Anya berdiri kikuk sejak lima belas menit lalu. Selama itu pula, Bima memandanginya tanpa suara. Beberapa kali Anya menggaruk tengkuk, bahkan mengusap dahi yang hampir berkeringat. Anya mulai jenuh terlebih karena penghinaan besar yang dia dapatkan. Bima melepeh makanan yang dibawanya. Keterlaluan!
Kebodohan dan kecerobohan membawa dirinya pada jurang rasa malu yang terdalam. Usahanya memasak untuk Bima jadi sia-sia. Karena seenak apapun masakan Anya dan secantik apa pun tampilannya, Bima tak dapat merasakannya. Anya malah membawa paperbag yang berisikan makanan masakan Bella kepunyaan Alden. Masakan yang bisa membuat makhluk hidup mati keracunan.
“Sumpah, Pak. Bukan makanan itu yang mau saya bawain buat Bapak. Itu pasti ketuker sama punya teman saya yang nggak ada ahlak itu.” Anya membela diri. Dalam hati, dia mengutuk Alden. Saat ini, pasti Alden sedang tertawa. Bak mendapat jackpot, Alden menyantap makan siang lezat dengan gratis. Ditambah dengan tart apel yang tak pantas dia dapatkan dengan cuma-cuma. Dan konyolnya, kini Anya menjatuhkan harga dirinya ke dasar jurang. Membawakan Bima nasi goreng dengan sekilo garam yang tak layak disebut makanan.
“Mau diam sampai kapan sih, Pak? Kasih saya kepastian dong!”
“Memangnya kamu mau minta kepastian apa dari saya?” Akhirnya ... Bima bersuara.
“Ya tentang restoran saya, Pak. Saya butuh kepastian!”
“Oh, saya kira tentang tanggal pernikahan.”
“Pak Bima nggak lagi mabok, kan? Bisa-bisanya minum kemaren, telernya baru sekarang.”
Bima mendecih lalu tertawa tipis dan menggeleng perlahan. “Anya ... Anya .... Ternyata kamu lucu juga, ya.”
Anya memberengut, kemudian menarik kursi dan duduk di hadapan Bima. “Pak, saya nggak lagi butuh dipuji-puji. Saya butuh duit, Pak. Duiiit ...,” terangnya sedikit ngegas.
“Ya nikah aja sama saya. Beres.” Bima menjawab enteng.
Bener-bener konslet, nih otak om-om.Seketika Anya mengingat artikel yang dibacanya beberapa waktu lalu. Tentang bahayanya terlalu banyak mengonsumsi kafein. Salah satu gejalanya percis seperti Bima. Dimulai dengan gangguan kecemasan hingga akhirnya gangguan jiwa.
“Apa kata teman-teman saya coba. Kalau mereka tahu saya nikah sama om-om.”
“Kalau om-omnya ganteng kayak saya sih pasti nggak masalah.”
“Nggak masalah apanya? Bisa mati muda saya, Pak!”
“Ya bagus, dong. Berarti otomatis restoran kamu jadi milik saya, ‘kan?”
Bener-bener setres!
“Toh, saya juga nggak yakin kamu bisa mengelola resto. Masak nasi goreng aja nggak beres!” sindir Bima Lagi.
“Paaaaak ... kan sudah saya bilang kalau itu bu—“
“Iya, bukan masakan buatan kamu.”
“Nah, itu tahu!” Anya menyandarkan bahu lalu bersedekap.
“Tapi mungkin aja ‘kan, karena kamu kesel mau dijodohin sama saya, jadi kamu mau racunin saya.”
“Pak Bima ... denger, ya.” Anya mencondongkan bahu, mendekati Bima. “Kalau saya mau racunin bapak, saya bukan nambahin garem sekilo. Tapi saya bakal nambahin sianida!” Anya menggebrak meja. Bima tersentak, lalu menggeleng pelan melihat tingkah konyol gadis yang harus menjadi istrinya.
***
Sejak pulang dari kantor Bima tadi siang hingga kini langit berubah gelap gulita, Anya masih uring-uringan di kamar. Mencak-mencak di bawah selimut tebal. Kadang berteriak lalu tertawa. Macam orang gila. Anya mengacak rambutnya. “Mukamu mau disimpen di mana Anya Amandaaaaaaa.” Anya berbicara pada pantulan dirinya di cermin.
Sudah beberapa kali ponsel Anya berdering. Nama Bima terpampang di layar. Anya sengaja membalik layar ponselnya. Lalu menutupinya dengan bantal. Mengabaikan panggilan Bima. Tak lama, terdengar notifikasi pesan masuk. Anya menarik napas panjang. Berada di antara gengsi dan penasaran. Dan akhirnya, Anya menyerah. Gadis itu membuka pesan dari Bima yang telah lama diabaikannya.
Baru selesai membaca pesan hingga akhir, panggilan telepon kembali hadir. Dengan terpaksa Anya menjawab.
“Hallo, Anya.”
“Iya, Pak. Ada apa?”
“Temui saya besok jam 8 pagi.”
“Pagi banget, Pak? Di mana? Mana besok hari libur pula. Udah kayak mau masuk sekolah aja.”
“Nanti saya kirim alamatnya. Kalau kamu nggak mau ya nggak apa-apa, tapi silakan cari inves—“
“Oke, Pak. Oke. Besok saya datang tepat waktu. Bye!”
Anya memutuskan panggilan telepon secara sepihak. Telinganya belum siap, jika harus menerima ancaman Bima. Mencari investor lain. Hanya tiga kata yang membuat jantungnya seakan terperosot ke bawah diafragma.
Minggu pagi. Waktu yang tepat untuk bermalas-malasan. Namun, tidak untuk Anya Amanda. Gadis itu sudah sibuk menata rambutnya di depan cermin sejak beberapa menit lalu. Anya memilih memakai cropped cardi berwarna maroon dan kaus putih polos yang dipadupadankan dengan celana kulot jeans yang panjangnya sebetis. Penampilannya disempurnakan dengan sneaker putih yang membungkus kaki. Tak perlu cantik-cantik. Toh, hanya ingin bertemu dengan Bima saja. Kalau dia berdandan, bisa-bisa malah jadi bahan ejekan si Kaleng Biskuit dan membuat om-om itu semakin jatuh cinta padanya. Anya bergidik. Geli.
Anya segera keluar rumah setelah semua dirasa sempurna. Niat hati memesan taksi online kembali gagal, setelah mendengar klakson mobil yang membuat tensinya naik.
“Pak Bima ngapain di sini?” tanya Anya berusaha ramah.
“Ya, mau jemput kamu. Buruan naik,” titah Bima.
Anya memberengut. Membuka pintu mobil, lalu duduk dengan tersenyum.
Tahan Anya, tahan! Sandiwara itu keahlian kamu, ucapnya dalam hati.
Tanpa suara, Bima menyalakan mesin mobil. Sesekali dia melirik Anya yang duduk di sisinya. “Ngapain kamu ngelirik saya terus?” tanya Bima.
“Bukannya bapak yang lirik saya terus daritadi? Kepedean banget, sih, Pak,” jawab Anya buang malu.
“Nggak usah malu-malu. Saya memang keren. Nggak terlihat kayak om-om, ‘kan?”
"Om-om ya tetap aja om-om!"
Anya menghela napas lalu menyandarkan punggungnya tanpa menjawab. Sesekali diliriknya Bima yang fokus mengemudi. Anya tersenyum tipis. Dengan jaket denim dan kaus polos berwarna putih seperti ini membuatnya tampak seperti usia 20-an. Anya menggigit bibir lalu menepiskan pikiran konyol yang baru melintas di otaknya.
“Kenapa kamu senyum-senyum ngeliatin saya?”
“Ih, pede banget sih, Pak. Mending fokus nyetir aja.” Anya membuang muka. Senyumnya masih muncul malu-malu. Dia memilih menatap jalanan dari kaca jendela. Menyembunyikan raut wajahnya yang memerah.
Rasanya udara di dalam mobil berubah panas. Anya berusaha duduk santai, tetapi senyum tipis dari laki-laki di sebelahnya berbahaya membuat jantungnya berdebar.