I Love You, Hehe

2225 Kata
Mendengar ucapan sang kekasih membuat gadis tersebut langsung menganggukkan kepala lalu masuk ke dalam mobil, meninggalkan Desta serta Melvin yang masih saling memandang dengan tajam, seolah berusaha membunuh satu sama lain hanya lewat tatapan mata. Setelah memastikan Gia sudah masuk ke dalam mobil, Desta mulai mendekati Melvin yang tak bergerak sama sekali, bahkan sekedar sedikit memundurkan tubuhnya pun tidak. "Jangan deket-deket sama Gia, dia pacar gue," ucap Desta tetap mempertahankan nada dinginnya hingga membuat Melvin kembali mengernyit bingung. "Maaf, bang, tapi gue nggak ada rasa suka sama cewek lo," jawabnya ringan. Tau bahwa laki-laki yang berhadapan dengannya ini berusia lebih tua dari dirinya membuat Melvin memberi embel-embel nama 'bang' agar terdengar lebih sopan. Desta tertawa kecil, "Gue alumni sini. Pin berharga kayak gini nggak mungkin lo kasih ke cewek tanpa ngincar sesuatu dari dia." Balas Desta sembari menunjuk pin tersebut lalu menepuk pelan pundak lelaki yang lebih muda darinya beberapa kali. Suasana hening mengambil alih untuk kesekian kali, keduanya kembali saling tatap dengan pikiran yang sama-sama berisik. Ungkapan tak suka jelas mereka teriakkan dari lubuk hati masing-masing karena tak ingin memicu pertengkaran di sore hari. Hingga tiba-tiba, rintik gerimis mulai terjatuh dari atas langit bersamaan dengan Desta yang memutus kontak mata antara kedua lelaki tampan tersebut. "Sekali lagi, jangan coba-coba buat deketin Gia karena dia punya gue dan usaha lo juga pasti bakal sia-sia karena tuh cewek maunya cuma sama gue," lanjut Desta lalu kembali masuk ke dalam mobil sebelum hujan semakin deras. "Udah nggak waras tuh orang," gumamnya lirih. Melvin terus melihat kepergian mobil hitam tersebut, hingga benar-benar hilang dim0akan jalan raya yang mulai basah akibat hujan. Lelaki itu sendiri tidak menghiraukan derasnya air yang membasahi sebagian almamaternya. Namun, tak lama kemudian Melvin berbalik menuju sepeda motor sport berwarna hijau yang terparkir di sebelah gerbang kampus, tangannya terulur untuk memasang sebuah helm di kepalanya. Daripada menunggu hujan reda, lebih baik menerobosnya saja, pikir pemuda tersebut. Bersepeda di tengah hujan deras merupakan salah satu cara bagi Melvin untuk menghilangkan rasa lelah dan beban yang ia alami sejak pagi hingga sore ini. Andai saja kekasih hatinya berada disini, mungkin kebahagiaan Melvin akan terasa berlipat ganda. Tetapi tak apa, setidaknya sekarang ada sosok yang membuat rasa rindunya kepada sang pujaan sedikit terobati. Kini beralih kepada gadis manis yang tengah diam membisu di dalam mobil, suasana hening serta senyap yang memekat menemani derasnya hujan sore ini. Ingin sekali sebenarnya Gia bertanya kepada Desta tentang apa yang lelaki tersebut ucapkan kepada sang senior beberapa menit lalu. Tetapi melihat rahang sang kekasih yang mengeras serta jelaganya yang menatap lurus ke jalanan, membuat Gia lagi-lagi mengurungkan niatnya untuk untuk berbicara. "Terus lihatin aku kayak gitu, kakak bakal coum kamu sampai pingsan!" celetuk si lelaki yang sepersekian detik kemudian membuat Gia mengerjapkan matanya. Dengan cepat, gadis itu membuang muka ke arah jendela, ia malu karena tertangkap basah menatap wajah tampan kekasihnya secara terang-terangan. Desta tertawa renyah melihat tingkah laku gadis yang terpaut usia lima tahun lebih muda dari dirinya itu, jika seperti ini mana bisa lelaki tersebut marah ketika melihat Gia berduaan dengan Melvin seperti tadi. Benar. Desta memang terlalu overprotektif, bukan sebagai caregiver yang menjaga dari pengaruh buruk, namun sebagai seorang kekasih yang tak ingin wanitanya dekat dengan lelaki lain selain dirinya sendiri. Walaupun hanya sebagai teman semata. Setelah dirasa keadaan di dalam mobil telah menghangat, dengan berani Gia mulai bertanya tentang hal yang sejak tadi menganggu pikirannya, "Kak Desta tadi ngomongin apa sama kak Melvin?" Baru saja Desta merasa sedikit membaik, gadis kecil yang duduk di sebelah kursi kemudinya justru bertanya akan hal yang sejak tadi menjadi alasannya terdiam dan membuat suasana hatinya kembali mendung seperti langit sore ini. Sungguh, apakah ia tidak memiliki rasa peka terhadap apa yang dirasakan Desta sekarang? "Kamu kok berani sih tanya masalah cowok lain di depan pacar kamu?" ketus sang lelaki yang membuat Gia mematung untuk beberapa saat. Apakah pertanyaannya salah? Tetapi Gia hanya ingin tau. Merasa tak ada pembelaan yang akan diucapkan oleh sang kekasih, Desta kemudian menghembuskan nafasnya lalu kembali berkata, "Kakak bicara sama dia itu bukan urusan kamu. Jangan ikut campur atau tanya-tanya masalah cowok lain kalau nggak mau kakak marah, bisa ngerti nggak?" Gia terkesiap ketika mendengar penuturan atau lebih tepatnya perintah yang keluar dari mulut Desta. Selama ini, sang kakak selalu menjawab pertanyaannya yang terkesan terlalu ikut campur itu dengan nada pelan serta halus. Tetapi kekasihnya ini tidak, mungkin benar Gia yang salah, pikir gadis tersebut lalu menundukkan kepalanya sembari memainkan ujung kemeja miliknya. "Maaf, kakak jadi ngerasa bersalah sama kamu." Entah kenapa Desta juga merasa bahwa ia tidak bisa mengontrol emosinya, lelaki itu sendiri tidak sadar bahwa telah mengeluarkan nada suara yang cukup keras hingga membuat Gia langsung terdiam. Desta tau ini salah, tetapi hanya inilah satu-satunya cara agar Gia tidak mempertanyakan lelaki lain dihadapannya. "Maaf," cicit Gia yang sukses membuat Desta mengalihkan atensinya secara penuh ketika suara bergetar dari si gadis masuk melewati gendang telinganya. Desta kemudian memarkirkan mobilnya di tepi jalanan yang sepi, hujan masih belum reda namun suara isak tangis dari Gia juga semakin jelas terdengar. Setelah sekian hari berusaha untuk tidak mengeluh dan menangis, pada akhirnya Gia menumpahkan seluruh air mata yang berisi rasa lelah dan kesalnya. "Hei jangan nangis. Kakak yang salah, sekarang Gia diam ya," ucap Desta sembari merengkuh tubuh gadis yang berukuran lebih kecil darinya. Tangan besar tersebut perlahan-lahan mulai mengelus punggung kekasihnya agar sedikit tenang. Gia mengangguk, namun suara tangisnya masih terus berlanjut. Jika terus seperti ini, lama-lama emosi Desta akan kembali terpancing, tidak mungkin kan ia kembali marah atau nanti Gia akan melaporkannya kepada sang kakak? Bisa dicari hingga mati dirinya nanti. Desta tiba-tiba mengangkat tangan yang sebelumnya mengelus punggung Gia, tubuhnya sedikit menegak ketika teringat akan sesuatu yang mungkin bisa membuat tangisan kekasihnya mereda. *** Pada akhirnya, Gia dan Desta saat ini berakhir di suatu tempat berukuran cukup luas dengan jendela lebar berbahan dasar kaca yang sedikit berembun. Keduanya sepakat pergi ke 'Mula Cafe' lalu memilih tempat duduk di dekat kaca agar bisa menikmati jalanan yang mulai ramai. Hujan telah reda sejak 15 menit lalu, yang tersisa hanyalah udara dingin diikuti bau khas tanah basah, beberapa daun yang menjatuhkan sisa-sisa air, dan sebuah kertas bertuliskan "Bersihkan alas kaki anda terlebih dahulu" yang menempel di pintu masuk. Beberapa orang pesepeda motor yang sempat meneduh juga terlihat di dalam cafe. Mereka tak ingin segera pergi karena telah merasa nyaman, apalagi jika di temani oleh lagu-lagu santai yang terdengar samar. Dua buah croissant berisi selai cokelat yang masih hangat kini telah terhidang di atas piring berwarna putih. Karena hari ini cafe tidak menyediakan croissant, alhasil Desta sendiri lah yang membuatkan pastry tersebut khusus untuk Gia. Tak lupa juga, ia memberikan satu gelas besar strawbery smoothies favorit si gadis hingga membuat perut Gia berbunyi. "Kakak nggak ikut makan?" Tanya gadis tersebut sembari menoleh ke arah Desta yang saat ini terlihat fokus bermain ponsel. Ia tau bahwa dua croissant ini memang porsi normal bagi dirinya. Sejenak Desta menghentikan aktifitasnya, ia kemudian menatap Gia dengan senyuman yang kembali merekah disertai gelengan kepala pelan sebagai jawaban. Desta sudah kenyang bahkan sejak melihat Gia menangis beberapa waktu lalu. "Eh, Gia! kamu mau nggak kalau misalnya tinggal di apartemen yang kayak tempat kakak?" tanya Desta. Lelaki itu kini telah memutar kursinya hingga benar-benar menghadap ke arah sang kekasih, sedari tadi Desta memang memikirkan hal tersebut namun harus tertunda karena adegan menangis Gia. Gia terlihat berpikir sebentar, termasuk ide bagus jika ia pindah ke apartemen yang dekat dengan tempat kuliah agar Desta sendiri tidak terlalu lama berputar-putar dijalan, apalagi ketika mengingat bahwa setiap pagi dan sore hari jalanan selalu ramai. Ia juga bisa memiliki waktu berduaan lebih lama dengan kekasihnya walaupun nantinya akan berbeda lantai. Ya, setidaknya Gia dan Desta akan sama-sama diuntungkan dalam hal ini. "Nanti kita sama-sama bujuk kak Gama biar bisa bolehin kamu tinggal di apartemen," lanjutnya yang sejurus kemudian dijawab anggukan kepala oleh Gia. Suasana hati Gia sendiri lambat laun mulai membaik seperti sedia kala berkat croissant buatan Desta. Kekasihnya itu benar-benar mengetahui tentang semua hal yang dapat membuatnya kembali ceria. Gia rasa, ia harus mengucap kata terima kasih sekaligus meminta maaf akan sikapnya yang membuat Desta sedikit kewalahan tadi. Mulai sekarang, Gia berjanji dengan dirinya sendiri agar tidak membuat Desta kembali marah. Waktu telah menunjukkan pukul 7 malam, Desta yang sempat bertamu di rumah Gia sejak pukul 6 sore tadi sudah bersiap pulang setelah membelikan si gadis satu box martabak manis. Keduanya juga telah merancang kata-kata yang pas untuk dikatakan kepada sang kakak mengenai perpindahan tinggal Gia dari rumah ke apartemen. Ketika mereka berdua sampai di depan pintu rumah, mata Gia sedikit memicing tatkala melihat sebuah sepeda motor yang berhenti tepat di gerbang rumah. Baru saja gadis tersebut hendak berjalan membuka gerbang untuk mengetahui siapa sosok itu, Desta sudah terlebih dahulu memegang tangannya, bermaksud untuk menghalangi. "Kamu masuk ke dalam aja. Itu kayaknya temen kakak, kita mau nongkrong di cafe dulu," titah Desta kemudian dijawab anggukan kepala oleh yang lebih muda. Tanpa menunggu lama, atau kembali bertanya tentang siapa sosok yang diakui Desta sebagai temannya karena tak ingin lelaki tersebut marah, Gia langsung berbalik membuka pintu yang sempat tertutup tadi. "Gia," lagi-lagi Desta mencegah kepergiannya, "Kakak cinta kamu, hehe," lanjut pemuda itu disertai tawa di akhir kalimat. Perkataan Desta seketika membuat wajah Gia memerah di bawah cerahnya lampu neon yang masih menyala. "Loh, belum dijawab kok langsung pergi sih. Jawab lewat pesan ya, Sayang!" Desta tertawa ketika melihat sang gadis buru-buru masuk ke dalam rumah serta menutup pintu dengan cukup keras. Terdengar teriakan 'iya' yang tertangkap di telinganya lalu sepersekian detik kemudian sebuah notifikasi pesan membuat Desta buru-buru mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana. @Gianefa [Gia juga sayang kakak!] Desta tertawa kecil, ia tidak bosan memuji Gia yang begitu pemalu dan menggemaskan , seperti dirinya yang tak bosan bermain di club malam setiap hari bersama para teman-temannya. Berkunjung ke Jenja merupakan kegiatan rutin yang Desta lakukan akhir-akhir ini. Namun, untuk sekarang ia harus segera keluar dari area pekarangan rumah Gia dan menemui sosok laki-laki yang sejak tadi berusaha melihat bagian dalam kediaman si gadis. Sebenarnya, Desta sendiri juga tidak tau siapa orang tersebut, ia langsung berjalan dengan cepat menuju depan gerbang kemudian membukanya perlahan. Kini terlihat dengan jelas di hadapan Desta, seorang pemuda berbalut sweater berwarna hitam yang senada dengan celananya diikuti sepeda motor matic modifikasi yang terparkir di belakang pemuda tersebut. "Siapa?" tanya Desta sembari menaikkan sebelah alisnya, ia tidak pernah bertemu dengan orang ini sebelumnya. "Saya Arhan, pak. Benar ini rumah Gia?" tanya lelaki yang diketahui bernama Arhan itu, matanya masih terus berusaha melihat keadaan rumah Gia. Ia seakan belum pernah berkunjung ke daerah perumahan kalangan atas tersebut. Padahal, Arhan sendiri juga tinggal di kondominium dengan desain serta fasilitas yang tak kalah mewah dan mahal tentunya. Mendengar kata 'pak' yang terucap ringan dari mulut Arhan membuat Desta semakin mengernyit tak suka. Apakah ia sudah terlihat sangat tua? Namun bukan itu masalah utamanya. Tetapi tentang bagaimana Arhan mengenal Gia, apakah mereka berteman? "Kamu siapa?" Arhan menghembuskan nafasnya, "Saya Arhan, pak. Kesini mau ketemu sama Gia." Jika diteruskan seperti ini, maka percakapan tak berbobot antara Desta dan Arhan akan terus berlangsung hingga malam hari tiba. Desta tidak memiliki banyak waktu untuk mengurusi pemuda satu ini, ia harus segera pulang untuk membersihkan diri dan menemui teman-temannya di club. "Iya tau. Maksud gue lo siapanya Gia? Tau tempat tinggal Gia dari mana?" Sekali lagi Desta bertanya, namun kali ini sengaja menghilangkan kesan formal agar Arhan sadar dan berhenti memanggilnya dengan sebutan bapak. "Saya teman satu kampus Gia, mau minta modul pengantar ekonomi makro. Dapet alamat dari data mahasiswa baru yang kebetulan saya pegang. Tapi, kayaknya Gia lupa taruh nomor ponsel di sana, jadi saya putuskan untuk datang langsung ke rumahnya," jelas Arhan secara panjang lebar. Penjelasannya ini bermaksud agar lelaki yang lebih tua darinya percaya, atau setidaknya mau membuka gerbang sedikit lebih lebar agar dirinya bisa masuk ke dalam. Sekali lagi, Desta mengangkat sebelah alisnya dengan air muka dingin yang anehnya masih tetap terlihat tampan, "Besok kan kosong, kenapa kamu minta malam ini?" "Lusa ada mata kuliahnya, saya mau belajar materinya terlebih dahulu." Desta jelas tak percaya dengan ucapan Arhan, karena sangat jarang ada lelaki yang belajar terlebih dahulu sebelum mata kuliah dimulai. Apalagi dengan wajah tengil serta tingkah laku yang tidak bisa diam sejak tadi, membuat Desta semakin yakin bahwa ada maksud lain dari kedatangan Arhan kesini. "Ini bukan rumah Gia, saya nggak kenal nama itu. Sekarang kamu pergi, saya mau keluarin mobil." Tukas Desta sembari membuka lebar-lebar gerbang rumah tersebut, meninggalkan Arhan dengan sejuta pertanyaan. Bagaimana bisa lelaki ini tau bahwa besok tidak ada jadwal kuliah, tetapi berkata bahwa tidak mengenal sosok Gia? Sungguh aneh. Tin!! Klakson mobil dibunyikan cukup keras hingga berhasil membuat Arhan terlonjak kaget. Lalu, dengan cepat ia memindahkan motor matic kesayangannya ke tempat yang lebih aman sebelum ditabrak oleh mobil hitam milik lelaki itu. "Tolong tutup gerbangnya. Langsung pulang, jangan berani-berani masuk ke dalam rumah. Gue punya banyak kamera CCTV!" perintah Desta kemudian mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata tanpa menunggu jawaban dari Arhan yang kini tengah melongo tak percaya. Demi Tuhan, jika Arhan termasuk dalam kategori lelaki tampan yang tak memiliki tata krama, sudah dipastikan ia saat ini berlari masuk ke dalam rumah lalu mengetuk pintu untuk memastikan apakah Gia benar-benar ada di rumah ini atau tidak. "Rumah besar, tapi sopan santunnya kecil!" Gerutu lelaki tersebut sembari menutup gerbang. "Mana nggak di kasih uang tip pula!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN