Bab 012 Maafkan Dias!!!

1108 Kata
*** Hari yang sangat berat bagi Dias, hari yang hampir saja membuatnya merasa ingin mundur dari kehidupannya. Begitu banyak yang terjadi hari ini, entah ketika dia berada di kampus, di rumah Roni maupun di rumah. Tapi dengan adanya hari ini, membuktikan bahwa pada dasarnya Dias adalah satu-satunya seorang pewaris dari harta kekayaan keluarga Atmaja. Benar menurutnya, entah kejadian yang dia alami ini sebuah kebetulan atau memang sudah menjadi suratan takdir?. Rasanya sedikit membuatnya memiliki kesan bersejarah dalam hidupnya. Semenjak pertemuan tadi, banyak hal yang di bicarakan oleh orang tuanya dan Edward, bahkan dengan sangat terburu-buru, Edward memaksa keluarganya untuk ikut pulang ke kediaman Atmaja malam itu juga. Sontak saja bapaknya tidak langsung menyetujui permintaan Edward, karena menurutnya masih ada esok hari untuk kembali hadir di kediaman Atmaja. Setelah Edward pamit undur diri untuk pulang dan mempersiapkan segalanya untuk esok hari, Dias masuk ke dalam kamar dan hendak membaringkan tubuhnya untuk beristirahat. Namun matanya sulit untuk di pejamkan. Hal berbeda yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Mereka masih membicarakan banyak hal tentang itu. Karena mereka sadar akan konsekuensi yang sudah mereka terima selama ini. Namun demikian, hal tersebut segera disanggah kedua orang tuanya, sebab ini adalah permintaan dari Listanto Atmaja, papah dari Lukman dan mertua dari Irma. Dengan mata yang sulit terpejam, Dias terbayang akan megah dan mewahnya rumah kediaman Atmaja. Dengan fasilitas lengkap di dalamnya. Ah, rasanya pikirannya pun sangat sulit untuk dikendalikan mengingat apa yang sekarang ada di dalam bayangannya. Seiring lamunannya semakin jauh, tak terasa Dias mulai terlelap dengan sendirinya. Mungkin karena faktor kelelahan yang membuatnya dengan tanpa sadar tertidur. *** 09:00 Setelah mengemasi barang-barang yang akan dibawa, kedua orang tua Dias berjalan mengelilingi rumah tempat yang telah menjadi saksi akan kehidupannya selama ini. Dengan tatapan sayu, ketiganya tak dapat membendung rasa haru yang hari ini dirasakannya. Sementara Dias masih memandang ruangan kamarnya yang sudah lama sekali menjadi temannya. Sesekali dia melirik ke arah jendela kamarnya, memastikan untuk tetap terkunci dan sambil memastikan bahwa tidak ada pakaian yang tertinggal satupun. Ya, mereka hanya membawa pakaian saja, tanpa membawa perabot rumah yang memang tidak banyak juga. Lagi pula di rumah keluarga Atmaja, tersedia segala macam perabot, jadi tidak perlu membawa perabot yang ada di rumah ini. Tak banyak pembicaraan dalam perjalanan, tak banyak suara yang terdengar selain suara kendaraan yang ada di sekitar mereka. Edward sendiri sangat sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang dikerjakan, yang jelas itu bukan masalah besar, namun Edward segera memberitahu bahwa dua hari lagi akan ada pertemuan di perusahaan pusat, untuk penandatanganan serah terima warisan. Setelahnya, Edward kembali terdiam sambil menatap ketiga orang yang duduk di bangku belakang sebuah mobil Mercedez berwarna putih ini. 11:35 Kediaman Keluarga Atmaja Dias menatap takjub ke arah rumah kediaman Atmaja, begitu mewah, begitu megah dan sangat luar biasa. Jauh dari bayangan Dias sebelumnya. Ini merupakan salah satu rumah paling mewah yang pernah Dias lihat sebelumnya. Baru saja mobil yang membawa Dias beserta keluarganya memasuki gerbang, terlihat 8 petugas keamanan yang berjaga menundukkan kepala. Salah satu diantara mereka bergegas membuka gerbang. Dias mengedipkan matanya. "Apa pintu gerbang itu memiliki sistem hidrolik sehingga bisa terbuka dengan sendirinya?". Sambil menoleh dan tersenyum. "Anda benar Tuan Muda, gerbang ini memiliki sistem keluaran terbaru, sehingga hanya dengan memasukkan kata kuncinya, maka akan terbuka dengan sendirinya". Timpal Edward yang saat ini sangat merasa senang dengan kembalinya Tuan Lukman dan berhasil membawa Tuan Muda Dias Atmaja. Bapak dan Ibunya hanya tersenyum melihat Dias yang begitu senang dengan kenyataan bahwa keluarga Dias adalah salah satu keluarga terpandang di Indonesia. Kendati demikian, tiba-tiba Lukman teringat masa dimana dulu dia pernah berada di rumah ini. Tidak banyak perubahan dari segi tampilan dan penataan tata ruangnya. Bahkan dia masih ingat jelas dengan taman di samping pintu masuk itu. Tempat dimana dulu dia sering olahraga dan bersenda gurau dengan Papah dan Mamahnya. Ya, jauh sebelum Papahnya meninggal, Mamahnya sudah lebih dahulu meninggalkan Lukman, bahkan sebelum perselisihan antara Papahnya dan Lukman. "Pak, kenapa?", Tanya Istrinya menyadarkan lamunan Lukman. "Ah...ngga apa-apa, cuma inget kenangan masa lalu di taman itu!". Jawab Lukman cepat. Terlihat ada beberapa orang di teras rumah menyambut kedatangan mereka. Diantara mereka terlihat 4 orang berbadan kekar dan berotot. Ke empat orang itu mengenakan setelan Jas yang rapi dengan HT di tangannya. Setelah mobil berhenti tepat di teras rumah. Sambil membuka pintu dan turun terlebih dahulu, Edward berdiri dan kemudian menunduk. "Selamat datang Tuan Muda Dias Atmaja, silahkan turun", dengan ucapan yang sangat lembut dan hormat. Mendengar hal tersebut Dias malah termenung. "Nak, ayo turun....kenapa jadi melamun?", Suara Bapaknya mengagetkan Dias dalam lamunannya. "Oh...i...iya Pak.....Dias cuma ga nyangka ajah, Dias seperti di perlakukan bagai seorang raja!". Kaget Dias jawab sekenanya. Irma hanya tersenyum tipis melihat sikap anak tunggalnya itu, dia sendiri pun tak tahu bagaimana menggambarkan perasaan hatinya. Karena kembali di kehidupan yang lamanya, dan kembali ke rumah yang tak lain adalah rumah dari keluarga Atmaja. Mereka yang ada di teras rumah menunduk sambil mengucapkan selamat datang secara serempak. "Selamat datang Tuan Muda Dias Atmaja......selamat datang kembali Tuan Lukman Atmaja dan Nyonya Irma Atmaja ". Saat berjalan masuk ke dalam rumah, tatapan Dias penuh dengan rasa takjub. Bagaiman tidak, dari tampak depan saja sudah begitu mewah dan membuat matanya melotot, kini saat memasuki ruangan pertama rumah itu, Dias semakin takjub. Bagaikan mimpi, Dias memperhatikan kanan, kiri, atas dan bawah. Sungguh sangat luar biasa. Pajangan yang terdapat di ruangan pertama itu pun tak kalah mengagumkan. Terdapat guci antik, benda pusaka dan panjang yang dapat memanjakan mata. Terlebih lagi dengan penataan rapi sofa dan bingkai foto, menambah nilai estetika dalam penglihatannya. Dias terhenti di depan bingkai foto besar, dengan seseorang yang tampak terlihat begitu berwibawa dan nampak sangat luar biasa dari tatapannya. "Apa ini kakekku?", Tanya Dias dengan suara pelan namun masih cukup jelas terdengar. "Benar Tuan Muda, beliau adalah kakekmu ", jawab Edward dengan cepat dan berdiri dibelakang Dias. Bapak dan Ibunya dengan cepat merangkul pundak Dias. "Nak, ini adalah foto kakekmu, jadi kamu bisa dengan jelas memperhatikannya", jawab Bapaknya. "Apa dia terlihat seperti Dias pak?", Tanya Dias dengan tersenyum tipis. Sambil tersenyum Ibunya setengah memeluk Dias, "Beliau sangat mirip denganmu nak, dari segi perawakan dan wajahnya". Sambil menangis dan tetap setengah memeluk Dias. "Nyonya Irma benar, Tuan Muda Dias Atmaja memang sedikit mirip dengan Tuan besar Atmaja". Lanjut Edward menegaskan. Dias tetap masih ingin menatap wajah kakeknya, sebab dia belum pernah sekalipun bertemu dengannya. Sementara Edward, Lukman dan Irma bergegas duduk di sofa sambil memandangi langit-langit dan suasana ruangan yang memang menjadi ruangan favorit dari Tuan besar Atmaja. "Maafkan Dias ya kek, kalau baru hari ini Dias hadir di rumah ini, dan maafkan Bapak dan juga Ibu". Ucap Dias dan mengikuti kedua orang tuanya untuk duduk bersandar di sofa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN