With Arhan

2273 Kata
Jam tangan hitam yang melingkar apik di pergelangan tangan sebelah kiri milik lelaki, yang saat ini tengah berada di dalam mobil telah menunjukkan pukul 10 malam. Matanya kembali menatap sebuah gedung dengan tulisan "Jenja", berukuran besar yang nampak jelas dari tempat parkirnya sekarang. Satu persatu para pengunjung terlihat mulai berdatangan, bahkan di saat tempat hiburan tengah malam tersebut baru saja dibuka. Setelah mendapat pesan masuk dari salah satu temannya bahwa mereka sudah berada di dalam, dengan cepat Desta langsung turun dari mobil. Ia kemudian masuk ke dalam setelah sebelumnya menunjukkan kartu tanda penduduk miliknya. Pemuda berusia 25 tahun itu kali ini memakai sebuah kemeja garis-garis berwarna biru muda, sebagian kancing yang dibiarkan terbuka hingga menampilkan d**a bidangnya yang seputih s**u, celana kain berwarna putih, serta tak lupa pula anting berbentuk rantai yang berada di telinga sebelah kanannya. Cukup manis dan berkharisma di waktu yang bersamaan. Sebenarnya, pagi tadi ia sudah berencana bahwa tidak akan pergi ke tempat ini. Wajar saja, bahkan baru kemarin malam Desta berkunjung ke sini, rasa pening akibat minuman beralkohol pun masih belum sepenuhnya hilang. Tetapi, karena ajakan para teman-teman dan suasana hatinya yang sedikit berantakan sejak melihat Gia menangis, mau tak mau kembali memaksa Desta untuk menemukan ketenangan sekaligus kebahagiannya. Ya, walaupun hal ini harus berdampak pada uang tabungan untuk membeli rumah baru yang tak kunjung penuh. Suasana di dalam kelab malam ini sudah mulai ramai. Gemerlap lampu khas diskotik yang selalu berubah-ubah warna dengan lampu dasar berwarna kuning serta ungu neon telah dinyalakan, suasana dark dan elegan yang ditawarkan benar-benar terlihat sempurna dan mahal. Ah, jangan lupakan juga arena dance floor dengan sistem khusus bernama Liquid Oxygen (LOX) injection system, yang akan membanjiri lantai dansa dengan asap berwarna putih yang diklaim berasal dari oksigen murni hingga membuat arena menjadi semakin menarik. "Desta!" Teriakan seseorang yang berasal dari meja bar tersebut sontak membuat Desta langsung berjalan ke arahnya. Meja bar di sini juga tak kalah apik seperti di tempat-tempat lain. Ukurannya cukup besar, ditambah dengan kursi-kursi berwarna hitam yang membentuk letter U hingga dapat menampung sekitar 10 sampai 15 orang, meja marmer yang mampu memantulkan lampu-lampu ruangan seakan ikut hidup memeriahkan suasana, serta beberapa deretan minuman beralkohol yang sengaja di tata di atas ambalan kayu sebagai hiasan. "Hei, udah pesan meja?" Tanya Desta sembari ikut mendudukkan tubuhnya di kursi tersebut. Lelaki yang berperan sebagai teman Desta tersebut menggelengkan kepala pelan setelah meminum satu gelas wine miliknya, "Belum, kan lo yang mau open table malam ini," ucap pemuda itu menyindir perkataan Desta ketika bertukar pesan tadi. Desta sendiri hanya tertawa kecil lalu mengedarkan pandangannya, mencari nomor meja yang masih kosong, kemudian memanggil barista yang kebetulan berada tak jauh dari tempat ia duduk. "Meja nomor 12 sama 2 whiskey ya," Ucapnya sembari mengeluarkan tumpukan uang berwarna merah sebagai bentuk transaksi pemesanan meja. Setelah mendapat anggukan dari sang barista, kedua orang tersebut berjalan beriringan menuju meja yang disebut Desta. Mereka mulai menikmati musik dan whiskey sembari menunggu para teman-temannya yang lain datang. Sekitar 30 menit kemudian, meja yang ditempati oleh Desta mulai ramai, bahkan ada sekitar 3 wanita tak dikenal yang juga bergabung dalam kumpulan para lelaki tersebut. Tujuannya tak lain tak bukan adalah untuk mendapatkan minuman gratis serta tentu saja beberapa lembar uang. Mengingat bahwa Desta adalah lelaki yang cukup buruk dalam hal minum-minuman beralkohol, lelaki tersebut saat ini sudah mulai melantur, bahkan lengan berisi miliknya telah bertengger indah di pundak gadis yang ia sendiri tidak tau siapa namanya. "Eh Desta, cewek yang sempat lo bawa ke cafe tadi siapa namanya? Pacar lo, kan?" tuduh salah satu teman Desta yang sepertinya juga terlihat telah mabuk, ia adalah salah satu staff baru yang bekerja di Mula Cafe. Mendengar nama 'Gia' membuat seseorang yang juga berada tak jauh dari tempat duduk Desta sedikit mencondongkan tubuhnya ke samping, sekaligus sedikit melirik untuk memastikan bahwa tebakannya benar. Desta lagi-lagi tertawa sembari membantu gadis barunya untuk meminum satu gelas rum, "Namanya Gia, dia ...." Ucapan yang menggantung justru membuat beberapa orang di sana merasa penasaran, pun termasuk juga seseorang yang sedari tadi menguping pembicaraan tak bermanfaat mereka. "Dia adik temen gue, sekaligus uang berjalan," lanjut Desta ringan yang kemudian direspon dengan tawa menggelegar dari beberapa temannya. Lelaki itu tak tau bahwa ada sosok lain yang kini tengah mengernyit tak suka. Ting! @Bang Te [Lo bisa ke sini bentar, nggak?] Menerima pesan dari seorang barista yang kini terlihat tengah melambaikan tangan ke arahnya membuat lelaki tersebut mengangkat sebelah alis, ia kemudian berdiri lalu berjalan menuju meja bar. "Ada apa, Bang?" tanyanya "Duduk sini aja, Vin. Jangan duduk di sofa, lo nggak bayar." Cibir barista itu sembari meracik sebuah minuman. Sosok lelaki dengan jaket kain berwarna hitam yang sedari tadi menguping pembicaraan Desta adalah Melvin. Ia memang cukup sering bermain di Jenja dan sudah mengenal beberapa staf disini, karena sang papa adalah salah satu investor terbesar kelab malam tersebut. Melvin juga tak jarang hanya membayar separuh harga untuk open table. Namun malam ini, lelaki tersebut memilih untuk menyegarkan itu tanpa dibantu oleh minuman keras. "Tolong bawa ke meja nomor 12. Hati-hati, ya!" Lanjutnya lalu menyerahkan satu nampan berisi tiga gelas serta satu botol penuh Vodka yang telah dibuka. Selain mendapatkan separuh harga, Melvin juga terkadang bertugas membantu barista dalam mengantar minuman ketika sedang ramai pengunjung, tepat seperti malam ini. Tanpa berbicara, Melvin langsung mengambil alih nampan tersebut kemudian kembali berjalan menuju meja yang dimaksud oleh barista tadi. Meja nomor 12 yang berisi Desta dan kawan-kawannya. Pemuda itu sedikit memelankan langkahnya ketika melihat Desta, namun sejurus kemudian senyuman samar menguasai wajah manis Melvin saat sebuah ide gila tiba-tiba terbesit di pikirannya. "Permisi." Ucap Melvin setengah menunduk sembari meletakkan satu persatu gelas yang berada di nampan. Bukannya sedikit memberi celah, para lelaki dan perempuan tersebut justru tertawa seakan tiedulikan keberadaan lelaki berusia 22 tahun tersebut. Merasa bahwa sejauh ini rencananya berhasil karena Desta belum mengenalinya, tangan Melvin yang masih memegang nampan dengan cepat ia miringkan hingga satu gelas serta satu botol Vodka yang tersisa kemudian jatuh tepat mengenai baju serta bagian atas celana lelaki tersebut. Suara pecahan kaca dan nampan yang terjatuh tak serta merta membuat semua orang mengalihkan perhatiannya ke arah mereka berdua, karena bising suara musik terdengar lebih mendominasi. Hanya ada beberapa orang saja yang melirik tak minat, lalu kembali fokus dengan kegiatannya masing-masing. "Nggak becus banget sih!" Omel Desta sembari berusaha membersihkan pakaiannya yang basah menggunakan kain lap. Melvin terdiam sejenak, ia cukup terkejut ketika tau bahwa Desta yang sedang mabuk ternyata tidak dapat mengenalinya sama sekali. Ini akan menjadi pertunjukan menarik, batinnya. "Makannya jangan fokus main sama cewek, emang lupa kalau lo udah punya pacar?" Mendengar ucapan itu membuat Desta menghentikan aktifitasnya sejenak kemudian menatap Melvin lamat-lamat, ia seolah pernah melihat lelaki tersebut namun tak tau di mana karena otaknya tidak bisa bekerja dengan baik. "Siapa lo? Berani-beraninya nasehati gue." "Gue orang yang sore tadi lo nasehati biar nggak deket-deket sama pacar abang. Tapi sekarang, lo malah deketin cewek lain. Ingat Bang, hukum aksi sama dengan reaksi, jadi nggak salah kan kalau pacar lo nanti juga bakal selingkuh?" tutur Melvin dengan melakukan penekanan pada setiap kalimatnya hingga membuat Desta geram bukan main. "Kurang ajar!" Geram Desta tak terima, diikuti satu pukulan mentah yang melayang mengenai pipi sebelah kiri Melvin. Hingga detik berikutnya, perkelahian pun tak bisa terelakkan. "Aduh Melvin!" *** Hari telah berganti. Gia yang masih memakai piyama tidurnya terlihat fokus dengan ponsel pintar di genggaman tangan sebelah kanan. Sedangkan tangan kirinya sesekali bergerak, melempar makanan ikan ke dalam kolam koi yang terletak di taman samping rumahnya. Jam telah menunjukkan pukul 9 pagi. Setelah menyelesaikan agenda sarapannya, Gia berusaha menghubungi sang kekasih yang katanya hari ini berjanji akan mengajak gadis itu melihat-lihat kamar apartemen. Namun, pesan yang ia kirim sejak 15 menit lalu tak kunjung dibalas hingga sang empu menghela nafas lelah. Dimana agaknya Desta berada, kenapa ponselnya tidak aktif sejak kemarin malam? Terlalu sibuk memikirkan Desta membuat Gia terkejut ketika mendengar suara bel yang berasal dari gerbang rumahnya berbunyi. Gadis tersebut dengan cepat berlari menuju gerbang, hatinya berharap bahwa seseorang yang memencet bel tersebut adalah Desta. Walaupun faktanya, sang lelaki memiliki kebiasaan tidak pernah memencet bel gerbang, melainkan langsung masuk ke dalam pekarangan rumah. Di sisi lain, Arhan yang lagi-lagi berada di depan gerbang rumah yang ia kunjungi kemarin malam kini asik memainkan bel. Dalam hati, ia juga terus menyalahkan dirinya karena tak melihat keberadaan bel tersebut kemarin malam. Entah kenapa, lelaki tersebut merasa bahwa rumah ini adalah milik Gia, apalagi setelah bertanya kepada satpam sebelum mulai masuk ke dalam komplek perumahan tadi. Manik cokelat milik pemuda itu kemudian menangkap sosok gadis yang masih berbalut piyama berwarna merah muda tengah berlari mendekat ke arahnya. Dari kejauhan pun Arhan sudah tau bahwa sosok tersebut adalah Gia. Itu tandanya, kemarin malam ia telah ditipu oleh bapak-bapak tak punya sopan santun, batinnya. "Loh, Arhan?" Gia tentu saja cukup terkejut dengan kedatangan Arhan pagi ini karena sebelumnya, tidak ada orang lain yang pernah berkunjung ke rumahnya, tau alamat Gia pun tidak. Arhan hanya mengangguk lali melambaikan tangannya dengan heboh ke kanan dan ke kiri, tak lupa memberikan senyuman semanis mungkin agar Gia mempersilakannya untuk masuk ke dalam rumah. Tidak mungkin kan mereka berdua melakukan percakapan di tengah-tengah gerbang macam sekarang? Kecuali kalau memang Gia memiliki tabiat buruk seperti Desta. "Arhan ngapain kesini?" tanya Gia saat telah duduk di saung yang berada di taman samping rumah. Sedangkan sang lawan bicara kini terlihat sibuk meneruskan kegiatan si gadis, yaitu memberi makan ikan koi dengan mulut yang ia majukan layaknya anak kecil. Satu gelas es jeruk dan biskuit juga telah terhidang di samping Gia. "Mau minta modul pengantar ekonomi mikro. Kemarin malam gue juga kesini, tapi diusir sama orang yang ngaku kalau ini rumah dia," jawab Arhan dengan masih tak mengalihkan atensinya pada sekitar 10 ikan-ikan tersebut. Otak Gia dengan cepat menangkap bahwa sosok orang yang mengaku pemilik rumah ini adalah Desta. Jadi, bisa disimpulkan bahwa seorang laki-laki yang terlihat mendongakkan kepalanya di balik gerbang rumah kemarin adalah Arhan. Namun, kenapa Desta tidak memberitahu Gia atau menyuruh lelaki ini untuk masuk? "Eh, Gia sendirian di rumah sebesar ini?" Arhan kembali bertanya, setelah melompat dari seberang kolam lalu ikut duduk di sisi Gia yang menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Seulas senyum kemudian kembali terbit dari bibir Arhan, "Arhan nya nggak diajak masuk nih? Nonton film atau bikin kue bareng gitu?" Gia menggeleng, dan Arhan dengan cepat mengubah air mukanya menjadi keruh, tangannya kemudian terulur untuk meminum es jeruk dengan ice cube yang mulai mencari di dalam gelas. Ia memang tidak memiliki rencana untuk mendekati Gia. Tetapi jika ingin lebih mengenal pasangannya di acara bulan dan bintang kampus, itu bukan merupakan hal yang salah, kan? Ting! Tiba-tiba ponsel milik kedua orang tersebut berbunyi, sama-sama menampilkan sebuah notifikasi pesan masuk dari Cindy, senior sekaligus mentor mereka dalam acara bulan dan bintang kampus yang akan digelar 1 minggu mendatang. @Cindy [Latihan sore kita majuin jam 10 ya, teman-teman. Sampai jumpa!] Setelah membaca pesan tersebut, Gia dan Arhan kemudian saling pandang, "Mau bareng aja nggak? Kan sekalian satu arah," ajak sang lawan bicara. Gia terlihat sedikit berpikir. Saat ini telah pukul setengah 10 pagi, apakah Desta akan sempat menjemputnya, mengingat lelaki tersebut belum membalas pesan yang ia kirim sejak pagi tadi. Jika pergi bersama Arhan, apakah semuanya akan baik-baik saja? "Boleh, tapi Gia ganti baju dulu, ya?" pamit Gia pada akhirnya. Arhan kembali menganggukkan kepala, "Oke, bang Arhan tunggu di sini ya. Jangan lupa sekalian bawa flashdisk!" serunya. Sekitar 15 menit kemudian, kini Gia dan Arhan telah berjalan menuju mobil milik si lelaki yang terparkir di luar. Arhan memang sengaja membawa mobil karena ia tidak terlalu suka berkendara sepeda motor di pagi hari. Lebih baik kena macet daripada harus panas-panasan, ucapnya setiap ditanya apa alasan pemuda itu. "Terus bapak-bapak yang kemarin itu siapa, Gi? Nggak sopan banget tau, masa gue disuruh tutup gerbang tapi dia langsung pergi gitu aja," celoteh Arhan setelah memencet tombol pada tape musik di mobilnya. Samar-samar, terdengar sebuah lagu dari penyanyi Indonesia bernama Mahalini berjudul Sisa Rasa yang masuk ke telinga keduanya. Gia tertawa ringan ketika mendengar kata 'bapak', ia bahkan bisa membayangkan bagaimana kusutnya wajah Desta saat dipanggil dengan sebutan seperti itu oleh Arhan yang memang sedikit aneh. "Namanya kak Desta, masih 25 tahun kok. Dia pacar Gia." "Hah!?" Lelaki itu sedikit berteriak bersamaan dengan mobil yang berhenti mendadak, Arhan tak sengaja menginjak rem karena terkejut. Tentu saja ia terkejut bukan kepalang ketika mendengar bahwa seorang Gia yang terkenal pemalu dan tak banyak bicara tersebut telah memiliki pujaan hati. Arhan bahkan mengira Gia belum pernah berpacaran. Kira-kira apa saja yang telah gadis tersebut lakukan ketika bersama kekasihnya yang jauh lebih tua itu, batin Arhan sembari menatap gadis tersebut dari atas hingga bawah. "Kenapa?" tanya Gia membuyarkan pikiran buruk Arhan. "Padahal Arhan mau deketin Gia. Eh, tapi Gia nya udah punya pacar duluan. Sakit banget loh hati aku!" Tutur si lelaki secara hiperbola sembari memegang dadanya yang bahkan tidak merasakan sakit sama sekali lalu memasang ekspresi kecewa. Arhan memang berlebihan dan suka menggoda. Gia yang mendengar hal itu justru menepuk pundak pemuda tersebut, seakan ikut merasakan patah hati serta iba hingga membuat Arhan sejenak menghentikan aksi beraktingnya. Jangan bilang bahwa gadis dengan setelan blouse berwarna merah muda ini tidak sadar bahwa ia sebenarnya tengah berpura-pura? "Maaf ya, Arhan, tapi Gia nggak suka sama muka bule kayak kamu. Nggak nasionalis kalau kata pembantu Gia." Jika tengah berada di dalam sebuah komik, mungkin kepala Arhan saat ini terasa dijatuhi sebuah batu berukuran besar hingga membuat dirinya hancur berantakan. Atau mungkin juga Arhan sekarang tengah memojokkan diri di sudut ruangan dengan awan hitam yang menyelimuti bagian atas kepalanya. Gia benar-benar membuat rasa kepercayaan diri Arhan yang awalnya setinggi langit, kini jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN