Bab 005 Rumah Roni

958 Kata
*** Setelah memasuki gerbang rumah Roni, kembali Dias menatap takjub. Padahal sudah beberapa kali dia main ke rumah Roni, namun tak sedikitpun dia tak memuji kondisi rumah Roni. Rumah mewah, dengan halaman luas dan fasilitas lengkap yang terlihat sangat nyaman. Halaman depan yang luas dengan penataan tanaman menambah mewahnya rumah Roni. Ditambah lagi terdapat jalan setapak ke arah kiri yang alasnya tersusun dari batu alam dihiasi dengan berbagai macam tanaman bunga di kanan kirinya. Jalan setapak itu menghubungkan teras depan menuju kolam renang. Yang areanya juga cukup luas dan terdapat taman kecil yang juga terhampar tanaman bunga menambah kesan alami yang tersaji. Di pinggir tembok pagar terdapat saung kecil tempat dimana Roni sering mengajak temannya untuk duduk santai sambil menikmati kopi atau es jeruk. Dan di tempat itulah Dias dan Bimo sering beradu pendapat tentang materi perkuliahan dan segala macamnya. "Ayolah, lu berdua langsung aja ke saung, gue mau minta tolong sama mba Sum buatin es jeruk sama nyiapin cemilan!", Ucap Roni sambil berjalan menuju pintu rumahnya dan menyuruh Dias dan Bimo langsung menuju saung. "Sekalian gue mau ambil bahan tugas di kamar!", Lanjut Roni seraya berlalu meninggalkan mereka. 'kapan gue bisa punya tempat tinggal seperti ini buat nyenengin ibu bapak gue ya?', Umpat Dias dalam hati. "Yeeee!, bengong lagi dah gara-gara si Stella!", Ujar Roni seketika menoleh ke belakang sebelum masuk rumah sambil tertawa dan berlari masuk ke dalam rumahnya. "Ah sialan!, gue pulang juga nih!" Gerutu Dias yang terganggu dengan cemoohan temannya itu. "hahahahahahahahahahaha, Dias, Dias, udah yu ah ke saung, jangan kebanyakan bengong, nanti keserempet burung!", Sambar Bimo sambil tertawa dan merangkul pundak Dias kemudian mengajaknya berjalan menuju saung di tepi kolam renang. Dengan merasa kesal Dias berjalan bersama Bimo menuju saung kecil dengan wajah terlihat memerah. Dan tak lama setelah Dias dan Bimo berjalan, sampailah mereka berdua dia saung itu. Tak banyak perubahan, bahkan masih terlihat sama seperti dulu waktu pertama kali mereka berkumpul di saung itu. Setelah beberapa saat duduk dan menunggu Roni, datanglah mba Sum dengan membawa nampan berisikan 3 gelas es jeruk dan cemilan yang di pesan Roni untuk kedua temannya di saung. "ehh, ada den ganteng maen!", Sapa mba Sum kepada Dias dan tak melihat Bimo yang terduduk di belakang Dias. "Oalah!, Mba Sum ngga melihat ada den Bimo juga! Hihihi, maaf...maaf den Bimo!", Lanjut mba Sum dengan menaruh nampan yang berisi 3 gelas es jeruk tadi. "ehhh....i...iya...mba Sum, terimakasih minuman sama cemilannya ya!", Jawab Dias terbata bata dan dapat melihat dengan jelas akan pemandangan yang sangat jarang terjadi. Dengan memakai kaos ketat dan kain yg melingkar di pinggang Mba Sum, semua lelaki pasti akan memandangnya dengan menelan ludah. Atau bahkan lebih berani lagi untuk menggoda dan merayunya. Mba Sum belum terlalu tua, umurnya sekitar 42 tahun dengan nama aslinya adalah Sumiati. Perawakannya tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 165 cm, tubuhnya sintal tidak terlalu ramping namun padat berisi. Di tambah lagi dengan bentuk p******a besar dan agak menggantung, lelaki mana pun pasti sangat tergiur dengan penampilan Mba Sum di tambah lagi dengan pakaian yang ketat seperti itu. Bimo terdiam dengan jakun yang naik turun memandang Mba Sum setelah menaruh nampan itu dan berbalik membelakangi mereka berdua untuk kembali arah dapur yang letaknya tidak terlalu jauh. Gerakan tubuhnya seolah memanggil Bimo untuk memeluk Mba Sum dari belakang. Namun hal tersebut rasanya mustahil, mengingat status wanita itu hanyalah seorang pembantu rumah tangga. Andai saja Mba Sum seorang Karyawan atau Sales Marketing, mungkin Bimo masih mau untuk mengejarnya dan pasti ingin memilikinya. Di sela lamunannya, dia berkata tanpa melihat Dias yang ada di dekatnya, "Sumpah!, pembantu rumah Roni bahenol banget! iya ngga Yas?". Seru Bimo yang masih menatap punggung serta goyangan pinggul Mba Sum sambil berjalan kembali masuk ke dalam dapur rumah Roni. "haadduuhhh!, kenapa jadi gini ya?, kan tujuannya mau bantuin si Roni ngerjain tugas kuliah dari Pak Jaka!, kenapa harus bertemu dengan pemandangan yang kaga kaga sih ya!". Gerutu Dias sambil membuang muka, karena ngga mau berlama-lama memandang pembantu bahenol tadi. Tak lama, Roni pun segera menghampiri kedua temannya yang sudah berada di saung dan melihat kedua temannya seperti mematung?, entah apa yang mereka lihat, tapi Roni sudah bisa menebaknya. "heh! pada ngeliatin Mba Sum lu ya?", Tebak Roni mengagetkan kedua temannya yang masih terdiam dengan mata yang jelalatan. "Yah!, mulai dah lu mikir yg kaga-kaga bae lu Ron!", Gerutu Dias dituduh yang macam-macam. Hal serupa juga terlontar dari mulut Bimo, "Mulai dah lu mikir yang macem-macem, gue ngga sebejad yang lu bayangin Ron!'', Umpat Bimo yg dari tadi terus melirik ke arah pintu tempat Mba Sum masuk. "Ya lagian, pembokat mau di embat juga!", Timpal Roni sambil tersenyum sinis kepada dua temannya yang memang jelas-jelas ketahuan bengong melihat Mba Sum. Jangankan mereka berdua, Roni sendiri pun pada dasarnya sangat suka memperhatikan Mba Sum, apalagi ketika melihat Mba Sum dengan pakaian ketat seperti tadi dan bahkan Roni pernah mengintip Mba Sum yang sedang mandi. Bukan karena apapun, tapi sifat naluriah kelelakiannya lah yang membuatnya seperti itu. Menurut dirinya, asal jangan sampai ada yang tahu aja kalo dia pernah melakukan sikap yang seperti itu. Dengan begitu, dia masih menjaga image dirinya yang tidak jatuh akibat perbuatan buruk tersebut. "ye, siapa juga yang mau ngembat pembantu lu?, Gue cuma mikir, kapan dia Mao jadi pembantu di rumah gue!", Balas Bimo dengan nada yang menantang. "Ngga a bakal gue kasih lah!, body nya aduhai begitu, siapa yang rela coba kehilangan pembantu kaya dia!, lagian lumayan lah, buat nambah semangat gue juga kan kalo pagi-pagi!", Tawa serta ucapan Roni Dengan keras. "Udah ah!, buruan!, mana materi kuliah nya, biar cepet selesai terus gue bisa langsung pulang buat bantuin bapak", Potong Dias dengan nada sedikit tegang. "Nih! bantuin sampe kelar ya?, biar nilainya oke!, hehehehe!", Jawab Dias menyerahkan lembaran tugasnya dengan enteng dan tersenyum menyeringai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN