Bab 006 Mbak Sum

990 Kata
*** Waktu terasa berjalan sangat cepat. Sama halnya seperti tangan Dias yang juga sangat cepat dapat menyelesaikan perkara tugas kuliah milik Roni, mulutnya tak henti menerangkan beberapa hal penting mengenai tugas tersebut. Memang sudah menjadi hal yang biasa jika Dias dimintai tolong oleh teman-temannya, dengan cara seperti itulah Dias melakukannya. Selain untuk bekal dia, itu juga menjadi bekal untuk teman-temannya. Dengan lugas dan perlahan Dias menjelaskannya, agar Roni dapat dengan mudah memahami tugas tersebut dengan cepat. Roni sangat menikmati apa yang Dias jelaskan, seolah Dias sebagai Dosen dan dia adalah mahasiswanya. Kendati demikian, tak sedikitpun Dias merasa besar hati dengan kemampuannya saat ini yang begitu tegas dan lugas dalam menjelaskan tugas kuliah milik Roni. Di lain sisi, Bimo yang awalnya tak memperdulikan mereka berdua mulai ikut mendengarkan Dias dalam menjelaskan setiap pertanyaan yang ada di lembar tugas milik Roni. Dia sangat antusias, bahkan sesekali Bimo terlihat aktif dalam bertanya mengenai penjelasan Dias yang menurutnya agak sedikit kurang dalam memberi jawaban yang dia berikan. Namun bagi Bimo, ini bukan masalah dia tak setuju atau setuju, hal ini agar Roni dapat lebih mempertegas dalam mencerna setiap jawaban yang terlontar dari Dias. Rasa kagum menyelimuti Bimo dengan memberikan tatapan yang sungguh membuat Dias sedikit malu. Ini sangat menggangu bagi Dias dalam menjelaskan. Sementara minuman yang sedari tadi disediakan telah ludes sampai es batunya pun mencair. Begitu juga dengan cemilan yg tadi sudah di bawakan Mba Sum, terlihat sisa serpihan biskuitnya saja yang nampak di piringnya. "Ron, numpang ke toilet dong!", Ujar Dias yang sedari tadi menahan kencing pengen kencing. "Deh, lu tinggal jalan aja si Yas itu ke sana, ke arah dapur!, emang si kudu di anterin ke toilet?", Jawab Roni enteng. Sambil menahan kencing, Dias berjalan. "Yaelah, masa iya gue langsung nyelonong aja Ron!, seenggaknya izin dulu lah sama pemilik rumahnya!", Seru Dias yang kemudian langsung berjalan ke arah pintu dapur yang letaknya tak jauh dari saung tempat mereka bertiga berkumpul. Saat Dias melangkah agak sedikit berlari, dia tak memperhatikan apa yang ada di depannya, sampai tiba-tiba. "Bbrruukkk" Tabrakan yang lumayan keras terjadi antara tubuh Dias dan Mba Sum. Namun karena tubuh Dias yang sedikit lebih tinggi dan besar, dia mampu menahan tubuhnya agar tak terhuyung ke belakang. Sementara orang yang ada di depannya yang tak lain adalah Mba Sum terlihat terhuyung mundur ke belakang namun tak sampai terjatuh. Entah apa yang terjadi dengan Dias, dia hanya menatap Mba Sum tak berkedip saat bertubrukan dengan Mba Sum ketika baru saja dia melewati pintu dapur rumah Roni. "Aduh den ganteng!, sakit tau!", Sergah Mba Sum sambil menutup p******a miliknya yang tak sengaja bertubrukan dengan tubuh Dias diambang pintu. Dengan tatapan tak berkedip, Dias menyadarkan dirinya dari lamunannya. "Ma..ma..maaf Mba Sum, lagi keburu-buru ini!, saya mau ke toilet, udah ngga tahan mau pipis!", Jawab Dias menjelaskan. Setelah Mba Sum komplain karena Dias menubruk tubuhnya dan sambil menahan nyeri di p******a miliknya, sejenak dia mematung sambil menutup bagian p******a miliknya dengan kedua tangannya dan mulai terlihat memerah di bagian wajahnya. Rasa kaget dengan apa yang terjadi membuat dirinya tak tahu harus mengatakan apa, dan dia tampak memandang tubuh Dias yang gagah serta berdiri dengan tegap yang menandakan bahwa tubuhnya memang atletis dan kuat. Dengan cepat Mba Sum menunjukan arah pintu toilet yang Dias maksud dengan tertunduk menahan sesuatu yang Dias sendiri pun belum tahu maksudnya. "Ya itu toiletnya, cepetan gih, nanti malah ngompol di depan Mba Sum lagi den Dias!", Ucap Mba Sum yang masih berdiri dan dengan wajah yang masih tertunduk. Tanpa basa basi lagi, dengan segera Dias berjalan menuju toilet yang di tunjukkan Mba Sum kepadanya, tanpa sedikitpun melewatkan pandangan matanya ke arah gumpalan besar yang baru saja dia rasakan di d**a wanita itu. Tak berselang berapa lama, setela Dias melakukan aktifitasnya di dalam toilet, Dias hendak langsung kembali ke saung tempat mereka bertiga berkumpul. Namun lagi-lagi dikejutkan dengan adanya Mba Sum di hadapannya. "M....m..... Mba Sum, soal yang tadi maaf ya!, Dias ga sengaja!", Ungkap Dias meminta maaf dengan nada yang terbata-bata dan sedikit menjelaskan ketidaksengajaannya. Mba Sum tersenyum tipis dan terlihat begitu menggoda Dias. "Ngga apa-apa den ganteng!, Mba Sum juga minta maaf sama den ganteng!, udah menghalangi den ganteng, jadinya kita tubrukan deh!", Umbar Mba Sum sambil tertawa kecil dengan tubuh yang bergoyang membuat sedikit ke erotisannya terlihat dengan jelas oleh Dias. Dias adalah laki-laki normal yang tertarik dengan wanita, sejenak dia termenung menatap aksi yang ada di hadapannya dan sedikit membuka mulutnya. Tanpa sadar Dias terus melihat Mba Sum dengan tatapan yang jauh berbeda dari kata takjub melainkan tergiur dengan apa yang Mba Sum lakukan dan membuat Mba Sum semakin memerah di bagian wajahnya. Namun dengan cepat Dias menepis pikiran kotornya. 'Ngga mungkin lah, masa iya gue harus kaya gini sama Mba Sum', Umpat Dias dalam hati. Melihat Dias diam mematung dengan mulut sedikit terbuka Mba Sum bertanya dengan nada yang sedikit menggoda. "Den ganteng kenapa?, kok diam aja?", Suara Mba Sum tiba-tiba mengagetkan lamunan Dias. "Ee...ee....ehh...ngga apa-apa Mba Sum!, pokoknya Dias minta maaf ya!" Ujar Dias sambil berjalan kembali menuju saungdan hendak meninggalkan Mba Sum. Tapi kemudian, "Lah den ganteng mau kemana?", Tangan mba Sum meraih tangan Dias yang hendak meninggalkan Mba Sum sendirian di dapur. Dias pun berbalik dan kembali menatap Mba Sum sambil tubuhnya kembali lagi ke arah tubuh Mba Sum dan di saat bersamaan Mba Sum pun malah kembali menempel ke arah tubuh Dias. Hingga pada akhirnya tubuh mereka pun kembali bertemu dan seolah bagaikan sepasang sejoli yang sedang berpelukan. "Deg...deg...deg...deg....seerrrrr....!!" Begitulah yang Dias rasakan saat ini, karena memang sekalipun belum pernah Dias melakukan hal yang di luar batas dengan lawan jenisnya. "A..a.....a...aaannu!, Mba Sum...kok jadi begini ya...ma....m.....maaf Mba Sum.....Dias ga sengaja!", Ucap Dias menjelaskan, meskipun ini bukanlah kesalahan Dias, melainkan karena ulah Mba Sum sendiri yang menarik tangannya untuk kembali. Dan kali ini Dias dapat merasakan gundukan besar yang memang menempel di tubuhnya!, terasa kenyal dan sulit bagi dia untuk menggambarkannya!. Wajahnya mulai memerah dan dengan segera mundur satu langkah dari tubuh Mba Sum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN