***
Udara menjelang sore kala itu begitu hangat, dengan tubuh yang basah, ketiga sahabat itu merebahkan diri di tepi kolam renang. Sambil memejamkan mata, mereka menikmati hembusan angin sore yang seakan membelai lembut kulit mereka. Kepulan asap rokok berhamburan ke segala penjuru halaman rumah itu.
Seteguk demi seteguk kopi yang ada di genggaman mereka mulai habis. Menikmati sore dengan berenang dan memanjakan diri di sela kesibukan sehari-hari memang jarang ketiganya lakukan. Apalagi dengan momen yang sama seperti sekarang ini.
Rasanya sungguh tak ingin sedikitpun terlewatkan.
17:15
Namun tak baik juga jika mereka harus berlama-lama dengan situasi seperti ini. Apalagi Dias, yang jarak rumahnya memakan waktu yang cukup lama untuk sampai ke tujuan.
Dengan perlahan dia bangkit dan mulai merapihkan pakaian keringnya menuju ruangan kosong tempat berganti pakaian.
Melihat Dias yang sudah rapih dengan pakaian, tas serta sepatunya, Roni bergegas menghampirinya.
"Lu mau pulang sekarang Yas?," Tanya Roni.
Dias menganggukkan kepalanya, "Iyalah, udah sore juga kan!, Lagian rumah gue kan yang paling jauh!, Sahut Dias sambil kembali menghisap rokok dan menghabiskan kopinya.
Dengan cepat Roni mengambil uang yang memang sudah disiapkan sejak tadi untuk ongkos Dias pulang.
"Lu ambil ya, jangan ditolak!, Emang ngga seberapa, tapi cukuplah buat ongkos pulang!, Seru Roni sambil menyerahkan tiga lembar uang seratus ribu rupiah yang dia lipat.
"Aduh!, ngga usah deh Ron!, gue masih ada kok kalo buat ongkos pulang mah!, Balas Dias yang enggan menerima pemberian Roni.
"Nggak bisa gitu lah!, kan gue juga udah janji sama lu kalo gue bakal kasih buat ongkos!, lagian kan tugas gue jadi selesai berkat bantuan lu, di tambah lagi jadi mulai ngerti sama tugas dari Pak Jaka!, Sahut Roni yang memaksa Dias menerima pemberian dari Roni dan langsung memasukannya ke kantong belakang celana Dias.
"Yah kan!, ngga enak nih jadinya!, Umpat Dias
.
"Jangan mikir macem-macem, kita ada memang buat lu!, Sahut Roni yang kembali melemparkan dirinya ke kolam renang.
Tak banyak yang Dias lakukan selain dengan terpaksa menerima apa yang Roni berikan. Namun perasaan tak enak hati selalu dia pancarkan melalui wajahnya.
Kedua sahabatnya ini memanglah sangat baik kepadanya, apalagi hanya mereka berdua yang paling jauh memahami Dias dengan keadaannya yang seperti sekarang ini.
Sambil berdiri dia menatap kedua temannya yang sedang berada di kolam renang. "Gue duluan ya, takut nanti ibu gue nyariin!, Ucap Dias seraya melambaikan tangan dan beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ok bro!, hati-hati lu dijalan!, Keduanya serempak menjawab Dias yang mulai pergi meninggalkan mereka.
***
"Ttiinnnn.....tttiiiinnnnn......"
Suara klakson mobil yang begitu nyaring membangunkan Dias yang sedari tadi terlelap di ujung bangku angkutan kota. Dia kaget setelah mengetahui bahwa angkutan kota yang dia tumpangi sudah lumayan jauh melewati gang rumahnya.
"hhmmmmmmm!! astaga!, udah kelewat ini!!!", Sergah Dias terkaget. "Kiri bang ....kiri.....!!!"...lanjut Dias menghentikan laju angkutan umum itu.
Setelah membayar, Dias tertegun sejenak dan menggaruk kepalanya meskipun tak terasa gatal.
"aduuuhhhh!, kenapa harus kelewat si ah!!"..gerutu Dias sambil berjalan sedikit gontai.
Sepanjang perjalanannya Dias terus terbayang kejadian yang menimpa dirinya hari ini. Di kampus dan di rumah Roni. Ada rasa jengkel yang menghiasi dirinya akibat ulah dari Aldi, ada juga rasa malu ketika dia jadi perhatian mahasiswa di perpustakaan akibat ulah Roni dan yang membuatnya aneh dengan kejadian tadi bersama Mba Sum.
Ketiga kejadian itu membuatnya tertawa sendiri. Apalagi barusan dia tertidur di angkot, sampai-sampai dia harus melewati gang rumahnya dengan cukup jauh.
'aarrrggghhhhh'
Umpatnya dalam hati dengan perasaan yang campur aduk kini dia rasakan.
Seketika bayangan erotis Mba Sum tergambar jelas dalam pikirannya. Dan dengan jelas dia masih bisa merasakan kelembutan bibir dan kenyalnya p******a milik Mba Sum.
Sambil menghela nafas dia melanjutkan dengan berjalan kaki kembali menuju gang rumahnya.
'Untung ajah gue keburu sadar, klo kaga, hhmm, udah abis itu mba Sum gue gagahin', racau Dias dalam hatinya.
Sepanjang perjalanan pulang, Dias terus menatap pinggir jalan raya. Dengan pikiran yang terus bolak-balik mengingat kejadian hari ini. Dan tiba-tiba dia melihat seorang pria paruh baya yang umurnya berkisar 50an tahun sedang mendorong sepeda motor klasik.
Tanpa sadar dia berlari dan mendekati pria paruh baya tersebut dan menawarkan diri untuk memberikan bantuan kepadanya.
"Mogok ya pak?, Tanya Dias dan tanpa menunggu persetujuan dari pria paruh baya itu ikut membantu mendorong motornya.
Dengan sikap yang kaget, pria paruh baya itu menatap Dias dari atas sampai bawah.
"Eh...iya ini nak, sepertinya kehabisan bensin!", Jawab pria itu dengan cepat.
"Lanjut pak!, biar saya bantu dorong ke pom mini di depan sana!", Ucap Dias dengan nada yang sopan.
"oohh... terimakasih ya dek!", jawab si bapak dengan lembut.
Membantu orang yang kesusahan sudah menjadi kebiasaan Dias, bahkan sebelum orang itu memintanya. Sikapnya yang seperti itulah yang sangat kedua orang tuanya senangi dari Dias. Bahkan dia adalah pemuda yang membantu tanpa mengharap balasan.
Dengan bertegur sapa dan memperkenalkan diri, mereka berdua terus mendorong motor tersebut menuju Pom Mini yang jaraknya lumayan jauh. Sambil berbincang keduanya tak sedikitpun merasa lelah.
Sampai di pengisian bensin, Dias berencana untuk langsung pamit kepada pria paruh baya itu.
"Nah, sudah sampai pak, di isi dulu dah pak, saya mau lanjut jalan lagi".
Ujar Dias yang langsung melangkah.
"Tunggu sebentar dek, ini buat kamu!", Panggil si bapak dengan menyodorkan uang 50 ribuan.
"ih, jangan pak!, saya niat bantu kok, ngga mengharap balasan!", Jawab Dias dengan cepat dan kembali pamit untuk terus melanjutkan perjalanan pulang.
Di sela perjalanannya, kali ini Dias yang di kagetkan dengan motor yang berhenti tiba-tiba di sampingnya.
"Ayo dek sekalian bapak antarkan pulang!" ajak si bapak kepada Dias.
"ngga usah pak, udah Deket kok gangnya!", jawab Dias dengan cepat.
"Ngga apa-apa, ayo naik, biar bapak antarkan!" balas si bapak dengan harap.
Tanpa berfikir dan tak menunggu lama, Dias pun menyetujui tawaran si bapak untuk mengantarkan Dias pulang sampai ke rumahnya.
Disela perjalanan inilah, Dias kembali berbincang dengan pria itu, namun dia tak pernah menanyakan namanya. Rasa ingin bertanya ada, tapi Dias tak terlalu memikirkan itu. Karena tujuan dia menolong tadi bukan semata-mata untuk apapun, tai murni karena dia memang terbiasa dengan hal seperti itu.
Tak lama berselang, Dias menunjukkan rumahnya yang sudah terlihat dari kejauhan. Dan sesaat kemudian motor yang dia tumpangi pun berhenti tepat di depan teras rumahnya.
"Mampir dulu pak?" ajak dias kepada si bapak.
"hhmmmmm...ya udah oke lah" jawab si bapak dengan lembut.
"Assalamualaikum" ucapan salam Dias kepada orang tuanya yang sedang menunggunya.
Ibunya sedari tadi merasa cemas, karena anak tunggalnya belum juga pulang kuliah, padahal biasanya Dias tidak pernah pulang sampai selarut ini.
"Wa Alaikum salam, dari mana saja kamu Yas, bikin ibu panik ajah ah!" ucap ibunya sedikit kesal karena Dias pulang terlalu malam.
"Tadi abis ada tugas kuliah Bu, trus Dias ngerjainnya di rumah Roni, dan selesai selepas ashar", jawab Dias sambil menyambut tangan ibunya dan menciumnya.
Tak bisa memberi kabar, ya karena Dias tak memiliki telepon genggam. Jangankan telepon genggam, untuk biaya kuliah saja Dias dan ayahnya harus bekerja ekstra keras. Jadi tidak ada sedikitpun niat Dias untuk membeli atau memiliki telepon genggam.
"Lah ini siapa?" tanya ibunya heran.
"Oh ini bapak yang nganterin Dias barusan, tadi Dias ketiduran di angkot, terus kelewatan, pas jalan ketemu bapak ini lagi dorong motornya karena kehabisan bensin, jadi Dias inisiatif buat bantu dorong, eh malah sekalian dianterin sampai rumah!" jawab Dias menjelaskan kepada ibunya.