Satu pukulan penuh tenaga berhasil Arhan layangkan, Desta yang tidak siap akan hal itu langsung terjatuh ke samping. Pukulan tersebut memang berisi segala kekesalan yang sejak dulu ia pendam kepada lelaki itu. "Aduh, sakit!" Keluhnya sembari mengibaskan tangan. Wajah dan sikap Desta ternyata sama-sama keras, batin Arhan. Mendapat bentakan keras dari Gama di seberang telepon membuat Arhan tersadar. Harusnya ia tidak perlu berdiri terlalu lama atau nyawanya dalam bahaya. Dengan cepat, Arhan masuk ke dalam rumah. Berhubung ada dua kamar di bagian depan, Arhan tidak ingin membuang waktu. Setelah meyakinkan diri untuk memilih satu kamar lewat sebuah permainan, lelaki itu melangkahkan kakinya menuju kamar dengan pintu berwarna coklat. "Gimana? Ada, nggak?" tanya Gama. Bahu Arhan melemas, ha

