11. Traktiran Berujung Watir

1529 Kata
Semalam Anya merasa tidurnya lebih nyenyak daripada biasanya. Gadis itu masih merasa senang. Perasaan berbunga-bunga mendominasi hatinya. Senyum cemerlang tak henti-hentinya menghiasi wajah. Bukan tanpa sebab Anya merasa demikian. Pada akhirnya, Bima menyetujui akan menanam modal pada restorannya. Satu masalah sudah diatasi dengan baik. "Eh, bentar. Aku udah kasih tahu Alden belum, ya?" tanya Anya kepada diri sendiri. Anya meringis sambil mengingat sesuatu. "Kemarin dia hanya menemaniku masak, dia yang nata lunch box, dan mengantarku ke kantor Bima." Anya menyipitkan mata. "Alden kan nggak tahu aku udah tanda tangan kontrak," desisnya, lalu gadis itu tertawa sendiri sambil tepuk tangan. Anya tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. "Energi bahagia ini mesti aku bagi-bagi ke Alden," putus Anya seraya menyambar ponselnya yang berada di atas nakas. "Aku telepon sekarang deh sekalian nraktir." Anya mencari kontak Alden. Ketika mau menelepon, Anya menggeleng. "Nggak, nggak. Jangan telepon. Bisa gawat darurat kalo si Bella yang jawab. Mending ke rumahnya aja." Anya membayangnya Bella yang mengamuk ketika dia menghubungi Alden lewat ponsel. Gadis itu pasti bersunggut-sunggut. Melarang Alden untuk berbicara dengannya. Memisahkannya dari Alden secara paksa. Juga akan menjelek-jelekkannya secara langsung tanpa rasa takut. Anya meringis tak suka, tetapi tetap memaklumi. Alden harus langgeng dengan Bella. Jangan seperti yang sudah-sudah. Mereka bilangnya baik-baik saja dengan kedekatannya dengan Alden. Akan tetapi, di belakang Anya, mereka semua busuk. Anya mengangguk mantap. "Ya, mending langsung ke rumahnya. Kalo ada Bella di rumahnya, aku bisa undur diri. Kalo Bella nggak ada tinggal gas nggak pake rem." Anya cekikikan sendiri, lalu meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Gadis itu bersiap mandi. Di dalam kamar mandi, Anya mendesah melihat sabun cairnya yang wangi semerbak habis. "Aku melarat," keluh Anya, lalu menggeleng frustrasi. "Mungkin aku harus beli sabun batangan harga dua ribu nanti. Ngirit tanda jadi orang kaya raya." Tak lama Anya tertawa sendiri. "Oh, nggak apa-apa sekarang mandi nggak pake sabun. Aku bisa pake minyak wangi yang banyak nanti." *** Anya celangak-celinguk di depan rumah Alden. Dia ingin menghubungi sahabatnya itu, tetapi hatinya melarang keras. "Ada nggak sih?" tanya Anya kepads diri sendiri, tidak mendapat jawaban apa-apa. "Ngapain di situ?" Suara seseorang membuat Anya terlonjak kaget. Dia berbalik dan merasa lega tahu bahwa Alden sendirian. Gadis itu mengelus-elus dadanya. "Kamu dari mana? Dari tadi aku di sini nungguin," kata Anya. Kening Alden menggernyit. "Kamu lupa ada teknologi handphone?" Anya meringis. "Ngapain kamu pagi-pagi kemari?" tanya Alden. "Main," sahut Anya. Alden mendesah panjang. "Sesama pengangguran emang nggak jauh dari kata main." "Aku nggak pengangguran!" protes Anya. "Aku bisa lihat," sindir Alden. Anya mendengkus. "Ayo, masuk," ajak Alden seraya membuka gerbang rumahnya. "Pengangguran sepertiku nggak boleh kelihatan tetangga." Anya mencibir tanpa suara seraya membutut di belakang Alden. "Kamu habis dari mana?" tanya Anya kemudian. Bukannya menjawab, Alden balas bertanya. "Kamu nggak bisa lihat apa yang kubawa?" Anya mendengkus. "Ini namanya bubur ayam," kata Alden sambil menunjukkan bungkusan yg dia tenteng. "Ya, aku bisa lihat sekarang. Jernih sekali pandanganku," ucap Anya dramatis. "Kamu kurang kerjaan banget main ke rumah cowok pagi-pagi," ucap Alden tanpa menatap Anya dan terus berjalan masuk ke rumah. "Kamu berniat ngusir atau gimana?" tanya Anya. "Lagi aku pikirin," sahut Alden. Kini dia sudah sampai di dapur untuk mengambil mangkuk dan sendok. Anya cemberut. Dia meletakkan tas selempangnya di atas meja. "Ibu, Bapakku nggak ada lho. Kamu nggak takut berduaan bareng aku?" tanya Alden, kembali berjalan menuju samping rumah. Di sana adalah tempat favorit Alden karena bisa bersantai dengan tenang. Anya mengikuti Alden. "Emang kamu bisa apa?" tanyanya seraya memutar bola mata malas. "Nantangin?" Alden balas bertanya. Kali ini sambil menatap Anya yang mengerut bingung. "Apa?" Alden meletakkan apa yang dia bawa di atas meja. "Aku bisa jeburin kamu kayak gini," ucap Alden dan tanpa tedeng aling-aling cowok itu mendorong Anya ke kolam renang. Anya terpekik kaget. Alden tertawa terbahak-bahak. "Dasar teman laknat!" umpat Anya. Alden hanya tertawa. Dia duduk di kursi santai sambil membuka bungkusan bubir ayam. "Barangkali kamu belum mandi sebelum ke sini," ucap Alden di sela tawanya. "Aku udah mandi!" teriak Anya seraya memukul air. Alden hanya tertawa sampai mendongakkan kepala. "Awas aja kamu," ancam Anya seraya berusaha keluar dari kolam renang "Makan bubur ayam emang paling enak kalo diaduk," kata Alden tidak mengubris ancaman Anya. Anya tidak menyahut. Alden menoleh untuk tahu sedang apa gadis itu. Ternyata Anya sedang kesusahan untuk naik. Alden tertawa sekali. "Kalo nggak bisa naik dari situ, bisa naik dari undakan sana." "Jangan ngomong aja. Bantuin!" seru Anya. Alden berdecak. Dengan ogah-ogahan dia menghapiri Anya dan mengulurkan tangan. Anya menggenggam tangan Alden erat, lalu menariknya. Alden yang tidak begitu siap, terjebur ke kolam renang sambil berteriak. Kali ini Anya yang tertawa. "Sial!" umpat Alden. "Mangkanya jangan usil," kata Anya setelah tawanya selesai. "Heleh ... mau makan bubur ayam aja banyak drama," keluh Alden. "Tenang, nanti aku traktir kamu makanan enak," kata Anya tiba-tiba "Apa hubungannya?" tanya Alden, duduk di pinggir kolam. "Alden ... aku udah tanda tangan kontrak!" teriak Anya. "Aku seneng banget. Akhirnya ada yang fix nanem modal!" teriak Anya lagi. "Bagus deh. Untung bukan nanem benih," celetuk Alden, membuat Anya mendesis dan menarik Alden kembali ke kolam. Keduanya lalu saling perang air. Tanpa Anya tahu, dalam hati Alden sangat bersyukur atas itu. *** "Beneran nih kamu yang traktir?" tanya Anya kepada Alden. Malam ini Anya mengajak Alden makan di warung tenda pinggir jalan. Niatnya Anya yang traktir sebagai bentuk berbagi kebahagiaan karena salah satu masalah dalam hidup Anya telah teratasi. Namun, Alden bilang dia yang akan mentraktirnya. "Yup," sahut Alden seraya mengangguk. "Ada duit?" tanya Anya lagi. "Kamu sendiri mau traktir, punya duit?" Alden balas bertanya. Anya mengangguk. "Punya." "Aku juga punya," balas Alden. "Kali ini aku yang traktir. Pecel lele ini." "Oke." "Tapi, nanti kalo resto kamu sukses lagi, traktir aku yang enak-enak," kata Alden, lalu menyengir lebar. "Siap." Alden memesan makanan untuk dua orang, kemudian ada seseorang yang datang dan memesan nasi goreng. "Ngomong-ngomong kamu sengaja ya," kata Anya begitu mendengar 'nasi goreng'. "Sengaja apa?" tanya Alden bingung. "Sengaja nuker masakanku dengan nasi goreng buatan Bella," sahut Anya, memincingkan mata penuh curiga. "Kagak!" seru Alden, merasa tersinggung dengan tuduhan sahabatnya. Anya menunjuk Alden. "Bohong." "Sumpah. Ngapain juga," kata Alden. "Ya karena kamu tahu makanan buatan Bella sangat menyiksa mulut dan perutmu," jelas Anya blak-blakan Alden mendengkus. Anya menatap serius Alden. "Tahu nggak? Bima aja sampe lepehin tuh nasi goreng." "Apa?" Anya menoleh begitu mendengar suara seseorang yang dia kenal. Itu Bella. Mata Anya melotot. Melihat pacarnya, Alden buru-buru menghampuri. "Sayang, kamu ke sini sama siapa?" tanyanya panik. Dalam hati, cowok itu berdoa Bella tidak mendengar ucapan Anya. "Diem kamu!" bentak Bella sadis. Alden menelan ludah susah payah. "Minggir!" bentak Bella lagi, berjalan melewati Alden. Di belakangnya, Alden mengacak rambutnya. Tampak frustrasi. "Kamu bilang apa tadi. Coba bilang sekali lagi!" seru Bella kepada Anya. Anya meringis pelan, lalu berdiri. Oranga-orang yang berada di sekitar mereka mulai memperhatikan. "Cepet ngomong! Lembek banget," kata Bella kesal. Tidak peduli pada sekelilingnya. "Kamu pengin denger bagian apa?" tanya Anya. "Semua!" "Alden sengaja nuker masakanku dengan masakanmu," kata Anya. "Apalagi?" "Masakan buatanmu sangat menyiksa mulut dan perut Alden," kata Anya lagi. "Bener begitu?" tanya Bella kepada Alden. "Nggak, Sayang. Masakan kamu yang terbaik," jawab Alden seraya merangkul lembut pacarnya, mencoba meredakan amarah yang sangat tergambar jelas. "Kamu dengar apa kata Alden?" tanya Bella kepada Anya. Anya diam. "Kamu tuh ternyata tukang fitnah dan suka jelek-jelekin orang di belakang," ucap Bella, kemudian tanpa peringatan lebih dulu gadis itu menyambar air kobokan dan menyiram ke wajah Anya. Alden terperangah. Anya gelagapan. Dia mengelap wajahnya, lalu membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar. "Kamu pengin hancurin image aku di depan Alden untuk menarik simpatinya? Iya, kan?" tuduh Bella. Anya menggeleng. Dia sudah akan berbicara. Namun, urung. "Udah, Yang. Jangan marah. Anya salah, tapi ini tempat umum. Malu," kata Alden selembut mungkin. Bella menatap garang Alden. "Kamu belain dia?" "Nggak gitu." Alden menggeleng. "Ah, udahlah. Emang susah jadi pacar yang punya sahabat cewek yang lengket banget. Udah tahu ahabatnya salah, terus aja dibelain," kata Bella lelah, lalu keluar dari tenda. Alden mengejar Bella. Anya yang merasa tidak enak ikut mengejar. "Kamu, kamu, kamu terus yang diandelin. Emangnya dia nggak punya temen yang lain?" Anya tidak mendengar ucapan sebelumnya. Dia melihat Bella menangis di depan Alden. "Bilangnya temen. Bilangnya sahabat. Lama-lama jadi demen. Lama-lama diembat," kata Bella penuh praduga. "Aku nggak gitu!" protes Anya. Dia berdiri di antara Alden dan Bella. "Nggak gitu, tapi nempel terus sama Alden," tepis Bella. "Yang," panggil Alden. "Diem kamu! Ini urusan cewek!" seru Bella galak. Alden menyerah. Terserahlah. Kalau mereka baku hantam, dia tidak akan memisahkan. "Kamu perempuan. Aku perempuan. Harusnya kamu ngerti perasaanku," kata Bella kepada Anya. "Perasaan kalo pacar kamu deket dengan perempuan lain gimana," sambung Bella. Anya menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dia merasa lelah. "Bel, aku harus berapa kali ngomong biar kamu percaya kalo aku sama Alden nggak mungkin lebih?" tanyanya. "Bisa jangan deket sama Alden?" Bella balas bertanya. Anya mendesah panjang. "Nggak gitu maksudku. Sebenernya kamu paham apa yang aku omongin nggak sih?" Bella mendengkus. "Nggak bisa, kan?" "Aku udah punya calon," sahut Anya kemudian. "Mana? Kenalin sama aku sekarang juga!" tantang Bella sambil berkacak pinggang. Anya tak berkutik. Sepertinya dia salah bicara. Sekarang apa yang harus dia lakukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN