Mike membantuku berdiri lalu meraih tanganku untuk berjalan beriringan bersamanya. Jantungku berdebar-debar tak menentu seiring dengan setiap langkah kaki kami yang kian mendekat menuju pintu penghubung. Bukankah ini yang aku harapkan sejak dulu? Tapi kenapa rasanya sekarang aku ingin mundur saja? Mike mengulurkan tangannya yang bebas dan meraih knop pintu. Dibukanya perlahan pintu yang menghubungkan kamar kami dan tak lama setelah itu mataku pun langsung dapat melihat dengan jelas apa yang ada di baliknya. Semuanya masih sama seperti saat aku masuk tanpa sengaja dulu. Sebuah ranjang king size terletak tepat di depan dinding yang ada di hadapan kami. Dengan seprai dan bantal yang didominasi warna abu-abu dan hitam. Di kiri dan kanannya terdapat sebuah rak rendah berwarna hitam, dengan b

