Tak terasa, waktu berlalu dengan cepat. Kini, telah genap dua Minggu setelah kejadian pertengkaran antara Desta dengan senior Gia, Melvin.
Kehidupan mereka berjalan normal seperti biasanya. Desta yang selalu berkunjung ke rumah Gia untuk sekedar makan bersama atau menonton film ketika shift kerjanya tidak bentrok, serta Gia yang menjalani kehidupan kuliah bersama kedua temannya dengan normal tanpa gangguan apapun.
Walau terkesan monoton, namun gadis tersebut menyukai kegiatannya saat ini selama ada Desta di sisinya.
Hari ini, adalah hari dimana event bulan dan bintang kampus dilaksanakan. Pada akhirnya, Arhan mendapat pasangan baru yang berasal dari jurusan lain, keduanya memiliki sifat yang sama hingga membuat chemistry diantara mereka lebih mudah terbentuk.
Gia sendiri turut membantu dalam melancarkan acara tersebut, ia memberikan dress yang dirinya punya kepada pasangan Arhan secara cuma-cuma untuk acara pentas seni, serta memberi konsumsi kepada para panitia sebagai permintaan maaf.
Walaupun semua panitia termasuk Arhan berkata tidak apa-apa, tetapi rasa bersalah karena telah mengundurkan diri kala itu membuat Gia ingin memberi sedikit kontribusi pada fakultasnya.
Acara berlangsung pada pukul 7 malam, berhubung Desta sedang shift malam dan tidak bisa mengantar sang kekasih untuk kembali ke kampus, alhasil Gia harus berangkat bersama Yena. Ini juga menjadi kali pertama ia hanya pergi berdua dengan temannya. Ya, meskipun harus dilanda rasa bimbang karena takut Desta marah.
@Destaa
[Hati-hati ya, jangan deket-deket sama cowok lain! Nanti pulang kakak jemput. Aku cinta kamu.]
Sebuah pesan masuk dari sang lelaki membuat gadis tersebut tersenyum sumringah, tak mengindahkan sebuah mobil yang baru saja berhenti tepat dihadapan Gia yang saat ini tengah berdiri di depan pagar rumahnya.
"Ayo, Gia. Kita nggak punya banyak waktu," seru Yena dari dalam mobil, hingga membuat gadis yang kini memakai atasan sabrina berwarna merah muda serta jeans blue wash sedikit terkejut.
Dengan cepat, Gia berjalan menuju kursi penumpang setelah sebelumnya mengangguk sembari memasukkan ponsel pintar miliknya ke dalam sebuah tas selempang kecil berwarna putih, dengan hiasan pita emas kecil di bagian tengah.
Gia bisa dibilang cukup beruntung. Ia patut bersyukur karena memiliki teman seperti Yena, yang rela berputar-putar hanya untuk menjemputnya agar mereka berdua bisa pergi bersama.
Ia memang tak memiliki banyak teman. Bahkan mungkin hanya Arhan dan Yena yang dekat dengan dirinya, tetapi itu sudah sangat cukup. Apalagi jika ada Gama, mungkin hidup Gia benar-benar bahagia. Tetapi itu bukan berarti dengan Desta ia tak bahagia, gadis tersebut hanya ingin semuanya sempurna.
"Senyum-senyum aja dari tadi, pasti karena kak Desta lo itu ya?" tebak Yena memecah keheningan yang mereka buat hingga kemudian mendapat anggukan kepala semangat dari Gia.
Lihatlah, walaupun dalam keadaan temaram pun Yena tau bahwa temannya ini sedang memerah. Padahal hanya mendapat sepenggal pesan yang mungkin bagi sebagian orang tak penting, tetapi bagi Gia itu bisa menciptakan banyak kupu-kupu yang berterbangan dari dalam perutnya.
Jalanan malam ini cukup ramai mengingat bahwa Jakarta memang tidak pernah tidur. Hiruk pikuk kendaraan serta angin malam menemani perjalanan keduanya, lampu-lampu jalan maupun kendaraan yang berwarna-warni berhasil membuat binar cerah di manik madu Gia. Sudah lama sekali ia tidak keluar pada saat malam hari, pikirnya.
Karena sempat terjebak macet, mereka berdua baru sampai di area kampus 1 jam setelahnya. Dengan cepat Gia dan Yena turun lalu berlari menuju aula utama, tempat acara bulan dan bintang kampus berlangsung.
"Gia, cepetan! Gue gendong nih kalau kelamaan!" ancam perempuan berbalut kemeja hitam yang saat ini berada di depan Gia.
Jujur saja, Gia tidak pernah lari sebelumnya, sekedar jalan-jalan pagi pun ia juga tak pernah melakukannya. Berlari dari tempat parkir hingga aula berhasil membuat nafasnya tersengal. Jika diteruskan, mungkin gadis tersebut bisa tak sadarkan diri.
"Duluan aja, Gia biar bantuin gue bawa bunga."
Kalimat singkat di tengah hening yang sempat mendominasi karena si gadis sibuk mengatur deru nafasnya, berhasil membuat Gia dan Yena menatap ke satu arah bersamaan.
Terdapat dua orang kakak tingkat yang tentu saja keduanya kenal, Melvin dan Nanon. Dua pemuda yang sama-sama berbalut kemeja, namun dengan motif berbeda tersebut terlihat sedang membawa kardus besar berisi banyak tangkai bunga mawar.
"Kasih kardusnya ke Gia, kejar tuh adik lo sampai dapet," perintah Melvin kepada Nanon.
Sedangkan Nanon yang sejak awal datang memang sudah merasa kesal karena sang adik membawa mobilnya pergi, hingga terpaksa membuat dirinya naik ojek online pun mengangguk.
Setelah memberikan kardus tersebut kepada Gia, ia langsung berlari mengejar Yena yang juga sudah berlari dengan segala u*****n kebun binatang.
Kini, tinggallah kedua orang yang tak banyak bicara berdiri bersisian di tengah gelapnya lapangan. Gia diam menatap sekumpulan tangkai tanaman wangi berwarna merah yang ia pegang, sedangkan Melvin menatap lurus ke depan hingga punggung kedua kakak beradik itu menghilang di balik pintu aula lalu menghela nafasnya.
Entah apa yang menjadi daya tarik bunga mawar hingga keberadaan Melvin seakan dianggap sebagai angin lalu, Gia tetap tidak mengalihkan atensinya dari kardus yang ia bawa. Hingga tiba-tiba, benda dingin dan basah menempel di pipi sebelah kiri yang membuat gadis itu langsung tersentak.
"Gue kira lo mati berdiri gara-gara lari tadi. Jangan kebanyakan ngelamun, nggak baik," ucap Melvin kelewat santai, tak mempedulikan jantung Gia yang hampir saja melompat jatuh ke permukaan paving.
Melvin kemudian mengulurkan air mineral dingin kepada Gia. Ia memang sengaja membeli beberapa minuman di supermarket ketika mengambil pesanan bunga tersebut.
"Kalau nggak kuat lari jangan dipaksa. Kasihan organ dalam lo, nggak sehat dikit bisa turun harga," lanjutnya lalu berjalan menuju aula mendahului Gia.
Gadis tersebut tetap diam di tempat sembari melongo tak percaya akan kata-kata seniornya beberapa detik lalu. Ternyata, pemuda kaku seperti Melvin juga memiliki candaan yang sedikit nyeleneh dari kebanyakan orang.
Dan yang membuat Gia lambat laun mengeluarkan tawanya adalah, ketika mengingat wajah serius dari lelaki itu saat sedang melontarkan candaan hingga kesan kaku semakin kentara.
Melvin sendiri memilih untuk berjalan lebih dulu karena sudah kepalang malu. Bisa-bisanya ia mengeluarkan candaan yang sangat tidak masuk akal, atau mungkin bisa menyakiti orang-orang yang memiliki perasaan sensitif. Ingin sekali dirinya menggali kuburan saat ini juga.
Tak sampai 10 menit kemudian, Gia sudah berada di dalam aula bersama Yena dengan masih membawa kardus berisi bunga mawar karena tak menemukan keberadaan Melvin yang tiba-tiba menghilang, ingin langsung menuju ke belakang panggung dimana tempat para panitia berada pun ia sungkan.
"Arhan udah tampil?" tanyanya kepada gadis yang lebih tinggi.
Acara pentas seni memang sudah berlangsung ketika Gia baru saja masuk ke dalam aula.
Yena mengangguk, "Udah, dia dapat urutan acak nomor satu. Mukanya langsung asem banget waktu tau dia tampil pertama," tuturnya menggebu-gebu yang justru membuat Gia merubah raut wajahnya menjadi khawatir.
"Terus gimana?"
"Sempet lupa lirik dikit sih, tapi tetep keren. Suara Arhan ternyata bagus loh, nanti gue kirimin videonya deh," jelas Yena sembari menepuk bahu Gia pelan, ia sudah terbiasa dengan ekspresi yang dikeluarkan oleh temannya ini. Tugas gadis tersebut hanyalah membuat Gia tenang, tanpa menambah rasa khawatirnya.
Selanjutnya mereka berdua kembali diam tak mengeluarkan sepatah kata apapun lagi, menikmati pentas yang ditampilkan oleh para perwakilan fakultas dalam acara malam ini.
Walaupun ingin mengikuti ajang bulan dan bintang kampus, dalam hati Gia juga patut bersyukur karena jika ia memutuskan untuk tetap maju, mungkin gadis tersebut akan melakukan kesalahan fatal karena rasa gugupnya menjadi perhatian banyak orang.
Jadi, keputusannya untuk menuruti kemauan Desta kala itu tak ada salahnya juga, kan.
"Disini ternyata, ayo ikut gue." Interupsi seorang lelaki yang sejak tadi Gia cari disertai tepukan pelan di punggungnya lagi-lagi berhasil mengejutkan kedua wanita itu.
Sungguh, Gia mulai berpikir bahwa Melvin adalah seorang penjelajah waktu yang bisa pergi kemana saja dan datang kapan saja hingga selalu sukses membuatnya terkejut.
Bukan hanya terkejut karena kedatangannya, tetapi juga terkejut akan kata-kata diluar dugaan yang terlontar dari mulut lelaki itu.
Belum sempat Gia berpamitan kepada Yena, tangannya sudah ditarik terlebih dahulu oleh Melvin menuju belakang panggung, tempat panitia dan para kontestan berkumpul.
Ketika berada di belakang panggung, Gia dapat melihat Arhan yang kini juga menatapnya dengan senyuman merekah. Gadis tersebut melihat ke area sekitar lalu mengepalkan tangannya ke atas sebagai isyarat bahwa Arhan harus berjuang dalam pertunjukan terakhir sekaligus yang paling ditunggu-tunggu, yaitu dansa.
"Habis ini lo bantuin gue buat bagiin bunga ini ke 150 penonton, oke?" perintah Melvin yang berada di dekat Gia setelah sempat pergi untuk berbincang singkat bersama para panitia lain.
Gia menganggukkan kepala sebagai jawaban, rencananya untuk melihat dansa dengan khidmat bersama Yena terpaksa harus gagal karena harus menyebarkan bunga yang entah akan digunakan untuk apa, ia sendiri tidak tau.
Saat seluruh kontestan mulai naik ke atas panggung untuk berdansa bersama, saat itulah Gia dan Melvin mulai membagikan bunga mawar yang berjumlah 150 tangkai tersebut kepada para penonton.
Tak jarang juga, Gia mendapat beberapa kalimat godaan yang berasal dari para kakak tingkat laki-laki atau sekedar pertanyaan apakah dirinya dan Melvin tengah berpacaran.
"Kalau nggak pacaran sama Melvin, boleh dong gue minta nomor teleponnya."
Mendengar hal itu membuat Melvin yang sedari tadi mencoba sabar menjadi geram, apalagi ketika melihat Gia yang hanya menggelengkan kepala namun tetap berada di antara sekumpulan para mahasiswa laki-laki tersebut.
Sebenarnya gadis itu juga ingin pergi, tetapi mereka menahannya hingga membuat Gia tidak berani bahkan sekedar untuk melangkah ke belakang.
"Lo ke cewek-cewek aja, biar gue yang bagiin ke mahasiswa cowok. Kalau ada yang ganggu, langsung pergi," ucap Melvin yang tiba-tiba berada di belakang Gia lalu sedikit mendorongnya agar mau berjalan ke depan.
"Katanya sih nggak pacaran, tapi posesifnya nggak wajar kalau cuma temenan," goda mereka sekali lagi hingga membuat Melvin mengacungkan jari tengahnya tak peduli lalu pergi.
8 menit kemudian, pertunjukan terakhir telah selesai ditampilkan. Kini saatnya para kontestan berdiri berjajar di atas panggung untuk menerima setangkai bunga mawar yang sebelumnya telah dibagikan kepada penonton.
Tujuan pemberian bunga mawar ini adalah untuk menentukan kontestan yang menang dalam kategori favorit dengan berpusat pada seberapa banyak bunga yang mereka dapat.
Yena yang sejak awal memang mendukung fakultasnya terlihat berlari mendekati Arhan yang juga melambai-lambaikan tangannya heboh. Mereka berdua seakan lupa bahwa sering bertengkar dan adu mulut ketika kelas berlangsung hingga mendapat surat peringatan dari dosen.
"Nggak ikut ngasih bunga ke Arhan?" tanya Melvin, pemuda itu telah berdiri di sisi Gia sejak selesai membagikan bunga tadi.
Gia menggelengkan kepala, "Nggak punya," jawabnya polos.
Kejadian lupa mengambil bunga untuk diri sendiri memang sering terjadi kepada para panitia yang bertugas membagikannya.
"Lo aslinya pengen ngasih, nggak?" tanyanya sekali lagi hingga membuat Gia menoleh penuh ke arah Melvin, berharap seniornya itu masih memiliki satu tangkai yang tersisa.
"Pengen, kak Melvin punya?" yang lebih muda balik bertanya.
Melvin tersenyum, ini mungkin bisa dibilang kali pertama ia mengulas senyum di hadapan Gia, "Nggak punya. Udah, kita dukung pakai tepuk tangan aja," jawabnya lalu kembali menatap fokus ke depan seraya memberikan tepuk tangan.
Ada sedikit raut wajah kecewa saat mendengar jawaban dari Melvin. Tetapi Gia tetap mengikuti arahan lelaki tersebut untuk memberi dukungan dengan bertepuk tangan meriah.
Diam-diam, Melvin memperhatikan perilaku Gia yang bisa dibilang sangat menggemaskan tersebut sembari menampilkan senyuman samar.
Ia rindu gadisnya.
Acara selesai pukul 10 malam, Arhan akhirnya berhasil mendapatkan juara pertama sekaligus juara favorit bulan dan bintang kampus tahun ini. Banyaknya tangkai bunga mawar, buket bunga serta beberapa hadiah yang ia dapat sebagai ucapan bahkan tak mampu lelaki tersebut bawa dengan kedua tangannya sendiri.
"Wah, citra Melvin sebagai juara dua bulan campus paling populer bakal di geser sama Arhan nih kayaknya." Celoteh Nanon seraya membantu Arhan memasukkan hadiah-hadiah ke dalam mobil milik lelaki tersebut.
Mereka berlima kini berada di parkiran mobil dan hendak pulang ke rumah masing-masing. Pada akhirnya, Nanon berhasil mendapatkan kunci mobilnya kembali hingga membuat Yena mau tak mau harus mengikuti kemanapun sang kakak pergi, atau ia akan ditinggal pulang sendirian.
Gia tentu saja juga mengikuti kemanapun Yena pergi karena sang kekasih belum menjemputnya. Begitu juga dengan Melvin yang entah kenapa ingin mengikuti Gia sampai benar-benar dijemput.
"Eh iya, Gia. Kenapa nggak ngasih gue bunga mawar? Padahal tadi udah berharap banget loh," ucap Arhan hingga membuat raut wajah Gia kembali tertekuk lucu.
"Nggak kebagian, jadi aku sama kak Melvin bantu dukung lewat tepuk tangan aja," jawabnya polos yang sejurus kemudian membuat semua orang berusaha menahan tawanya agar tidak merusak momen sedih yang gadis itu ciptakan.
Arhan kemudian menatap Yena, perempuan berambut legam tersebut menganggukkan kepala saat matanya menangkap isyarat yang Arhan berikan seolah tengah berbicara dalam batin masing-masing. Hingga tak lama kemudian pemuda itu masuk ke dalam mobilnya lalu keluar sembari membawa buket bunga mawar yang berbeda dari sebelumnya.
"Gia, kamu mau nggak jadi pacar aku?"
Plak!
Satu pukulan sukses mendarat dengan ringan di kepala Arhan.
"Yang bener dong, Han!" geram Yena karena mendengar ucapan Arhan yang sangat melenceng dari rencana mereka berdua.
"Tadi cuma bercanda kok, Gia. Tapi buket ini beneran buat lo," ujar Arhan lalu mengulurkan tangannya ke arah Gia.
Gia menerima buket tersebut dengan perasaan serta ekspresi yang sama bingungnya seperti Melvin dan Nanon. Apa sebenarnya konteks Arhan memberikan bunga ini pada dirinya?
"Kita berdua tau kalau lo aslinya pengen banget ikut kontes ini, tapi terpaksa harus mengundurkan diri karna kak Desta lo itu," jelas Yena sengaja memberi penekanan pada nama lelaki yang saat ini tengah dalam perjalanan menjemput Gia.
"Nah, jadi anggap aja 20 tangkai bunga mawar ini hadiah buat lo karena udah menang sebagai bintang kampus, walaupun nggak beneran sih," imbuh Yena yang bingung sendiri dengan penjelasannya, ia memang tidak ahli dalam merangkai kata-kata.
"Ah, yang pasti ini hadiah dari kita biar lo nggak sedih," timpal Arhan.
Walaupun penuturan yang dijelaskan oleh kedua temannya tersebut cukup membuat pening, tetapi Gia paham maksud mereka.
Entah kenapa, semua kejadian di malam ini termasuk dalam kali pertama Gia mengalaminya. Keluar malam bersama teman, menonton konser kecil-kecilan dari band kampus, membagikan bunga bersama Melvin, serta menerima buket bunga dari Arhan dan Yena, ia benar-benar merasa terharu dan bahagia.
"Makasih, jadi pengen nangis."
Melihat manik mata Gia yang mulai mengeluarkan air mata membuat tangan Melvin tergerak untuk mengelapnya. Namun hal itu segera ia urungkan ketika ingat bahwa gadis dihadapannya sekarang bukanlah gadis yang ia rindukan, dia adalah Gia, bukan kekasihnya.
Sedangkan Arhan saat ini tengah merentangkan kedua tangannya, bersiap untuk memeluk wanita itu, hingga sejurus kemudian, sebuah tangan lain memegang kerah kemejanya lalu menarik lelaki tersebut mundur beberapa langkah ke belakang.
"Jangan asal peluk, kalau ketahuan pacarnya lo bisa dikubur hidup-hidup!" ketus Yena kemudian memeluk Gia dengan erat sembari mengelus punggungnya pelan.