Bab 011 Permintaan Terakhir

1011 Kata
*** "Deeegggghhhh" Bagai terhantam benda keras di bagian d**a. Tuan Lukman terpukul dengan apa yang Edward katakan barusan. Tatapannya nanar mendengar kabar tersebut. Badannya bergetar di iringan suara tangis yang tertahan. Tubuhnya terasa sangat lunglai, tulang yang begitu kuat terasa lentur seketika, ototnya yang kekar terasa sangat lemas serta jantung yang seakan berhenti bedetak dengan apa yang ia dengar. Begitu juga dengan apa yang terjadi oleh Irma, isak tangisnya mulai terdengar dengan suara yang tertahan. Tubuhnya terasa sangat lemas dan serasa tak mampu menopangnya sendiri. Setelah sekian lamanya tak ada komunikasi sama sekali antara keduanya dan keluarganya yang sudah mereka tinggalkan. Tiba-tiba mendapatkan kabar duka seperti ini. Namun berbeda dengan Dias yang hanya menatap mereka tak bergerak. Dia tak begitu mengerti dengan kondisi kedua orang tuanya saat ini. Di satu sisi mereka lebih memilih pilihan mereka. Tapi di sisi lain mereka terpukul dengan kabar yang baru saja didengarnya. Setelah sekian puluh tahun, jauh sebelum Dias dilahirkan dan jauh sebelum Lukman dan Irma memutuskan untuk menikah. Lukman terlebih dahulu keluar dari kediaman Atmaja. Memilih untuk meninggalkan rumah dan papahnya demi cinta yang selama ini dia dambakan. Kisah cinta mereka sebenarnya tak terlalu rumit, hanya karena permasalahan diantara kedua keluarganya mengenai bisnis. Mereka tak perduli dengan konsekuensi yang mereka terima jika mereka memutuskan untuk lebih mendapatkan cinta mereka. Keputusannya untuk menikah dengan Irma Darmawangsa, membulatkan tekadnya untuk tidak menerima warisan dari Papahnya. Rasa cinta yang begitu besar dengan Irma membuat Lukman harus melupakan kehidupan mewahnya. Begitu juga dengan Irma, dia tahu akan konsekuensi dari pilihannya itu, tapi tak pernah sedikitpun dia menyesalinya. Yang membuat tekadnya bulat adalah apa yang telah dilakukan oleh suaminya. Dengan meninggalkan apa yang memang akan menjadi miliknya, yaitu warisan besar dari keluarga Atmaja. Kendati demikian, pada saat pernikahannya dengan Lukman, papah Irma, Sigit Darmawangsa menghadiri pernikahan keduanya sebagai wali dari Irma. Sigit hadir hanya sebagai wali saja, tidak ingin terlalu memperdulikan mereka yang telah memilih jalannya sendiri. Meskipun Sigit tahu bahwa Irma yang juga sebenarnya akan mewarisi kekayaan keluarga Darmawangsa, tapi rasa kecewa akan pilihan anak perempuannya, membuat Sigit merubah sikapnya menjadi sangat dingin dan arogan, terlebih lagi ketika dia memandang Lukman yang merupakan pemuda dari keluarga Atmaja. Keputusan mereka berdua sangat merugikan diri mereka sendiri. Dengan tidak mendapatkan hak atas harta, mereka juga tidak boleh memakai nama keluarga di belakang nama mereka. Sehingga kini Lukman dan Irma beserta anaknya hidup dengan keadaan yang tidak baik seperti sekarang ini. Sementara sejak kepergian keduanya setelah menikah, Sigit kehilangan kontak dengan Lukman dan Irma. Apa yang telah dia dapat dari pernikahan mereka hanyalah rasa kecewa, sehingga Sigit Darmawangsa memiliki dendam pribadi kepada keluarga Atmaja dan berambisi untuk menjatuhkan keluarga Atmaja, dengan berani membeli banyak saham untuk di monopoli oleh keluarga Darmawangsa. Namun kendati demikian, tetap saja tak semudah bayangannya. Bukan keuntungan yang dia dapatkan, justru malah kerugian yang ia terima, sehingga membuat keluar Darmawangsa berada dalam situasi krisis. Penyebabnya tak lain adalah persaingan bisnis diantara keduanya. Kekuatan dari keluarga Atmaja sangat mengerikan, sehingga secara berangsur-angsur, keluarga Darmawangsa justru malah menerima kerugian yang sangat besar. Dan untuk mengembalikan Irma ke keluarga Darmawangsa pun sulit, sebab setelah pernikahan Lukman dan Irma, mereka kehilangan kontak. Sudah banyak yang diusahakan oleh keluarga Darmawangsa untuk mencari keberadaan Lukman dan Irma, namun orang yang menjadi pesuruh dari keluarga Darmawangsa tak pernah berhasil untuk menemukan keberadaan mereka berdua. Sigit Darmawangsa sendiri pun merasa menyesal dan kecewa setelah tak satupun pesuruhnya tak membawa hasil yang baik. Sehingga sampai saat ajalnya menjelang, dia tak dapat lagi menaikkan nama keluarga Darmawangsa akibat menderita kerugian yang sangat besar. *** Penyesalan yang luar biasa dirasakan oleh Lukman. "Seandainya dulu papah merestui saya, mungkin saya bisa mendampingi papah menjelang ajalnya", ucap Lukman di iringi derai air mata yang semakin deras. Melihat suaminya terpukul dengan kabar mertuanya yang sudah meninggal, Irma merangkul Lukman seraya memberikan kekuatan untuk suaminya. "Pak, ikhlaskan Papah, kita doakan saja semoga amal ibadahnya diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa", ucap Irma yang juga menangis dan kaget mendengar kabar duka ini. "Tuan Lukman, Tuan besar juga berpesan, agar Tuan Lukman kembali ke rumah, untuk memastikan bahwa generasi dari keluarga Atmaja tidak terhenti hanya karena beliau meninggal". Sergah Edward di sela tangisan ketiga orang yang ada di hadapannya. "Tapi saya pernah berjanji kepada Papah, jika saya tidak akan pernah kembali ke rumah karena itu adalah konsekuensinya!". Jawab Lukman yang belum tenang dengan kabar ini. "Tidak seperti itu tuan Lukman, tuan besarlah yang meminta kepada saya secara pribadi, untuk kembali membawa anda dan keluarga anda ke kediaman Atmaja". Lanjut Edward menegaskan. Hanya Dias yang masih terlihat tidak terlalu syok atas kematian kakeknya, sebab dia sendiri pun tak pernah mengenal kakeknya. Dia pun tak berkata apa-apa mendengar pembicaraan mereka. Hanya saja, Dias ikut menangis karena dia melihat kedua orang tuanya menangis. Dias tidak terlalu mengerti dengan masa lalu kedua orang tuanya. Kenapa mereka begitu ceroboh dengan keputusan mereka?. Dan kenapa mereka juga rela membuang nama belakang mereka cuma karena rasa cinta mereka?. Dengan kata lain, mereka adalah anak pembangkang atas orang tua mereka. Atau ada alasan lain?. Di tengah rasa ingin tahunya, "pak, Bu..... jelaskan sama Dias, kenapa bapak sama ibu lebih memilih cinta daripada memuliakan kedua orang tua?". "Tidak nak, tidak seperti itu!". Jawab Ibunya dengan cepat. "Kami memang saling mencintai, tetapi karena persaingan bisnis kedua orang tua kami lah perasaan cinta itu kami pendam, dan tak diperlihatkan kepada mereka!". Lanjut Ibunya. "Lagi pula, pernikahan Bapak dan Ibu juga sah secara agama dan negara, karena kakekmu, Sigit Darmawangsa menjadi saksi atas ibu sebagai mempelai wanita!". "Hanya saja, kami berdua harus merelakan warisan yang memang sudah digariskan kepada kami, dan membuang nama belakang kami, Karena itulah persyaratan dari mereka agar kami bisa menikah ", lanjut Irma sambil berbalik dan memeluk Dias. Sambil terduduk lesu dan berada dalam pelukan ibunya, Dias mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi diantara kedua orang tuanya dan keluarga mereka di masa lalu. "Terus, dengan adanya kejadian hari ini, bagaimana sikap Bapak dan Ibu?". Tanya Dias tertunduk. Sambil mengusap air matanya, Lukman pun langsung menoleh ke arah Dias. "Karena ini permintaan kakekmu untuk Bapak kembali ke kediaman Atmaja, Bapak akan menuruti permintaannya".
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN