***
"Kkkrrriiiiiiiiiiiiinnnnnnggggggg"
Suara jam Becker berbunyi dengan keras membangunkan si penghuni kamar.
Hari ini adalah hari pertama bagi Dias dengan kehidupan barunya. Sudah tidak ada kasur lipat, tidak ada lemari plastik ataupun debu di atas eternit rumahnya. Yang dia rasakan pagi ini adalah suara berisik jam becker miliknya, kasur spring bed yang empuk, udara dari pendingin ruangan yang sejuk, serta kamar yang luas lengkap dengan segala isinya.
Lemari kayu jati yang sangat kokoh, meja yang terdapat kaca lumayan besar, sofa yang berada di ujung kasurnya dan dilengkapi dengan televisi yang menempel di dinding kamarnya.
Sangat mewah menurutnya, pantaskah dia mendapatkan hal seperti ini?. Tidakkah ini berlebihan untuknya?. Ah, rasanya tidak juga, mengingat statusnya sekarang adalah seorang pewaris dari orang terkaya dan terkenal di seluruh perusahaan di Indonesia.
Setelah kemarin dia hanya membayangkan, kali ini semua ada di hadapannya. Sungguh luar biasa menurutnya dan sungguh kehidupan yang sangat mengasyikkan.
Baru kali ini Dias bisa tertidur dengan sangat nyenyak, sebelumnya tak pernah senyenyak ini. Ah, lagi-lagi dia tersenyum sendiri melihat dirinya yang yang sekarang.
Namun suara jam Becker itu mengagetkannya. Dan sontak langsung terbangun dengan mata yang masih enggan untuk di buka.
"Jam sialan!!!! Kenapa harus ngagetin kaya gini si ah!!" Gerutu Dias sambil menekan jam Becker itu dan langsung menghentikan teriakannya.
"Hhhhoooaaammmm....padahal masih ngantuk, mana enak bnget lagi tidurnya". Umpat Dias sambil tersenyum manis.
Sambil bergegas bangkit, Dias membuka selimutnya dan beranjak menuju kamar mandi.
Sebelum membuka pintu kamar, "aduuh....kenapa ke arah sini ya, kan di kamar juga ada kamar mandinya!", Dias tertawa sendiri sambil memegang kepalanya.
Setelah berwudhu dan melaksanakan sholat Subuh, Dias bergegas keluar kamar. Ingin menyapa kedua orang tuanya. Namun kenyataannya Dias agaknya terlambat, karena orang tuanya sudah lebih dahulu bangun dan sedang sibuk di meja makan.
"Nah kan, bangun juga anakmu Pak,?" Celoteh biasa Ibu jika Dias terlambat bangun.
Sambil berjalan menuju meja makan, "yaelah Bu, baru juga jam 5, belum di bilang terlambat lah!", Dengan senyum menyeringai.
Lukman hanya tertawa mendengar celotehan istri kepada anaknya yang memang selalu terjadi hampir setiap hari.
"Sudah ah, sarapan dulu...enak itu masakan Mba Darmi." Sergah Lukman kepada istri dan anaknya.
"Emangnya Menurut Bapak, masakan Ibu ngga enak ya?", Gerutu Irma mendengar pernyataan suaminya.
"Eh...bukan begitu maksudnya Bu, masakan Ibu, adalah masakan terbaik, tapi sekarang kan Ibu udah ga perlu untuk melakukan pekerjaan keras seperti sebelumnya." Lanjut Lukman.
Irma tersenyum dengan pujian dari suaminya, dan melanjutkan sarapan mereka. Di iringi candaan dan tawa, mereka terlihat sangat bahagia.
Setelah selesai sarapan, mereka berbincang dengan sedikit lepas, entah karena suasana yang berbeda atau apapun. Tapi setidaknya kebahagiaan sedang menaungi mereka.
"Om Edward kemana Pak?", Tanya Dias.
"Edward kan punya apartemen sendiri, jadi dia ngga tidur di rumah ini.' balas Lukman seraya menjelaskan.
"Oh...Dias kira dia akan tetap tinggal di sini?". Lanjut Dias.
"Ya ngga lah nak, semua ini sudah sah menjadi milikmu, jadi tidak ada yang berhak atas warisan ini selain kamu". Ucap Lukman sambil mengusap kepala Dias.
Bukan dia memanjakan, hanya saja begitulah sikap dan sifat dari seorang Lukman. Selalu sayang dan mengasihi kepada istrinya dan Dias.
Biar bagaimanapun, Dias adalah anak laki-laki satu-satunya yang Lukman miliki, jadi dia berharap banyak kepada anaknya suatu saat kelak.
"Oh iya Pak, hari ini Dias harus ke perusahaan pusat kan ya?, Untuk tanda tangan serah terima harta warisan?". Tanya Dias di sela perbincangan mereka.
"Ya, nanti Bapak sama Ibu juga ikut ke sana untuk menyaksikan dan sebagai saksi juga". Timpal Lukman.
"Ribet ngga Pak?", Tanya Dias lagi.
"Ngga lah, kan cuma tanda tangan aja... emangnya kenapa Yas?" Lukman balik bertanya.
"Dias ada kelas jam 1 siang Pak, kebetulan itu kelas dosen wali Dias, jadi Dias harus hadir".balas Dias.
"Ngga lama kok Yas, kan kita juga berangkat jam setengah 7, jadi masih banyak waktu untuk kamu bisa masuk kuliah". Lanjut Lukman.
Tak lama, Dias pamit kepada kedua orang tuanya untuk mandi dan rapih-rapih. Begitu juga dengan kedua orang tuanya. Mereka berjalan menjauh dari meja makan untuk mempersiapkan diri hadir di perusahaan pusat.
***
07:45
Setibanya di perusahaan pusat, Dias Atmaja dan kedua orang tuanya disambut hangat oleh para karyawan dan karyawati. Tak luput dari pandangan Dias, Edward sudah terlihat dan sedang menunggu kedatangan Dias.
Sambil berjalan dan kemudian berdiri tepat dihadapan Dias, Edward kemudian menunduk sambil berkata, "selamat Pagi Tuan Muda Dias Atmaja". "Selamat Pagi juga Tuan Lukman".
Ucapannya begitu lembut dan menampilkan sikap hormatnya kepada Dias dan Bapaknya.
"Selamat pagi om...eh....Tuan Edward". Jawab Dias sambil tersenyum kecil dan salah tingkah.
Dan jawaban berbeda dengan Lukman, "selamat Pagi Pak Edward".
Sambil menoleh ke arah Bapaknya, Dias mengernyitkan dahinya.
Dibalas dengan senyum tipis yang sedikit menyinggung Dias.
"Maaf Tuan Muda, anda cukup memanggil saya dengan sebutan Pak Edward, karena terlalu terhormat apabila anda memanggil saya dengan sebutan Tuan Edward". Timpal Edward yang juga tersenyum tipis.
"Mari Tuan Muda, ikuti saya!", Lanjut Edward sambil mempersilahkan Dias berjalan menuju lobi gedung yang sangat megah itu.
Dias memandang tak henti di sekitarnya. Gedung yang sangat besar. Terlihat banyak aksesoris ruangan yang sangat tertata rapih dan tanaman di dalam pot yang menghiasi tiap sudut ruangan lobi.
Dias dengan sangat malu ketika berpapasan dengan para karyawan yang selalu menundukkan badannya. Entah kenapa?, atau memang seperti inikah menjadi orang yang paling berpengaruh di perusahaan?.
"Bagaimana menurut anda Tuan Muda?, apakah harus ada yang di rubah dari penataan ruangan lobi ini?, Tanya Edward yang sepertinya memahami apa yang Dias lihat.
"Saya rasa tidak perlu pak Edward, saya sangat menikmatinya untuk sekarang!, Seru Dias menjelaskan.
"Kalau begitu, kita langsung ke ruangan anda Tuan Muda!, Ajak Edward sambil berjalan terlebih dahulu dan mengajak kedua orang tuanya Dias secara bersamaan.
Tak banyak pembicaraan yang dilakukan setelah beranjak dari lobi menuju ruangan Dias. Keempat orang itu hanya tersenyum dan bicara sewajarnya.
Ruangan Dias berada di lantai 5, dan memiliki lift khusus yang menuju ke sana. Lift yang hanya bisa di gunakan oleh para petinggi perusahan seperti Dias, Edward dan kedua orang tuanya.
Setelah sampai di lantai 5, mereka berempat bertemu kembali dengan dua orang yang memang sudah di siapkan untuk menjadi penanggung jawab di acara serah terima warisan ini. Kedua orang itu merupakan petinggi perusahaan yang berada di dua daerah berbeda.
Pak Cokro menjadi perwakilan di daerah Jawa Timur, sementara Pak Agung perwakilan dari Jawa Tengah. Sementara di Jawa Barat dan Bali, kendali di pegang langsung oleh Edward yang juga sebagai pendamping dari Tuan Muda Dias.