***
Dias masih mematung tak percaya, mengetahui bapak yang ternyata mengenal pria paruh baya yang di tolong dan baru saja mengantarkan Dias pulang. Apalagi mendengar bapaknya sedikit berteriak dengan menyebutkan nama dari lelaki itu.
Ditambah lagi, dia merasa kaget setelah mendengar lelaki itu menyebutkan nama asli dari bapak ibunya, yang ternyata memiliki nama belakang seperti nama orang besar di Indonesia. Sementara Dias, tidak memiliki nama belakang seperti bapak dan ibunya.
Dia masih merasa bingung dengan kejadian hari ini, sekarang dia tambah bingung dengan kejadian yang terjadi di rumahnya. Ada apa sebenarnya ini?, kenapa kejadian hari ini membuatnya jadi seperti ini!.
Ingin rasanya dia berlari dan berteriak sekencang-kencangnya atas apa yang menimpanya hari ini.
Dengan sedikit ragu dan sangat ingin tahu maksud dari kejadian yang ada di hadapannya, Dias melangkah masuk dan bertanya dengan nada yang jelas tak tenang.
"Bapak dan Ibu kenal dengan orang ini?". Tanya Dias.
Sambil berjalan dan terduduk di dekat Ibunya, Dias menatap pria paruh baya itu dengan tatapan penuh tanya. Siapa dia sebenarnya?, kenapa dia tahu latar belakang bapak dan ibu?, sepertinya dia mengenalnya lebih dari sekedar seorang teman!.
Masih banyak lagi pertanyaan yang ingin dia lontarkan, tapi dia tak bermaksud untuk menyinggung orang tuanya dan pria itu. Dia butuh penjelasan atas semua ini.
"Iya, Bapak dan Ibu kenal dengan Edward, beliau adalah pengawal serta orang kepercayaan kakekmu nak", sahut Bapak sambil ikut duduk di sebelah sang istri.
"Namun banyak hal yang belum ingin waktunya kamu Bapak beritahu, ini menyangkut masalah Bapak dan Ibu, serta kakekmu ".
Masalah macam apa yang membuat mereka sampai menyembunyikannya kepada Dias?. Selama ini yang Dias tahu, bapaknya adalah orang yang jujur, baik hati serta pekerja keras. Dias sangat mengetahui bahwa bapaknya adalah orang yang sangat bertanggung jawab. Tapi kenapa hari ini semua berubah begitu saja!.
"Nak, kamu jangan marah ataupun benci, jika Ibu sama Bapak beritahu yang sebenarnya?", Ujar Ibunya, dan matanya membendung air mata yang hendak keluar.
Dias sangat terpukul dengan beberapa kejadian hari ini. Lalu dengan adanya pertemuan ini, membuat Dias semakin tak mengerti. Berharap mendapat penjelasan, tapi justru Dias malah mendapat kebingungan.
Edward mematung mendengar pembicaraan Lukman dan Irma, dia menatap pemuda itu dengan sangat jelas, tak ingin melewatkan sedikitpun. Tanpa sepengetahuannya, ternyata dia adalah anak yang mewarisi harta kekayaan keluarga Atmaja.
"Jadi, anak ini adalah anak kalian?, Siapa namamu nak?", Tanya Edward dengan lembut dan penuh haru.
Dias masih tetap dengan tatapan heran dan sungguh ini sangat membingungkan. Ada hal yang selama ini Bapak dan Ibunya sembunyikan, namun sedikit pun Dias tak pernah menyangka. Di balik kelembutan, kebaikan serta kerja keras yang menunjukkan bahwa sang Bapak adalah seseorang yang terlihat tanpa cacat, ternyata membuat Dias merasa ragu karena menyembunyikan hal yang pasti juga sangat luar biasa.
Dias menganggukkan kepalanya, "iya, saya anak dari Bapak dan Ibu, nama saya Dias, kenapa pak?".
Dengan senyum yang tergambar jelas di wajahnya dan kegembiraan yang terpancar dari Edward dia menunduk dan membuka suara.
"Tidak apa-apa nak, saya sangat senang dengan hari ini, setelah sekian tahun amanat ini saya pegang, akhirnya saya menemukan kalian!".
Terdengar suara tangisan kecil keluar dari mulut Edward. Bukan tangisan apa-apa, selain tangis kebahagiaan yang menyelimutinya.
Dias masih merasa heran, apa maksud dari semua ini. Apalagi setelah Edward bertanya dan dijawab Dias, dia tak memberikan kejelasan. Bahkan diaerasa sangat senang dengan hari ini. Bahkan dia berbicara tentang amanat?.
"Pak, beritahu Dias, ada apa sebenarnya?, Dias ngga akan pernah marah ataupun benci sama Bapak ataupun ibu!".
"Kenapa bapak bilang kalo pak Edward adalah pengawal serta orang kepercayaan kakek Dias?".
"Padahal selama ini Dias selalu ngga pernah tahu tentang kakek dan keberadaannya?".
Diberondong pertanyaan, Bapaknya melempar tatapan sayu namun penuh arti.
"Jika sudah begini, ya sudah waktunya kamu tahu nak!".
"Kakekmu adalah seorang pimpinan di perusahaan terbesar di Indonesia, yang melingkupi saham paling terbanyak juga, hampir di seluruh perusahaan di Indonesia, kakekmu lah yang memonopolinya".
Dengan tangan Ibunya yang merangkul Dias, Bapaknya terus berucap. "Bisa di bilang, kakekmu adalah orang terkaya di Indonesia, namun tidak semua orang tahu siapa sebenarnya kakekmu!, Hanya beberapa orang yang tahu, tapi jika mendengar nama Listanto Atmaja, atau keluarga Atmaja, semua orang besar di Indonesia pasti tunduk dan takkan berani untuk berbuat apapun ".
Dias terdiam dan tak tahu harus bicara apa. Bapak menjelaskan tentang kakek sebegitu detailnya. Padahal sebelumnya, jika Dias bertanya tentang kakeknya, dia selalu mendapatkan jawaban nanti setelah kamu dewasa.
Dias sendiri merasa di permainkan dengan keadaan saat ini. Kakeknya orang terkaya, namun pada kenyataannya saat ini, Dias hidup di rumah kecil ini dengan perekonomian yang terbilang buruk.
"Kalo kakek orang terkaya, kenapa kita hidup dengan kehidupan yang seperti ini pak?".
"Karena Bapak tidak ingin memberikan kamu kemewahan, Bapak tidak ingin kamu merasa sombong dengan gelar nama Atmaja, Bapak dan Ibu mau menuntunmu pada kehidupan yang sederhana, tidak seperti bapak ataupun ibumu dahulu".
Tanpa di sadari, Bapak Dias meneteskan air matanya, sementara Ibunya sudah sedari tadi menangis tanpa suara setelah mendengar pernyataan suaminya.
Alasan bapak tidak masuk akal?, itu bukanlah alasan yang logis bagi Dias. Itu hanya sebuah ketakutan, bukan lah jawaban.
Dias terus terdiam dan tak bisa berkata apapun, namun di dalam hatinya berkata, 'dengan kata lain, gue cucu dari orang terkaya di Indonesia'.
Sambil menarik nafas dan mengeluarkannya. "Apa ini suatu kebetulan atau memang sudah Tuhan rencanakan untuk Dias?".
"Tapi kenyataannya, Dias hidup dengan Bapak dan Ibu dalam keadaan sesederhana ini, dan Dias pun baru tahu siapa Bapak dan Ibu sebenarnya". Sambungnya.
Setelah Dias berkata seperti itu, justru Edward sedikit tertawa tertahan di selingi dengan Isak tangis harunya. "Bukan kebetulan Tuan Muda, ini adalah takdir..... bahwasanya kamu akan menjadi pewaris sah dari keluarga Atmaja!".
Ketiganya mengangkat kepala dengan sedikit mata terbelalak mendengar ucapan yang di sampaikan Edward. Mengetahui Edward berbicara seperti itu, Dias pun kaget dengan mulut terbuka. Apa maksud dari lelaki itu?, apa dia kira semudah itu menjawab kebingungan yang saat ini dia rasakan?.
"Apa maksudmu Edward?" Bapaknya Dias terlebih dahulu buka suara.
"Dias adalah pewaris sah keluarga Atmaja!", Jawab Edward dengan cepat.
Dengan heran Ibunya bertanya, "Lalu bagaimana dengan Papah?"
Dengan tertunduk dan menahan tangisnya Edward memberitahu. "Tuan Besar........a........eee.......maaf Tuan Lukman, tuan besar sudah meninggal......................"