Bab 004 Ajakan Roni

1014 Kata
*** 12:00 siang Setelah selesai makan siang, Dias kembali melanjutkan aktivitas membaca buku yang sedari tadi dibacanya, sambil tangan kanannya mencatat poin penting dari isi buku tersebut. Dias tetap berdiam diri, meski kedua temannya sedang asyik berbincang dan membicarakan hal mengenai para mahasiswi yang datang. Dia sama sekali tidak tertarik untuk ikut membicarakannya, karena itu bukanlah suatu keharusan. Bisa dikatakan bahwa mereka berdua ada kemiripan dalam hal menentukan tipe wanita, keduanya dengan sengaja menyinggung Dias apabila ada gadis yang lewat di hadapan mereka. Dias hanya menatap mereka berdua dan menggelengkan kepala, tanda tak suka di ganggu ketika sedang membaca dan membuat kesimpulan dari buku yang dibacanya. Hal tersebut sudah biasa mereka lakukan sambil menunggu Dias selesai. Disela aktifitas Dias yang sedang serius, suara Roni kembali membuatnya melirik, "Yas, nanti kalau sudah selesai, main ke rumah gue yuk?". Ajak Roni kepada Dias sekaligus Bimo. "Liat nanti deh, soalnya gue harus bantuin bapak!, lumayan kan buat tambahan menyambung hidup!", balas Dias dengan tenang dan kembali menatap tulisan di buku itu. "Yaelah Yas, hari ini doang!, nanti gue ongkosin pulangnya!", Ucap Roni dengan meminta persetujuan dari Dias. Bimo yang sedari tadi hanya mendengarkan ucapan Roni, dengan segera merapatkan tubuhnya ke arah meja, "Emang Mao ngapain Ron?, sampai segitunya lu ngajak Dias ke rumah lu?" sahut Bimo sedikit bingung. "Mao minta bantuan Dias, mengerjakan tugas mata kuliah dari Pak Jaka", Ungkap Roni berharap Dias mau membantunya. "Sekarang ajah Ron!, jadi gue ngga perlu ke rumah lu!", Timpal Dias tanpa melihat dan merasa enggan menuruti perkataan Roni. "Masalahnya, materinya gue tinggal di rumah, ngga gue bawa!" Ucap Roni sambil menjelaskan. Dias terhenti sejenak dan berfikir untuk menyetujuinya atau tidak. Bukan karena embel-embel ongkos yang akan di berikan Roni, tapi dia merasa tak enak hati jika harus menolak ajakan Roni. Apalagi Roni adalah teman yang memang selalu memahami Dias. "Ya sudah, bentar lagi dah kita ke rumah lu!, gue juga sudah ngga ada kelas hari ini, dan urusan gue di perpustakaan juga hampir selesai!", Jawab Dias menyetujui permintaan Roni dengan tidak sedikitpun melirik ke arahnya dan mempercepat menulis kesimpulan yang sudah dia ketahui dari tulisan di buku itu. "Nah!, Begitu dong!, hehehehe", Ujar Dias dengan tertawa yang sedikit keras, sehingga suara tawanya menjadi pusat perhatian para mahasiswa yang ada di perpustakaan. Tak hanya mereka, Dias sendiri pun menatap Roni dengan sedikit melotot. Bukan karena hal lain, melainkan dilarang berisik jika sedang berada di area perpustakaan. Entah karena Roni tidak tahu atau memang karena dia jarang ke perpustakaan, jadi dia tidak tahu peraturan yang ditetapkan di perpustakaan?. Melihat hal tersebut sontak saja siapapun yang hadir terbelalak dengan kegaduhan yang mereka buat. Sementara dia terlihat seperti tak merasa bersalah atas apa yang sudah dilakukannya. Menyadari akan hal tersebut, dengan cepat Roni menutup mulut dengan tangannya. Dan segera meminta maaf kepada mereka yang merasa terganggu oleh suara tertawa Roni dan kemudian menunduk karena merasa malu. Dias hanya bisa menggelengkan kepalanya, sementara Bimo memukul bahunya karena kesal telah menjadi pusat perhatian di dalam perpustakaan akibat Suara Roni terlalu keras. Dengan segera Dias merapihkan meja serta buku yang sedang dibacanya dan mengajak mereka berdua keluar perpustakaan. Ada beberapa orang yang masih memandang mereka, ada pula yang bersikap seolah acuh dari kegaduhan yang mereka buat. Sementara tatapan mata Dias masih sama, selalu mencuri pandang ke arah Stella berada. Namun dia hanya melirik sebentar saja dan tidak ada niatan untuk mendekatinya, karena dia pun tahu, orang seperti dirinya tidak mungkin mendekati wanita secantik dan populer seperti Stella. Dengan langkah yang sedikit terburu-buru dan tidak ingin berlama-lama lagi perpustakaan, Dias menghampiri Ratna dan memberikan buku serta kartu anggotanya. Dan ketiganya berjalan keluar kampus dengan saling mendorong dan menuduh Roni sebagai biang kerok atas kegaduhan yang terjadi barusan di perpustakaan. Setelah keluar kampus, mereka bergegas jalan menuju stasiun kereta api yang jaraknya memang tidak terlalu jauh dari kampus mereka menuju stasiun kereta tersebut. Mereka berencana menggunakan transportasi kereta api. Selain lebih murah, biasanya di jam siang seperti ini gerbong kereta tidak terlalu padat dengan penumpang, lagipula hal tersebut jarang terjadi ketika mereka sedang jalan bersama. Setibanya di stasiun yang dituju, mereka melangkah turun dari kereta yang mereka naiki, dan jarak rumah Roni juga tidak terlalu jauh dari stasiun tempat mereka turun, makanya mereka lebih memilih naik kereta daripada harus berdesakkan di dalam bus. Hanya dalam waktu 25 menit, mereka bertiga turun dari kereta di stasiun yang jaraknya hanya 100 meter menuju gerbang perumahan elite tempat Roni dan keluarganya tinggal. "Selamat siang mas Roni!", Sapa Satpam penjaga gerbang Perumahan tempat Roni tinggal. "Selamat siang Pak Bejo!", Balas Roni kepada satpam tersebut yang bernama Bejo. "Tumben ngga bawa motor?", Pak Bejo bertanya. "Iya Pak, lagi ngga enak bawa motor!, mari pak, saya ke rumah dulu!", Lanjut Roni yang tak ingin berlama-lama di gerbang perumahan. "Siap Mas Roni!!" jawab pak Bejo. Mereka bertiga pun kemudian langsung masuk dan berjalan dengan santai sambil sedikit bercengkerama. Terlihat mereka pun tertawa dan sedikit bercanda mengenang kejadian tadi di kampus. Dengan melihat Dias yang masih tersipu karena bertemu dengan Stella. Roni kembali meledeknya. "Anjrit!!!, masih ajah lu diem begitu mikirin Stella!", Seru Roni yang mulai mengetahui bahwa Dias terlihat sedikit berbeda dari biasanya karena melihat Stella di perpustakaan tadi. "Ah!, kaga juga!, lu ajah yang mikirnya berlebihan!, gue sadar kok, gue bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa!", Jawab Dias sedikit merendah. Bimo hanya tertawa mendengar percakapan mereka dan sedikit ingin menjelaskan kepada Dias, "ngga gitu juga Yas, cinta itu buta!, buta itu ga ngeliat!, jadi kalo udah cinta ga ngeliat apa-apa selain cinta itu sendiri!" ucap Bimo yang so' tau tentang cinta, padahal belom pernah ngerasain pacaran. "Apaan si lu berdua!", Ngga jadi nih gue bantuin Roni ngerjain tugas!!!", Ancam Dias yang merasa kesal di omongin macem-macem sama kedua temannya. "Eeehhh!, jangan gitu Yas, ngga deh ngga bakalan gue cengin lagi!", Gerutu Roni sambil menuduh Bimo sebagai biang keladinya. "Lu si Bemo, Dias jadi sensi tuh!!", Lanjut Roni. "Lah, lu juga si yang mulai dari tadi, malahan lu yang jadi biang kerok tadi di perpustakaan!", Ucap Bimo membela diri. "udah ah, udah sampe nih!, yu masuk!, Ucap Roni sambil mendorong gerbang rumahnya dan mempersilahkan kedua temannya masuk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN