaran. Melihat ekspresinya yang ceria, tersenyum, kagum, antusias membuatku merasa dia bukan lagi gadis kecil yang kutemui menangis malam itu atapun perempuan judes bermulut pedas seperti biasanya.
Kenapa hampir empat tahun ini aku menyadari perempuan yang dekat disamping rumahku ternyata memiliki wajah yang cantik meski tertutup topi dan gaya tomboynya.
Ah.. madesu gak mungkin berubah jadi madein. Belum standarnya.
"Coba kamu ceritain gimana cowok itu" Sedikit gambaran tentang keseharian seperti hobi mungkin bisa kusimpulkan kado apa yang cocok.
Dan mengalirlah cerita Rere tentang Dirga yang tengah dikaguminya. Model cowok cool dengan tampang sengak menurutku. Kapten tim basket putra di sekolahnya. Minim ekspresi karena itulah yang disebut cowok cool menurut Rere dengan muka kagum tak henti-hentinya membuatku mual.
"Kaos saja" Putusku.
Rere yang masih asyik bercerita tentang tampang Dirga langsung kutarik tanganya menuju gerai baju olahraga. Kupilihkan kaos tanpa lengan yang biasa dipakai pemain basket warna biru dongker.
Rere yang melihatku memilih baju untuk Dirga hanya diam tanpa berkomentar. Mungkin sudah pasrah dengan pilihanku bukankah tujuan membawaku kesini untuk memilihkan kado sesama laki-laki?
Saat menuju kasir Rere masih saja mengikutiku dengan diam. Barulah aku sadar mengapa dari tadi dia diam. Ternyata tanganya masih kugenggam saat menggandengnya ke sini. Barulah saat hendak membayar dan mengeluarkan dompet, segera kulepaskan tanganya.
"Aku lapar. Kita cari makan dulu" Ucapku memecah kesunyian yang tiba-tiba menyerang setelah insiden pegangan tangan kami. Entah kenapa aku merasa nyaman dengan tangan mungilnya yang halus.
Baik aku maupun Rere sama-sama terdiam di depan gerai baju. Biar saja dia marah atau meledekku. Yang jelas aku lapar dan tak harus menunggu persetujuan Rere jika perutku tak bisa diajak kompromi. Kugandeng lagi tanganya yang tidak membawa bungkusan baju. Menggenggamnya mengikuti langkahku bergegas mencari makan. Rere hanya diam mengukuti.
Genggaman tanganku semakin erat takut jika Rere akan pergi. Entahlah... aku hanya nyaman dengan posisi ini. Yang jelas.... makan......... aku sangat kelaparan.