"Woi, Vin. Udah dapet gebetan aja gue lihat-lihat!"
Entah sudah berapa kali ucapan tersebut terlontar dari beberapa orang yang tak sengaja bertemu dengan Gia dan Melvin, sosok kakak tingkat yang saat ini tengah memegang pergelangan tangan Gia dan membawanya tak tau kemana.
Gia memang memiliki kebiasaan untuk menghitung anak tangga jika dalam keadaan hening, seperti saat ini contohnya, terhitung sudah 20 anak tangga mereka berdua lewati namun sang kakak tingkat sama sekali tidak terlihat ingin membuka percakapan dalam waktu dekat hingga membuat Gia semakin dilanda rasa takut.
Mau dibawa kemana ia sebenarnya? Apakah ia melakukan sebuah kesalahan hingga diseret paksa keluar dari aula? Tetapi Gia yakin bahwa ia sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun.
Duk!
"Aduh!" Keluh gadis tersebut ketika kepalanya tak sengaja menabrak punggung milik si lelaki.
Sebenarnya tidak terlalu sakit, tetapi karena terlalu fokus dengan lamunannya membuat Gia terkejut dan tak sadar bahwa Melvin yang tadi berada di depannya kini telah menghentikan langkahnya.
Gia sendiri juga baru sadar bahwa kini telah berada di balik tembok salah satu gedung kampus. Di sisi sebelah kirinya terdapat meja dan kursi tanam serta ditumbuhi beberapa pohon rindang yang membuat suasana menjadi sejuk dan pas disinggahi ketika siang hari, atau untuk mahasiswa yang membutuhkan ketenangan dalam mengerjakan projek selain di dalam aula.
"Jadi, Gea," lelaki bertubuh tinggi tersebut pada akhirnya membuka suara.
"Maaf kak, nama saya Gia," koreksi si pemilik nama sembari tetap menundukkan kepalanya, hingga membuat Melvin harus menyipitkan matanya agar bisa melihat wajah gugup Gia.
Setelahnya kembali hening, hanya ada suara burung serta ranting yang saling bergesekan akibat angin. Baik Gia maupun Melvin juga tidak tau apa yang harus dibicarakan, lelaki tersebut justru mengutuk dirinya sendiri karena tanpa pikir panjang menyeret Gia keluar dari aula.
Namun, tak lama kemudian suara seorang laki-laki dari balik tembok yang keduanya tempati mulai masuk ke dalam indra pendengaran masing-masing.
Ah, Gia baru tau bahwa mereka berdua tengah berada di balik tembok aula. Sebenarnya bukan itu titik masalahnya, yang terpenting bagi gadis tersebut saat ini adalah bagaimana caranya untuk segera pergi dari penglihatan sang senior, lalu kembali ke aula dan mendengarkan penjelasan dari panitia ospek lain.
Jujur saja, ia lebih baik mendapat omelan panjang kali lebar seperti yang dilakukan Nanon tadi daripada harus terjebak di keheningan bersama Melvin seperti saat ini.
"Di bawah nggak ada koin jatuh, jangan lihat ke bawah terus!" ucapan ketus dari lelaki beralmamater biru tua dengan bawahan celana jeans blue wash tersebut sontak membuat Gia mendongakkan wajahnya.
Gadis ini memang harus diberi kata-kata pedas terlebih dahulu baru bisa mengangkat wajah manisnya, batin Malvin tertawa geli.
Melihat wajah manis dari juniornya membuat Melvin teringat akan seseorang, bahkan tadi ia sempat salah menyebut namanya.
Tetapi, yang menjadi alasan pemuda tersebut percaya bahwa Gia memang benar bukan seseorang yang ia kenal adalah wajahnya yang polos tanpa riasan apapun, mungkin hanya polesan pemerah bibir yang sedikit kentara. Iya, Gia bukan orang itu, batin Melvin.
"Maafin sikap Nanon yang buat lo takut tadi ya, anaknya emang suka bercanda," lanjut Melvin dengan nada sedikit lebih lembut daripada kalimatnya tadi hingga membuat Gia menganggukkan kepala paham sekaligus takut.
Tak berselang lama kemudian, karena tak ingin terus-menerus berada dalam keheningan, tangan sang senior kemudian terulur memegang tangan yang lebih muda lalu melilitkan seutas tali berwarna hitam dengan bandul mahkota bunga matahari.
"Bunga matahari bermakna kebahagiaan, persahabatan dan kesetiaan tiada akhir. Dengan ini, lo udah resmi diterima jadi keluarga besar fakultas ekonomi bisnis, semoga betah ya!" tuturnya sembari menampilkan senyum semanis mungkin agar gadis dihadapannya bisa sedikit lebih tenang, atau setidaknya menjawab perkataan Melvin dengan ucapan, bukan hanya anggukan kepala saja.
Namun Gia tetaplah Gia, gadis manis yang sangat pendiam jika bertemu dengan orang baru. Ia sekali lagi menganggukkan kepalanya namun kali ini ikut membalas senyuman Melvin. Dalam hati, Gia sekarang justru membandingkan senyuman kakak tingkatnya dengan senyuman sang kekasih yang jauh lebih manis.
"Ah, satu lagi!" seru Melvin ketika teringat sesuatu. Lelaki itu melepas sebuah pin bros dengan bentuk burung elang berwarna emas yang sempat menempel di atas saku sebelah kiri jas almamater.
"Nama gue Melvin," lanjutnya.
Sebenarnya, bisa dikatakan sangat terlambat ketika Melvin memperkenalkan dirinya padahal mereka berdua sudah berhadap-hadapan lebih dari 10 menit.
Ini hanya sebagian dari formalitas perkenalan saja, karena Melvin sendiri pasti sudah tau bahwa Gia akan membaca name tag yang tercetak tebal di jas almamater miliknya. Tak apalah daripada tidak ada pembahasan, batin lelaki tersebut.
Gia yang sejak awal sudah kebingungan kini malah semakin menjadi, ia tidak tau apa tujuan Melvin memasang pin itu di dasinya. Haruskah ia bertanya atau lebih baik diam saja dan menunggu Melvin untuk memintanya pergi? Iya, sepertinya pilihan kedua cukup baik bagi Gia, tetap diam dan semua masalah akan segera selesai.
"Tunggu apa lagi? Balik sana ke aula!" seketika suara tegas Melvin kembali masuk ke indra pendengaran Gia yang cukup terkejut.
Lelaki di hadapannya ini seakan memiliki bipolar yang dapat mengubah suasana hatinya dalam sepersekian detik, karena wajah manis Melvin sekarang benar-benar berubah menjadi tegas dan menyeramkan, hingga membuat yang lebih muda kembali ketakutan lalu langsung berlari pergi begitu saja setelah selesai mengucap kata maaf.
Setelah memastikan Gia benar-benar menghilang dari pandangannya, lelaki bermata tajam itu sontak tertawa renyah. Ucapan Nanon beberapa hari lalu ternyata benar, menggoda mahasiswa baru memang suatu hal yang cukup menyenangkan.
Di tengah tawanya, ponsel yang berada di saku celana pemuda tersebut tiba-tiba berdering, menandakan bahwa ada sebuah panggilan masuk dari seseorang yang baru saja ia pikirkan. Bunyi notifikasi panggilan masuknya memang sengaja Melvin buat berbeda dengan yang lain.
Tanpa menunggu waktu lama, Melvin langsung mengangkat telepon tersebut disertai seulas senyuman yang kembali mengembang, atau bisa dikatakan dua kali lebih mengembang daripada senyumannya tadi.
"Halo? Iya, aku baru aja ketemu sama dia. Dan, gimana kabar kamu sekarang, Cheesecake?" tanyanya dalam bahasa Inggris yang sangat fasih
Melvin berjalan pergi meninggalkan area belakang gedung aula kampus dengan telepon genggam yang masih setia menempel di telinga kanannya. Mungkin ia akan mencari tempat lebih nyaman untuk berbincang dengan seseorang yang saat ini tengah bersemangat menceritakan kesehariannya di seberang telepon tersebut.
Kembali lagi bersama Gia, entah ini bisa dikatakan sebuah anugerah atau musibah, ia sendiri tidak tau. Karena saat gadis tersebut baru saja sampai di depan pintu aula dan meyakinkan hatinya untuk kembali masuk ke dalam, tiba-tiba seluruh mahasiswa baru justru keluar dengan berbaris rapi layaknya anak sekolah dasar dengan kakak tingkat di masing-masing fakultas yang memimpin mereka.
Sejenak Gia melirik Nanon, senior yang tadi sempat memberinya kritikan pedas hingga membuat ia diseret pergi oleh Melvin. Lelaki berkulit sawo matang dengan kacamata mainan yang entah sejak kapan ia pakai tersebut juga melirik Gia dengan tatapan terkejut ketika matanya menangkap sebuah pin yang jelas-jelas ia kenal siapa pemiliknya.
Kenapa Melvin memberikan pin tersebut kepada junior ini? Apa istimewanya? Batin Nanon dalam hati.
Tak sempat melayangkan berbagai pertanyaan, salah satu panitia ospek dari fakultas lain sudah lebih dahulu menyuruhnya untuk segera pergi karena antrean di dalam sana masih panjang.
"Eh, ayo ikut baris di sini!" ucapan dari seorang gadis bertepatan dengan tangan kecil Gia yang ditarik secara paksa hingga masuk ke dalam barisan para mahasiswa baru membuat Gia lagi-lagi terkejut.
Sungguh, apakah semua orang disini memiliki kegemaran mengagetkan seseorang? Batinnya tak terima.
Barisan berisi para mahasiswa fakultas ekonomi bisnis tersebut terus berjalan mengikuti dua panitia yang berada di depan, tak tau mau dibawa kemana dan tidak ada yang ingin bertanya hingga tak lama kemudian sampai di suatu tempat dengan stand makanan serta minuman yang berjejer.
"Ini kantin bersama, kalau kantin fakultas ada di tiap gedung fakultas masing-masing. Nah, kalian boleh istirahat dulu disini selama 15 menit," tutur Nanon. Ia lalu pergi meninggalkan barisan tersebut untuk membeli jus buah atau setidaknya air putih karena selama di aula tadi, dirinya sama sekali tidak sempat beristirahat.
Mendengar hal tersebut membuat para mahasiswa baru seketika membubarkan barisan yang mereka buat sejak 10 menit lalu. Gia pun kembali diseret oleh perempuan yang sempat berkenalan serta menariknya untuk masuk ke dalam barisan tadi, ia adalah Yena, gadis tinggi nan manis yang sangat akrab dengan setiap orang walaupun belum berkenalan sama sekali.
Selama berada di kantin sembari menikmati satu porsi mie instan yang disediakan di dalam wadah styrofoam dan satu botol es teh, Gia merasa terus mendapat tatapan aneh dari semua orang, atau lebih tepatnya dari kakak tingkat yang tak sengaja membeli makanan di kantin bersama.
Bukan merasa terlalu percaya diri, tetapi dugaannya semakin diperkuat ketika Yena mengatakan hal yang sama.
"Emang ada yang aneh dari Gia, Yen?"
Pada akhirnya, Gia membuka suaranya diikuti dengan ekspresi melongo dari Yena karena setelah sekian jam bersama, pada akhirnya Gia mau bicara juga dengannya.
Yena menggelengkan kepala pelan sembari sedikit memajukan bibirnya, lalu berkata, "Nggak ada kok, atau mungkin lo tadi sempat buat suatu kesalahan waktu keluar dari aula?"
Perkataan Yena justru membuat Gia kembali berpikir keras, gadis tersebut merasa bahwa dirinya tidak melakukan sebuah kesalahan atau kebodohan sama sekali, bahkan Gia hanya diam sembari terus menundukkan kepalanya disaat Melvin tadi menarik tangan kecilnya menuju belakang gedung.
Ah, benar!
Apa mungkin alasan Gia menjadi pusat perhatian di kantin adalah karena Melvin? Apa jangan-jangan ada yang diam-diam mengambil foto mereka berdua lalu di unggah ke dalam sosial media kampus? Tapi hal tersebut agaknya tidak mungkin karena mereka hanya berjalan beriringan, tidak lebih.
Kecuali jika memang Melvin adalah salah satu mahasiswa yang paling populer di kampus ini.
Berbicara tentang kepala Gia yang kini tengah dipenuhi sosok kakak tingkatnya tersebut, tak lama kemudian netra madunya menangkap sang senior yang berjalan menuju arahnya.
Bukan, lebih tepatnya menuju sgN kantin yang kebetulan berada di dekat tempat duduknya saat ini. Mata tajam Melvin juga tak sengaja menatap Gia, kebetulan secara dua kali yang juga membuat gadis tersebut kembali gugup entah untuk yang ke berapa kalinya hari ini.
Selanjutnya, suara bisik-bisik dari para mahasiswa yang berada di sana semakin riuh terdengar seakan tidak berbisik, melainkan bicara secara terang-terangan.
"Jangan-jangan pacarnya Melvin?" ucap seorang perempuan dengan jas almamater berwarna senada dengan milik fakultas ekonomi bisnis kepada salah satu temannya yang berhasil masuk ke dalam telinga gadis tersebut hingga membuat Gia ingin sekali pergi dari kantin.
Sedangkan Melvin sendiri saat ini hanya diam tanpa ingin membalas godaan teman-temannya, bahkan memberikan seulas senyum seperti yang ia berikan kepada Gia beberapa waktu lalu pun sama sekali tidak.
Lelaki tersebut hanya mengambil sebuah minuman botol penambah ion, memberikan satu lembar uang sepuluh ribu lalu pergi begitu saja dengan raut wajah yang masih setia mengeras.
Satu hal yang membuat Gia bingung adalah, kenapa dirinya sama sekali tidak menerima berbagai pertanyaan dengan nada kesal dari beberapa kakak tingkat perempuan yang menggunjingnya dari belakang secara langsung? Kenapa mereka diam saja bahkan disaat Melvin sudah pergi?
Terlebih lagi Nanon yang sempat mengkritiknya pun saat ini justru selalu diam lalu memalingkan wajahnya jika bertatapan dengan Gia.
Tinn!!
Ya Tuhan.
Gia terlonjak kaget ketika lamunannya terpaksa harus berhenti saat sebuah klakson mobil yang begitu keras memekakkan telinganya.
Bayangkan saja, mobil hitam tersebut sudah tepat berada di hadapan Gia lalu membunyikan klakson dengan cukup keras karena si gadis tidak sadar akan keberadaannya. Jadi, siapa yang patut di salahkan dalam hal ini?
"Ayo masuk!" ucap Desta dari dalam mobil dengan kaca yang sudah terbuka setengah setelah melihat sang kekasih tidak memberikan tanda-tanda ingin masuk sejak dua menit lalu, ia tidak bisa menunggu lama.
Mendapat perintah yang begitu keras sama seperti bunyi klakson tadi sontak membuat Gia langsung masuk ke dalam mobil dan mendudukkan dirinya di kursi sebelah supir, hembusan nafas lelah berhasil mengalihkan fokus Desta.
Hari ini memang benar-benar hari yang melelahkan bagi Gia. Ia percaya mengenai sebuah kata-kata dari seseorang yang mengatakan bahwa jika kau mengawali hari dengan kacau, maka hari tersebut akan terus kacau hingga malam, dan buktinya benar, kan? Dikritik pedas, dibawa pergi dari aula, dan menjadi pusat perhatian banyak orang itu tidak masuk ke dalam list hidup Gia.
Ditengah-tengah kesibukannya menghitung hal apa saja yang membuat dirinya lelah dari pagi hingga sore ini, aroma wangi serta gurih tiba-tiba membuat Gia langsung menegak kemudian memutar kepala serta badannya 90° ke belakang.
Matanya menangkap dua buah croissant yang diletakkan di dalam styrofoam tanpa ditutup sehingga membuat asap-asap yang berasal dari makanan tersebut terlihat, gadis itu yakin bahwa makanan favoritnya masih hangat alias fresh the oven.
Tanpa basa-basi, Gia langsung mengambil makanan tersebut dan mulai memakannya. Kali ini croissant yang Desta bawa tidak berisi cokelat, melainkan potongan daging serta beberapa sayuran agar Gia setidaknya merasa kenyang dan suasana hatinya kembali membaik.
Lelaki tersebut tau bahwa seorang introvert seperti Gia pasti mudah lelah jika dihadapkan dengan keramaian, dan sang kekasih butuh sesuatu untuk mencharge energinya, entah itu berupa makanan ataupun pelukan, ia akan berusaha sebaik mungkin agar bisa menjaga suasana hati gadis kecilnya.
"Nggak bilang apa-apa nih sama pacarnya?" tanya Desta membuka suara, mobil yang mereka tumpangi saat ini baru saja berhenti di lampu merah pertama setelah area kampus.
Gia yang mendengar hal itu langsung menghentikan kegiatan makannya lalu berkata, "Terima kasih Kak Desta. Gia sayang banget sama Kakak!!" ucapnya sembari tersenyum dengan mulut penuh croissant hingga membuat Desta yang kali ini menatapnya tertawa gemas.
Netra Desta yang semula menatap wajah manis Gia kemudian turun ke bawah, menangkap sebuah pin berbentuk elang yang menempel di dasi gadis tersebut lalu sejurus kemudian mengerutkan keningnya heran.
"Pin punya siapa itu?"