Dugh...
Dugh....
Dugh.....
Hap......
Dugh dugh dugh....
"Hah..... segitu doang nih tenaganya"
"Lagi males aku San...."
"Payah kamu Re.... baru dapet peringkat tiga aja langsung bete. Padahal masih TryOut" Cibir Sani sahabatku.
Ya... meskipun setiap TryOut aku selalu menduduki peringkat pertama dan itu kudapatkan bukan karena lembur semalaman model SKS loh... tapi memang dasar otakku aja yang encer. Tuhan berbaik hati udah ngasih anugrah ini padaku. Dan Tryout yang ketiga ini entah kenapa aku merasa kurang maksimal. Mungkin benar kata mama aku harus mengurangi hobi bermain basket.
Basket.... olahraga yang menjadi kegemaranku entah pada jam berapa dalam kondisi apa dan dengan siapa aku sanggup bermain. Hobi yang menyita hampir sebagian besar waktuku. Hanya dengan menghentakkan bola sekuat tenaga dan melempar sejauh ring berada mampu menghalau segala kegundahanku. Bukan gundah karena kekasih. Tolong digaris bawahi.
Papaku.... rela meninggalkan kami demi seorang wanita. Tinggalah aku dan seorang adik perempuan yang masih duduk di bangku SD. Beberapa kali aku mengintip mama yang sering menangis saat malam begitu larut dan kami tengah terlelap mesra bersama bintang. Kami terpukul dengan keputusan Papa, rasa kehilangan yang teramat, rasa kecewa yang begitu membuatku semakin memacu semangat agar tak ada lagi air mata yang jatuh di antara kami.
Kehilangan tulang punggung memang berat awalnya apalagi Mama harus menghidupi uang sekolah kedua putrinya. Untungnya bakat memasak Mama tak diragukan sehingga banyaknya pesanan kue atau nasi dari tetangga untuk hajatan membuat materi hidup kami cukup untuk biaya sehari-hari dan sekolah. Dan aku selalu berusaha belajar dengan begitu baik agar beasiswa untuk jenjang kuliah tak perlu menjadi beban pikiran Mama
"Aku mau kuliah dengan modal otak San. Biar Mama gak perlu mikir biaya kuliah yang selangit pastinya"
"Ini kan baru Try Out Re... aku yakin kamu bakalan lulus UN dengan nilai terbaik dan pastinya lolos ke PT yang kamu mau" Hibur Sani.
"Semoga aja. Balik yuk udah sore" Ajakku pada Sania
* * * * *
"Eh Re tumben tuh Kak Abi pulang kuliah mukanya kusut?"
Langsung kuarahkan pandanganku mengikuti arah pandang Sani. Aku juga heran wajahnya ditekuk sama kayak martabak mau dipotong.
"Aku mpek sini aja ya Re. Mau langsung pulang aja" pamit Sani.
Setelah puas bermain basket tadi aku dibonceng Sani menuju rumah. Melihat tetanggaku yang tiap hari bikin makan hati sedang kusut mukanya membuatku bingung. Biasanya Mr sok kecakepan ini gak pernah absen teriak atau sekedar lempar kerikil saat kami bertemu. Yah... memang hampir empat tahun kami bertetangga tempel tembok. Tidak ada satu haripun kami lewati tanpa saling meledek.
Kejadian langka nih orang muka kucel
Kuambil kerikil di tanah. Kulempar ke arahnya yang tengah berjalan memasuki gerbang rumahnya.
Tik.....
Meleset.
Tik....
Hanya menoleh.
"Heh kambing.... muka tuh disetrika"
Dan dia hanya menoleh? Benar-benar langka memori ini. Biasanya ia akan melempar balik atau memakiku. Huh.... ada apa dengan orang ini.
Kutempelkan badanku ke tembok sebatas pinggangku menatapnya berjalan masuk. Tembok pagar pembatas rumah kami memang menempel jadi satu yang memudahkan saling melihat isi halaman masing-masing.
"Kambing....... !" Teriakku lagi mencoba mendapat perhatianya
"Apa sih berisik mulu !" Nah... udah bereaksi kan....
"Tumben kucel. Setrikaku nganggur tuh?" Godaku asal yang mendapat pelototan matanya. Senyumku semakin lebar. Mangsa sudah bereaksi. Tinggal gesek dikit langsung cus........
"Kayak ditinggal kawin aja sih" Godaku lagi. Tapi dia diam aja. Nah ... kenapa sih ni makhluk.... heran deh. Kayak orang patah hati aja.
"Kamu bisa diem gak sih. Kepala pusing tau gak!"
Ceklek.....
Loh loh..
Aku ditinggal masuk gitu aja?
* * * *
Tok tok tok....
Tok tok tok.....
Ceklek....
"Apa?!" Dengan malas dia membuka pintu.
"Nih disuruh mama nganterin brownis" Kuserahkan brownis bertabur keju parut di atasnya dengan kedua tanganku mengarah dadanya.
"Owh" Cuma owh? Makasih kek.... ini Mama udah baik hati biar dia gak sekarat plus ngiler.
"Sama-sama...." Tahu dengan maksud kalimatku akhirnya
"Makasih" Akhirnya nyadar juga.
"Kembali kasih"
"Tumben kamu belum berangkat?" Tanyanya karena melihat aku yang sudah rapi memakai seragam.
"Masih repot ngasih ternak tetangga yang dari kemaren bengong. Kan aku takut kalo tu embek bakalan sekarat di kandangnya"
"Sialan ! Dasar madesu gak mutu, Enak aja ngatain aku ternak" kesalnya sambil menarik topiku ke depan yang membuat kepalaku ikut mengangguk.
"Habisnya tumben aja kamu galau. Rumput di rumahku masih kualitas wahid kok. Kalo kamu mau bisa cabut sendiri" Balasku kesal sambil membenarkan letak topi kebangganku. Yah... bukan topi seragam sekolah loh.
"Wah.... mimpi apa diriku semalem dapet perhatian madesu gak mutu?"
"Sok kecakepan amat" Dengusku berlalu meninggalkanya yang terkikik.
Perhatian? Cuma nurutin kata hatiku yang paling dalam daripada mati penasaran.
"Aku emang cakep kali.......woi..." Teriaknya yang narsis gak ketulungan saat motorku siap melaju meninggalkan halaman rumah.
Menuju sekolah setiap hari ditemani sepeda motor matic warna merah. Sendiri... kecuali ada yang baik hati mau nebengin boncenganya yang lumayan gratis.
Oya kalian mau tau sosok kambing tetanggaku itu? Ehm... tolong dijauhin dulu pikiran tentang bulu putih kumal, telinga menjuntai, suara embek-embek dan... kotoran yang mirip kacang sanghai versi warna gelap atau cocochip di es crem yang kalian sering nikmati.
Jauh.... jauh..... banget.
Karena kambing ini bulunya hitam. Nah lo.... pake keriting pula. Tapi setahuku cuma dibagian kaki. Kalo bagian lain gak tahu deh. Belum cek lokasi.
Telinganya gak menjuntai. Normal aja kok gak tuli juga. Suaranya.... alamak... bikin sakit hati plus sakit telinga kalo nyerocosnya kumat. Nah ini... kalo masalah kotoran juga aku gagal paham. Dan sorry dorry morry kalo suruh lihat buat mastiin. Ih jijjaaay....
Kenapa aku manggil kambing?
Mari kita bahas. Namanya kan Abi. Karena si doi kakak tingkat yang secara dia udah kuliah semester akhir, pastinya lebih tua dariku yang masih kelas tiga SMA, dan biar kelihatan sopan kepada lebih tua setiap orang akan memakai kata kakak, mas, bang dan sebagainya.
Kak Abi.
Daripada dia kupanggil Kak Abi yang menurutku ada jeda antara huruf K dan A yang bikin mulut gak sabaran mending langsung dipanggil Ka..mBing. Nah lebih cucok kan...
Lagian kenapa juga dia manggil aku madesu gak mutu. Pusing pala berbi deh sama nama aneh yang disematkan tuh orang.
Citttttttttt.......
Gara-gara ngelamunin kambing jadi lupa ada lampu merah.
Tin..tin...
Wah siapa nih yang klakson. Kutoleh ke samping kanan ganti kiri. Semua pengendara fokus ke jalanan dan lampu merah di atas. Nah lo... tengok belakang dan wow...
Helm terbuka. Sosok cool dengan mata tajam sedang menatapku. Dan seluas semyum terukir di bibir seksinya. Senyum buatku? Alamak... meleleh hati awak mak... dan kubalas dengan senyum yang kelewat seksi sampai lupa lampu udah hijau. Suara klakson bersahutan membuatku cepat-cepat berlalu.
Dirga.... miss.. miss... you.....
------------------------------------