Bab 007 Ah, Sialan!

1140 Kata
*** Hembusan nafas Mba Sum sangat terasa di wajah Dias, meski sudah mundur satu langkah. Mba Sum bukannya menjauh, bahkan semakin berani untuk lebih mendekatkan tubuhnya ke arah Dias. Dias hanya mampu bertahan tanpa melakukan penolakan terhadap apa yang terjadi dengannya kali ini. Tapi bukan berarti dia menyetujuinya. Apa yang membuat Mba Sum begitu berani untuk melakukan hal seperti ini?, itulah pertanyaan Dias meski hanya menatapnya. Kedua insan itu beradu pandang dengan memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Mba Sum dengan sangat tenang memperlihatkan aksi panas tersebut. Membuat Dias tak bisa berkutik sama sekali. "Mb...mb....Mba Sum, jangan!", Dengan terbata Dias mengeluarkan suara yang terdengar agak samar. Apa yang terjadi berikutnya diluar dugaan Dias. Mba Sum mendekatkan wajahnya ke wajah Dias dengan perlahan namun pasti. Mba Sum mendekatkan bibirnya ke arah bibir Dias. Hal tersebut membuat Dias merasakan sensasi yang belum pernah dia rasakan. "Ccuup" Terasa asing bagi Dias tapi tanpa menarik wajahnya sehingga Mba Sum dapat menjangkau bibir Dias dengan cepat. Ini kali pertama Dias merasakan ciuman. Karena sebelumnya dia belum pernah melakukan hal tersebut. Jangankan berciuman, memiliki kekasih pun tidak. Bahkan sama sekali dia tak pernah berfikir untuk itu. Tak ada penolakan dari Dias, dan tak ada pula balasan akan ciuman yang Mba Sum berikan padanya. Dias masih mematung dengan jantung yang berdegup semakin cepat. "Den ganteng, udah lama Mba Sum ngga ngerasain ini!", Ucap Mba Sum pelan di iringi dengan desis yang keluar dari mulutnya. Dias masih tertahan dengan cengkraman tangan Mba Sum, hendak ingin menghentikan perbuatan ini, namun Dias tak dapat bergerak sedikitpun. Entah karena apa, yang jelas Dias mulai terbawa dengan situasi. Bahkan kali ini, Mba Sum semakin berani dengan mengangkat kedua tangan Dias dan dengan gerakan sedikit lambat mengarahkan kedua tangan Dias menuju p******a milik Mba Sum. Bagai tersambar petir di siang bolong!. Mungkin itu perumpamaan yang tepat dengan apa yang terjadi pada dirinya. Tubuh Dias justru bergetar dengan apa yang dilakukan oleh Mba Sum. Tak ada keberanian untuk menolak dalam dirinya yang keluar. Dias masih mematung tanpa bergerak sedikitpun!. Melihat Dias yang seperti itu, justru membuat Mba Sum semakin terus melancarkan serangannya tanpa memperdulikan Dias yang tak bergerak bagaikan patung. Dengan cepat tangan Mba Sum juga merangkul leher Dias agar lebih dekat lagi dengan tubuhnya, dan ciuman hangat kembali mendarat di bibir Dias. Bahkan lebih terkesan erotis. Dias masih terdiam dan tak berkedip, apalagi kini Mba Sum mulai memainkan bibirnya yang indah dengan menciumi bibir Dias yang masih belum terbuka. Ada hasrat dalam diri Dias, namun itu masih dalam batas normal dan tak ada kesan untuk membalas ciuman Mba Sum yang semakin membuat bulu kuduk Dias merinding. Dengan sedikit keberanian, Dias mulai sedikit membuka mulutnya. Namun siapa sangka, Mba Sum langsung bergerak cepat ketika merasakan bibir Dias yang mulai terbuka. Dan mulai mengeluarkan lidahnya memasuki mulut Dias. Dias kaget ketika merasakan ada sesuatu yang masuk ke dalam mulutnya, bergerak lincah menyentuh lidah dan giginya. Mba Sum begitu liar menurutnya, membuat Dias tak berkutik dengan apa yang dilakukan Mba Sum. Merasakan lidah Mba Sum yang semakin aktif di mulutnya, dengan perlahan Dias mulai menggerakkan lidahnya. Dan lagi-lagi Dias terkaget ketika mulut Mba Sum mulai menarik lidah Dias untuk memasuki mulutnya. Seiring naiknya hasrat birahi Dias, dengan perlahan Dias mulai mengikuti irama permainan mulut Mba Sum. Membuat Mba Sum semakin terbakar birahi. Kali ini ciuman keduanya mulai berimbang, bahkan Dias sudah mulai beraksi dengan membalas ciuman dan menyedot lidah Mba Sum ke dalam mulutnya. Atau bahkan bisa dikatakan bahwa kali ini Dias mulai ikut memainkan peran dalam pergumulan itu. Dengan saling beradu mulut dan lidah, kini tangan Dias mulai aktif dengan meremas kedua gunung kembar milik Mba Sum yang masih terbungkus dengan baju dan bra nya. Adegan panas itu terus terjadi tanpa ada yang melakukan penolakan sedikitpun. Sehingga membuat keduanya semakin hanyut dalam birahi. Beberapa menit kemudian, tanpa komando, ketika Dias mulai sadar akan perbuatannya yang sudah salah langkah ini. Membuat dia mulai bergerak perlahan dengan melepaskan ciumannya dan menarik mundur kepala dan tubuhnya guna menjaga jarak dengan tubuh Mba Sum. "Mba, sudah ya!, jangan di teruskan,! ini udah salah" ucap Dias dengan nafas yang masih memburu tapi dia tahu betul akan perbuatannya yang sudah jauh di luar batas kewajaran. "Kenapa den ganteng!, Mba ngga apa-apa kok, justru Mba yang mau sama den ganteng!", Balas Mba Sum. "Lagian udah lama banget Mba Sum ngga melakukan ritual ini, semenjak suami Mba Sum meninggal!", Lanjutnya. Ya, Mba Sum adalah seorang janda dengan 2 anak yang sudah mulai beranjak besar. Kedua anaknya kini tinggal di kampung halamannya meneruskan sekolah di sana. Anak yang pertama, seorang perempuan. Usianya 15 tahun dan masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Sementara anak yang kedua, seorang laki-laki. Usianya 8 tahun dan masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Mba Sum di tinggal mati suaminya sejak 4 tahun yang lalu, sehingga agak sedikit wajar jika dia membutuhkan kehangatan seorang lelaki. Karena selama empat tahun itu dia tak mendapatkan belaian dari seorang laki-laki. Namun Dias bukanlah seorang pemuda yang mudah untuk melakukan hal tidak baik tersebut. Bukan karena egois atau munafik, hanya saja menurutnya dia masih belum mampu untuk bertanggung jawab atas apa yang nanti akan terjadi. Lagi pula, Dias pemuda yang tidak terlalu mengerti tentang hubungan intim layaknya suami istri. "Aduh den!, mba tanggung banget ini!, udah ga tahan!, sssshhhhhh....hhhhh!!!", Racau Mba Sum sambil menggeliat seperti cacing kepanasan. Melihat tingkah Mba Sum yang seperti itu, membuat Dias merasakan sesuatu yang mulai bergerak di balik celananya. Dan kali ini dia memberanikan diri untuk melangkah maju mendekati tubuh Mba Sum. Tanpa basa basi, Dias mulai menyentuh kembali gundukan gunung kembar milik Mba Sum. Bahkan kini Dias dengan berani mulai meremas dan mengangkat baju yg dikenakan oleh Mba Sum, dam mulai memasukkan telapak tangannya ke dalam bra dan mulai meraba p******a milik Mba Sum. Dengan cepat Mba Sum merangkul Dias dan mulut mereka kembali berpagut. Berbeda dengan yang tadi, kini Dias mulai berani membalas ciuman Mba Sum dan memainkan lidahnya kedalam mulut Mba Sum. Melihat Dias sudah mulai berani dan aktif Mba Sum tak ingin kalah, kini dia juga mulai aktif dengan meraba kemaluan Dias dari balik celana jeans nya. "hhhhhhhmmmmmmm....mmbbaa....adduuhhhh.......ssssshhhhhhh..!!!", Dias mulai meracau tak karuan. "Den ganteng, Mba buka ya kancing celananya!", Ujar Mba Sum manja sambil merasakan sensasi pijatan tangan Dias di p******a miliknya. Namun..... "Jebuuaaarrrtttt" Suara gemercik air kolam renang mengagetkan Mba Sum dan Dias yang sedang asik b******u. 'ah... sialan!!!', Umpat Dias dalam hatinya. Bimo melompat gaya indah tapi gagal, sehingga menghasilkan suara gemercik air yang cukup keras. "Mba Sum, udah ya!, jangan di terusin, nanti mereka malah curiga kalo saya lama banget ke toiletnya!". Ungkap Dias sambil melepas tangannya dengan kasar dari balik bra milik Mba Sum. "Aduh!, den ganteng, sakit tau!, nariknya kekencangan nih!!!" Gerutu Mba Sum kesal dengan perlakuan Dias yang dengan kencang menarik tangannya dari dalam bra. "Ma...ma...maaf mba Sum!!", Ungkapnya sambil berjalan kembali menghampiri kedua temannya yang mulai berenang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN