Pada akhirnya, mobil yang ditumpangi oleh Gia dan Arhan telah masuk ke area kampus. Gia pun sempat sekali lagi mengecek ponselnya namun karena tetap tak ada balasan dari sang kekasih, gadis tersebut memilih untuk mematikan data agar baterai ponsel yang ia bawa tetap awet hingga sore hari.
Keduanya pun kini sudah berada di aula utama dengan beberapa orang di dalamnya termasuk Cindy, senior dari jurusan lain serta perwakilan bulan dan bintang kampus lainnya.
Mereka semua belum mulai berlatih karena menunggu satu orang yang berasal dari jurusan Gia, yaitu Melvin yang datang terlambat namun tiba-tiba mengirim pesan kepada Cindy agar semua orang mau menunggunya sebentar lagi.
"Eh Gia, lo kalau pacaran ngapain aja?" celetuk Arhan yang sejak tadi memang bergerak gelisah karena tidak memiliki bahan pembicaraan sama sekali. Lelaki tersebut memang tidak bisa jika hanya diam di tempat tanpa membahas suatu hal, walaupun terkesan ingin tau privasi seseorang.
Gia menggeleng pelan, "Pegangan tangan, cium pipi sama kening, terus kalau kedinginan aku di peluk sama kak Desta," jawab gadis tersebut hingga membuat Arhan kembali menatap Gia tak percaya.
"Seriusan? Nggak ada yang lain gitu? Kayak ... aduh!!" celotehan lelaki yang kini memakai kaos polos berwarna putih itu terpaksa harus berhenti, sebuah tangan tiba-tiba memukul kepalanya dengan keras.
Pemilik tangan kekar kecoklatan tersebut adalah Melvin, ia tidak sengaja mendengar pembicaraan tak bermutu dari juniornya ketika baru saja sampai di aula. Ketika melihat tatapan sukar keluar dari wajah Melvin, Arhan langsung tertawa ringan lalu meminta maaf kepada Gia jika perkataannya tadi terkesan buruk.
Melvin sendiri kini hanya mengenakan jaket jeans serta celana yang sempat ia pakai kemarin malam. Wajah khas bangun tidurnya terlihat jelas, ditambah dengan rambut yang masih acak-acakan serta luka lebam berukuran kecil di pipi sebelah kirinya, membuat orang-orang yang berada di aula tersebut yakin bahwa lelaki ini telah mengalami hal yang tidak mengenakan.
Pria yang digadang-gadang sebagai ketua BEM fakultas paling populer, bahkan lebih dari juara kedua bulan kampus tahun kemarin itu memang tidak sempat pulang ke rumah sejak malam tadi.
Setelah di bawa ke tempat yang lebih aman bersama Desta, Melvin dimintai ganti rugi akan beberapa gelas serta meja kaca yang pecah di kelab malam tersebut. Hal itu juga berhasil membuatnya memilih untuk menginap di hotel terdekat, ia tidak ingin kembali ke rumah atau akan mendapat satu pukulan dari sang papa.
"Oke, udah lengkap semuanya, kan? Kita mulai latihan sekarang yuk!" seru seorang lelaki dari fakultas ilmu komunikasi. Lelaki itu memiliki jabatan sebagai juara pertama bulan serta ketua pelaksana jalannya pemilihan bulan dan bintang tahun ini.
Semua orang mengangguk kemudian mulai bersiap masuk ke dalam barisan masing-masing. Latihan dansa kali ini bukan hanya diikuti oleh mahasiswa baru saja, para senior juga ikut menari untuk menambah suasana menjadi lebih meriah.
Agar latihan berjalan lancar, panita juga mendatangkan pelatih khusus yang juga pernah melatih para kontestan tahun kemarin.
"Perkenalkan, nama saya Jane dan ini adalah partner dansa saya, namanya kak Juna," jelas pelatih dansa berusia sekitar 25 tahun ke atas tersebut, sembari memperkenalkan seorang laki-laki yang berada di sebelah kanannya.
"Teknik dansa yang akan kita pelajari kali ini adalah Waltz, yaitu salah satu teknik berdansa ballroom yang biasanya dilakukan secara berpasangan," tuturnya.
"Langkah dalam waltz sendiri disebut 'box step' karena membentuk kotak dan harus dilakukan dengan irama lambat," imbuh pelatih bernama Juna yang kemudian diikuti anggukan kepala oleh seluruh mahasiswa.
Setelah selesai menjelaskan dan juga mempraktekkan satu persatu gerakan, mulai dari bagian pemimpin hingga bagian yang dipimpin. Sekitar 20 pasangan yang berasal dari 10 fakultas berbeda tersebut kini mulai berhadapan untuk mempraktekan secara langsung apa yang mereka pelajari sejak 30 menit lalu.
"Disini chemistry juga termasuk dalam nilai lebih ya. Kalian akan mendapat hasil yang memuaskan apabila chemistry di diri masing-masing sudah terbentuk, sejenak lupakan pasangan asli dan fokus dengan pasangan dansa kalian saat ini," jelas Jane hingga membuat beberapa orang tertawa begitu pula dengan Arhan.
Musik dansa yang dinyalakan lewat sebuah kotak musik berukuran cukup besar mulai berbunyi, diikuti oleh pemimpin dansa laki-laki yang sedikit menunduk lalu menengadahkan tangannya kepada sang wanita.
Arhan menatap Gia dengan senyum tulus, tercipta binar mata yang seakan memuja kecantikan gadis tersebut secara terang-terangan. Pemuda ini memang sangat pandai merubah suasana serta ekspresi wajah dalam waktu singkat. Topengnya sangat banyak.
Sedangkan Gia sendiri saat ini justru tengah tersenyum samar sembari memberikan tatapan mata bingung. Ia memang tau apa yang akan dilakukan setelah ini, tetapi Gia merasa canggung dan sungkan jika harus menerima uluran tangan Arhan.
"Gia, coba dansa sama aku yuk. Kamu juga boleh anggap pemuda blesteran surga ini sebagai kak Desta mu yang katanya ganteng banget itu," tutur si lelaki setengah tertawa namun tetap mempertahankan nada lembutnya hingga Gia ikut tertawa kecil.
Selain banyak tingkah, Arhan juga selalu memiliki seribu satu cara untuk mencairkan suasana.
Di tempat lain, atau lebih tepatnya di sebuah kamar apartemen yang lumayan berantakan dengan sprei tak lagi menempel pada tempatnya serta bantal dan guling yang terjatuh di lantai, terlihat seorang lelaki tengah bergerak gusar akibat dering dari telepon genggamnya terus berbunyi,
entah sejak berapa menit atau bahkan jam yang lalu.
Desta dengan kemeja kemarin malam yang telah kusut, kini sedikit demi sedikit mulai beranjak duduk di atas kasur tempatnya tidur sejak pukul 2 pagi tadi.
Kepalanya masih terasa pening, namun dering ponsel yang tadi malam sempat mati karena kehabisan baterai, tak kunjung berhenti hingga membuatnya dengan segera mengangkat panggilan masuk tersebut.
"Halo?" suara serak khas bangun tidur menyapa telinga seseorang di seberang sana.
"Lo nggak apa-apa kan, Des? Kenapa nggak masuk kerja?" ucapan itu sontak membuat Desta membulatkan matanya. Pening di kepala lelaki tersebut seolah hilang dalam sekejap, dengan cepat ia melihat fitur jam yang tersedia di dalam ponsel untuk memastikan ucapan temannya.
Pukul 2 siang, itu berarti jam kerjanya paginya telah selesai, dan bisa-bisanya sang teman tidak mengabari Desta sejak pagi tadi.
"Gue telepon lo dari pagi tapi nggak aktif," lanjut orang tersebut seakan mengerti isi hati Desta.
Baiklah, disini memang Desta yang salah karena ponselnya mendadak mati ketika dalam perjalanan pulang dari kelab. Ketika telah sampai apartemen, ia mulai mencharge benda pipih itu hingga tertidur dan baru penuh sekitar 12 jam kemudian. Mungkin ia harus segera membeli ponsel baru yang lebih canggih dan cepat dalam mengisi baterai, batinnya.
"Gue oke kok, cuma nggak enak badan dikit aja. Maaf ya lo harus kerja sendirian tadi," ucap Desta.
Setelah mendapat jawaban berupa kata-kata tak mengapa dari sang teman, telepon kemudian dimatikan oleh lelaki tersebut. Jempol tangannya mulai berselancar masuk ke dalam sebuah fitur yang menyediakan layanan bertukar pesan hingga menampakkan belasan pesan serta panggilan masuk dari Gia.
Desta tersenyum puas saat melihat sebuah pesan teks yang menyatakan bahwa Gama menyetujui rencana sang adik dan dirinya untuk pindah di apartemen ini. Jika Gia pindah, setidaknya uang bensin akan sedikit berkurang dan bisa Desta tabung untuk keperluan lain, kan.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi. Cobalah beberapa saat lagi."
Pemuda berwajah kusam itu mengernyit, kini berganti Gia yang tak dapat dirinya hubungi. Informasi terakhir dilihat dari sang kekasih juga sejak pukul 11 lalu.
Berhubung nyawanya sudah sepenuhnya kembali, Desta memutuskan untuk mandi sejenak kemudian pergi ke rumah Gia dan mengajak gadisnya melihat-lihat area apartemen. Ia juga berencana akan sekaligus mengajaknya mencari makan siang bersama, atau makan sore lebih tepatnya, atau bahkan sarapan karena sejak pagi Desta belum makan?
***
Tak butuh waktu lama, sekitar 30 menit kemudian Desta sudah siap dengan balutan sweater berwarna putih serta sedikit corak bendera Inggris di sisi sebelah kiri dan celana hitam yang terlihat pas di kaki panjangnya.
Gia masih tak membalas pesan. Mungkin gadis kecilnya kini sedang menonton film atau tidur, pikir Desta namun tetap tak menyurutkan keinginan lelaki tersebut untuk segera menjemput sang kekasih di kediamannya.
Sebelum mulai menyalakan mesin mobil, sejenak Desta menatap dirinya di depan cermin mobil bagian dalam, ada bekas biru di sudut bibirnya akibat perkelahian kemarin.
Ia kemudian mengeluarkan decakan kesal, gara-gara lelaki yang tak dirinya kenali kemarin, Desta harus membayar dua kali lipat harga open table beserta barang-barang yang mereka berdua pecahkan.
Desta memiliki kebiasaan buruk ketika mabuk, yaitu tidak mengenali siapapun yang bersama dirinya bahkan para teman-temannya sekalipun. Apalagi kemarin ia bertengkar dengan orang asing, ingat wajahnya saja tidak sama sekali.
Perjalanan menuju rumah Gia hanya didominasi oleh suara-suara potongan lirik lagu yang Desta nyanyikan. Tak jarang ia juga sesekali menekan klakson mobil dengan keras atau bahkan mengumpat ketika lampu hijau telah menyala, namun mobil di depannya tak menunjukkan tanda-tanda akan segera berjalan.
Desta memang telah merencanakan ini sejak baru bangun tidur tadi, ia akan mengajak Gia melihat apartemen lalu makan siang dan berkeliling Jakarta hingga malam hari tiba.
Nanti, jika telah masuk waktu makan siang atau malam, Desta akan beralibi bahwa dompet lelaki tersebut tertinggal di apartemen dan meminta Gia untuk membayar makanan mereka berdua. Itu adalah salah satu cara untuk menekan pengeluarannya bulan ini.
"Oke, sekarang kita coba sambil ganti pasangan ya!" seru pelatih dansa tersebut setelah memberikan waktu istirahat bagi para mahasiswa selama kurang lebih 15 menit.
Semuanya kembali berdiri menghadap pasangan masing-masing dengan jarak kurang lebih 2 meter. Arhan lagi-lagi memberikan senyuman secerah langit siang ini kepada Gia yang juga tersenyum menatapnya.
Mereka berdua telah terbiasa dengan tatapan layaknya memuja antara satu sama lain, padahal setelah berdansa Gia langsung meminta maaf apabila telah menatap Arhan sehangat tadi. Ia tidak ingin lelaki tersebut semakin menyukainya, sangat polos memang.
"Awas jatuh cinta sama gue, loh!" ancam Arhan ketika jarak antara keduanya kini berdekatan, tangan si lelaki ia biarkan memeluk pinggang ramping milik Gia, sedangkan tangan kecil milik lawan mainnya bertengger indah di pundak Arhan.
"Kan aku udah bilang kalau nggak suka sama wajah bule kayak kamu, Han," jawab Gia kelewat santai. Namun, kali ini hati Arhan lebih tahan banting dibandingkan dengan beberapa waktu lalu.
Saat tiba pada adegan ketika keduanya kembali membuka jarak seperti awal tadi, pinggang kosong Gia langsung dipeluk oleh lelaki lain hingga membuat gadis tersebut sedikit terkejut.
Arhan sendiri dengan cepat langsung bisa menguasai keadaan, ia memberikan senyuman semanis mungkin kepada Cindy, sosok pasangan pengganti Gia.
Jika Arhan bersama Cindy, maka Gia otomatis bersama dengan pasangan dansa senior perempuannya tersebut, yaitu Melvin. Wajah Gia kali ini menegang bukan main ketika menatap pahatan indah yang lebih tinggi beberapa centimeter darinya.
Walaupun menurutnya lebih tampan Desta, tetapi hal tersebut tak memungkiri bagi Gia untuk mengakui bahwa Melvin memang sangat manis.
"Chemistry teman-teman, Melvin ayo coba senyum. Wajah kaku kamu itu buat junior mu takut!" tegur pelatih laki-laki yang berada tak jauh dari sisi Melvin dan Gia.
Mendengar hal tersebut membuat Melvin menghela nafas panjang kemudian menatap Gia yang memang menunjukkan raut wajah ketakutan.
"Jangan takut, gue nggak gigit, kok. Kalau mau cepat selesai, lo juga harus senyum." Ujar Melvin sedikit membawa tubuh Gia agar lebih mendekat ke arahnya, bersamaan dengan alunan musik dansa yang mulai masuk ke dalam panca indera keduanya.
Gia menganggukkan kepalanya saat mendapat penuturan dari yang lebih tua. Perlahan, ia mulai mengarahkan tangan kirinya untuk memegang pundak Melvin, sedangkan tangan kanannya memegang erat tangan lelaki tersebut.
Melvin tersenyum, Gia juga turut menampilkan senyumannya. Lelaki bersurai legam itu memuji kecantikan si gadis dari dalam hati, menganggap bahwa sosok yang sekarang tengah berdansa dengan dirinya adalah sang kekasih dengan raut wajah sama namun nama serta sifat yang berbeda.
Di waktu yang bersamaan, Desta kini tengah melajukan mobilnya masuk ke dalam area kampus dengan kecepatan tinggi.
Jika saja tidak diberitahu oleh pembantu rumah tangga Gia yang mengatakan bahwa gadis tersebut pergi bersama seorang laki-laki lain menuju kampus, sudah dipastikan saat ini Desta sedang berkeliling Jakarta untuk mencari keberadaan sang kekasih yang tak berada di rumah.
Sejak dalam perjalanan dari rumah Gia menuju kampus, wajah Desta mengeras sembari sesekali memukul kemudi mobil menggunakan tangannya.
Walaupun belum tau siapa yang menjemput Gia, tetapi pikirannya hanya tertuju pada seorang pemuda yang kemarin malam ia temui di depan rumah. Karena Desta tau betul, bahwa tidak ada orang lain yang mengetahui rumah Gia selain dokter Rachel, karyawan kantor Gama, serta dirinya sendiri.
Dengan cepat lelaki tersebut keluar lalu membanting pintu mobil dengan cukup keras, Desta berjalan mendekati seorang mahasiswa laki-laki yang tengah duduk di dekat kolam air mancur.
"Lo tau cewek ini? Namanya Gia, maba FEB." Tanya Desta tanpa basa basi, sembari menunjukkan foto Gia tengah tersenyum manis dari dalam ponsel miliknya.
Mahasiswa laki-laki itu sejenak terdiam memandangi foto yang terlihat familiar baginya. Bagaimana bisa ia tidak mengenal wanita dalam foto ini jika dirinya sendiri lah yang memberikan kritikan pedas kepada Gia ketika ospek beberapa hari lalu. Ia adalah Nanon.
"Oh, Gianefa peserta bulan dan bintang kampus tahun ini ya?" tanya Nanon berusaha memastikan, "Lagi latihan dansa di aula tuh," lanjutnya sembari menunjuk ke arah aula utama.
Desta mengangguk lalu menepuk pelan bahu lelaki tersebut.
"Makasih!" ucapnya lalu pergi begitu saja menuju aula dengan segala tanya tentang mengapa Gia tidak pernah membicarakan hal ini kepada ia sebelumnya.
Langkah kaki panjang itu berhenti tepat di depan pintu cokelat berukuran besar, tak terkunci, pun dengan suara musik dansa yang terdengar hingga jarak beberapa meter dari luar ruangan.
Tak mau menunggu lebih lama lagi, tangan Desta mulai memegang kenop pintu itu lalu ia turunkan ke bawah hingga terbuka sempurna. Dan detik berikutnya, sebuah pemandangan indah namun cukup berhasil menorehkan luka di hati seakan menyambut kedatangan laki-laki tersebut.
Di bawah sinar lampu berwarna keemasan, berdiri sepasang lelaki dan perempuan yang tengah berdansa. Entah kenapa pencahayaan panggung hanya menyorot mereka berdua, seolah memang ingin menunjukkan adegan romantis itu kepada Desta yang kini tengah mengepalkan tangannya erat.
"Kurang ajar!"