10 Pendekatan Mitra Bisnis

1827 Kata
Anya bergidik, menatap mata Bima yang sehitam arang, mencari-cari di matanya sedang mengejek atau mencoba merayunya. Namun, laki-laki itu tidak menunjukkan ekspresi apa pun. “Sayangnya, saya udah cantik dari lahir.” Tangan Anya menepuk-nepuk bajunya yang basah, lalu bersandar ke jok mobil. “Kita pulang sekarang?” Bima tersenyum dan menyalakan mesin. Selama perjalanan Anya diam saja. Bima melirik dan Anya balas menoleh. Tatapannya mengatakan, ‘Apa lihat-lihat?’ Dia tidak memberi tanggapan dan kembali fokus mengemudi. Ada keheningan panjang sebelum Bima memulai pembicaraan, “Besok kamu datang ke kantor saya. Kita perlu ngebahas detail kontrak kerjasama.” Kepala Anya langsung menoleh. “Seriusan, Pak?” Posisi duduk Anya bergeser ke arah Bima. “Jam berapa?” Bima tampak memikirkan waktu kosongnya. “Sekitar jam sebelas oke.” Anya mengangguk penuh semangat. “Oke deh.” Tidak bisa menahan rasa penasarannya, dia bertanya lagi, “Besok kita bakal bahas apa aja?” “Banyak, perusahaan Aurora akan siapkan dokumennya.” Bima melirik Anya lagi. “Kalau dijelaskan sekarang kamu nggak akan ngerti.” Anya mengerjap, merasa sembrono atas ketidaksabarannya. “Kalau gitu besok sekalian saya masakin makan siang.” Bima terkekeh, lalu menggeleng. “Nggak usah, nanti ada berita korban keracunan.” Kaca mobil langsung diturunkan sebelum Anya sempat marah-marah karena masalah masakan yang tertukar itu. “Eh, Neng Anya!” sapa Pak Bambang. Satpam komplek rumah Anya itu menujukkan ke kepoannya lagi dengan langsung bertanya, “Ti mana? Berduaan sama nu kasep, malam mingguan ya?” Anya semakin sebal. “NGGAK! Apaan sih Pak Bambang. Mending urusin drama korea Penthouse yang kayak sinetron aja,” Anya menggerutu dan meminta Bima cepat-cepat melajukan mobil. Mobil Bima berhenti di depan gerbang rumah Anya. Mata Anya masih menyipit melihat Bima yang menahan tawa. Tidak mau berlama-lama dan membuat om-om menyebalkan semakin senang, Anya langsung keluar. “Makasih,” ucapnya garing. *** “Jadi, apa dia romantis?” Alden mencomot serpihan keju parut lagi dari piring ketika Anya sibuk dengan penggorengan dan handuk basah yang melorot di kepalanya. “Itu bukan kencan, tapi pendekatan mitra bisnis.” Anya mengelap tangannya ke celemek dan memelintir handuk yang membungkus rambut basahnya kuat-kuat dan menyelipkannya di antara tengkuk dan tepi handuk. “Dan stop ngabisin kejunya.” “Hmm?” Alden mendorong piring ke tengah meja dan mulai mencomot potongan kentang goreng. “Ke taman bermain, menaikkan adrenalin, menikmati suasana. PDKT bisnis yang menarik.” Anya mematikan kompor, lalu berkacak pinggang. “Si kaleng biskuit yang tiba-tiba pergi ke sana. Masa kecilnya tuh kurang bahagia. Ya, kalau aku nolak nanti nggak mau jadi investor gimana?” Alden mengangkat bahu tak acuh, menganggap pikiran Anya tak masuk akal. “Ya, mudah-mudahan hari ini berjalan lancar.” Pagi ini Anya menelepon Alden untuk mengantarnya ke kantor Bima dengan imbalan sepiring spageti yang langsung diiyakan Alden karena masih jadi pengangguran. Om dan tantenya sedang pergi, mengurus kasus penipuan perhiasan tante Sinta. “Ya udah, kamu siap-siap gih. Biar aku yang nata di lunch box.” Anya menurut dan turun kembali ke dapur setelah mengeringkan rambut dan berganti baju. Riasan sederhana menempel di wajahnya, terutama lipstick berwarna coral. Alden baru selesai mencuci piring dan menggulung kembali lengan kaus panjangnya. Anya meraih kotak bekal yang disiapkan Alden untuk mengecek isinya. Mulutnya terbuka melihat tampilan spagetinya. Mush potato dibentuk sebagai wajah, mie spageti menjadi rambut dan sausnya dijadikan mata, hidung, dan bibir yang tersenyum lebar menyeramkan. Alden nyengir, tampak tidak bersalah sedikit pun. “Kamu bilang masa kecil dia kurang bahagia.” Dasar teman laknat! *** Anya berdiri di ambang pintu kantor Bima. Mata hitamnya menonton kesibukan di dalam ruangan, bingung harus menginterupsi atau membalikkan badan dan menunggu di luar. Kondisi kantor ini benar-benar berbeda saat pagi-pagi Anya kemari. Orang-orang bergantian masuk dan membawa berkas atau meminta pendapat Bima. Belum lagi orang-orang memadati kafe di lantai bawah untuk makan siang. Rupanya kehadirannya disadari Bima. Sambil mengapit ponsel di bahu dan telinganya, suara bariton itu memintanya masuk dan duduk menunggu. Anya melangkah ke sofa sementara ketegangan menyergapnya tiba-tiba. Bima benar-benar berbeda saat bekerja, tatapan serius, mendengar informasi dengan cermat, lalu memberi instruksi yang harus dilakukan. Anya tersadar tidak tahu apa-apa tentang bisnis. Orang bilang menjadi bos itu enak karena bisa bersenang-senang dan tidak perlu bekerja, tetapi nyatanya dia orang yang harus rela bekerja setiap waktu dan menanggung beban paling berat. Dari tempat duduknya, Anya bisa mendengar Bima yang sedang berbicara di telepon. Laki-laki itu tampak tidak senang. Berdiri di balik meja kerjanya dan tengah berdebat. “Sekarang banyak pengawas dan razia, minta para pegawai selalu mengikuti prokes. Bagus, setiap meja yang baru dibersihkan dipasang sign sanitized.” Kepala Bima mengangguk memberi isyarat kepada dua orang yang baru datang untuk masuk. “Ya, tolong jangan sampai ada berita yang jelek, minta konten kreator untuk lebih fokus menyorot stay safe, makasih.” Bima menutup telepon, menghampiri manajernya dan mengambil berkas yang dibawa Ratu. “Dikira karyawan kamu yang antar?” “Aku sekalian lewat sini,” ucap Ratu ramah sembari melihat arlojinya. “Mau makan siang bareng?” Mendengar tawaran itu Anya langsung menoleh. Jika mereka makan siang di luar maka percuma saja membuatkan makan siang. Paper bag yang disimpan di sisi pangkuannya mungkin tidak disadari laki-laki itu. Dalam benaknya Anya merasa bodoh karena tidak berpikir kalau selama ini Bima pasti makan siang di luar atau memesan saja dari kafenya. “Kalian bisa makan siang bareng di bawah,” ucap Bima kepada Ratu. “Pak, pesen aja makanan yang kalian suka, kebetulan masih ada yang harus diurus.” Kepala Bima menoleh ke arah Anya sementara manajer dan Ratu keluar ruangan. Menggulung lengan kemejanya sampai siku, Bima duduk di seberang sofa di depan Anya. “Berhubung perut saya keroncongan, kamu bawa makanan apa?” Anya sedikit melongo, bingung dengan kelembutan Bima yang lebih memilih makanan buatannya. Cepat-cepat mengambil bekal yang dibawanya. “Spageti dengan kentang. Nggak bareng temannya aja, Pak?” Bima yang dengan santai menggosokkan hand sanitizer ke tangan lalu membuka tutup kotak. “Di bawah antre, saya pilih makanan yang gratisan aja.” Sebelah alisnya terangkat melihat tampilan spageti itu. Anya mengalihkan pandangan pura-pura tidak melihat ekpresi Bima menilai tampilan spagetinya. Kalau dirinya diketawain, pulang-pulang akan cari Alden dan gebukin kecoak satu itu. Anya berdeham dan memberikan garpu. “Tampilannya aja yang aneh, tapi rasanya dijamin enak. Yang ini nggak ketukar lagi.” Bima memuntir spageti menjadi gulungan di garpunya. “Kalau nggak enak, saya bakal nyiksa kamu buat habisin semuanya sendirian.” Dia menyuap spageti ke dalam mulut dan lega ketika rasanya enak, sedikit kaget rasanya bisa sekelas restoran, tapi dalam hidangan yang lebih sederhana atau seadanya. Bibir Anya tersenyum miring ketika tidak ada keluhan. Beberapa menit mereka habiskan untuk mengosongkan kotak makan. Setelah membereskan meja, Bima meminta Anya membaca berkas kerjasama mereka. Semua detail sudah dipelajari. Bima membiarkan Anya banyak bertanya dan menjelaskan dengan sabar. Rasanya sulit dipercaya ketika melihat tanda tangannya ada di kertas itu. Sebelumnya Anya sudah berusaha mencari jalan keluar dari masalah pengelolaan restorannya. Bima mengulurkan tangan untuk berjabat tangan resmi. Gelenyar panas mengalir dari telapak tangan Anya ketika merasakan sentuhan Bima. Anya menengadah, menatap mata laki-laki itu yang hangat. Tanpa sadar, bibirnya sudah tersenyum. *** Restoran sudah mau tutup. Anya berjalan mengelilingi restoran lebih dari empat kali. Tersenyum ramah kepada pelanggan terakhir mereka yang membawa kedua anaknya makan malam. Pak Azka sama tidak sabarnya dengan Anya yang beberapa kali menengok ke arah parkiran. Perasaan para stafnya terlihat jelas setelah Anya memberitahu dokumen kerjasama dan mengatakan malam ini Bima akan datang mengunjungi restoran mereka. Namun, sampai sekarang dia belum datang. Sepertinya tidak ada kemungkinan Bima datang hari ini. Bisa jadi terlalu sibuk mengurus banyak pekerjaannya. Hani yang sedang mengelap meja, mengacungkan kepalan tangan memintanya semangat. Dari balik maskernya, Anya bisa merasakan Hani tersenyum. Anya memeriksa ponselnya lagi. Tidak ada pesan masuk. Dia bergabung duduk dengan Pak Azka dan Hani. “Kayaknya Pak Bima nggak bisa datang hari ini. Udah malam juga, abis tutup langsung pulang a―” Suara deru mobil yang memasuki parkiran membuat mereka menoleh. Dari pintu yang terbuka, mereka melihat seseorang keluar dari mobil. “Itu Pak Bima,” ucap Anya. Mata Hani membulat kaget karena mengenali laki-laki itu pernah datang ke resto mereka. “Wah, jadi itu Pak Bima. Jadi si Mas ganteng yang jadi investornya?” Anya menyikut pelan Hani supaya tidak berisik sementara Bima masuk. “Sst, jangan lebay deh!” “Malam! Maaf saya kemalaman ya?” “Nggak kok, Pak,” jawab Anya langsung. “Santai aja! Mau minum?” Bima menggeleng. “Kayaknya nggak akan lama.” “Han, panggilin Pak Daffa, ya!” pinta Anya yang langsung dituruti Hani. Pak Daffa dan Hani muncul kurang dari semenit. Anya berdeham dan memperkenalkan Bima. “Ini Pak Bima Abian. Dia orang yang mau bantu restoran kita. Kebetulan Pak Bima punya banyak pengalaman di bidang kuliner.” Bima membungkukkan badan singkat sebagai sapaan. Dari cara berdirinya saja sudah menunjukkan dia orang penting dan berpengalaman. Kepercayaan diri terlihat jelas dari auranya. Warna kemeja Bima masih sama dari yang dipakainya siang ini, tetapi aroma parfumnya masih menguar segar. “Ini Pak Azka, manajer restoran kami.” Pak Azka juga membungkukkan badan. “Mohon kerjasamanya, Pak.” “Ini Hani, pelayan sekaligus kasir restoran kami.” Tanpa ragu Hani langsung mengulurkan tangan kepada Bima. “Halo, Pak, seneng banget bisa lihat Pak Bima lagi!” Bima tertawa dan membalas uluran tangan Hani dengan genggaman kuat. “Mungkin saya bakal sering ke sini.” Ada pekikan tertahan dari Hani dan buru-buru Anya langsung berkata, “Ini Pak Daffa, koki kami.” Percakapan begitu mudah. Dalam beberapa menit saja Bima menanyakan banyak tentang restoran ini dengan cara berbaur seolah mereka sudah bekerja lama pada laki-laki itu. Tusukan rasa iri sekaligus minder terasa di d**a Anya. Dia belum pernah seakrab itu dengan karyawannya. Anya hanya menonton ketika Pak Azka, manajernya mengajak Bima berkeliling. Melihat hiasan yang berada di rak, sepertinya barang-barang vintage koleksi restorannya menarik minatnya. Sembari mendengarkan Pak Azka yang memberitahu di mana setiap barang didapat, laki-laki itu meniliknya satu per satu dan menaruhnya kembali dengan hati-hati. Mereka pergi memeriksa mesin kasir. Hani sepertinya berusaha menempel sedekat mungkin dengan Bima tanpa menunjukkan minatnya terang-terangan dan Anya hampir tersedak tawa karena Bima dengan santai menghindar ke sisi Pak Daffa, menanyakan beberapa hal tentang menu mereka dan mengecek dapur. Perutnya melonjak dan untuk pertama kalinya malam ini Anya merasa lega. Rasanya seperti berjalan di padang pasir dan mendapati air segar. Rasanya menyenangkan. Tidak sulit menerima Bima menjadi bagian dari restoran ini. Rasanya lebih pantas laki-laki itu yang menjadi bos. Tiba-tiba ada perasaan meluap untuk bekerja keras dan terus belajar. Anya tidak akan menyerah. Dia menyusul ke dapur, mengamati Bima yang memeriksa bahan makanan. Laki-laki itu berbalik dan berjalan ke arahnya. “Mau diantar pulang?” tanya Bima dekat telinga Anya. Suara yang keluar dari mulut Anya setengah terkesiap setengah canggung, “Nggak, saya naik ojek online aja.” Untung Pak Daffa dan Pak Azka tidak memperhatikan mereka karena sibuk membereskan bahan makanan ke dalam chiller.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN