"Kak Gemilang!!" Pekik Gia mendorong Gemilang dengan kesal. Gia tak peduli dengan wajahnya kini tengah memerah padam. Toh, Gemilang juga sudah sering melihatnya. Ini semua memang ulah lelaki itu, kan. "Loh, kenapa? Memang Kakak nggak lebih manis dari coklat?" tanyanya. Sang lawan bicara mengangguk, "Manis, kok. Tapi sayangnya nggak bisa dimakan." Gemilang terdiam. Tidak bisa dimakan, katanya. Ucapan yang meluncur dengan ringan itu membuatnya teringat akan suatu kejadian di Bali. Kejadian yang hingga saat ini masih terus membuat Gemilang salah tingkah tatkala menatap bibir Gia. Entah mengapa, rasa manis itu masih terus tersisa. Seolah tidak bisa hilang walaupun digunakan untuk mencicipi berbagai makanan. Lamunan Gemilang tiba-tiba berantakan ketika mendengar klakson mobil yang dibuny

