Maaf

2222 Kata
Mendengar penuturan dari pembantu rumah tangga tersebut sontak membuat seulas senyuman cerah yang menempel di wajah Desta tiba-tiba hilang. Di satu sisi ia, cukup khawatir dengan keadaan Gia yang tidak keluar kamar sejak sore tadi. Namun di dalam hati, ia juga tengah tersenyum puas karena si gadis ternyata benar-benar menuruti permintaannya. "Jadi Gia juga belum makan dari sore?" tanya Desta yang dijawab gelengan kepala oleh pembantu berusia sekitar 40 tahunan tersebut. Waktu yang tepat, batinnya. Karena sejak pagi tadi Desta juga belum mengisi perutnya dengan nasi, ia hanya makan beberapa roti serta makanan ringan ketika berada di cafe beberapa saat lalu. Rasa kesal serta amarah yang sempat memuncak membuat rasa laparnya hilang begitu saja tadi. "Tolong buatkan makan malam dulu ya, Mbok. Biar saya yang bujuk Gia supaya mau turun ke bawah," perintah Desta kemudian mengikuti langkah kaki wanita itu untuk masuk ke dalam rumah, setelah sebelumnya membuang sebuah bungkusan kecil yang sempat ia pegang sejak berada di dalam mobil tadi. Ketika sampai di area ruang tamu, lelaki tersebut langsung naik menuju tangga yang menghubungkan lantai satu dengan kamar Gia serta perpustakaan baca sekaligus ruangan olahraga milik Gama. Kedua ruangan milik lelaki tersebut tak pernah dibuka sejak kepergiannya ke Singapura beberapa minggu lalu. Tok! Tok! Tok! Pintu kamar cokelat dengan gantungan nama sang pemilik di atasnya itu diketuk oleh Desta dengan tempo yang tidak terlalu cepat, namun juga tak terlalu lambat. Tiga kali ketukan dan belum ada respon sama sekali dari si gadis. "Gia, bukain pintunya dong. Ayo makan malam bareng," ucap Desta cukup keras, tempo ketukan pintu kali ini dua kali lebih cepat dan terkesan tergesa-gesa. Masih tak ada tanda-tanda pintu akan terbuka. Hingga beberapa menit kemudian, ketika si lelaki tak lagi mengeluarkan suara, pintu sedikit terbuka hingga menampilkan sosok Gia yang telah berganti pakaian berupa celana training hitam, atasan hoodie berwarna kuning, serta rambut yang lagi-lagi dibiarkan tergerai begitu saja. Kepala Gia ia biarkan keluar dari pintu yang terbuka setengah, manik matanya menyapu area luar kamar mencari seseorang yang tadi sempat memanggilnya. Hingga ketika pandangan gadis tersebut sampai di sebelah kiri, Desta menatapnya dengan senyum semanis kembang gula serta mata yang hampir menghilang. "Halo, Sayang!" sapanya. Gia terdiam ketika melihat sikap Desta yang terlihat sangat berbanding terbalik dengan sikapnya sore tadi. Apakah lelaki tersebut lupa akan kejadian ketika dirinya marah-marah dan memegang rahangnya dengan erat hingga membuat Gia mengerang kesakitan beberapa waktu lalu? Entah apapun alasannya, Gia tidak peduli. Ia cukup senang jika melihat sang pangeran kembali bersikap hangat terhadap dirinya seperti sedia kala. "Kamu kenapa nggak bales pesan sama angkat telepon dari kakak sih? Kakak khawatir kamu kenapa-kenapa loh," ucap Desta sembari menampilkan raut wajah sedihnya. Perempuan yang beberapa senti lebih pendek si lelaki kemudian mengerutkan keningnya bingung, bukankah tadi Desta yang menyuruhnya untuk tetap diam dan tidak berinteraksi dengan pemuda tersebut karena masih marah? "Tapi kan tadi kak Desta sendiri yang suruh Gia biar nggak kirim pesan ke kakak dulu," jawabnya. Kekasih Desta ini benar-benar sangat polos, atau mungkin bodoh? Ah tidak, Gia cukup pintar. Buktinya, ia bahkan sangat pandai dalam menebak alur dari sebuah film. Tanpa disangka, diantara hening yang sempat menyelimuti, Desta tiba-tiba merengkuh tubuh kecil sang kekasih hingga membuat Gia lagi-lagi terkejut serta membulatkan mata. Jangan tanya bagaimana keadaan jantungnya, ia bahkan saat ini tengah berusaha setengah mati untuk menormalkan detak jantung yang seakan tengah meronta ingin melompat dari dalam tubuh, lalu menggelinding di atas lantai. "Maaf, Kakak benar-benar merasa bersalah." Sekali lagi, kalimat tersebut keluar dari bibir tipis Desta yang saat ini sedang menjatuhkan kepalanya begitu saja di atas pundak si gadis. Hidung mancung mengendus aroma permen karet yang dihasilkan dari ceruk leher Gia. Sebenarnya, Desta tidak menyukai aroma seperti ini walaupun tidak terlalu menyengat sekalipun. Lelaki tersebut lebih menyukai aroma glamour dan seksi seperti gadis-gadis yang biasa dirinya temui ketika berada di kelab malam. Sekitar 5 menit terdiam sembari merasakan hangat masing-masing tubuh, Desta akhirnya melepas pelukannya. "Tapi kamu juga salah karena nggak bicarakan hal ini dulu sama kakak. Apalagi waktu kakak tau kamu berangkat ke kampus bareng sama bule aneh itu, terus peluk-peluk cowok lain, apalagi–" Cup! Ocehan Desta seketika terhenti ketika yang lebih muda mengecup singkat bibirnya. Pemuda dengan balutan sweater abu-abu serta logo bergambar buaya di sudut bagian atasnya itu kemudian menyentuh pelan bibir miliknya, menatap tak percaya akan apa yang baru saja dilakukan oleh sang gadis. "Kamu kenapa cium kakak?" Gia kembali mengernyit. Tau jika tatanan kalimatnya salah dan mendapat respon aneh dari Gia, Desta kembali berkata sembari memegang d**a bidang miliknya, "Maksudnya, kamu jangan tiba-tiba kayak gitu. Kasihan jantung kakak, mau leleh aja ini rasanya." Si gadis tertawa ringan ketika mendengar pernyataan dari kekasihnya, wajah Gia sudah dipastikan memerah sejak tadi. Namun, tak lama kemudian manik matanya menangkap beberapa luka lebam yang menghiasi wajah Desta, ia baru sadar bahwa pemuda tersebut belum membersihkan lukanya sama sekali sejak tadi. "Kak Desta, ini lukanya belum di obati?" Tanya Gia lalu memegang pelan wajah Desta yang sejurus kemudian dijawab dengan anggukan kepala, "Kakak duduk di sana dulu ya, aku ambil obat sebentar di kamar." Desta tentu saja menuruti ucapan Gia lalu berjalan beberapa langkah dari arah pintu kemudian duduk di sebuah sofa yang terletak di depan kamar, atau lebih tepatnya di dekat pagar stainless yang menjadi sekat lantai dua. Kurang dari 5 menit, Gia kembali keluar. Kedua tangannya kini membawa kotak berwarna putih dengan tulisan P3K serta sebuah termos berukuran sedang yang berisi air hangat lalu duduk di sebelah Desta. Gadis tersebut memang selalu menyediakan termos di dalam kamar. Hak itu bertujuan agar ketika dirinya terbangun di tengah malam, ia tidak perlu lagi turun ke dapur yang berada di lantai satu untuk membuat s**u hangat agar bisa kembali tertidur. Kegiatan ini telah Gia lakukan semenjak Gama pergi ke Singapura, karena biasanya sang kakak lah yang akan membuatkannya segelas s**u. "Aduh, Sayang, pelan-pelan dong. Sakit semua ini badan kakak," keluh sang lelaki saat Gia tak sengaja membersihkan lukanya menggunakan kapas yang telah diberikan alkohol dengan cukup keras, hingga membuat gadis tersebut kembali merasa khawatir. Selanjutnya keadaan kembali hening, Gia melanjutkan kegiatannya penuh hati-hati seakan wajah Desta adalah porselen mahal nan langka. Sedangkan Desta sendiri kini tengah memejamkan matanya, menikmati rasa pedih yang menjalar di sekitar wajah hingga tiba-tiba sebuah ide jahil muncul di kepalanya. "Gia, kamu pengen tau nggak gimana caranya supaya rasa nyeri di wajah kakak cepat sembuh?" Gia dengan cepat mengangguk penuh semangat saat mendengar ucapan yang dilontarkan oleh kekasih tercintanya itu. Desta tersenyum sumringah, "Coba deh kamu kasih ciuman 'bye-bye pain' di sini, katanya ampuh banget loh." Ucapnya sembari mendekatkan pipi sebelah kanan yang memiliki lebam biru di sebagian sisinya. Ciuman bye bye pain adalah ciuman atau bahkan hanya kecupan ringan yang ditujukan untuk sebuah luka agar cepat sembuh. Entah siapa yang menciptakan nama ciuman tersebut, yang terpenting Desta akan segera mendapatkan banyak ciuman, batinnya Walaupun pada faktanya, semua luka tidak akan sembuh hanya dengan diberi kecupan. Luka di hati pun terkadang butuh waktu yang sangat lama agar benar-benar hilang tak berkesan. Namun, setidaknya ciuman ini akan membuat orang yang terluka merasa sedikit lebih baik. Gia mendekat kemudian kembali mengecup singkat pipi Desta dengan wajah yang terus memerah. Mungkin sudah tak bisa di hitung berapa kali Desta sukses membuat Gia menjadi kepiting rebus saat ini. "Yang sebelah sini." Pinta Desta sembari menunjuk luka di sebelah kiri pipinya. Cup! "Ini juga." Kali ini mengarahkan jari telunjuk ke arah pelipis. Cup! "Nah, ini yang terakhir. Hehe." Lanjutnya lalu menempelkan jari telunjuk miliknya ke sebuah luka kecil yang berada di bawah bibir. Gadis kecil di hadapannya tiba-tiba saja menggeleng pelan lalu sedikit memberi jarak diantara mereka, wajahnya yang menunduk cukup membuktikan bagi Desta bahwa Gia sedang malu saat ini. Padahal, ia sudah pernah mencium bibir lelaki tersebut beberapa waktu lalu. "Ih kok malu-malu sih, padahal tadi udah di cium." Merasa tak mendapat jawaban atau respon dari Gia, Desta kembali merengek, "Aduh Gia, ayo dong. Sakit banget ini, kakak lagi kritis," ucapnya hiperbola hingga membuat sang wanita kembali menatap dirinya. "Kakak, nggak boleh ngomong gitu!" Tegur Gia sembari memukul ringan pundak Desta. "Kan aku belum selesai ngomong, sayang. Kakak itu kritis ciuman, makanya ayo cepat cium kakak!" Tidak ingin sosok yang lebih tua dan berpostur tubuh lebih besar darinya ini kembali merengek, apalagi di keheningan malam yang hanya ditemani suara serta aroma pembantu m sedang memasak di bawah, Gia mulai mendekatkan dirinya ke arah Desta. Semakin dekat namun perlahan, hingga mereka berdua bisa merasakan deru nafas yang menyapu wajah masing-masing. Semakin dekat hingga Gia bisa merasakan bahwa hidungnya sempat bergesekan dengan hidung sang kekasih. Semakin dekat hingga sejurus kemudian .... "Non Gia, Mas Desta, makan malamnya sudah siap!" seruan dari pembantu yang berada di pertengahan tangga membuat Gia langsung tersadar. Dengan cepat ia berlari turun ke bawah, tak menghiraukan Desta yang asik tertawa melihat dirinya salah tingkah. Ketika berlari, Gia terlihat semakin menggemaskan saat Desta baru sadar bahwa hoodie yang gadis tersebut pakai memiliki hiasan telinga kucing serta ekor kecil di belakangnya. "Gemes banget, jadi pengen makan," celetuknya lalu berdiri dari sofa dan mulai berjalan ke arah tangga untuk makan malam, cacing di dalam perutnya sudah meraung-raung sejak tadi. Dan perlu diingat, bahwasanya yang salah tingkah di sini hanyalah Gia, karena Desta telah terlampau sering menghadapi situasi gagal ciuman seperti tadi bersama para wanita lain. Setelah menyelesaikan agenda makan malam bersama dengan hidangan yang berupa nasi goreng berhias potongan kecil daging ayam dan sosis, telur mata sapi, serta tak lupa pula dua gelas s**u hingga bisa dikatakan makan malam kali ini lebih seperti sarapan. Desta dan Gia memutuskan untuk menonton film terlebih dahulu. Jam dinding di ruang tamu masih menunjukkan pukul 9 malam, genre film yang akan mereka tonton malam ini lagi-lagi horor. Sebenarnya, Desta adalah salah satu dari jejeran banyak orang yang tidak menyukai film horor karena takut akan terjadi di dunia nyata. Tetapi karena tak ingin sang kekasih rewel lalu membangunkan pembantu yang telah pulas tertidur, akhirnya mau tak mau Desta harus menuruti keinginan Gia. Sedangkan Gia saat ini telah mendekatkan posisinya ke arah Desta, mengambil selimut tebal di atas meja yang sempat ia bawa dari kamar tamu, kemudian menyelimuti kedua pasang kaki mereka berdua. "Kenapa pakai selimut? Kedinginan?" tanya Desta tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel dan layar televisi secara bergantian, lelaki tersebut saat ini tengah sibuk melihat rekomendasi film horor tanpa adegan mengagetkan dari website yang baru saja ia temukan. Gia enggan menjawab, namun ia menggelengkan kepala pelan walaupun tau Desta pasti tak menangkap gerakannya tersebut. Gia memang selalu membawa selimut ketika menonton film di ruang tamu, agar jika tiba-tiba dirinya mengantuk, ia bisa langsung tidur di sofa tanpa harus takut terbangun di tengah malam atau dini hari akibat keinginan. Dengan adanya Desta di sini, mereka berdua bisa menjadi kepompong raksasa ketika film sampai pada adegan yang cukup menegangkan serta menakutkan, pikir Gia sembari tertawa ringan hingga membuat Desta menatapnya sekilas. "Kamu nggak lagi kesurupan, kan, Gia?" tanyanya berusaha memastikan namun sang empu justru semakin mengeraskan tawanya. "Kak Desta, Gia mau ngomong." Tangan Gia kemudian bergerak, menggoyang-goyangkan tubuh Desta yang hanya dibalas deheman lirih karena pemuda itu masih terfokus pada layar televisi yang menampilkan deretan judul film horor di dalamnya. Ketika tak mendapat respon yang cukup baik, Gia kembali memanggil nama sang pangeran beberapa kali, "Kakak. Kak. Kakak Desta, Kak Desta Winata!" Gadis tersebut terus mengoceh hingga tiba-tiba tangan Desta yang sebelumnya memegang ponsel kini beralih memegang bahu Gia, "Ada apa sih sayangnya kakak? Kenapa? Mau cium atau peluk?" Mendapat godaan dari Desta justru membuat Gia langsung mengatupkan bibirnya, lupa dengan deretan kalimat yang sudah ia rancang dan akan dirinya ucapkan kepada sang kekasih. "Loh, kok malah diam. Mau ngomong apa, hm?" Jujur saja, ia tidak bisa bicara ketika binar jelaga tersebut menatap hangat dirinya, seakan menghipnotis Gia agar tidak mengeluarkan sepatah kata apapun, melainkan menikmati paras tampan nan indah ciptaan Tuhan yang selalu berhasil memporak-porandakan hatinya sejak awal hingga saat ini. Gia yang sekarang tengah memberikan tatapan memuja namun menjadi seperti tatapan kosong di mata Desta justru membuat pemuda tersebut sedikit takut. Ia takut jika gadisnya ini benar-benar sedang kerasukan bahkan ketika film belum dimulai, mengingat bahwa malam ini adalah malam Jum'at. "Kakak jangan lihatin Gia kayak gitu, Gia malu." Pasa akhirnya, Gia membuka suara lalu menjatuhkan kepalanya di bahu Desta hingga membuat yang lebih tua mengerjapkan matanya berulang kali lalu tertawa. "Ya udah, Kakak merem aja deh. Sini mana mukanya, emang Gia mau ngomong apa sih?" lembut Desta kemudian mengarahkan kedua tangannya untuk memegang kepala sang kekasih yang lambat-laun mulai terangkat. Melihat Desta menutup mata membuat Gia menghela nafas lega, setidaknya kata-kata yang ia rancang tidak kembali menguap begitu saja saat manik si lelaki menatapnya dengan dalam. Setelah kembali menghembuskan nafas, Gia mulai berkata, "Maafin Gia ya, kak Desta. Gia tau kalau Gia emang salah, harusnya aku ngomong dulu ke kak Desta biar nggak jadi salah paham. Tapi, kakak juga jangan marah kayak tadi ya, Gia takut." Lambat laun Desta mulai membuka matanya ketika tak mendengar lanjutan kalimat dari sang kekasih, ia tersenyum manis menatap Gia yang juga sedang tersenyum menatapnya. "Kakak bakal maafin kamu, tapi ada syaratnya," ujar Desta kemudian mengarahkan pandangannya ke atas, seolah sedang memikirkan suatu hal yang membuat Gia menjadi was-was dan memikirkan segala kemungkinan tentang syarat yang akan Desta ajukan. "Kita kan jadian udah hampir satu bulan nih ...." Ucapan itu sengaja dibuat menggantung agar Gia semakin penasaran dan Desta justru semakin melebarkan senyumannya. "Panggil kakak dengan sebutan sayang, mau nggak?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN