Moon and Star 2

1724 Kata
Setelah Melvin pergi dari area lapangan, keadaan kembali hening. Gia diam-diam menyesal karena tidak sempat mengembalikan pin yang ia pakai, tetapi jika mengembalikannya di depan banyak orang mungkin akan kembali menimbulkan gosip, pikirnya berusaha menghilangkan rasa cemas. Sedangkan Nanon dan beberapa senior lain sejak tadi juga masih terus mencuri pandang ke arahnya, seakan ingin bertanya namun takut untuk memulai percakapan. "Oke baik, kita mulai votingnya aja ya biar nggak buang-buang waktu. Sekarang, setiap perwakilan jurusan coba perkenalan diri masing-masing sebagai bahan pertimbangan teman-temannya." Tutur Nanon sembari kembali bertepuk tangan meminta perhatian. Perkenalan singkat kemudian dimulai dari urutan paling ujung sebelah kiri secara satu persatu, hingga kemudian berakhir di kedua pasangan yang berdiri di hadapan barisan jurusannya sendiri. Gia dan Arhan. "Perkenalan nama saya Arhan Vachiar Anderson, usia saya 21 Tahun. Saya lahir di Swiss dan besar di Indonesia, atau lebih tepatnya di daerah Bandung. Terima kasih!" ucap lelaki tersebut tak kalah ceria ditambah dengan senyuman yang seakan sangat bersahabat dan hangat, Gia sendiri yakin lelaki disebelahnya ini pasti akan terpilih menjadi perwakilan fakultas. Selesai berkenalan dengan Arhan atau yang biasa dipanggil bule oleh beberapa temannya, kini giliran Gia untuk memperkenalkan diri. Jujur saja, ia sangat takut salah bicara sekarang, tangannya pun kembali berkeringat dingin. "Nama sa–" "Kurang keras dek, senyum juga dong!" lagi-lagi bentakan dari Nanon membuat tubuh Gia menegak. Nanon memang sengaja membentak Gia karena ingin agar suara lirih gadis tersebut bisa di dengar oleh orang banyak, Nanon juga ingin Gia menampilkan senyuman yang menurutnya sangat manis itu. Setelah mendapat suara bentakan dari Nanon, sebenarnya ia ingin menangis saja saat ini. Namun karena hal tersebut terdengar cukup memalukan, Gia kemudian memilih untuk menarik nafasnya panjang lalu memasang seulas senyuman yang ia buat semanis mungkin hingga membuat orang-orang menatapnya dengan tatapan terpana. "Perkenalan nama saya Gianefa Felicia Maureen, usia saya 20 tahun. Saya lahir dan besar di Jakarta, Indonesia." Maureen, adalah nama sebuah perusahaan yang cukup terkenal di Indonesia. Maureen Group adalah sebuah perusahaan yang menyediakan layanan jasa ekspor dan impor barang, barang-barang rumah tangga serta pecah belah yang tak diragukan lagi kualitasnya. Serta yang baru-baru ini Gama kembangkan adalah sebuah alat elektronik berupa ponsel pintar, televisi dan lain sebagainya yang juga tak kalah diminati oleh banyak orang serta kalangan. "Lo salah satu keluarga yang punya perusahaan Maureen Group?" tanya seseorang di tengah-tengah barisan yang hanya dijawab dengan anggukan kepala canggung oleh empunya. Tentu saja para teman-teman Gia tau nama perusahaan tersebut, semua orang pun kini melongo tak percaya bahwa anak konglomerat bisa bergabung dengan keluarga besar fakultas ekonomi bisnis, apalagi Yena yang kini membuka mulutnya tak percaya. Mereka juga tau tentang kejadian kecelakaan pesawat yang keluarga Maureen alami. Kejadian tersebut sudah seperti sebuah kisah yang diceritakan secara turun menurun dari orang tua kepada anak-anak mereka *** Pada akhirnya, disini lah Gia berada saat ini, gadis tersebut duduk diam di dalam aula sembari menghela nafas panjang entah untuk yang ke berapa kali dalam 15 menit terakhir. Rasa gugupnya pun perlahan mulai menghilang, digantikan dengan rasa menyesal karena mau saja berkorban demi nama baik jurusan dan berakhir menjadi perwakilan fakultas. Arhan yang juga terpilih satu paket dengan dirinya kini telah berkenalan ke sana kemari dengan senyuman yang selalu menghias wajah blesteran miliknya. Lelaki tersebut memang sangat bersahabat, tetapi Gia tidak ingin dekat dengan laki-laki lain karena sang kekasih telah memperingatkan dirinya beberapa waktu lalu. "Gia, mau pulang bareng nggak nanti?" ajak Arhan ketika telah kembali duduk di sisi Gia, gadis itu jelas menolak mentah-mentah ajakan Arhan yang baru saja ia kenal beberapa saat lalu dengan menggelengkan kepalanya. Arhan menghela nafas kemudian mengamati keadaan sekitar lalu sedikit memperpendek jarak duduknya dengan Gia, "Serius deh, lo kalau ngomong sambil senyum tuh manis banget loh, Gia. Jangan diem aja dong," lanjutnya hingga membuat Gia mendorong sang lawan bicara menjauh agar kembali ke tempat duduknya semula. Arhan ini ... kenapa suka sekali menggoda dirinya? batin Gia bermonolog. Namun tenang saja, semua godaan yang keluar dari mulut Arhan hanya Gia anggap sebagai ucapan tidak berbobot, tak seperti ucapan manis yang keluar dari mulut Desta tentunya. "Eh, Gia ada hubungan sapa sama bang Melvin?" lagi-lagi pemuda tersebut tidak menyerah untuk membuat Gia mengeluarkan suaranya, dan mungkin kali ini Gia yang menyerah menghadapi Arhan yang terus berceloteh ria. "Nggak ada hubungan apa-apa," jawabnya singkat. "Bohong," Arhan sanksi akan jawaban Gia yang tidak memuaskan hatinya sama sekali, "Terus kenapa bang Melvin sampai rela dihukum lari-larian cuma karena ngasih pin itu ke lo?" Hah? Fakta baru apalagi yang ia dapat kali ini? Apakah alasan Melvin berlari keliling lapangan basket tadi adalah karena pin ini? Batinnya dalam hati. Namun, tak berselang lama kemudian, kembali datang rombongan kakak tingkat yang bertugas sebagai panitia moon and star campus berjalan memasuki aula. Sekumpulan mahasiswa yang terdiri dari laki-laki dan perempuan tersebut adalah mantan peserta bulan dan bintang kampus tahun kemarin, mereka akan diberi tugas untuk melatih peserta tahun ini sesuai dengan fakultasnya masing-masing. Tentu saja, Melvin dan satu orang perempuan bernama Cindy berjalan beriringan mendekat ke arah Arhan dan Gia yang kini telah berdiri karena mereka berasal dari satu fakultas yang sama. "Wah, kamu yang kemarin diseret sama Melvin, ya? Sayang banget aku lagi jaga perpustakaan, jadi nggak bisa lihat adegan manis kalian deh," ucap Cindy membuka pembicaraan dengan nada tak kalah ceria persis seperti Arhan. Nah, sekarang lelaki itu memiliki teman yang satu frekuensi dengan dirinya. Kemudian tunggu, adegan manis katanya? Yang ada Gia takut setengah mati hingga keringat dingin jatuh dengan deras dari punggung serta dahinya. Sedangkan Melvin sendiri saat ini hanya memutar bola matanya malas, sebenarnya ia tak sudi kembali disibukkan dengan kegiatan semacam ini, kalau bukan ada Gia mungkin lelaki tersebut sudah tidur di ruangan BEM bersama anggota lain. Setelah memberikan sepatah dua patah kata ucapan selamat dan semangat kepada kedua juniornya, Melvin langsung pergi begitu saja meninggalkan Cindy yang masih sibuk menjelaskan ini itu secara panjang lebar berharap agar mereka berdua akan lebih mengerti. Lelaki apatis itu benar-benar tidak membantunya sama sekali. "Besok kita mulai latihan dansa ya. Pulang kelas langsung kumpul di aula aja, oke?" Interupsi Cindy sembari mengangkat telunjuknya ke atas. Kedua junior gadis tersebut mengangguk patuh lalu mulai membubarkan diri masing-masing karena acara hari ini hanya pengenalan antara perwakilan lama dan baru saja. Gia dan Arhan kemudian berjalan beriringan menuju area depan kampus, lelaki tersebut sejak keluar dari aula terus bersiul untuk menemani perjalanan hening yang ia lalui bersama Gia. Bahkan, tak jarang pula Arhan menyapa kakak tingkat yang dirinya kenal hingga mengakibatkan Gia mau tak mau harus ikut tersenyum menyapa. "Lo yakin nggak mau gue antar pulang aja? Belum dijemput, kan?" tanya Arhan ketika keduanya telah berada di depan kampus dengan Gia yang terlihat sedang fokus mengetik sebuah pesan untuk sang kekasih agar datang menjemput. "Nggak usah, aku udah ada yang jemput kok. Arhan pulang duluan aja," jawab Gia dengan tetap tak mengalihkan atensinya terhadap benda pipih yang ia genggam. Berbeda dengan Gia, Arhan saat ini justru tengah menatap gadis itu dengan tatapan takjub seakan baru saja menemukan wanita langka yang berbicara sangat sopan dengan dirinya. "Oke deh, Arhan nya pulang dulu ya, Gia. Sampai jumpa di panggung dansa besok!" jawab pemuda tersebut berusaha menirukan nada suara Gia, kemudian berjalan pergi menuju parkiran sembari melambaikan tangannya heboh hingga membuat si gadis tertawa kecil. Waktu telah menunjukkan pukul 5 sore, Gia terus menatap jalanan sebelah kanan, menunggu mobil miliknya datang menjemput walaupun Desta belum membalas pesannya sama sekali. Sesekali gadis tersebut memandangi area kampus yang sudah mulai sepi karena jarang ada mahasiswa berkuliah pada sore hari. Kebanyakan para dosen pun membuka kuliah sore dengan sistem online, mungkin hanya ada satu dua mahasiswa organisasi yang kini masih sibuk di dalam. "Belum pulang?" ucap seseorang yang entah sejak kapan sudah berdiri di sisi sebelah kiri Gia, suasana yang hening ditambah dengan semilir angin sore membuat gadis dengan gaya rambut kuncir kuda tersebut sempat dibuat terkejut akan kedatangan Melvin. "Belum kak, nunggu dijemput," jawab Gia seadanya. Melvin kemudian menganggukkan kepala, ia rasa tidak ada yang harus diucapkan lagi karena dirinya memang tak banyak bicara. Tetapi ia juga tidak ingin pergi meninggalkan juniornya di sore hari yang sepi ini, apalagi awan mendung sudah tertata rapi di langit dan siap menurunkan butiran hujan kapan saja. "Kak Melvin mau pulang?" Pemuda yang tengah mengunyah permen karet tersebut langsung menolehkan kepalanya secara penuh ke arah Gia. Akhirnya, setelah dua hari gadis ini mau bertanya terlebih dahulu, batin Melvin. "Belum, nunggu lo dijemput." Gia cukup terkejut ketika mendengar jawaban dari Melvin yang hampir mirip dengan jawabannya, tetapi yang berbeda adalah Melvin menunggu dirinya dijemput. Kakak tingkat yang baik, mungkin. Teringat akan sesuatu yang sebenarnya telah ia rencanakan sejak kemarin, tiba-tiba Gia memasukkan ponsel pintarnya ke dalam saku rok yang ia pakai kemudian bergerak melepas pin elang yang masih setia menempel di dasi hitam miliknya. Setelah pin berhasil terlepas, tangan kecil Gia terulur untuk mengembalikannya kepada Melvin yang kini tengah menaikkan sebelah alisnya heran. "Kenapa?" tanya pemuda itu, namun tetap menerima pin tersebut serta langsung kembali memasangnya di atas saku almamater yang ia pakai. "Kan pin ini punya Kak Melvin, jadi aku balikin ke Kakak lagi," jawab Gia ringan tak mempedulikan ekspresi aneh yang keluar dari pahatan manis di depannya, atau lebih tepatnya tidak sadar akan wajah terkejut Melvin. Bisa-bisanya gadis pendiam satu ini tidak tau apa saja keuntungan jika berhasil mempunyai pin elang milik ketua BEM fakultas. Melvin bahkan sampai rela dihukum karena memberikan pin tersebut ke orang lain dan Gia justru menyia-nyiakannya. Namun tak apa, setidaknya lelaki tersebut tidak akan kembali dihukum berlari mengelilingi lapangan basket karena tidak memakai pin, tetapi di sisi lain ia juga khawatir apabila Gia mendapat perundungan dari beberapa orang. Lamunan Melvin kemudian tersadar ketika melihat sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di hadapan mereka berdua. Sebenarnya pemuda itu tidak terlalu terkejut, tetapi ketika mendengar suara klakson yang dibunyikan dengan sangat keras seakan penuh perasaan seketika membuat dirinya sedikit memundurkan tubuh ke belakang. Setelah bunyi klakson cukup panjang tersebut, tak lama kemudian keluarlah sesosok laki-laki berbalut kaos lengan panjang berwarna cokelat serta celana hitam yang menatap Melvin dengan tatapan tajam, sosok itu adalah Desta. Entah kenapa, ketika melihat pin berbentuk elang yang berada di atas saku almamater milik Melvin membuat lelaki tersebut langsung menganggap bahwa pemuda yang lebih muda darinya ini sebagai musuh. "Kamu ngapain masih berdiri di situ? Ayo masuk, kakak mau ngomong sebentar sama orang ini," ucap Desta dengan nada dingin ketika melihat Gia masih berdiri di sisi Melvin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN