Apartemen

2434 Kata
"Hah?" Gia terkejut bukan main ketika tau syarat yang diajukan oleh Desta agar lelaki tersebut mau memaafkannya adalah dengan dipanggil 'sayang'. Desta mengangguk, "Kamu tau nggak sih. Kita udah pacaran hampir satu bulan tapi kamu belum pernah manggil Kakak dengan sebutan sayang, loh. Kakak kan juga iri sama temen-temen yang lain," rengek pemuda itu sembari menampilkan binar mata lucu layaknya anak kecil yang tidak diberi lollipop. Hal tersebut tentu saja mudah bagi sebagian orang, bagi Gia memanggil Gama dengan sebutan sayang juga sebenarnya sangat mudah. Tapi entah kenapa ketika Desta yang memintanya, gadis tersebut merasa benar-benar malu. "Gia malu," ucapnya sekali lagi hingga membuat Desta gemas sendiri. "Ya udah, nggak kakak maafin deh. Biarin aja kita marahan terus selamanya." Kini keduanya lebih mirip seperti anak kecil yang sedang bertengkar merebutkan sebuah mainan. Gia yang polos tentu saja takut akan ancaman yang dilontarkan oleh sang kekasih, gadis tersebut terlihat gelagapan sembari menepuk pelan pundak Desta berharap agar yang bersangkutan tidak kembali marah. Sedangkan Desta saat ini terus mengerucutkan bibirnya, sembari membuang wajahnya ke sembarang arah berusaha untuk menghindari tatapan mata Gia. "Jangan marah ya ... sayang." Mendengar suara lirih Gia sontak membuat Desta menolehkan kepalanya penuh, senyuman lagi-lagi mendominasi wajah tampannya. "Sekali lagi dong!" Tubuh ideal Desta mulai mendekat ke arah Gia, menyenggolnya pelan namun dengan tempo cepat, hingga membuat si gadis menutup wajah merahnya menggunakan telapak tangan karena malu. "Sayang," lirihnya sekali lagi yang sejurus kemudian mendapat pelukan erat dari sang kekasih, "Kakak cinta kamu, Sayang," ucap Desta lalu mengecup singkat puncak kepala Gia. Lihatlah, bahkan kebahagiaan Gia dan —mungkin juga— Desta terlampau sederhana dibandingkan dengan beberapa pasangan yang lebih mementingkan materi di zaman sekarang. Ya, tentu saja, materi itu penting, bagi Desta pun sama, ia rela memakai topeng hanya demi uang dan kesenangannya semata. Namun tenang saja, Desta tidak memakai topengnya saat mencintai Gia. Ia benar-benar mencintai sang kekasih hingga tidak ingin gadis tersebut dekat dengan lelaki lain, walaupun hanya dalam zona pertemanan. Dan Desta rela melakukan apapun demi Gia agar tetap disampingnya. 15 menit berlalu, setelah adegan saling memeluk dan memberi kecupan ringan, saat ini suasana kembali sepi dan hening. Hanya ada suara teriakan dari Desta, serta beberapa kali pekikan terkejut dari Gia ketika kekasihnya tiba-tiba bersembunyi di balik punggung kecil milik si wanita. Pada akhirnya, sebuah film horor Indonesia menjadi pilihan mereka berdua. Desta kira tidak terlalu menyeramkan seperti film horor luar negeri. Namun nyatanya, belum sampai pertengahan film, tenggorokan lelaki tersebut sudah terasa sangat kering akibat terlalu sering berteriak ketakutan. Baiklah, bagaimana caranya ia pulang dengan tenang setelah melihat adegan hantu yang muncul di kursi belakang mobil ketika tokoh utama sedang dalam perjalanan pulang sendirian? Ia harus mencari alasan agar Gia membiarkannya menginap malam ini, batin Desta bermonolog. Tak ingin semakin merasa takut, Desta akhirnya menyerah. Ia memutuskan untuk mengarahkan pandangan matanya ke seluruh penjuru ruang tamu, menatap Gia yang masih fokus menonton film serta melihat berbagai guci serta lukisan mahal yang entah kenapa justru membuat rasa takutnya semakin memuncak. Bukankah kebanyakan makhluk tak kasat mata tinggal di barang-barang antik serta beberapa kamar kosong seperti di rumah ini? Desta menengguk ludahnya kasar, pilihan harus pulang atau menginap membuatnya benar-benar kebingungan sekarang. Manik matanya sekali lagi menatap Gia kemudian turun menuju selimut yang menutupi sepasang kaki keduanya. Tiba-tiba suatu pergerakan dari dalam selimut membuat Desta membulatkan mata lebih lebar, ia semakin terkejut tatkala gerakan tersebut berasal dari arahnya. Dengan hati-hati, Desta mulai membuka sebagian selimut dengan keringat yang mulai menetes di dahi. Gerakan tersebut sama sekali tidak berhenti, justru semakin cepat. Hingga sepersekian detik kemudian, matanya menangkap sebuah kaki tengkorak yang tengah bergoyang-goyang bersamaan dengan suara teriakan melengking yang kembali memecah keheningan malam. "Gia, di bawah, ada kaki tengkorak goyang-goyang!" Heboh Desta setelah berteriak cukup keras, sembari menunjuk ke arah bawah dengan kepala yang kembali bersembunyi di balik punggung Gia. Gia sendiri saat ini berusaha menenangkan Desta yang ketakutan, ia baru tau bahwa lelaki ini sangat penakut dan paranoid bahkan melebihi sang kakak. "Kak Desta, itu yang gemetar kaki Kakak. Gambar tengkorak itu juga dari kaus kaki yang kak Desta pakai." Ucapan tersebut membuat Desta kembali mengangkat kepalanya, nafas yang memburu lambat laun mulai tenang ketika melihat bahwa apa yang dikatakan oleh Gia ternyata benar. Itu adalah kaki miliknya sendiri yang entah sejak kapan telah memakai kaus kaki. "Perasaan tadi kakak ke sini nggak pakai kaus kaki deh," gumamnya heran. "Kak Desta pakai kaus kaki sejak lima belas menit lalu, waktu ngeluh kedinginan dan akhirnya aku pinjemin punya kak Gama yang emang sengaja ditinggal," tutur Gia. Demi Tuhan, ia benar-benar mengutuk Gama. Kenapa di usia yang telah berkepala tiga, lelaki tersebut justru membeli kaus kaki bermotif aneh yang hampir membuat jantungnya terlempar begitu saja. Tak hanya Gama, Desta juga mengutuk dirinya sendiri kenapa bisa berhalusinasi bahkan karena masalah yang sangat sepele. Apa karena efek samping dari sesuatu yang ia hirup sore tadi? Ah, sudahlah. Desta tak ingin memikirkan hal tersebut. Lebih baik ia kini bermain ponsel, kemudian membaca serta membalas pesan dari beberapa teman wanitanya satu persatu daripada harus kembali merasa ketakutan jika terus menonton film horor, batinnya sembari mengeluarkan benda pipih berwarna hitam dari dalam saku celana. *** Matahari menyingsing dari ufuk timur, masuk melalui celah kecil jendela yang tertutup gorden, namun sukses membuat Gia menggeliat karena wajah indahnya tersapu sinar matahari hingga beberapa kali membuatnya mengerjapkan mata sebelum benar-benar terbangun. Ah, pukul berapa ini? Tak biasanya ia bangun ketika matahari sudah cukup tinggi, batinnya sembari membuka ponsel yang terletak di nakas ranjang. "Astaga, telat!" Lagi dan lagi, akibat terlalu bersemangat menonton 3 film sekaligus, membuatnya tertidur pukul 1 malam dan bangun pada pukul 8 pagi. Padahal, kelas hari ini sudah dimulai sejak 30 menit lalu. Dengan cepat, Gia langsung masuk ke dalam kamar mandi, menggosok gigi, lalu mencuci wajah dan melewatkan agenda mandinya. Meskipun tau ia tetap telat jika berangkat sekarang, setidaknya gadis tersebut masih bisa mengikuti 2 mata kuliah yang tersisa. Tidak sampai 30 menit, Gia telah siap memakai seragam kuliah hitam putih dengan rambut yang di kuncir kuda, tak lupa pula mengambil tas ransel kecil di atas meja rias yang telah ia cek dua kali, serta sepatu kets berwarna hitam lalu berlari keluar dari kamar. Tepat di pertengahan anak tangga, Gia mencium aroma yang cukup wangi dari arah dapur. Tak biasanya sang pembantu masih memasak hingga sekarang, apakah beliau juga terlambat bangun? "Selamat pagi, Non Gia," sapa perempuan paruh baya yang tengah membersihkan area meja ruang tamu hingga berhasil membuat Gia keheranan. Jika pembantunya ada disini, lantas siapa yang sedang memasak? Tanpa menjawab sapaan tersebut, Gia langsung berlari menuju dapur takut jika sang pembantu ternyata melupakan masakannya. Keterkejutan Gia tidak sampai disini saja, setelah sampai di area dapur, ia melihat sosok Desta yang tengah menata makanan di atas meja makan lengkap dengan satu gelas s**u hangat untuknya. Ah, dan jangan lupakan penampilan Desta yang saat ini memakai jaket parka berwarna army, serta dalaman kaos polos milik Gama hingga membuatnya dua kali terlihat lebih tampan dan berkharisma. Iya, pada akhirnya Desta berhasil menginap di rumah Gia dan tidur di kamar tamu dengan alasan telah mengantuk berat. Ia juga telah diizinkan oleh sang kekasih untuk memakai baju-baju milik Gama yang memang sengaja ditinggal di rumah. "Selamat pagi, Cinderella!" sapa Desta ketika melihat Gia berdiri di antara sekat yang memisahkan area meja makan dengan ruang tamu, ia juga melebarkan tangannya seakan menyambut kedatangan gadis yang kini tengah mengulas senyum. Gia mengangguk sebagai jawaban atas sapaan sang kekasih, ia kemudian mendekat ke arah Desta yang masih sibuk mengupas dua buah apel di dekat wastafel. Semuanya berjalan dengan normal hingga ketika mata Gia menangkap tangannya yang membawa sepatu kets, ia tiba-tiba teringat akan sesuatu. "Kak Desta! Gia telat kuliah!" pekiknya dengan heboh lalu mengambil satu sisir roti bakar dan bersiap keluar dari rumah jika saja Desta tidak memegang kerah baju si gadis. "Kuliahnya libur dulu ya, sayang. Hari ini kita lihat-lihat apartemen yang bakal kamu tinggalin nanti," ucapnya dengan lembut. "Emang nggak apa-apa? Gia belum izin Kak Gama sama pihak kampus juga,", sahut Gia khawatir. Ia takut jika sang kakak marah saat tau dirinya tidak pergi kuliah hari ini, walaupun sebenarnya Gama tidak akan tau jika Desta atau Gia tetap diam. Desta menggelengkan kepala pelan, "Udah kakak izinin lewat temen kakak yang masih kuliah, nanti pasti di sampaikan ke temen kamu kok. Kakak juga pengen habisin waktu berdua sama Gia sebelum berangkat kerja sore nanti, jadi mau ya?" Gia sendiri terlihat sedikit berpikir ketika mendengar penuturan dari Desta, mereka berdua memang jarang menghabiskan waktu di luar sejak Gia kuliah dan jam kerja Desta yang selalu bentrok. Keduanya hanya bertemu ketika berangkat serta pulang kuliah, atau mungkin jika memiliki sedikit waktu, Desta akan menemani Gia menonton film seperti kemarin malam. Jadi, berkencan dengan kedok melihat apartemen bersama tidak salah, kan? Toh, lebih cepat Gia mendapat kamar apartemen yang kosong, lebih cepat pula ia pindah dan lebih sering bertemu dengan Desta tentunya. "Ya udah, kalau gitu Gia ganti baju dulu ya!" serunya lalu kembali berlari kecil. Namun, tak sampai 5 langkah, kerah baju Gia lagi-lagi ditarik oleh Desta hingga membuatnya sedikit terjengkang ke belakang. "Makan dulu ya, anak cantik. Ganti bajunya habis makan aja." Selanjutnya acara sarapan pun dimulai dengan mangkuk berukuran cukup sedang berisi sop ayam buatan Desta, serta tak lupa pula s**u dan buah-buahan yang telah terkupas. Hidup sendirian selama belasan tahun membuat lelaki tersebut sudah biasa dengan urusan dapur, dan sepertinya Gia harua belajar masak bersama Desta agat tidak mati kelaparan ketika tinggal di apartemen nanti. 30 menit kemudian, keduanya telah berada di dalam mobil, memulai perjalanan menuju apartemen yang terletak tak jauh dari lingkungan kampus sekaligus tempat tinggal Desta. Tak jarang Desta dan Gia bersenandung bersama, mengikuti alunan musik yang sengaja disetel lewat tape mobil lalu saling melempar candaan dan berusaha menikmati suasana pagi yang cerah, secerah senyum mereka berdua. "Enaknya bahas masalah apalagi ya, kakak udah kehabisan bahan pembicaraan nih," keluh Desta. Sejak awal tadi memang hanya dirinya yang memulai percakapan, sedangkan Gia hanya menjawab sembari mengikuti candaan yang terlontar. Gia mengangkat kedua bahunya pertanda bahwa ia pun tak tau, "Gimana kalau kita saling diam aja sampai apartemen?" Mengingat mereka berdua adalah sepasang kekasih, usul yang diajukan oleh Gia cukup aneh, tetapi semakin aneh juga ketika Desta menyetujui permintaan sang kekasih. Lalu, pada akhirnya, mereka berdua sama-sama diam selama perjalanan dengan Desta yang sesekali mengetuk ringan kemudi mobil mengikuti irama musik, dan Gia yang fokus menatap pemandangan di pinggir jalan. Tak butuh waktu lama karena jalanan cukup lengang, Desta dan Gia telah sampai di suatu apartemen empat lantai dengan dua pohon besar yang berada di sisi kanan serta kiri pintu masuk menuju lobi. Di sisi pohon sebelah kanan, terdapat pula kolam ikan serta taman kecil yang ditanami beberapa jenis bunga hingga membuat kesan asri semakin kentara. "Langsung masuk aja yuk, orangnya udah nunggu di dalam." Ajak Desta sembari menggenggam tangan Gia. Keduanya lalu masuk ke dalam lift yang akan mengantarkan mereka berdua menuju lantai tiga, tempat dimana kamar Gia berada. Setiap lantai di apartemen ini memiliki fasilitas yang berbeda-beda. Semakin tinggi lantai apartemen, maka fasilitas di dalamnya akan semakin lengkap dan ukurannya juga otomatis semakin luas. Desta sendiri sejak dulu telah menempati kamar nomor 27 di lantai dua. Walaupun telah memiliki uang cukup banyak, ia tidak ingin pindah ke lantai yang lebih tinggi karena impiannya adalah membeli sebuah rumah, bukan sepetak apartemen. Sebelumnya, Gama juga telah memilihkan kamar apartemen yang berada di lantai tiga untuk Gia. Ia tidak ingin sang adik mengalami shock culture ketika hidup di ruangan yang lebih kecil daripada kediaman mereka. Setelah pintu lift terbuka, kedua pasangan tersebut berjalan beriringan, tangan mereka masih sama-sama saling menggenggam dengan erat, layaknya sepasang suami istri yang tengah mencari hunian baru bagi mereka agar bisa terlepas dari kekejaman ibu mertua. Langkah Desta dan Gia kemudian berhenti tepat di pintu nomor 25 yang berjarak 4 kamar dari lift tempat mereka keluar tadi. Melihat pintu yang terbuka, membuat keduanya langsung masuk ke dalam, tak lupa melepas alas kaki lalu meletakkannya di tempat yang telah disediakan. "Ah, selamat datang. Mas Desta dan mbak ...," sambut seorang wanita berpakaian jas serta rok berwarna hitam. Ucapannya sedikit menggantung karena tidak mengenal nama dari gadis yang berdiri di samping Desta saat ini. "Namanya Gia, mbak," respon Desta kemudian membiarkan kedua wanita berbeda usia tersebut berjabat tangan untuk sekedar saling mengenal. Gia kemudian mengedarkan pandangan matanya ke seluruh penjuru apartemen yang didominasi warna putih tersebut. Ketika baru masuk ke dalam, ia sudah disambut oleh dapur dan meja makan yang berada tak jauh dari sisi sebelah kanan pintu utama dilengkapi dengan lemari es dua pintu. Jika masuk lebih dalam lagi, terdapat sebuah kamar yang cukup luas beserta kamar mandi di dalamnya. Sedangkan area yang masih kosong diubah menjadi ruang tamu sederhana dengan tiga sofa single, serta meja persegi kecil dan sebuah rak besar untuk meletakkan beberapa buku atau hiasan-hiasan lain. Setelah puas mengamati area sekitar, mata Gia kemudian menangkap sebuah pintu geser terbuat dari kaca yang hampir mirip dengan pintu di dalam kamarnya. Pintu kaca tersebut menghubungkan ruang tamu dengan balkon yang juga menyediakan sebuah kuris rotan agar bisa menikmati pemandangan kota dari atas. Langkah kaki tersebut melangkah pelan menuju balkon, menggeser pintu kaca, lalu keluar dan menghirup udara yang masih bisa dikatakan segar serta membiarkan terik matahari menyelimuti tubuh kecilnya. Ia akan mengambil serta pindah ke dalam apartemen ini secepat mungkin, batin Gia bermonolog. Sedangkan di ruang tamu, terdapat Desta dan staff perempuan apartemen yang tengah duduk berhadapan. Keduanya saling diam karena lelaki tersebut sibuk bermain sebuah game di ponsel sembari sesekali mengumpat tanpa mengeluarkan suara. Tak lama kemudian, dering notifikasi pesan masuk dari ponsel pintar milik Gia yang tergeletak di atas meja membuat Desta mengalihkan perhatiannya. Sejenak ia menatap Gia yang masih menikmati suasana di balkon lalu dengan cepat mengambil alih ponsel tersebut. @Nomor tak dikenal [Siang Gia! Kenapa nggak masuk kelas? Katanya sakit? Padahal ada kuis loh tadi.] Lelaki itu mengernyit ketika membaca pesan masuk dari nomer tak dikenal, jarinya mulai menari di atas keyboard untuk membalas pesan tersebut. @Gianefa [Siapa?] Ting! @Nomor tak dikenal [Ih, Gia. Jahat banget nggak di simpan! Ini nomor Arhan, cowok paling ganteng di fakultas.] Satu balasan lagi dan sukses membuat air muka sekaligus suasana hati Desta menurun drastis. Ia bahkan meremas benda keras yang berada di telapak tangannya tanpa memperdulikan tatapan heran dari staf apartemen. Bisa-bisanya setelah mendapat dorongan lengan yang cukup keras kemarin, lelaki berdarah campuran tersebut mengirim pesan kepada sang kekasih tanpa rasa takut sedikitpun. Dengan cepat Desta langsung menghapus semua pesan dari lelaki tersebut. Tak lupa juga ia sekaligus menekan tombol bertuliskan 'blokir' yang berada di sudut bagian atas ruang obrolan. *** "Loh, kok di blokir sih sama Gia," protes Arhan di seberang sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN