Anya dan Bima saling menatap dengan tatapan berbeda. Anya dengan tatapan bingungnya, sementara Bima dengan tatapan yang sulit diartikan. Gadis itu mengamati penampilan Bima. Laki-laki itu memakai setelan jas berwarna abu tua yang terlihat sangat mahal. Dalam hati, Anya mengakui Bima pantas memakai itu, membuat auranya tampak seperti bos besar.
"Om, ngapain di sini?" tanya Anya. Perasaannya mulai tak enak.
"Saya user-nya."
"HEH?" Hanya itu yang keluar dari mulut Anya. Namun, begitu sadar dan bisa membaca situasi, gadis itu segera bersikap profesional.
"Silakan. Bisa dimulai presentasinya."
Anya mengangguk. Dia bersiap untuk mengemukakan isi dari proposal yang dia buat bersama Alden. Lima belas menit telah berlalu. Anya menarik napas lega setelah presentasi sambil memegang laser pointer. Sorot mata Bima menatapnya tajam, membuat jantung Anya berdetak lebih cepat dan gadis itu tidak berhasil menenangkannya.
"Saya akan mempertimbangkannya."
Anya menahan diri untuk tidak berjingkrak dengan girang. Hatinya bercorak bunga. Perlahan bibirnya mengukir senyum tipis. Setelah mengucapkan terima kasih, Anya pamit undur diri.
Anya memikirkan perkataan Bima seraya keluar dari gedung. Dia masih tidak menyangka bahwa si kaleng biskuit itu penanam modal. Cukup takjub, pikirnya. Namun, Anya masih belum tenang. Bisa jadi laki-laki itu tidak menanamkan modal pada restorannya mengingat perkataannya yang hanya akan mempertimbangkannya saja. Akan tetapi, Anya bersyukur laki-laki itu tidak langsung menolaknya.
Sampai di luar, Anya menatap gedung Aurora Investama cukup lama.
Nggak akan terjadi. Aku akan memastikan bahwa si kaleng biskuit nanem modal tanpa rasa penyesalan! tekad Anya dalam hati.
Anya merogoh tas untuk mengambil ponsel, lalu menghubungi Alden. Dia butuh tempat untuk menceritakan hal yang baru saja gadis itu lalui. Anya sudah membuka mulut begitu sambungan telepon terhubung, tetapi suaranya urung keluar karena seseorang di seberang sana berbicara lebih dulu.
"Nggak ada yang bisa ditelepon untuk berkeluh kesah?"
Itu bukan suara Alden, tetapi Bella. Anya meringis pelan. Gadis itu berjalan menyusuri trotoar.
"Hai, Bella," sapa Anya ramah.
"Nggak usah basa-basi," kata Bella jutek.
Anya menghela napas panjang sebelum bertanya, "Kenapa sih kamu tuh kayaknya kesel banget sama aku?"
"Ya, kamu pikir sendirilah," ucap Bella.
Anya memutar bola mata. Dia menengok sebentar untuk melihat kendaraan yang berlalu lalang. Tadinya Anya berniat meminta jemput Alden. Namun, gagal di detik pertama Bella mengangkat teleponnya.
"Aku sama Alden cuman sahabatan," jelas Anya. Pandangannya tanpa sengaja melihat seorang kakek yang sedang berjalan menuntun sepedanya. Kakek itu sepertinya sedang berdagang, melihat di sepedanya banyak sekali bungkusan kerupuk.
"Terus aku nggak boleh cemburu? Nggak boleh kesel?" tanya Bella.
Anya celangak-celinguk. Mobil, truk, motor berseliweran silih berganti.
"Aku nggak keberatan kalau kita bertemu bertiga, pergi bertiga. Aku seneng malah kalau aku sama kamu bisa deketan juga," kata Anya. Begitu merasa jalan raya sudah kosong, Anya segera menyeberang jalan.
"Kamu nggak tahu kalau biasanya yang bertiga itu ada yang jadi iblis kemudian?" tanya Bella.
"Nggg ...." Anya tidak tahu mau menjawab apa. Dia berjalan menuju sang kakek.
"Aku dan Alden pacaran, sedangkan kamu sama dia sahabatan. Siapa yang tahu kalau kamu nanti ngerebut dia dari aku? Diem-diem kalian berpacaran di belakang aku?" lanjut Bella.
"Aku sama Alden pacaran diem-diem?" Anya tertawa geli. "Naji—Bel, nggak ada yang kayak gitu. Percayalah."
Bella mendengkus. Anya berhenti berjalan. Dia harus fokus dulu kepada Bella.
"Lagian, aku sudah ada calon pendamping potensial yang bisa membuatku menjadi wanita kaya raya sampe tujuh turunan," kata Anya, lalu meringis.
"Siapa?"
Anya mengangguk. "Ya, ada. Nanti aku kenalin."
Bella diam.
"Jadi, jangan musuhin aku lagi, ya? Wajar sih kalau kamu cemburu dan kesal, tapi tolong percaya sama aku. Percaya sama Alden. Dia bucin banget sama kamu," kata Anya kemudian.
"Kamu ngomong gitu bukan akal-akalan doang, kan?" tanya Bella penuh curiga.
"Nggakdong," sahut Anya santai, kembali berjalan.
"Ya, udah aku tutup dulu teleponnya," kata Bella.
"Tapi, aku boleh ngomong sama Alden sebentar?" tanya Anya.
"Nggak."
Bella memutuskan telepon secara sepihak. Anya mendesah panjang, dia akan menyabarkan diri. Dia tidak boleh kesal, meskipun Bella seperti ada arah melarang dia bersahabat dengan Alden.
Anya memanggil kakek penjual kerupuk. Si kakek berhenti. Anya tersenyum, lalu bertanya berapa harga sebungkus kerupuk. Mereka mengobrol yang diselingi tawa sebelum akhirnya Anya membeli beberapa bungkus kerupuk berbeda. Tanpa gadis itu tahu, ada seseorang yang memperhatikannya penuh minat.
***
"Kalian ribut besar?" tanya Anya kepada Alden.
Saat ini keduanya sedang duduk santai di rooftop rumah Anya ditemani oleh lima botol sprite dan seplastik makanan ringan.
Alden tidak menjawab. Dia menengak minumannya, lalu meringis.
"Kenapa? Dia larang kamu temenan sama aku?" tanya Anya, lalu memasukkan tiga biji sukro ke mulutnya.
Alih-alih menjawab, Alden malah bertanya, "Bisa nggak kamu cari sahabat selain aku?"
Anya menghentikan kunyahannya. "Kamu buang aku?"
"Ada arah ke sana," sahut Alden sambil membuang muka.
Anya melemparkan beberapa sukro kepada Alden. "Kampret!"
Alden menghalau serangan Anya yang tampak kesal. Tidak ada perlawanan, Anya meraih sebotol sprite dan meminumnya.
"Kamu membual apa sih sama Bella? Calon pendamping? Yang beneraja," kata Alden, lalu mendengkus.
Anya mengelap mulutnya. "Kamu nggak percaya?"
"Emang aku harus percaya?" Alden balas bertanya.
Anyamemanyunkan bibir sambil mengangguk.
"Kamu pikir Bella percaya?" tanya Alden.
Anya menghela napas panjang, lalu mengembuskannya secara perlahan. "Aku udah bilang mau dijodohin."
Mata Alden menyipit. "Terus pernah kamu ngenalin ke aku?"
"Belum," sahut Anya.
Alden mendengkus.
"Aku nggak yakin juga mangkanya nggak aku kenalin," jelas Anya.
Alden diam mendengarkan.
"Aku lagi mikirgimana caranya batalin perjodohan sialan ini," kata Anya.
Alden menggeleng. Menganggap Anya terlalu drama.
"Tapi, sebelum itu, aku harus berhasil dapetin modal darinya," lanjut Anya.
"Maksudmu apa?" tanya Alden kemudian.
"Jadi, si penanam modal itu ya dia," kata Anya.
Alden melotot. "Bu Ratu?"
"Heh?"
"Astagfirullah, Anya! Otak tolong dipake! Dijodohin sama Bu Ratu, ya meskipun sangat butuh duit, kamu harus nolak dengan tegas dong! Tante kamu gimana sih?" semprot Alden.
"Nggg ...."
"Sudah gila? Punya kebodohan itu dibagi-bagi! Jangan diborong semua!" seru Alden.
Anya mencebikkan bibir, lalu mulai menganiaya Alden dengan beberapa kali memukul lengan cowok itu.
"Aku masih waras!" ucap Anya setengah kesal.
Alden mengaduh.
"Bukan Bu Ratu. Adalah pokoknya," kata Anya kemudian.
"Siapa?" tanya Alden sambil mengusap-usap cepat lengannya.
Anya berdeham sekali. "Ya, ada. Aku nggak yakin mangkanya nggak mau bilang."
"Oh, mau rahasia-rahasiaan?" tanya Alden, manggut-manggut.
Anya mendelik. "Bukan gitu ya, Nyet!"
Alden hanya mendesis.
"Ada nanti saatnya kukenalin jika aku bener-bener butuh bantuanmu. Ini serius," kata Anya.
"Kasih tahu aku namanya," ucap Alden.
"Bima," sahut Anya.
"Bima ... nama lengkapnya?" tanya Alden.
Anya berdecak.
"Ya, udahlah biar nanti aku cari bantuan sama KiSunteng. Siapa tahu dia bisa cari orang selain bisa melakukan pesugihan tanpa tumbal," sindir Alden sebal.
Kemudian keduanya diam. Alden membuka sebungkus keripik dan memakannya, sedangkan Anya sibuk dengan pikirannya.
***
Aroma sedap menguar ke seisi dapur. Anya membuat tart apel khas Perancis yang dipanggang, kemudian di balik sebelum disajikan. Mentega dan karamel yang legit memberikan sentuhan warna keemasan yang memikat.
Sebelumnya, Anya sudah membuat oseng peda cabai hijau yang berkolaborasi dengan petai. Anya yakin dengan makanannya, Bima bakal klepek-klepek dan langsung menenamkan modal pada restorannya.
Anya tersenyum membayangkan hasil akhir yang ada dibayangannya. Gadis itu melirik jam yang ada di dinding. Masih bisa mengejar waktu makan siang. Anya segera menata makanan, melepaskan celemek, lalu segera memesan taksi online. Namun, anehnya beberapa kali pesanannya di-cancel, membuat Anya dongkol.
Anya berpikir dan menimang untuk menghubungi Alden. Akan tetapi, gadis itu tidak enak jika nanti yang menjawab telepon Alden adalah Bella. Siapa yang tahu jadwal mereka bertemu kapan?
"Kalau nggak mencoba, nggak akan tahu," kata Anya kepada diri sendiri, lalu menelepon Alden.
"Hoi," jawab Alden di seberang sana.
Anya mengelus-elus dadanya. "Alhamdulillah."
"Ada apa?" tanya Alden sambil menyetir.
"Jemput aku dong," kata Anya.
"Di?"
"Rumah. Anterin aku ke suatu tempat," sahut Anya seraya menyemprotkan minyak wangi.
"Kebetulan aku ada didekat rumah kamu. Abis ketemu Yayang Bella," ucap Alden.
"Aku nggaknanya sih," kata Anya datar.
"Cuman ngasih tahu."
"Ya, udah buruan ke sini."
"Ok, ok."
Setelah sambungan telepom terputus, Anya meraih paperbag dan menunggu Alden di depan rumah. Tak berapa lama, Alden datang dengan mobilnya yang berwarna putih.
Anya segera masuk dan duduk di samping pengemudi. Paperbag yang dibawanya diletakkan di kursi belakang. Alden memperhatikan gerak-gerik Anya.
"Mau ke mana?" tanya Alden.
"Coffee Paste," jawab Anya, kemudian memberi alamat kafe itu secara rinci.
"Pasti pemiliknya dulu tukang nyalin jawaban doang," komentar Alden. "Mau ketemu siapa sih?"
"Temen," jawab Anya sedikit ragu.
"Ternyata punya temen toh selain aku," kata Alden.
Anyamenonyor kepala sahabatnya. "Buruan geh jalan, terlambat nih. Interogasinya nanti-nanti aja," katanya.
"Iya, iya."
Mobil yang ditumpangi mereka melaju dengan kecepatan sedang. Selama perjalanan, keduanya terdiam. Hanya suara dari radio yang mengiringi mereka.
"Perempatan sana belok kanan," kata Anya kemudian begitu mereka hampir sampai ke tempat tujuan.
Alden hanya mengangguk.
Sampai di depan Coffee Paste, Anya segera turun begitu saja. Alden memanggil Anya, mengingatkan bahwa dia melupakan paperbag yang dibawanya. Alden meraih paperbag dan menyerahkannya kepada Anya. Gadis itu berterima kasih dan melambaikan tangan sebelum Alden berlalu pergi.
"Pak Bima ada?" tanya Anya kepada Rani.
"Oh, Mbak yang waktu itu," katanya semringah.
Anya meringis.
"Pak Bima ada di ruangannya," kata Rani lagi.
"Aku ke ruangannya dulu," ucap Anya. "Oh, tenang aja aku sama Pak Bima deket kok selayaknya biskuit mari dan kalengnya. Hehehe."
Rani ikut-ikut tertawa padahal tidak mengerti. Anya segera ke lantai dua. Begitu sampai di ruangan Bima, gadis itu mengetuk pintu tiga kali dan membukanya.
"Selamat siang," sapa Anya manis, membuat Bima menatapnya heran.
"Saya bawain makanan spesial buat, Bapak," kata Anya tersenyum ramah seraya meletakkan paperbagdi depan Bima.
Satu alis Bima meninggi.
"Cobaindeh. Bapak, bakal ketagihan," kata Anya. "Dan saya siap bikinin buat Bapak tiap hari."
Ekspresi datar Bima berubah. Anya mengernyit mendengar ucapannya sendiri.
"Maksud saya bukan sebagai istri, tapi rekan bisnis," koreksi Anya.
Bima hanya mengangguk. Anya tersenyum lebar. Sangat percaya diri dengan makanannya.
Begitu Bima mengeluarkan kotak makan dari paperbag, kening Anya mengerut. Merasa ada yang aneh.
Bima menatap Anya sebentar, lalu membuka kotak makanan dan tidak merasa surprise. Hanya nasi goreng. Apanya yang spesial?
Anya melotot. Kok makananku berubah?
"Itu ... saya ... bukan ...." Anya gelagapan sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal.
Bima meraih sendok. "Tetep saya cobain walau cuman nasi goreng."
Satu suapan pertama, Bima terpaku. Ekspresinya berubah warna-warni. Tanpa mau repot-repot menghargai perasaan orang lain, Bima melepehkan makanan yang ada di mulutnya.