Setelah setengah jam mengemudi, tujuan Bima mulai terlihat. Mobil melambat saat memasuki area taman bermain. Sebuah wahana dunia fantasi yang sering dikunjungi anak-anak kecil, remaja hingga dewasa. Bima tak dapat menemukan tujuan lain saat mencari tempat kencan pada mesin pencari di internet. Hanya tempat ini yang ada di pikirannya. Desakkan tante Sinta membuatnya tak bisa berkutik. Wanita tua itu bersihkeras ingin menjodohkan mereka. Padahal untuk Bima saat ini, berkencan bukanlah prioritas utama. Apalagi menikah.
“Ayo turun,” ajak Bima saat melepas sabuk pengamannya terlebih dahulu. “Hati-hati. Nanti tasnya nyangkut lagi,” sindir Bima. Namun, Anya sudah memasang mode ‘bodo amat’ tak ingin mempedulikan sepatah kata pun yang keluar dari mulut Bima. Di hari yang cerah seperti ini, dia ingin menikmatinya dengan bahagia. Toh, sudah lama juga dia tak mengunjungi taman bermain.
Langkah Anya terpaku di depan wahana kincir angin raksasa. Bima ikut berhenti tepat dua langkah di depan Anya. Lalu berbalik menghampiri gadis yang tertegun di belakangnya.
“Mau naik itu?” Bima menyeletuk.
Seketika senyum Anya menghilang. “Nggak, Pak. Yang lain aja.”
Bima menggulung lengan jaketnya sebatas siku. Lalu menarik tangan Anya. Semakin gadis itu menolak, semakin kuat keinginannya untuk mengajak. “Ayo kita naik itu.” Tanpa permisi, Bima mengandeng tangan Anya. Membawanya mendekati wahana. Walau ragu, Anya mengikuti langkah Bima tanpa penolakan.
Pemandangan indah kota Jakarta menjadi pembuka kebahagiaan Anya hari ini. Sedari tadi, Anya tak henti tersenyum. Menikmati setiap embusan angin yang pelan-pelan menerpa wajahnya.
“Dulu ... aku sering ke sini dengan mama dan papa.” Anya membuka suara. Bima diam, mengamati. “Kalau hari libur, papa selalu mengajakku ke mari. Walau hanya satu atau dua kali dalam sebulan ajakan itu terealisasi.
“Kenapa?”
“Mama sakit.” Anya diam sejenak, lalu mengembuskan napas. “Ah, sudahlah. Saya nggak mau ingat masa lalu itu, Pak. Mau ingat yang senang-senang aja.” Anya berhasil mengenyahkan air mata yang hampir turun ke pipinya. Mata itu kembali berbinar. Memancarkan senyum walau tertutup oleh kepalsuan.
“Kalau pak Bima, punya kenangan apa sama taman bermain?”
“Saya ....” Bima mendecih. Lalu tertawa kecil. “Saya nggak pernah ke taman bermain.”
“Serius?”
Bima mengangguk. Anya bersiap mendengar jawaban.
“Iya serius,” jawab Bima singkat.
“Kenapa?”
“Emmh, karena ....”
“Karena ....” Anya mengulang ucapan Bima, semakin penasaran.
“Karena saya takut ....”
“Takut?”
Bima mengangguk.
“Takut apa, Pak?” desak Anya.
Bima tersenyum tipis. “Takut banyak yang godain saya. Saya kan ganteng dari lahir.”
Spontan, mulut Anya mengatup.
Kampret!!!
Mereka saling memalingkan wajah. Bima menggeleng pelan menahan tawa. Sedangkan Anya masih sibuk dengan umpatan-umpatan di dalam hatinya. Tak terasa, bianglala mulai melambat dan berhenti. Membawa mereka kembali.
Setelah lelah bermain, sebenarnya Anya sedikit gengsi untuk memenuhi keinginan perut meminta jatah makan siang. Namun sialnya, Anya tak sarapan. Hanya meminum s**u kotak yang dia bawa diperjalanan membuat perutnya mulai keroncongan. Dan sialnya lagi, Bima mendengar itu. Anya hanya menutup mata karena malu.
“Lapar?”
“Saya nggak lapar. Tapi, lambung saya lagi pengin karbohidrat.”
“Itu namanya kamu lapar,” protes Bima. “Ayo, cari makan dulu.” Bima berjalan mendahului Anya menuju kafe kecil di sudut taman bermain. Tak banyak pengunjung yang singgah. Pandemi covid-19 memang berdampak besar pada hampir semua tempat usaha.Tak terkecuali taman bermain ini. Area yang dulu tak pernah terlihat sepi, kini tampak lenggang bahkan pada hari Minggu ini.
“Mau makan apa?”
“Nasi goreng aja , deh,” jawab Anya dengan cepat tanpa ragu-ragu.
“Cepat banget jawabnya, enggak pakai mikir. Lapar banget, ya?” goda Bima lagi.
Anya memberengut. “Es jeruknya dua, ya,” ucapnya lagi. “Bapak neraktir saya, ‘kan?”
Bima menghela napas. “Hmm ...,” balasannya hanya dehaman. Namun, berhasil membuat Anya semringah.
“Kalau gitu, saya tambah sosis jumbo bakar pakai double mozzarella. Terus es krim vanilla mix cokelat juga, deh. Terus—“
“Makan terlalu banyak nggak baik untuk pencernaan,” potong Bima. “Sudah, itu aja yang tadi ya, Mbak,” ucapnya ramah pada pelayan.
“Oh, ya, Mbak ....” Bima menghampiri pelayan kafe lagi. “Nasi gorengnya yang enak, ya. Jangan keasinan.”
“Terus aja begitu,” ucap Anya kesal. Namun, Bima malah menarik tangan Anya.Mengajaknya menempati meja di sudut ruangan dekat dinding kaca.
“Jangan pegang-pegang terus, Pak. Inget! Social distancing. Jaga jarak,” ucap Anya sembari menurunkan maskernya.
“Iya terus kenapa kamu lepas masker? Masker kan salah satu protokol kesehatan.”
“Engap, Pak. Hidung saya keteken ke dalam. Nggak enak lama-lama pakai masker,” jawab Anya sambil memijat-mijat pelan hidungnya.
“Karena itu juga, kamu enggak pakai masker waktu di kedai es krim tempo lalu?”
Anya mengernyit, lalu tertunduk malu. “Pak Bima masih ingat?”
Bima mengangguk pelan. “Kaleng biskuit ini punya memori yang kuat.” Bima tertawa dan disambut Anya. Begitu asiknya mengobrol, mereka bahkan tak sadar bahwa pelayan sudah membawakan makanan pesanan mereka sejak beberapa menit lalu.
***
Sudah hampir satu jam mereka masih menetap di kafe. Hujan datang tiba-tiba mengacaukan hari. Anya menghela napas, Bima masih memperhatikan.
“Ayo keluar. Mau sampai kapan di sini?” Tanpa menunggu persetujuan Anya, Bima berdiri. Jiwa pemimpinnya membuat Anya spontan mengikuti.
Keduanya berdiri memandang hujan yang lumayan deras. Anya merapat ke tembok kafe, menghindari tempias. Sedangkan Bima masih menilik langit. Menatap air yang seakan jatuh untuk menghapus kenangan pahit dari masa lalu.Diam-diam, Bima tersenyum tipis. Menyembunyikan kedua tangan di balik saku. Memperhatikan wajah Anya dari pantulan genangan air.
"Haduh, basah semua deh. Lagian aneh-aneh aja. Perasaan tadi panas terik. Kok sekarang tiba-tiba hujan." Anya mendumel kesal.
"Hujan itu anugerah. Nggak boleh dimaki,” protes Bima tanpa melirik.
"Saya nggak ngemaki, Pak!" sanggah Anya.
"Itu kamu ngomel-ngomel sejak tadi. Lagian juga masih hujan air. Bukan hujan batu." Bima mundur, sejajar dengan Anya. Merapat ke tembok. Anya mendecih. Mendengar kata-kata Bima yang sok bijak tapi ada benarnya.
Bima membuka jaket lalu mengebasnya. Anya tersentak. "Pelan-pelan dong, Pak. Kaget saya!" tegur Anya, kesal.
"Kamu mau sampai kapan di sini. Ayo kita lari ke mobil," ajak Bima.
Baru saja Anya ingin mendekatkan kepala di bawah payungan jaket Bima, tapi laki-laki itu sudah pergi meninggalkannya. Anya mundur, kembali berteduh beberapa saat. Sedangkan Bima sudah lari menuju mobil dengan jaket yang menutupi kepalanyasendirian.
Anya mendengkus kesal. Kakinya dientak-entakkan beberapa kali sambil menggerutu. “Lah, tadi ngajak ke mobil barengan. Terus sekarang aku ditinggal? Yang bentukan gitu mau jadi suami? Enggak ada pantes-pantesnya!”
Samar-samar, Anya mendengar deru mobil Bima. “Basah sedikit nggak apa-apa deh. Daripada ditinggal pergi,” gerutu Anya. Lalu mengambil langkah pertama dengan ragu, sebelum membawa kaki mantapberlari. Menerobos hujan. Menimbulkan riak air pada genangan.
“Aduh, Anya ... rambut kamu basah semua. Lap tuh pakai tissue. Jok mobil saya jadi ikutan basah, ‘kan.” Kalimat pertama yang didengar Anya setelah setengah basah kuyup sangatlah tak enak.
Sabar, Anya ... sabar. Tahanlah sedikit. Dia sumber uang buat kehidupanmu, ucap Anya dalam hati.
Anya menatap Bima, mencoba tersenyum walau kesal. “Ya salah siapa sih ninggalin saya sendirian. Malah lari pakai jas sendiri. Dibagi sama saya kek. Biar saya nggak kena hujan juga.”
Mobil mulai bergerak lambat sebelum Bima menginjak pedal gas. “Namanya juga lagi pandemi. Toh, kamu sendiri yang bilang tadi. Jangan dekat-dekat. Social distancing. Lupa?” balas Bima yang semakin membuat Anya kesal.
“Iya tapi kan situasinya lagi hujan, Pak. Nggak gentle banget, sih.”
“Loh, justru saya gentle. Makanya saya ambil inisiatif. Lari duluan ke mobil. Terus jemputin kamu di depan kafe. Biar kamu enggak terlalu jauh larinya dan basah kuyup kayak gini.” Bima menatap Anya lalu merogoh laci dashboard. Mengambil karcis parkir dan menyerahkannya ke petugas jaga.
“Tapi tadikan bapak ngajak saya lari ke mobil. Lupa?” Anya melanjutkan protesnya saat kaca mobil kembali ditutup.
“Ya, inisiatif saya baru muncul pas di tengah jalan. Mau balik lagi ngasih tahu kamu ‘kan nanggung. Jadi ya saya terusin buru-buru ke mobil.
”Ya, bapak nggak ngomong dari awal. Mana saya tahu!Emang saya cenayang!”
“Ya harusnya kamu peka.”
“Kapan sih Bapak ngalah? Jawab mulu deh,” protes Anya, semakin kesal.
Bima hanya berdeham. Lalu kembali fokus pada kemudi.
“Lihat nih, saya basah banget kayak gini. Kalau masuk angin gimana? Bapak mau dimarahin sama tante saya?” Anya menyandarkan bahunya. Melirik Bima dengan sinis, lalu menggerutu lagi. “Tuh kan, sekarang saya didiemin.”
“Lah, tadi kan kamu yang protes kalau saya jawab terus. Saya harus ngalah.”
“Iya tapi seenggaknya kalau saya ngomong ya direspons dong, Pak. Jangan diem aja kayak patung Bundaran HI.”
Tiba-tiba, Bima membanting setir ke arah kiri. Mobil berhenti mendadak.Anya ikut tersentak. “Anya ... mending kamu tembak kepala saya sekarang.”
Keputusasaan Bima membuat Anya tersedak dan tersenyum. Anya tak dapat menyembunyikan ekspresinya. Gigi-gigi kecilnya berjajar rapi di balik bibir tipis yang kian menggoda Bima.
“Anya ... jangan tertawa seperti itu!” titah Bima, masih menatapnya lekat.
“Kenapa, Pak?” Anya menutup mulut dengan telapak tangan. Seketika terdiam. Takut, jika Bima mengejeknya lagi.
“Cantik. Kamu cantik kalau ketawa kayak gitu.”