Lost Control (TW : Mengandung kekerasan, adegan tidak untuk ditiru!)

1839 Kata
Setelah sekitar 3 menit larut dalam adegan berpelukan, akhirnya Yena melepas pelukan mereka dengan sisa-sisa air mata yang membasahi pipi Gia. Kedua matanya kini terlihat sedikit lembab. Ah, jangan lupakan juga hidungnya yang memerah. Namun, hal itu justru membuat Gia terlihat' menggemaskan, layaknya anak kecil itu membuat mereka menjadi gemas sendiri. "Eh, foto bareng yuk!" Seru Arhan sembari mengangkat kameranya tinggi-tinggi. Ketika di dalam aula tadi mereka memang telah melakukan foto bersama, baik bertiga maupun dengan panitia fakultas. Namun, kali ini giliran Gia yang berada di tengah sembari membawa buket bunga pemberian kedua temannya tersebut. "Usap dulu sini air matanya, biar cantik," ucap Yena lalu menyeka air mata yang masih membekas di pipi berisi milik si wanita. Gia benar-benar diperlakukan layaknya bayi oleh mereka berdua walaupun belum genap 1 bulan ketiganya bertemu. Dan tentu saja baik Arhan maupun Yena tidak tau bagaimana seluk beluk hidup Gia, yang keduanya tau adalah gadis tersebut sosok anak orang kaya dengan perusahaan terbesar ketiga di Indonesia. Pengambilan gambar pertama dilakukan secara bersama-sama. Nanon dan Melvin pun turut masuk ke dalam frame kamera dengan bantuan satpam yang tak sengaja lewat sebagai fotografer dadakan mereka. "Senyum ya. Satu, dua, tiga!" Cekrek! Selanjutnya ganti Gia, Yena dan Arhan yang berfoto bersama dibantu oleh Nanon. Mereka sengaja meminta Nanon untuk menjadi fotografer karena keahlian lelaki tersebut sudah tidak perlu dipertanyakan. Bahkan, ia sering diundang hanya untuk memotret kegiatan kampus lalu mendapat imbalan entah berupa uang ataupun nasi kotak. Setelah mengambil sekitar 10 foto bertiga serta hanya berdua dengan Yena hingga kehabisan gaya, Nanon kemudian melirik Melvin yang sejak tadi diam lalu berkata, "Sekarang gantian lo, Vin. Ayo sini!" Pemuda itu membulatkan mata, untuk apa ia ikut foto bersama dengan Gia? Bukankah acara dadakan yang tidak jelas ini hanya dilakukan oleh kedua juniornya? "Kan lo kakak tingkat Gia, mantan Runner up bulan kampus tahun lalu sekaligus mahasiswa populer juga. Jadi ini kesempatan emas buat Gia supaya bisa foto bareng seleb kampus, iya nggak, Gi?" tuturnya panjang lebar lalu menatap Gia dan adik tingkatnya seakan meminta dukungan. Karena masih trauma dengan kritikan Nanon dan tidak ingin hal itu kembali ia alami, akhirnya Gia menganggukkan kepala diikuti oleh Yena dan Arhan. Melvin akhirnya menyerah, dengan terpaksa ia menuruti kemauan Nanon lalu mendekat ke sisi Gia. Lelaki tersebut Menampilkan wajah datar sembari mengangkat jempolnya, benar-benar seperti hendak mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. "Senyum, Mel!" pinta Nanon ketika melihat wajah dingin Melvin dari lensa kamera. "Melvin, bodoh!" protes Melvin karena tak suka jika dipanggil dengan sebutan 'Mel' oleh orang lain, kecuali oleh Arsa dan seseorang yang ia cintai. Lalu, siapakah Arsa? Tunggu dulu, lelaki itu masih belum saatnya keluar saat ini. Pada akhirnya, Melvin menampilkan senyuman manis yang sangat jarang ia berikan di depan banyak orang. Hal itu membuat membuat Yena menyenggol Arhan dengan cukup keras, ia merasa tak tahan dengan senyuman lelaki tersebut. "Oke cakep, nanti fotonya minta sama Arhan ya," ucap Nanon kemudian memberikan kamera tersebut kepada sang pemilik. "Eh tunggu dulu, gue juga pengen foto bareng Gia," sela Arhan lalu berjalan cepat ke arah Gia. Pemuda berusia 21 tahun itu langsung berpose dengan kedua jari telunjuk serta tengah yang terangkat, tak lupa juga menampilkan deretan giginya sebelum kekasih gadis tersebut tiba-tiba datang lalu memukulinya. Dengan kesabaran yang hanya tersisa sedikit karena sudah lelah, Nanon pun mulai mengarahkan kamera ke arah mereka berdua. Satu. Dua. Ti– "Gia!" Suara teriakan dari seorang lelaki berbalut jaket jeans serta celana kain hitam, yang berdiri sekitar 6 meter dari tempat mereka berada, sukses membuat kelimanya terkejut. Bahkan kamera yang dipegang Nanon hampir terjatuh hingga gagal mendapatkan pose terbaik dari Gia dan Arhan. Itu Desta. Berjalan dengan mata tajam yang menghunus masing-masing jantung, menautkan kedua alis tebalnya pertanda bahwa tak suka, serta mengangkat kepalanya angkuh. Sret! Dengan cepat lelaki itu menyeret Gia agar berada di sisinya, hingga membuat yang bersangkutan hampir saja terjatuh jika Yena tak memegangnya dari samping. Pantas saja Gia menuruti semua keinginan kekasihnya, aura mendominasi memang sangat jelas teras keluar dari tubuh Desta, batin Yena yang baru pertama bertemu dengan pemuda tersebut. "Nggak ada kapoknya ya, lo. Ngapain foto-foto nggak jelas sama cewek gue?" bentak Desta kepada Arhan yang kini tengah menengguk ludahnya kasar. Kenapa harus dirinya yang harus tertimpa sial malam ini? Batinnya. "Tadi bang Mel–" "Maaf, mereka berdua foto buat ngerayain kemenangan Arhan aja. Nggak ada niat terselubung kok, iya kan, Han?" Arhan mendelik tak terima ketika mendengar hal itu, tetapi ia juga mengangguk saat melihat dua pasang mata tajam kini sama-sama menatapnya. Ucapan Arhan yang akan mengatakan bahwa Melvin tadi juga sempat foto bersama dengan Gia tiba-tiba dipotong oleh sang senior, Melvin tidak ingin semuanya bertambah rumit dan berujung pada pertengkaran. Maka, mengorbankan Arhan adalah hal yang tepat saat ini. Desta menyapukan pandangannya menatap mereka semua dengan tatapan yang masih sama. Ia tidak suka, lelaki itu tak suka jika miliknya dekat dengan orang lain apalagi jika sampai seperti tadi, ia tidak ingin Gia dibuat tersenyum oleh laki-laki lain walaupun itu hanya sebatas teman. Hanya Desta yang bisa menjadi alasan Gia tersenyum, dan juga menangis, mungkin. "Gue nggak suka. Kan waktu itu gue udah pernah bilang kalau jangan berani-berani deketin Gia lagi, kenapa susah banget sih lo?" ocehnya seakan masalah yang sangat sepele ini tidak ingin berakhir begitu saja. Lalu apa? Haruskah Arhan meminta maaf meskipun Melvin sudah mewakili dirinya? Jika itu membuat amarah pria yang lebih tua darinya ini bisa mereda, mungkin ia akan sekalian menundukkan tubuhnya 90° kepada Desta. Namun, belum sampai permainan maaf itu terucap, Nanon yang memang sejak awal pertemuannya dengan Desta tak cukup baik berucap terlebih dahulu, "Cuma foto doang, kenapa reaksi lo berlebihan banget sih? Nggak pernah kuliah, Bang?" Mendengar pertanyaan atau yang lebih tepatnya hinaan dengan gaya sedikit halus tersebut sontak membuat mereka berlima menatap Nanon. Sedangkan lelaki tersebut sudah tidak peduli walaupun tangannya berkeringat dingin karena takut jika tiba-tiba mendapat satu pukulan dari Desta. Masa bodoh, rasa kesalnya sejak dua minggu lalu harus segera ia utarakan kepada pelakunya. "Coba sekali lagi, ngomong apa lo?" Desta berkata cukup keras di tengah tempat parkir yang sepi, tangannya kini sudah berada di kerah kemeja Nanon. Mungkin jika ini di dalam sebuah komik, mata lelaki tersebut telah mengeluarkan api seperti Raja Iblis Maou-Sama yang siap mengambil nyawa korbannya kapan saja. "Kak Desta, udah. Ayo pulang." Akhirnya, Gia yang sejak tadi diam sembari menundukkan kepalanya kini mulai berbicara. Ia tidak ingin kembali terjadi pertengkaran mengingat bahwa mereka masih berada di area kampus. Desta kemudian menatap Gia, melepas pegangannya pada Nanon kemudian menarik gadis tersebut pergi dari parkiran menuju mobilnya yang berada di depan gerbang dengan. Lagi-lagi Gia meringis ketika pegangan Desta pada tangannya terlalu erat. Yena yang melihat perlakuan tak pantas dari Desta hampir saja ikut mengeluarkan kalimat-kalimat pedas jika saja Arhan tak menutup mulutnya. "Udah, lo mending diem aja. Gia nggak bakal kenapa-kenapa, kok," ucap Arhan yang sejurus kemudian meringis kesakitan saat telapak tangannya digigit oleh si gadis. "Hubungan buruk!" hina Yena lalu berjalan kesal menuju mobilnya. *** Tak lama kemudian, Desta dan Gia sampai di depan rumah setelah melewati perjalanan hening nan mencekam yang lelaki tersebut ciptakan. Gia bahkan sempat melihat otot-otot di sekitar pelipis sang kekasih tercetak sangat jelas, pertanda bahwa lelakinya sedang menahan amarah. Desta sebenarnya bisa saja memarahi Gia ketika berada di dalam mobil, apalagi ketika mengingat perjalanan mereka cukup lama karena jarak kampus dengan rumah Gia yang jauh. Tetapi lelaki itu tidak mau, ia rasa kurang puas jika hanya menggunakan mulutnya untuk memarahi sang gadis. Sekali lagi, Desta menarik tangan Gia keluar dari mobil untuk segera masuk ke dalam rumah, hingga membuat pergelangan tangan tersebut terlihat pucat karena darah tak bisa mengalir dengan lancar. Karena memiliki kunci cadangan rumah Gia yang sempat Gama berikan sebelum berangkat ke Singapura bulan lalu, dengan cepat ia langsung membuka pintu yang terkunci, kemudian menutupnya dengan cukup keras lalu membawa Gia ke ruang tamu. "Akh." Tubuh kecil gadis tersebut didorong hingga terduduk atau mungkin terjatuh di atas sofa single, sebenarnya tidak sakit, namun perlakuan Desta secara tiba-tiba itu berhasil membuat Gia terkejut. "Kamu kenapa sih, Gia?" tanya Desta lalu membuka jaketnya hingga berganti dengan kemeja putih yang selalu ia pakai untuk bekerja. "Kakak kirim pesan sama telepon kamu, tapi nggak ada balasan sama sekali," lanjutnya. Ah, benar. Gia baru sadar bahwa ponsel miliknya sengaja gadis tersebut mode diam agar tidak menganggu ketika tengah membagikan bunga mawar tadi. "Maaf, tadi Gia mode diam," jawab Gia sembari terus menundukkan kepala ke bawah. Desta tentu saja tidak akan menerima alasan itu dengan mudah, matanya kemudian beralih menatap sebuah buket bunga yang dipegang oleh sang kekasih lalu merebutnya paksa. "Ini dari siapa?" Desta mengangkat buket tersebut tinggi-tinggi, siap menjatuhkannya kapan saja ketika ia menerima jawaban yang tidak memuaskan hatinya sama sekali dari Gia. "Dari Arhan sama Yena," cicit yang lebih muda hingga membuat Desta tertawa sarkas. Ternyata jawaban itu berhasil membuatnya semakin kesal. "Bener? Nggak cuma dari Arhan aja? Kakak tadi lihat loh, waktu cowok itu ngasih bunga ini ke kamu. Mau jadi pembohong kamu? Iya!?" bentaknya dengan cukup keras lalu melempar buket itu ke lantai. Gia membulatkan mata tak percaya, tangan kecil itu kemudian bergerak hendak mengambil buket yang terlempar tepat di bawah kaki Desta. Namun sayang, lelaki tersebut lebih dulu menginjaknya hingga hancur. "Kenapa? Ambil ayo! Ada hubungan apa kamu sama Arhan sampai mau ambil bunga ini lagi, hah?" ucap Desta sembari tertawa puas dengan kaki yang masih menginjak bunga itu. Gadis tersebut menatap nanar ke arah lantai. Itu adalah buket bunga pertama yang Gia terima, itu adalah pemberian dari para teman pertamanya, itu adalah hal yang bisa membuat Gia merasa bahwa dirinya dipedulikan oleh orang lain selain sang kakak dan Desta. Tunggu, apa benar Desta peduli dengan dengannya? Di luar dugaan, ternyata Gia benar-benar mengambil kelopak bunga yang berceceran di lantai hingga kini ganti Desta yang menatapnya tak percaya. Gadis ini benar-benar .... "Aduh!" Gia meringis untuk ketiga kalinya ketika bahunya dipegang cukup erat oleh Desta hingga membuatnya tak bisa bergerak. "Kakak pulang kerja langsung jemput kamu ke kampus terus lihat kamu deket sama cowok lain, sekarang kamu juga mau ambil bunga pemberian cowok itu? Kamu denger nggak sih apa yang kakak omongin waktu itu? Kakak nggak suka Gia!" tutur Desta panjang lebar tepat di depan wajah Gia. Ia tak sadar bahwa cengkeraman tangannya pada bahu sang kekasih semakin erat karena termakan emosi. "Ah ... Kak Sakit! Tolong lepas!" Gia merintih kesakitan sekaligus terkejut di waktu yang bersamaan, gadis itu tak menyangka bahwa Desta akan memperlakukannya seperti ini. Air matanya mulai bercucuran tatkala Desta terus mencengkeram bahunya dengan sangat amat erat. Suara isak tangis tak perlu ditanya, mungkin bahkan menggema di seluruh penjuru ruangan disertai permohonan agar Desta melepaskan tangannya. Seolah sadar bahwa apa yang baru saja dilakukannya ini adalah sebuah kesalahan ketika mendengar tangis Gia yang keras, Desta langsung melepas tangannya, ia menatap Gia yang kini masih menangis tersedu-sedu dengan tatapan iba. Apa yang baru saja ia lakukan? Kenapa ia bisa begitu lepas kontrol hanya karena masalah yang sangat sepele seperti ini? "Gia ...," nada suara yang tadinya keras dengan penuh penekanan kini berubah menjadi lembut seperti Desta yang Gia kenal. "Maaf."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN