Moon and Star

2151 Kata
Klik! Telepon dimatikan sepihak oleh Gia setelah melihat sang kakak melambaikan tangannya sebagai perpisahan malam ini. Gadis tersebut kembali menatap sang kekasih, dengan binar mata seolah memuja ketampanan lelaki yang walaupun sudah larut malam ini tetap terlihat manis dan tak membosankan, padahal gurat wajah lelah serta kusam akibat seharian berada di cafe terlihat jelas. "Ayo, Gia antar ke depan," ucap Gia lalu berdiri dengan sedikit melompat dari sofa layaknya anak kecil diikuti Desta yang juga berdiri lalu memeluk leher Gia menggunakan lengan kekar miliknya, kemudian mencium gemas puncak kepala yang lebih muda. Sebenarnya, Desta masih ingin berada di sini untuk beberapa waktu. Ia ingin menonton film serta menghabiskan camilan yang terlihat masih tersisa cukup banyak di atas meja tadi, Desta juga tak masalah jika ditinggal Gia tidur terlebih dahulu. Toh, tujuannya kemarin kan memang karena butuh sesuatu untuk mengisi perut, uang dari Gama serta gaji bulanan di tempatnya bekerja sudah ia tabung sepenuhnya untuk masa depan, dan sisanya tentu saja sudah habis untuk taruhan MotoGP kemarin malam. Teringat akan suatu hal yang sempat terlupakan, Desta tiba-tiba berhenti di ambang pintu yang telah terbuka, udara dingin setelah hujan otomatis masuk tanpa halangan apapun hingga membuat tangan Gia kini sudah sepenuhnya masuk ke dalam hoodie. Sedangkan area kakinya yang hanya tertutup celana di atas lutut pun mulai merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. "Kenapa? Ada yang ketinggalan, kak?" tanya gadis tersebut ketika melihat Desta menatapnya. "Besok balikin pin itu ke pemiliknya, ya. Kalau misal orang itu nggak mau, kamu paksa aja atau kamu tinggalin pin itu terserah dimana, paham nggak?" tutur Desta dengan nada serius, persis seperti sore tadi hingga membuat Gia sedikit mematung lalu sepersekian detik kemudian menganggukkan kepalanya paham. Desta tersenyum puas, Gia memang seperti anak anjing yang selalu menuruti permintaan sang majikan. Setelah sekali lagi mengelus kepala Gia lalu memberinya kecupan ringan di pipi sebelah kanan, Desta kemudian benar-benar pamit untuk pulang ke apartemennya, atau mungkin lebih baik menghangatkan diri dulu di Jenja? Pemuda itu tersenyum samar lalu mulai melajukan mobilnya menembus rintik gerimis yang mulai turun. *** "15 menit sebelum pulang kabarin aku, oke?" Ucap Desta sembari sedikit mendekatkan tubuhnya ke arah gadis yang kini tengah memasukkan botol minum berwarna merah muda ke dalam tas nya, tau akan apa yang dimaksud oleh sang kekasih membuat Gia langsung mencium singkat pipi bersih Desta. Gia yang mencium, Gia pula yang lagi-lagi memerah. Hari kembali pagi, kali ini mereka berdua tidak terlambat berangkat bekerja maupun kuliah, bahkan Gia telah selesai bersiap-siap sejak pukul 6 pagi sehingga keduanya masih memiliki waktu berdua untuk sarapan di tukang bubur pinggir jalan, lalu berlama-lama di dalam mobil yang saat ini telah berhenti tepat di samping gerbang kampus. "Jangan lupa balikin pin itu!" Lagi-lagi Desta berteriak sembari mengeluarkan kepalanya dari balik kaca mobil yang kemudian dijawab anggukan kepala oleh si gadis. "Eh, bang Desta!" sapa seseorang ketika melihat Desta melambaikan tangannya ke arah Gia disertai senyum manis. Pemuda tersebut kemudian menoleh ke sumber suara yang berada tak jauh dari sampingnya, terlihat sosok laki-laki berpakaian hitam putih layaknya mahasiswa baru. Dia adalah junior Desta semasa kuliah, lebih tepatnya saat ini telah berada di tahun keempat dan mungkin tengah magang atau menggarap sebuah skripsi, pikir Desta ketika melihat penampilan pemuda itu dari atas hingga bawah yang terlampau formal. "Wah, udah punya mobil aja nih." Goda pemuda itu sembari mengelus pelan badan mobil yang dinaiki oleh Desta. Ia lumayan tau seluk beluk Desta ketika masih kuliah dulu karena mereka sempat berada di organisasi kemahasiswaan yang sama, Desta bahkan masih memiliki beberapa hutang di kantin hingga saat ini. "Iya, puji Tuhan dikasih rezeki yang lebih buat beli mobil. Ya, walaupun nggak baru sih," jawab Desta dengan santai, padahal mobil yang ia tumpangi saat ini bukan miliknya, melainkan milik sang kekasih. "Ke Jenja bisa kali, sekalian reuni sama anak-anak. Sekali lagi, pemuda yang lebih muda itu menggoda Desta hingga nampak sedikit berpikir. Dirinya telah menghabiskan uang hampir satu juta yang seharusnya untuk ditabung ketika di club kemarin malam. "Nanti gue kabarin kalau longgar ya, lagi sibuk soalnya," jawabnya lalu pamit masuk ke dalam mobil dan pergi bekerja. Bisa habis uangnya jika menanggapi keinginan juniornya yang satu ini, batin lelaki tersebut. Di sisi lain, Gia saat ini tengah berjalan beriringan menuju kelasnya bersama dengan Yena yang sempat ia temui di lorong kampus. Keduanya sama-sama memakai baju hitam putih karena pihak kampus memang mewajibkan seluruh mahasiswa baru untuk memakai seragam berwarna hitam putih selama satu tahun, lalu tahun kedua dan seterusnya akan mengenakan almamater fakultas masing-masing. Setelah menemukan kelas yang dicari sejak 5 menit lalu, mereka berdua langsung masuk ke dalam dan memilih tempat duduk di bangku paling depan. Entah kenapa, baik Gia maupun Yena memiliki beberapa persamaan, yaitu tidak ingin duduk di bangku belakang karena tidak bisa mendengar penjelasan dari dosen dengan baik, padahal tubuh Yena yang jangkung tersebut bisa membuat orang lain merasa kesulitan. "Kayaknya gue tau deh apa alasan lo kemarin jadi pusat perhatian," celetuk Yena ketika melihat tidak ada tanda-tanda dosen akan segera masuk. Dengan cepat perempuan berkulit sawo matang tersebut mendekatkan kursinya ke arah Gia, dan sesi bergosip pun dimulai. Belum sempat gadis yang tubuhnya lebih kecil tersebut bertanya mengapa, Yena kembali membuka mulutnya, "Itu gara-gara pin ini." Ucapnya sembari menunjuk pin berbentuk burung elang yang masih menempel di dasi Gia. Gia kemudian ikut menurunkan pandangannya menatap pin tersebut, sepulang kuliah ia harus mencari Melvin terlebih dahulu lalu mengembalikan pin ini sebelum Desta kembali marah, batinnya. "Pin itu punya ketua BEM fakultas, kak Melvin yang narik lo keluar dari aula kemarin." Bagaikan tersambar petir di pagi hari yang cerah, badan Gia menegak diikuti dengan mulutnya yang menganga tak percaya. Ternyata, kakak tingkat yang menyeretnya keluar kemarin adalah ketua BEM. Lalu tunggu, apa hubungannya dengan pin ini? "Pin elang yang lo pakai ini ternyata turun temurun dan biasa dipakai sama ketua fakultas kita. Kalau ada orang yang pakai pin ini, mereka nggak boleh ganggu orang itu. Nah, kemungkinan besar itu deh yang bikin para senior cewek nggak berani tanya-tanya sama lo kemarin," tutur Yena panjang lebar hingga membuat Gia kembali terkejut karena teman barunya yang satu ini tau segalanya. Padahal mereka baru hari kedua berkuliah, namun informasi yang disampaikan Yena benar-benar sangat penting. "Kamu kok tau, Yen?" tanya Gia, gadis tersebut memang tidak terbiasa menggunakan bahasa anak zaman sekarang dalam melakukan percakapan. "Ya tau lah, gue kan–" "Selamat pagi semuanya." Suara interupsi yang berasal dari ambang pintu kelas membuat Yena maupun mahasiswa lain yang tengah asik bertukar cerita atau sekedar bermain ponsel menjadi terdiam dan memusatkan perhatiannya. Terlihat sosok senior laki-laki dengan almamater khas serta celana pensil hitam sobek di bagian lutut berjalan memasuki kelas diikuti oleh sekitar 4 orang dari belakang. Gia tau siapa nama senior tersebut. Tentu saja, lelaki itu adalah senior yang sempat memberinya pertanyaan lalu mematahkan jawabannya begitu saja hingga membuat dirinya merasa cukup takut hingga sekarang. "Kedatangan saya dan beberapa senior kesini untuk mengajak kalian menuju lapangan basket. Kita akan memilih dua orang sebagai perwakilan fakultas untuk acara bulan dan bintang kampus tahun ini," jelas Nanon sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas yang mulai terdengar saling berbisik. Bulan dan bintang kampus, adalah acara tahunan yang rutin diselenggarakan setiap tahun ajaran baru. Setiap tahunnya, selalu ada bulan dan bintang yang berasal dari mahasiswa baru, tujuannya adalah untuk melanjutkan program kerja yang telah dibangun oleh bulan dan bintang tahun sebelumnya. Kurang lebih acara ini seperti pemilihan duta kampus, dan nantinya mereka akan lebih mudah untuk dapat masuk ke dalam organisasi-organisasi kemahasiswaan yang lain. Kini, rombongan yang terdiri dari seluruh mahasiswa baru fakultas ekonomi bisnis telah duduk di atas tribun lapangan basket yang berada tak jauh dari aula tempat mereka melangsungkan pengenalan hari pertama kemarin. Sinar matahari yang cukup terik membuat mata madu Gia terus menatap ke bawah. Namun, hal tersebut tak berlangsung lama karena Yena secara tiba-tiba mengarahkan kepala gadis itu untuk menghadap ke arah lapangan. "Gia, coba lihat ke sana deh!" Ucap Yena sembari mengarahkan telunjuknya menuju ujung lapangan basket. Sepasang manik mata yang terlihat semakin cerah akibat terkena sinar matahari tersebut menangkap seorang laki-laki yang tengah berlari dengan balutan celana kain berwarna cokelat serta atasan hitam dan rambut legam berkilau. Ah, jangan lupakan juga mulut yang sedikit menganga serta kepala yang diarahkan ke atas karena merasa kelelahan itu justru membuat para mahasiswi sedikit berteriak heboh. Tapi tidak dengan Gia, gadis tersebut hanya diam menatap dan tak menghiraukan Yena yang kini tengah memuji seniornya secara terang-terangan dengan tangan yang terus menggoyang-goyangkan lengan miliknya. Merasa tak mendapat perhatian dari para adik tingkatnya, Nanon yang sedang berdiri di lapangan sembari menghadap ke arah tribun kini mulai menepuk tangannya berkali-kali, agar atensi mereka segera kembali beralih ke arah pemuda itu. Nanon memang tampan, tetapi Melvin lebih menggoda, itulah kata Yena. "Ayo mohon perhatiannya semua. Saya minta setiap jurusan mengeluarkan satu pasang laki-laki dan perempuan sebagai perwakilan bulan dan bintang. Saya beri waktu 10 menit, jika tidak ada jurusan yang mengeluarkan maka kalian semua akan berada di sini hingga sore," tutur Nanon panjang lebar hingga membuat suasana kembali riuh. Masing-masing dari mahasiswa baru kini saling menunjuk siapa agaknya yang cocok untuk dijadikan perwakilan jurusan mereka. Gia sendiri tetap memilih diam dan terus memandangi Melvin yang masih berlari. Entah sudah sampai putaran ke berapa, namun sosok lelaki berambut sebahu yang digadang-gadang sebagai senior tahun ketiga sekaligus orang yang memberi hukuman kepada Melvin tersebut tetap berdiri di sudut lapangan, sama sekali tidak terlihat ingin menghentikan aksi berlari sang junior. Padahal, guratan lelah tercetak jelas dari wajah oriental Indonesia lelaki tersebut. "Gia, lo mau kan jadi perwakilan jurusan kita. Sama Arhan, nih!" Seruan yang berasal dari bawah tiba-tiba menyadarkan kegiatan Gia, gadis itu langsung kelabakan ketika melihat air muka berharap dari para teman-temannya. Kenapa ... harus dirinya yang ditunjuk? Terus mendengar permintaan para teman satu jurusannya tidak semena-mena membuat Gia langsung menganggukkan kepala. Ia tidak pernah mengikuti ajang seperti ini sebelumnya. Sejak usia 12 tahun saja dirinya sudah bersekolah di rumah, hanya sekali dua kali ia berkunjung ke gedung sekolah homeschooling, itu pun karena wali kelas Gia yang memintanya. "Tapi Gia takut nggak bisa," cicit Gia lirih sembari menggelengkan kepalanya pelan. Sejurus kemudian terdengar suara kecewa dari kumpulan orang-orang beragam usia serta suku dan ras tersebut. Mereka memilih Gia dan Arhan atas persetujuan bersama karena Gia memiliki wajah yang sangat manis dan Arhan yang merupakan keturunan luar negeri. Perpaduan tersebut sangat pas, apalagi ditambah dengan tinggi keduanya yang cukup jauh namun terlihat enak dipandang mata. "Ayo dong, Gi. Kan nanti bakal di voting lagi," ucap Yena setelah melihat jam di pergelangan tangannya, dua menit lagi sesi pemilihan yang dilakukan secara mendadak ini akan segera selesai dan Nanon pasti tidak akan mengulur waktu lebih lama lagi karena cuaca yang semakin terik. Gia sedikit berpikir, ia menggigit ujung bibir merah mudanya dengan mata yang bergerak gusar ke sana kemari berusaha menghindari tatapan semua orang. Ini mungkin bisa menjadi salah satu kesempatan bagi dirinya untuk bisa mendapatkan lebih banyak teman, tetapi Gia tidak pandai bersosialisasi. Ah, ia benar-benar tidak bisa memutuskan masalah sepele seperti saat ini. Tanpa mengucap sepatah kata apapun, gadis tersebut langsung berdiri dari tempatnya duduk yang sepersekian detik kemudian mendapat tepuk tangan riuh dari teman-temannya. Iya, akhirnya Gia memutuskan untuk mencoba menjadi perwakilan bulan dan bintang kampus bagi jurusannya. Dan toh, mereka yang ikut akan kembali dipilih melalui voting hingga menyisakan satu pasang yang nantinya akan menjadi perwakilan fakultas, Gia berdoa semoga dirinya tidak akan lolos kali ini. Gadis yang sekarang memakai jaket rajut berwarna mustard dengan kedua tangan disembunyikan di dalam lengan jaketnya tersebut kemudian turun ke bawah bersama Arhan, seorang laki-laki keturunan luar negeri yang memang sudah menjadi pusat perhatian sejak hari pertama kuliah. Mereka berdua bergabung dengan barisan perwakilan lain lalu menghadap ke arah tribun. "Vin, udah larinya. Kesini dulu!" interupsi dari seseorang membuat Melvin yang sedari tadi memang masih berlari keliling lapangan basket langsung berhenti, ia kemudian berjalan mendekati segerombolan kakak tingkat yang berada tak jauh dari barisan Gia dengan nafas tersengal. "Kak Melvin ini terpilih menjadi juara kedua bulan kampus tahun lalu. Bintangnya ada kak Yura dari fakultas kedokteran, dia lagi pertukaran mahasiswa di Thailand sekarang," ucap salah satu senior wanita yang berdiri di sebelah Nanon. "Nggak ada kata-kata buat para maba, Vin? Jangan diam terus dong!" lanjutnya. Dalam hati Melvin tentu saja menggerutu tak terima. Bisa-bisanya ia baru selesai berlari sekitar 15 putaran lalu diutus untuk memberikan kata-kata wejangan bagi para mahasiswa baru, jantungnya saja sudah memperingatkan lelaki tersebut untuk berhenti atau si jantung yang berhenti terlebih dahulu. Mata tajam pemuda itu kembali menyapu seluruh Mahasiswa baru yang berdiri di atas tribun tak terkecuali pula para perwakilan setiap jurusan yang kini telah berbalik menghadap ke arahnya. Ada Gia di sana, tengah menundukkan kepala sembari bermain dengan jarinya, pin elang pemberian Melvin pun masih menempel dengan apik di dasi milik si gadis. "Buat kalian, semangat belajarnya ya!" ucap lelaki tersebut disertai senyuman manis yang sangat berbeda jauh dengan mode seriusnya tadi hingga membuat semua orang berteriak heboh. Melvin memang sangat terkenal akan ketampanan serta kecerdasannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN