Gia ikut menunduk mengikuti tatapan sang kekasih yang menatap lamat pin tersebut. Gadis itu kemudian mengunyah makanannya dengan cepat lalu menelannya saat belum sepenuhnya halus, hingga mengakibatkan tenggorokannya yang kering terasa sedikit sakit karena terlalu terburu-buru.
Memang sejak baru masuk mobil tadi, harusnya Gia mulai bercerita tentang bagaimana hari pertamanya di kampus. Namun, ia justru lebih tertarik menikmati croissant yang seakan melambai-lambai ke arahnya agar segera dimakan.
"Tadi dikasih sama kakak tingkat, nggak tau buat apa." Jawab Gia singkat sembari mengangkat kedua bahunya, lalu mengambil satu botol air mineral berukuran sedang yang berada di dashboard mobil.
Desta mengeluarkan suara decakan lirih karena merasa tidak cukup puas mendengar jawaban dari si gadis. Pasalnya, pin yang Gia pakai saat ini bukan pin sembarangan dan Desta tau pemiliknya pasti seorang laki-laki. Ia tidak menyukai hal tersebut, pemuda itu tidak ingin Gia dekat dengan lelaki lain selain dirinya.
"Namanya siapa? Cowok, kan? Kenapa dia bisa ngasih kamu pin itu?"
Rentetan pertanyaan disertai nada serius membuat Gia yang baru saja menyelesaikan kegiatan minumnya menjadi sedikit takut.
"Namanya kak Melvin," cicit Gia dengan nada pelan namun masih bisa ditangkap oleh telinga sebelah kiri Desta.
Gadis tersebut mulai menceritakan dari awal tentang apa saja yang dirinya alami, mulai dari didorong paksa untuk masuk ke aula hingga ditarik oleh Melvin keluar dari aula yang justru membuat suasana hati Desta memburuk.
Setelah mendengarkan penjelasan panjang lebar dari Gia, si lelaki tidak menjawab sama sekali, melainkan hanya diam sembari sesekali mengangguk-anggukkan kepala pertanda paham dengan penjelasan kekasihnya.
Namun, keheningan yang diciptakan Desta justru membuat Gia semakin takut jika lelakinya ini marah, tapi bukankah ia tidak melakukan kesalahan sama sekali?
Ah, seharusnya ia tidak perlu merasa bersalah, kan? Tetapi sama saja, melihat sang caregiver yang merubah ekspresinya dari ceria menjadi kaku membuat Gia benar-benar merasa telah melakukan hal buruk entah apa itu.
Perjalanan kurang lebih berlangsung selama satu jam akibat kemacetan ibukota. Padahal, jarak kampus dengan kediaman Gia seharusnya hanya memakan waktu sekitar 45 menit. Selama perjalanan pun suasana hanya didominasi oleh suara raungan mobil dari luar dan klakson yang sesekali Desta bunyikan.
Lelaki tersebut tidak ingin berbicara dengan Gia, ia justru ingin cepat-cepat menurunkan perempuan tersebut ke rumahnya lalu kembali ke cafe untuk lanjut bekerja.
Sebenarnya, pekerjaannya telah selesai karena Desta mengambil shift pertama, tetapi ia tiba-tiba ditawari untuk bernyanyi karena band yang di undang oleh manager cafe berhalangan datang. Lelaki tersebut tentu saja dengan senang hati menyetujui tawaran sang manager, karena bernyanyi adalah kegemarannya dan semoga bisa membuat suasana hal itu bisa membuat hatinya sedikit lebih baik.
Setelah sampai di depan gerbang rumah Gia, Desta langsung membuka kunci mobil hingga membuat yang lebih muda menatapnya bingung. Kenapa sang kekasih tidak memasukkan mobilnya ke dalam?
"Kamu dari sini ke dalam rumah bisa jalan kaki, kan? 15 menit lagi kakak harus nyanyi di cafe," ucap Desta seakan tau apa yang Gia pikirkan saat ini.
"Bukannya Kak Desta udah janji mau temenin Gia nonton film?" tanya gadis tersebut menyinggung tentang janji Desta kemarin malam. Lelaki itu berncana akan menemaninya menonton sebuah film sebagai salah satu kegiatan melepas penat setelah seharian kuliah.
Desta memutar bola matanya malas ketika melihat wajah Gia yang mengerucut serta suaranya yang terkesan manja seperti anak kecil.
Sebagian orang seperti Gama maupun dokter Rachel mungkin akan gemas dan tidak bisa menolak permintaan gadis tersebut. Tetapi tidak untuk Desta, lelaki itu justru merasa bosan melihat Gia selalu seperti ini saat keinginannya tidak terpenuhi.
Bukan apa-apa, ia juga ingin menikmati kehidupannya sendiri, kan? Ah, agaknya Desta lupa apa perannya dalam hidup Gia kali ini.
"Sayang, nonton film kan bisa kita tunda besok atau kamu nonton sendiri aja. Kakak udah lama banget nggak nyanyi di cafe, jadi tolong ngertiin kakak ya." Ucap Desta sembari mengelus puncak kepala Gia dengan lembut, lalu menampilkan senyuman yang sejak tadi ia pendam dalam-dalam.
Sebenarnya suasana hati pemuda itu masih belum membaik, tetapi ia tidak ingin Gia semakin rewel atau dirinya akan telat datang ke cafe sore ini.
Gia kemudian mengeluarkan decakan kesal persis seperti apa yang Desta lakukan beberapa waktu lalu, ia kemudian turun dari mobil tanpa berpamitan dan langsung berlari masuk menuju rumahnya meninggalkan Desta yang saat ini menggelengkan kepala.
Bisa dipastikan kekasih kecilnya saat ini tengah marah dan Desta tentu saja tidak peduli akan hal itu, bisa gila ia lama-lama jika terus berhadapan dengan sifat Gia yang sangat kekanak-kanakan.
Lebih baik dirinya berangkat ke cafe lalu mulai bernyanyi dan menatap wajah-wajah manis perempuan lain yang meneriakkan namanya serta memujinya tampan secara terang-terangan, batin pemuda itu kemudian tersenyum samar dan langsung melajukan mobil milik Gia menuju "Mula Cafe".
***
Bunyi berisik yang dihasilkan dari kemasan makanan ringan berisi keripik kentang dengan varian rasa balado menggema di seluruh penjuru ruang tamu, suara kunyahan yang berasal dari mulut Gua juga ikut mendominasi.
Sesekali gadis tersebut juga membersihkan bumbu sisa makanan yang berada di jari-jari tangannya menggunakan lidah, lalu berhenti mengunyah sejenak untuk meminum jus jeruk atau sekedar mengistirahatkan mulutnya yang mulai pegal akibat terlalu banyak mengunyah.
Malam ini Gia tidak sedang melihat sebuah film bertemakan romance yang biasa menjadi genre favoritnya. Gadis dengan balutan hoodie berwarna putih milik sang kakak serta selimut menutupi bagian bawahnya yang hanya mengenakan celana pendek dan kaus kaki tersebut menonton sebuah film berjudul "Ghost Lab".
Ini adalah film ketiga yang ditonton oleh Gia sejak pukul 5 sore tadi, semua genre yang gadis tersebut pilih saat ini tidak jauh-jauh dari kesan horor.
Walaupun Gia memiliki sifat layaknya anak kecil, tetapi ia tidak takut dengan cerita horor apapun dan dari negara manapun, berbeda dengan Gama yang selalu ketakutan dan memegang erat lengan Gia ketika adegan sudah mulai menyeramkan.
Ketika sampai pada adegan yang cukup menegangkan, bel rumah Gia berbunyi nyaring hingga membuat gadis tersebut sedikit mengangkat tubuh kecilnya karena terkejut. Gadis tersebut juga sedikit bingung kenapa bel di dekat pintu utama yang berbunyi, bukan bel yang berada di tembok samping gerbang rumahnya.
Ia kemudian menyalakan ponsel pintar yang sempat tergeletak begitu saja di atas meja bersama dengan beberapa makanan ringan, jam telah menunjukkan pukul 9 malam, dan siapakah tamunya malam ini? Batin Gia penasaran namun masih enggan untuk beranjak dari sofa tempatnya duduk dan membiarkan orang tersebut terus menekan bel rumah.
Dalam hati gadis tersebut bertanya-tanya, apakah dirinya sore tadi lupa menutup gerbang setelah keluar dari mobil atau sang pembantu yang tidak menutup gerbang saat dirinya minta untuk membeli martabak di depan kompleks sekitar pukul 7 malam tadi?
Setelah dirasa seseorang yang memencet bel tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti walaupun sudah sekitar 3 menit, akhirnya Gia menyerah dan memilih untuk melihat terlebih dahulu siapa agaknya orang tersebut lewat celah gorden.
Bukannya ia takut, tetapi melihat situasi malam ini yang cukup sepi dan hanya Gia sendiri yang masih terjaga membuat dirinya harus dua kali merasa waspada, bisa saja tamunya malam ini memiliki maksud jahat, kan?
Dengan langkah pelan gadis tersebut mulai berjalan mengendap-endap menuju kaca jendela yang terletak di samping pintu seolah bahwa dirinya lah yang sebenarnya maling disini.
Setelah menarik lalu menghembuskan nafas berkali-kali agar sedikit tenang, tangan kecil nan putih yang sebagian termakan oleh lengan Hoodie tersebut perlahan membuka gorden rumah dan tiba-tiba ....
"Argh!!"
Demi Tuhan, ingin rasanya Desta saat ini tertawa terbahak-bahak ketika melihat kondisi Gia yang berkeringat dingin dengan nafas memburu serta jangan lupakan pula wajahnya yang cukup memerah akibat terkejut bukan kepalang.
Benar, seorang tamu yang datang di malam hari seperti ini tak lain dan tak bukan adalah Desta. Lelaki tersebut memang langsung masuk ke dalam pekarangan rumah ketika melihat gerbang rumah Gia yang belum sepenuhnya tertutup, sebenarnya Desta juga tau ketika sang kekasih berjalan mengendap-endap menuju jendela karena siluet tubuh Gia terlihat dari luar.
Tau jika gadis kecilnya merasa waspada justru membuat Desta mendapat ide untuk mengerjainya, dengan cepat lelaki tersebut langsung berpindah posisi dari depan pintu menuju jendela dengan gorden berwarna cokelat muda itu dan menempelkan seluruh wajahnya ke permukaan kaca.
Oleh karena itu, ketika Gia membuka gorden, gadis tersebut langsung dikejutkan dengan wajah sang kekasih yang matanya tengah mengarah ke atas kemudian berteriak sekeras mungkin hingga membuat pembantu rumah tangganya terbangun lalu berlari menuju sumber suara.
"Maaf ya, sayang." Ucap Desta setengah tertawa sembari mengelus pelan puncak kepala Gia, keduanya kini telah berada di sofa tempat Gia duduk tadi. Sang pembantu juga sudah kembali ke alam tidurnya setelah membuatkan mereka berdua cokelat hangat karena hujan deras tiba-tiba turun setelah beberapa menit Desta masuk ke dalam rumah.
Gia yang mendengar permintaan maaf dari kekasihnya namun dengan nada seperti hendak tertawa justru semakin memajukan bibirnya. Sejak sore tadi, gadis tersebut memang tidak membalas pesan Desta karena merasa kesal, ditambah malam ini lelaki itu membuatnya terkejut menjadikan kekesalannya Gia semakin memuncak.
Merasa tidak akan bisa meluluhkan hati Gia dalam waktu dekat, Desta tak tinggal diam, ia terus-menerus mengucap kata maaf namun kali ini terdengar seperti benar-benar menyesal sembari menjatuhkan kepalanya begitu saja di pundak Gia hingga membuat si gadis tersenyum samar.
Desta memang paling ahli dalam mengembalikan suasana hati para wanita, jadi bukan Gia saja yang pernah Desta perlakuan seperti saat ini.
"Kakak katanya lagi nyanyi di cafe, kok kesini?" tanya Gia membuka suara, tangannya kemudian terulur untuk mengambil cangkir hitam berisi cokelat panas di atas meja.
"Kan nyanyinya sejak jam 5 tadi. Kalau sampai malem nggak kuat, keburu kangen sama Gia," tutur Desta sembari menampilkan deretan giginya yang putih hingga sukses membuat wajah Gia kini berubah menjadi merah muda, untung saja gadis tersebut tidak sampai tersedak cokelat panas yang baru saja ia minum.
"Kamu lagi nonton film horor?" tanya sang lelaki kemudian.
Gia hanya mengangguk lalu kembali menatap wajah tampan kekasihnya yang seakan kini lebih menarik dari pada melihat ketampanan Thanapob Lee, sosok dokter pemeran utama yang sedari tadi dirinya puji tampan.
Sedangkan Desta sendiri tidak merasa risih ketika ditatap oleh Gia, ia justru ikut menatap si gadis seolah tengah berlomba tentang siapakah yang kuat menatap satu sama lain hingga akhirnya, kegiatan mereka berdua terpaksa terhenti karena ada sebuah panggilan video masuk dari Gama, sang kakak yang memang selalu rutin menelepon Gia ketika pukul setengah 10 malam.
Gadis tersebut langsung mengambil ponsel genggamnya kemudian mengangkat panggilan masuk sang kakak.
Tanpa menunggu lama, wajah tampan sosok lelaki sipit berkulit sawo matang yang kini masih terlihat memakai kemeja kantor berwarna biru muda terpampang jelas di layar ponsel.
Raut wajah serta rambut Gama yang lumayan acak-acakan membuat semua orang mengerti bahwa lelaki tersebut telah melewati hari yang cukup sulit, atau bahkan setiap hari merupakan hal yang sangat kacau bagi Gama di Singapura saat ini.
"Halo Gia! Eh, ada Desta juga?" ucap Gama membuka suara sembari memberikan tatapan cukup terkejut ketika melihat Desta yang berada di sisi Gia kini tengah tersenyum.
Keduanya menganggukkan kepala, "Baru datang 15 menitan sih, mas. Masih hujan jadi belum pulang," tutur Desta hingga membuat lelaki yang berada di seberang telepon sedikit menghela nafasnya lega.
Walaupun sudah sama-sama dewasa dan Desta termasuk pemuda yang baik, tetapi Gama tidak mengizinkan juniornya untuk menginap di rumah Gia apalagi dengan sifat gadis tersebut yang masih sangat polos. Ia tidak ingin sang adik mendapat pengaruh buruk meskipun hal tersebut belum tentu terjadi.
Selanjutnya Gia mulai berceloteh tentang bagaimana hari pertamanya di kampus, tentang bagaimana kacaunya ia dari pagi hingga tentang Desta yang membuatnya terkejut beberapa waktu lalu.
Sang kakak sendiri hanya menimpali sesi curhat Gia dengan tertawa kecil, sembari sesekali bertanya untuk membenarkan hal tersebut atau sekedar mengeluarkan ekspresi tak percaya.
Gama sebenarnya juga ingin mengeluh serta bercerita tentang pekerjaannya di Singapura, tetapi hal tersebut ia urungkan karena takut Gia menjadi terlalu banyak pikiran. Lelaki tersebut tak tega merusak suasana hati sang adik yang sepertinya sedang baik-baik saja itu.
Jadi, biarlah ia memendam semua rasa lelah dalam dirinya sendiri untuk saat ini dan akan mengungkapnya kepada dokter Rachel nanti malam, itupun apabila dokter tersebut masih bangun.
"Wah nggak kerasa udah jam 10 nih. Kamu tidur dulu Gia, hujan di sana kayaknya udah reda, ya? Kamu nggak pulang, Des?"
Pada akhirnya, mereka bertiga sampai di penghujung obrolan. Gama memang sengaja menyinggung masalah suara hujan yang sudah mulai menghilang dari balik telepon tersebut, agar Desta tersadar dan pamit pulang karena Gia butuh tidur awal agar tidak terlambat kuliah besok pagi.
"Ya sudah, Gia antar kak Desta ke depan pintu dulu terus pergi tidur, ya. Selamat malam, kak Gama. Gia sayang kakak!" Jawab Gia setelah mendengar ucapan sang kakak sembari melambaikan tangannya diikuti oleh Desta.
"Oke sayangnya kakak. Selamat malam, anak cantik!"