Keesokan harinya, di depan sebuah kelas dengan dua pintu lebar yang dilapisi cat kayu berwarna hitam, Gia berdiri sembari menghirup oksigen sebanyak mungkin lalu ia hembuskan perlahan.
Ia saat ini tengah melakukan pernafasan dengan hitungan 4,7,8 yang pernah diajarkan oleh dokter Rachel ketika tiba-tiba merasa gugup atau terkena serangan panik.
Kegiatan tersebut sudah berlangsung sekitar lebih dari 5 menit. Gia takut masuk ke dalam kelas karena pintu yang biasa terbuka kini telah tertutup, ia takut jika sang dosen telah memulai kelas lebih awal. Padahal, di dalam sana tidak ada siapa-siapa.
Ketika tangannya mulai memegang kenop pintu namun belum sepenuhnya di tarik ke bawah, seseorang dari belakang tiba-tiba mendorong tubuhnya hingga berhasil membuat pintu terbuka sempura.
De javu. Kejadian ini mengingatkan Gia akan hari pertama masa pengenalan mahasiswa baru kala itu. Namun, tersangka kali ini bukan berasal dari Nanon ataupun kakak tingkat lain, tetapi dari Arhan yang kini tengah menatap Gia sembari menampilkan deretan giginya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Untung saja gadis tersebut tidak sampai jatuh tersungkur di lantai.
"Maaf emang sengaja. Tadi gue kira lo lagi semedi di depan pintu," celetuk Arhan.
"Kaget, Arhan," ucap Gia dengan lembut seraya mengelus pelan dadanya.
"Iya-iya maaf, neng Gia."
Keduanya masih sama-sama berada di dekat pintu. Saling tatap seolah sedang berbicara dalam hati masing-masing, tak menghiraukan keadaan kelas yang mulai hening. Hingga tak lama kemudian, suara interupsi tepat dari belakang mengejutkan mereka.
"Ini masih mau masuk ke kelas saya, atau lanjut dorong-dorongan kayak anak SMP baru jatuh cinta?"
Mendengar suara tersebut membuat Gia dan Arhan memutar badannya ke belakang, yang sepersekian detik kemudian langsung membulatkan matanya. Sang dosen ternyata telah berada di belakang mereka sejak tadi.
Setelah menundukkan setengah badannya untuk meminta maaf. Dengan gerakan secepat kilat, keduanya langsung berlari menuju tempat duduk seperti tribun yang berjejer rapi tanpa sekat. Tempat mereka melangsungkan kelas pagi ini adalah di sebuah aula mini.
Ketika sibuk menyapukan pandangan ke seluruh penjuru ruangan untuk mencari tempat duduk, Mata Gia kemudian berhenti pada gerakan tangan Yena dan Arhan yang entah sejak kapan berada di sisi kursi paling sudut untuk menyuruhnya ikut duduk bersama mereka berdua.
Tanpa basa-basi atau akan kembali mendapat teguran dari profesor yang sejak tadi masih mengawasi gerak gerik mahasiswinya, Gia langsung berjalan sedikit cepat mendekati kedua teman barunya lalu duduk di antara keduanya.
"Gia mah kalau nggak di suruh duduk bakal tetep berdiri." Goda Yena seraya menyenggol tubuh kecil Gia.
Hal tersebut memang benar, ia merasa sungkan sekaligus tak tau apa yang harus dikatakan ketika duduk bersama teman-teman satu jurusannya, bisa saja mereka tidak ingin Gia duduk di sebelahnya, kan?
Maka, pemikiran seperti itulah yang membuat gadis tersebut selalu lambat dalam melakukan sesuatu. Gia memang pendiam, tapi pikirannya sangat berisik.
Mata pelajaran kalkulus telah dimulai sejak 15 menit lalu. Namun, banyak mahasiswa merasa kebingungan akan penjelasan dari dosen yang memang terkenal cuek serta sulit dalam memberi materi tersebut. Tak terkecuali pula juga orang perempuan serta satu lelaki yang kini menatap sang profesor dengan tatapan tak minat.
"Ini dia jelasin ke dirinya sendiri apa gimana, sih? Bisa-bisanya nggak nerima sesi tanya jawab sama sekali." Omel Yena seraya menusuk-nusuk pena yang ia pegang ke permukaan binder, hingga membuat Arhan dan Gia meringis menatapnya.
"Kalau lo nggak paham, berarti target belajarnya bukan lo, Yen," timpal Arhan yang justru membuat Yena semakin merasa kesal lalu memukul ringan kepala lelaki tersebut menggunakan pena.
Tak terima, Arhan pun membalas perbuatan Yena dengan memukul kepalanya menggunakan penggaris besi.
Adegan saling memukul ringan sembari memberikan cibiran pedas pun dimulai. Sedangkan Gia yang bertugas menjadi penyekat antara mereka berdua hanya menghela nafas lelah. Hingga sejurus kemudian, suara ketukan keras di papan berhasil mengalihkan atensi keduanya.
Dosen berkumis tebal serta memakai setelan kemeja berwarna biru muda yang sangat licin tersebut kini tengah menatap mereka bertiga dengan tatapan tajam. Namun tak setajam tatapan yang diberikan Mahesa kepada Asha di dalam cerita Philophobia.
Tatapan dosen itu dengan jelas mengisyaratkan mereka untuk segera diam, atau ketiganya akan dikeluarkan dari kelas. Gia, Yena, dan Arhan kemudian menundukkan kepala sembari mengatupkan kedua tangannya di depan d**a sebagai permintaan maaf.
Hening suasana kembali mendominasi ruangan.
Tak ingin merasa jenuh sendirian, akhirnya Arhan kembali membuka suara. Karena menurutnya, lebih baik menganggu kedua wanita tersebut daripada harus tertidur di kelas yang akan menjadi resiko besar jika tiba-tiba sang dosen tau. Toh, memang ada hal yang harus ia tanyakan kepada Gia perihal masalah kemarin.
"Gia, nomor gue kok diblokir sih?" Senggol Arhan.
"Hah? Emang kamu ada kirim pesan ke aku?" tanya gadis itu dengan kening mengernyit namun tetap memperhatikan penjelasan di depan walaupun sulit untuk masuk ke dalam otaknya.
Mendapat isyarat untuk tetap diam tak serta merta membuat Arhan menuruti permintaan Yena. Lelaki itu justru menjulurkan lidah sebagai tanda bahwa ia tidak akan diam.
"Ada, nih lihat!" ucapnya lalu meletakkan ponsel pintar di atas meja yang menampilkan sebuah history chat antara dirinya dengan si wanita.
Gia kemudian mengambil alih benda pipih itu, membacanya perlahan lalu kembali mengernyit heran, "Kok Gia blokir ya," gumamnya hingga membuat Arhan memutar bola mata malas, bukankah tadi lelaki tersebut telah berkata demikian?
"Eh, tapi disini nggak ada chat dari kamu," lanjut Gia beralih memegang ponsel miliknya sendiri kemudian memberikannya kepada Arhan.
Kali ini, pemuda itu ikut mengernyit heran karena perkataan Gia memang benar, pesan yang ia kirim tidak ada di dalam pesan masuk milik gadis tersebut.
Lalu, siapa yang patut disalahkan dalam hal ini? Gia yang tidak tau apa-apa atau Yena yang memberikan nomor ponsel Gia kepada Arhan?
Ah, benar. Mengingat bahwa Yena tidak terlalu menyukai sifat Arhan, membuat lelaki itu yakin bahwa perempuan satu ini sengaja memberikan nomor telepon yang salah pada dirinya.
"Jangan-jangan lo kasih nomor telepon yang salah ke gue, Yen!?" tuduh Arhan hingga membuat Yena yang awalnya fokus menatap papan tulis, menolehkan kepalanya penuh menghadap ke arah pemuda tersebut.
"Apa sih lo, jangan asal nuduh dong. Lihat aja tuh nomor yang kemarin gue kirim, ada nama Gia kan di sana?" sangkal Yena. Rasa kesalnya akibat materi yang tidak jelas semakin bertambah ketika Arhan menuduhnya tanpa bukti.
Tak mau kalah, Arhan kembali menjawab, "Bisa aja kan sebelum lo kirim, nomornya lo ganti."
Belum sampai Yena berhasil mematahkan opini Arhan, suara keras yang berasal dari depan sontak membuat seluruh mahasiswa terkejut.
"Kalian bertiga bisa diam tidak? Jika tidak ingin berada di kelas saya, silahkan keluar!" ucap dosen tersebut sembari menautkan kedua alisnya, menahan amarah serta mengarahkan lengan kanannya menuju pintu.
Bukannya merasa takut, Yena yang sudah kepalang marah karena selalu menjadi sasaran walaupun para mahasiswa lain juga ramai pun menyahut, "Bapak juga bisa lebih jelas dalam memberi materi tidak? Kalau tidak, tolong pulangkan saja kami."
"Nah, betul!" imbuh Arhan tak kalah keras lalu bertepuk tangan seolah mendukung perkataan wanita tersebut.
Ketika mendengar ucapan frontal yang dilontarkan oleh kedua temannya serta kembali menjadi pusat perhatian para mahasiswa dan dosen, Gia langsung menundukkan kepalanya.
Hancur sudah kesan pendiam yang ia ciptakan akibat ulah Arhan dan Yena, Gia benar-benar menyesal karena menerima tawaran gadis tersebut untuk duduk di sebelahnya.
Kemudian, disinilah mereka bertiga berakhir, duduk di bangku kantin sembari menikmati mie ayam masing-masing dengan raut wajah keruh dari Gia yang telah dikeluarkan secara paksa dari kelas oleh sang dosen.
"Nih Gia, makasih. Maaf juga karena udah nuduh lo, Yen," ucap Arhan setelah membuka tombol blokir di ponsel Gia. Pada akhirnya, ia juga tau bahwa Yena telah memberikan nomor ponsel yang benar kepada dirinya.
Baik Arhan maupun Yena sama-sama tidak mengambil pusing akan kejadian ketika mereka dikeluarkan dari kelas tadi. Bahkan, keduanya tak peduli jika mendapat ancaman tidak boleh mengikuti kelas kalkulus selama satu semester. Bibit-bibit mahasiswa abadi telah tumbuh sejak dini dari dalam diri mereka berdua.
Berbeda dengan Gia, ia saat ini tengah memikirkan segala kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi, hingga membuat kedua orang tersebut saling tatap menunjukkan raut wajah khawatir.
"Gia, maaf, ya. Gara-gara kita, lo jadi ikutan dikeluarin dari kelas," Yena membuka pembicaraan, tangannya ia arahkan untuk memegang punggung tangan gadis yang lebih putih darinya.
Gia mengangguk sembari mengaduk mie ayam miliknya tanpa minat, bahkan masih tersisa cukup banyak.
"Lo lagi mikirin apa sih, Gi? Ngomong dong, jangan diem aja, nanti kesurupan loh!" ujar Arhan yang tak betah jika terus melihat raut wajah masam dari Gia.
"Gia mau undur diri dari ajang bulan dan bintang kampus. Cara ngomongnya gimana, ya?"
Pertanyaan itu seketika membuat Arhan dan Yena terkejut, keduanya kompak tersedak mie ayam hingga merebutkan satu botol air mineral milik Gia yang masih utuh. Untung saja kuah mie tersebut telah dingin sepenuhnya, jika masih panas mungkin mereka berdua akan menangis saat ini.
Gia yang juga panik kemudian menepuk punggung Arhan dan Yena secara bergantian. Setelah merasa lebih baik dari sebelumnya, si lelaki mengangkat tangan sebagai pertanda agar gadis tersebut berhenti menepuk punggungnya.
"Kenapa mau undur diri? Gue sendirian dong?" rengek Arhan.
"Disuruh kak Desta. Gia nggak mau nanti malah tambah runyam masalahnya."
Jawaban Gia membuat lawan bicaranya terdiam. Apalagi ketika mendengar nama seorang lelaki yang sempat mendorongnya dengan cukup keras kemarin lusa, bahkan rasa nyeri di perut Arhan sesekali masih terasa.
Yena sendiri juga sudah mengerti apa yang telah dialami oleh kedua temannya ini beserta Melvin ketika latihan dansa kala itu dari sang kakak, Nanon. Ia juga tidak berani berkata banyak karena tidak mengerti akar permalasahan yang sebenarnya.
***
Kini, ketiga orang tersebut kembali berpindah tempat. Ketiganya menatap gugup pintu kecil berwarna cokelat dengan tulisan 'Ruang BEM Fakultas' yang menempel pada bagian atasnya.
Ya, Desta dan Yena akhirnya membantu Gia untuk berbicara secara langsung mengenai kemunduran dirinya dalam acara yang akan dimulai kurang dari dua minggu lagi. Mau bagaimana lagi? Mereka berdua tidak ada yang berani menentang kemauan gadis tersebut, apalagi jika itu berurusan dengan Desta.
"4,7,8 temen-temen," isyarat Gia kepada teman-temannya agar mengikuti hitungan nafas yang biasa gadis itu lakukan.
Setelahnya, Arhan mulai menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri, serta meregangkan otot-otot tangannya seperti seorang petarung yang akan bertanding di dalam ring. Lelaki tersebut memang aneh, dan semua orang harus memakluminya.
Kenop pintu yang sebelumnya telah dipegang oleh Arhan, kini mulai lelaki tersebut tarik ke bawah lalu membukanya secara perlahan. Di dalam ruangan, ada setidaknya 3 orang mahasiswa laki-laki tengah tertidur pulas di atas karpet tipis, dengan almamater sebagai selimut serta bantal masing-masing.
Tak jauh seperti korban bencana alam, batin Yena kemudian menggelengkan kepalanya prihatin.
Ide jahil tiba-tiba terlintas di kepala Arhan seolah lupa bahwa ia sempat gugup beberapa waktu lalu, "Jadi ini ya yang kalian lakukan selama menjadi anggota inti BEM fakultas?".
Ucapan tegas itu sukses membangunkan para kakak tingkat tersebut hingga langsung berdiri menegakkan tubuhnya walaupun nyawa mereka belum sepenuhnya terkumpul.
"Selamat siang, kakak-kakak sekalian."
Saat menyadari bahwa di hadapan mereka kali ini bukan dosen ataupun ketua BEM kampus yang tengah melakukan sidak, ketiganya pun menghela nafas lega sekaligus kesal di waktu yang bersamaan.
Duk!
Satu pukulan keras menggunakan botol minum kesayangan ibu-ibu seluruh Indonesia tepat mengenai kepala sang pembuat masalah, Arhan, yang langsung dihadiahi raut wajah meringis oleh empunya.
"Lain kali kalau niat bangunin jangan kayak gitu, anak bodoh!" cela Nanon. Tangannya kembali berusaha memukul kepala lelaki tersebut, namun kali ini Arhan berhasil mengelak.
"Jadi, kenapa kalian kesini?" tanya salah satu diantara ketiga senior. Kecuali Nanon, karena pemuda berkulit sawo matang itu sedang sibuk mencoba peruntungan untuk memukul kepala Arhan sekali lagi.
Gia tidak menjawab, ia justru asik bermain dengan jari tangannya sendiri karena merasa gugup. Padahal sebelum masuk tadi, gadis tersebut yang menyuruh teman-temannya agar tidak gugup.
"Kak Melvin nya ada nggak, Kak? Teman saya mau ketemu," jawab Yena.
Sejurus kemudian, lelaki tersebut menatap Gia dari atas hingga bawah. Ia tau bahwa juniornya ini adalah gadis yang pernah Melvin bawa keluar dari aula waktu itu.
"Melvin, ada gebetan lo nih!" Teriaknya sembari berlari ke sudut ruangan, tempat Melvin tertidur di balik kasur gantung atau yang lebih akrab disebut Hammock.
Gia dan Yena membulatkan matanya tak percaya. Ternyata, dibalik wajah dingin lelaki tersebut, tersimpan jutaan sifat yang tak terduga. Seperti berteriak bahwa Gia adalah kekasih Melvin, lalu menggoyang-goyangkan tempat tidur Melvin hingga sang empu terbangun lalu mengumpat kasar.
Tak lama kemudian, terlihatlah sosok Melvin yang masih setengah memejamkan mata. Rambut legamnya berantakan, bahkan ada beberapa helai yang mencuat ke atas. Ia mulai berdiri dari hammock tempatnya tidur selama beberapa jam lalu.
Pemuda tersebut berjalan ke arah Gia sembari sesekali mengusap wajahnya, lalu menyisir rambut menggunakan telapak tangan diikuti oleh salah satu temannya yang masih setia menggoda.
"Ada apa?" tanya Melvin.
Gia menengguk ludahnya sendiri. Ini adalah kali pertama pertemuannya dengan Melvin setelah kejadian saling pukul antara sang senior bersama Desta dua hari lalu. Bahkan, luka di sudut bibir serta lebam biru di pipi sebelah kiri lelaki itu masih belum hilang sepenuhnya.
"Maaf kak, saya mau mengundurkan diri dari sebagai perwakilan fakultas dalam ajang moon and star campus," jawab Gia dalam sekali tarikan nafas.
Seperti yang di duga sebelumnya, mereka bertiga terkejut sama seperti Arhan dan Yena tadi. Selama event ini diadakan beberapa tahun terakhir, tidak ada yang pernah mengundurkan diri. Karena menurut para peserta, acara ini adalah ajang untuk menjadi lebih populer sekaligus dikenal oleh banyak pengajar kampus, hal itu otomatis akan membuat mereka menjadi mahasiswa kesayangan dosen, jika beruntung tentunya.
Melvin sudah tau alasan Gia mengundurkan diri pasti karena Desta, ia tidak perlu bertanya lagi, tugasnya hanya menyetujui atau tidak keputusan adik tingkatnya yang polos sekaligus cantik ini.
"Oke. Biar nanti gue bilang ke Cindy supaya bisa cepat-cepat cari penggantinya," jawabnya ringan hingga membuat semua orang dalam ruangan tersebut kembali dibuat terkejut, kecuali Gia yang saat ini tengah tersenyum lega.
Jika Gia mengundurkan diri, maka para panitia fakultas akan kembali disibukkan dengan memilih siapa agaknya yang cocok untuk menggantikan gadis tersebut sebagai bintang kampus. Padahal acara akan dimulai sebentar lagi, Gia dan Arhan bahkan telah mendapat chemistry yang pas ketika latihan dansa kala itu.
"Oh iya, satu lagi," lanjut Melvin, semua orang kembali terdiam sembari berdoa semoga lelaki tersebut membatalkan keputusannya menyetujui pengunduran diri Gia.
Gia yang merasa ditatap lamat oleh Melvin juga diam-diam merasa khawatir. Tidak masalah jika misalnya ia diminta untuk mengganti rugi waktu mereka dengan uang. Namun, bagaimana jika dengan menerima hukuman? Sungguh, ia tidak siap akan hal itu.
"Bahasa Belanda selamat datang itu apa?"
Lagi-lagi diluar dugaan mereka semua. Dari sekian banyak pertanyaan yang lebih penting, mengapa pemuda satu ini justru bertanya demikian? Apa gunanya fitur penerjemah yang disediakan oleh pihak Google?
"Bonjour?" Gia menyahut ragu-ragu. Sedangkan Melvin kembali menganggukkan kepalanya, lalu menepuk pelan pundak yang lebih muda kemudian keluar dari ruangan tanpa mengucap sepatah kata apapun lagi.
"Emang Bonjour tuh bahasa Belanda? Kayaknya bukan deh," Nanon memecah keheningan setelah melihat punggung Melvin hilang di balik dinding.
Arhan yang mendengar pertanyaan dari seniornya pun mengangkat kedua bahunya, pertanda bahwa ia sendiri juga tidak tau.
"Lah, lo kan bule," lagi-lagi Nanon menatap wajah blesteran tersebut, seakan menuntut jawaban hingga membuat Arhan memutar bola matanya.
"Gue dari Swiss bang. Itu pun cuma numpang lahir, gede mah di Indonesia!" jawabnya.
"Eh, tapi orang Swiss pakai bahasa apa sih?" kali ini ganti teman Nanon yang bertanya.
Arhan benar-benar merasa kesal, baru saja ia berkata bahwa dirinya tumbuh di Indonesia, kenapa para kakak tingkatnya ini justru bertanya hal yang Arhan sendiri juga tidak tau.
"Bahasa Arab," tukas pemuda tersebut lalu menyeret Gia dan Yena pergi dari ruangan BEM yang menurutnya berisi orang-orang aneh, meninggalkan ketiga teman Melvin dalam lingkaran kebingungan.