Bab 009 Aku Menemukan Kalian

1028 Kata
*** Rasa terkejut bercampur dengan rasa penasaran yang saat ini ibunya Dias rasakan. Setelah sesaat melihat seorang lelaki paruh baya mengantarkan anaknya pulang. Ada sedikit perasaan bahwa dia mengenali lelaki paruh baya tersebut, namun kapan dan dimana dia bertemu dengannya?. Rasanya sudah sangat lama kejadian itu, dimana dia dan suaminya bertemu dengannya. Bukan tak ingin menegurnya ataupun tak ingin menyapa siapa orang itu, hanya saja ibunya Dias agak sedikit takut jika dia salah orang. Namun demikian, sebagai tuan rumah, dia tetap mempersilahkan laki-laki itu masuk. "Mari, masuk dulu pak, biar saya siapkan minum dulu", ucap Ibunya Dias. Ibu Dias bernama Irma, namun belum ada yang tahu tentang latar belakangnya. Bahkan Dias sendiri pun tak pernah tahu identitas dari Ibunya sendiri. Usianya baru beranjak 42 tahun, dan penampilannya masih terbilang cantik meskipun tidak terbalut dengan make up. Lagi pula, jangankan untuk bermake up, untuk makan sehari-hari pun mereka harus irit. Hal tersebut dikarenakan mereka juga butuh biaya untuk Dias kuliah. Bahkan Irma rela menjadi buruh cuci demi mendapatkan penghasilan yang lebih untuk menambah uang belanja dan ongkos kuliah Dias sehari-hari. Dia tak pernah malu akan pekerjaannya itu. Di satu sisi dia ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya, dan di sisi lain dia terkadang tak tega melihat suaminya yang giat dalam bekerja tapi penghasilannya hanya bisa untuk makan sehari-hari dan hanya sedikit pula yang bisa di tabung untuk tambahan biaya semester kuliah Dias. Maka dari itu, dia tak bisa berdiam diri melihat keduanya bekerja keras, sementara Irma hanya berdiam diri di rumah mengandalkan warung kecilnya. Di lain sisi, seorang pria paruh baya itu tertegun sejenak dan sedang memikirkan sesuatu yang jelas sama seperti apa yang di pikirkan Ibu Dias. Dia merasa mengenal dan sering bertemu dengannya, entah kapan dan dimana, tapi dia sangat yakin jika perempuan yang dilihatnya ini benar-benar orang itu. Namun masih menahan diri untuk tidak langsung bertanya, takut menyinggung perasaannya dan takut juga apabila salah orang. Dia tak ingin terlalu memikirkan hal itu, karena jika memang dia mengenalnya sudah tentu wanita itupun menyapanya. Jadi tak ada alasan baginya untuk mencari tahu siapa dirinya. Disela dia berfikir, dia memandang sekeliling rumah. Dengan tatapan yang sedikit heran melihat penampilan dan bentuk rumah tersebut. Terlihat sangat tidak layak menurutnya. Rumah yang hanya menjadikan bilik bambu sebagai temboknya dan Eternit nya. Tiangnya tidak di cor layaknya bangunan pada umumnya, hanya tiang kayu yang terdapat dari rumah itu. Dan atapnya adalah genteng yang sudah tak tersusun rapi akibat pergeseran yang tak jelas karena apa, entah itu kucing ataupun binatang yang keluar malam pada umumnya. 'Apa ini yang dinamakan rumah', 'kecil dan sangat tidak layak untuk dihuni ', umpatnya dalam hati. Pria paruh baya itu sedikit kaget mendengar suara dari wanita itu yang mempersilahkan dia untuk masuk dan sekedar minum. "Ah, terimakasih Bu", sambil berjalan dan masuk ke dalam ruang tamu. Ketika sampai di dalam rumah pun, pria itu kembali heran dengan kondisi keluarga ini. Di ruangan yang mereka anggap ruang tamu, tidak ada sofa ataupun tempat duduk. Yang dilihatnya, hanyalah ruangan kosong tanpa ada furniture apapun dan hanya Dias yang sedang menggelar tikar sebagai alas duduk untuk pria paruh baya sebagai tamunya. Pria paruh baya itu terus mengamati ruangan itu, yang luasnya tidak terlalu luas, kira-kira hanya berukuran 4X4 meter persegi. Pada umumnya cukup luas apabila keluarga ini membangun rumah model minimalis, namun apa daya, lagi-lagi pria itu tak ingin bertanya tentang hal tersebut karena takut menyinggung perasaan penghuni rumah. Merasa heran, sudah pasti. Namun dia menepis perasaan itu karena takut menyinggung perasaan pemilik rumah. Di tambah lagi, dia masih memikirkan sesuatu yang memang sudah sangat lama terjadi. Masa lalu yang sampai saat ini belum terjawab di benaknya. Dalam lamunannya dia di kagetkan dengan kedatangan Ibunya Dias yang sudah membawa nampan berisikan 4 cangkir teh manis hangat. "Di minum pak teh manisnya", sapa Ibunya Dias dengan lembut. "Nanti suami saya segera keluar, dia sedang menunaikan shalat isya terlebih dahulu", lanjut Ibunya Dias. "E..eh...iya Bu, terimakasih, maaf saya terlalu merepotkan", jawab pria paruh baya itu terbata-bata. Dias masuk ke kamar dan mengambil selembar uang 20 ribuan, dan izin sebentar untuk ke warung membeli makanan ringan. "Sudah dek, jangan repot-repot,ini aja udah cukup kok!", Sergah pria paruh baya itu. Sambil terus berjalan, Dias menjawab dengan senyum tipis, "ngga apa-apa pak, cuma makanan ringan kok, lagi pula tamu itu harus di muliakan ". Pria paruh baya itu tersenyum agak sedikit lebar, tertegun karena takjub dengan sikap dan sifat Dias yang di lihatnya saat ini. Baginya, anak itu sungguh memiliki adab yang baik di banding dengan anak muda seusianya. Di tambah lagi dia anak yang sopan dan gemar menolong, tak perduli siapa yang butuh bantuan, dia pasti siap menolongnya. Hal itupun terjadi pada dirinya malam ini. Keduanya saling tak mengenal, tapi Dias memberikan bantuan untuknya. Tak berselang lama, setelah Dias kembali dari warung dan membawa kantong plastik berisikan makanan ringan. Dias mendengar suara bapaknya yang terdengar kaget dengan apa yang dilihatnya. Sambil terus melangkah ke arah pintu Dias tertegun di ambang pintu. "Edward!!!!" Suara sedikit keras mengagetkan Ibunya Dias, Dias dan pemilik nama itu. Ya, pria paruh baya itu adalah Edward Brawijaya. Seorang pengawal sekaligus orang kepercayaan dari Listanto Atmaja, yang merupakan orang paling kuat dan berpengaruh dalam dunia bisnis di Indonesia. Bahkan bisa dikatakan dia adalah pimpinan di seluruh perusahaan di Indonesia. Latar belakangnya sangat kuat, dan sangat mengerikan. Namun siapa sangka dia ada di tengah-tengah keluarga Dias. Di tambah lagi, bapaknya Dias yang jelas jelas sangat akrab dan mengenalnya. Bagaimana tidak!, dia tak mungkin tak mengenali Edward, sebab seringnya bertemu di rumah dahulu. Bahkan Edward hampir seusianya dan dia adalah teman saat mudanya. "Tuan Lukman Hadi Atmaja!!!!" Sambil berdiri pak Edward menatap Bapaknya Dias. Lalu menoleh ke arah Ibunya Dias yang tertunduk setelah mendengar nama Edward di ucapkan oleh suaminya. Sambil menatap tak karuan antara percaya atau tidak, Edward yang hampir putus asa dalam tugasnya mencari keberadaan Lukman Hadi Atmaja kembali terduduk tanpa melepaskan pandangannya ke arah dua orang di depannya. "Jadi benar, anda adalah nyonya Irma Darmawangsa?", Edward menegaskan. Tanpa menatap Edward, Irma menjawab, "ya, aku Irma....... Irma Darmawangsa!", Dengan mengangkat wajahnya. "Akhirnya, aku menemukan kalian berdua", ucap Edward di iringi dengan sedikit air mata yang turun dan dengan sigap dia langsung menghapusnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN