40 Bertemu di Mall

1423 Kata
Anya bergerak malas di balik selimut tebalnya. Weekend yang ditunggu-tunggu ternyata juga seperti neraka. Pagi-pagi Tante Shinta sudah mengetuk kamarnya. Dengan paksa merenggut Anya dari mimpi indah dan mengempaskannya kembali ke dunia nyata. Tante Shinta memintanya menemani belanja. Padahal Anya sudah memasang mode hemat sehemat hematnya. Namun, itu tidak berlaku untuk Tante Shinta. Lingkaran arisan sosialitanya tidak menyurutkan keborosan Tante Shinta. Berdalih mengikuti trend agar tidak dipandang sebelah mata, justru menjadi beban jangka panjang untuk Anya. Masih bergumul dengan guling di balik selimut, Anya menyambar ponsel di atas nakas. Memeriksa notifikasi media sosial dan aplikasi pesan. Senyumnya mengembang saat menemukan 1 postingan tentang review Douillet Resto di i********: dengan 72 komentar dalam 1 malam. Ada yang kepo dengan suasana restoran, ada yang minta rekomendasi makanan. Adapula yang terjaring dengan sekte malas membaca. Sudah jelas nama restoran dan alamat dicantumkam di caption, tapi tetap saja ada beberapa yang kembali menanyakannya. Anya mengubah posisi menjadi duduk. Senyumnya seketika surut saat mendapati unggahan video beberapa waktu lalu. Cuplikan demo masak di Douillet Resto yang menampilkan momen menggelikan dalam hidupnya. Anya sempat berpikir, Bima kesurupan jin penunggu pohon mangga belakang resto saat dia mau menyuapi Anya kala itu. Tanpa pikir panjang, Anya mundur dua langkah dengan cepat sambil melongo. Tentu, hal itu membuat para pengunjung heran dan menanyakan kebenaran akan dirinya sebagai calon istri Bima. Meski sempat tak sadar beberapa menit, jiwa drama Anya kembali. Dia tersenyum sungkan kepada para tamu undangan. Malu pada kamera, dijadikan dalih utama. Bima juga memerankan peran dengan apik. Mengalihkan topik pembicaraan dengan cerita lucu pertemuan pertamanya dengan Anya meski sekadar karangan. Anya menggeleng kuat-kuat. Dia bergegas menyambar handuk lalu ke kamar mandi. Dia yakin, menyelupkan kepala ke air bisa melarutkan ingatannya. *** Waktu Indonesia berbelanja tiba. Dengan menggebu, Tante Shinta menyeret Anya masuk ke mobilnya. “Kamu yang nyetir, ya!” Anya mencebik. “Jangan boros-boros, ya, Tan. Inget. Keuangan kita belum stabil.” Anya menyalakan mesin mobil. Tante Shinta tidak merespons peringatan Anya sama sekali. Dia malah sibuk dengan ponselnya sambil tertawa garing. Satu setengah jam berlalu. Mobil memasuki pelataran mal. Entah apa yang merasuki Tante Shinta sore ini. Tumben sekali dia memilih mal yang jauh dari rumah dan nyaris jarang Anya kunjungi. Tante Shinta terlihat seperti menemukan surga dalam dunia. Kaki paruh bayanya masih lincah berpindah dari satu toko ke toko lainnya. Mencoba berbagai macam sandal dan sepatu meski tidak membeli, melihat-lihat berbagai macam desain pakaian walau hanya basa-basi. Menjajal setiap jengkal dari lantai satu, dua, tiga kembali ke lantai satu, lalu tancap gas menuju lantai tiga lagi. Anya lelah! “Sebenernya Tante mau cari apa, sih? Sudah 3 kali loh kita masuk ke sini!” rengek Anya. “Nggak capek?” Tante Shinta menggeleng. “Ya nggak dong. Kamu tuh, masih muda, harusnya lebih fit dari Tante yang udah setengah abad. Makanya, kamu harus banyak-banyak olah raga! Jangan jadi jompo sebelum waktunya. Ya kayak gini, nih. Diajak muter-muter mall aja udah ngeluh. Capeklah. Pegellah. Kaki sakitlah! Manja! Anya mencebik. Pertanyaannya hanya dua kata, tapi Tante Shinta menjawabnya dengan satu alinea. “Buset deh! Panjang bener jawabannya. Udah kayak jawaban soal essay Bahasa Indonesia.” Anya bermonolog di belakang Tante Shinta. Dia memilih duduk di bangku kosong dekat cermin. Merapikan rambut yang sudah lembap. Dia merogoh karet gelang dalam tasnya, mengikat rambut sambil bercermin sekilas. “Ehem!” Satu dehaman membuat Anya mendongak. Masih dengan kedua tangan memegangi rambut yang belum sempurna terikat, Anya berseru, “Loh, kok! Anya bengong. Di balik masker yang dia kenakan, mulutnya tak bisa mengatup untuk beberapa saat. Sampai Bima menurunkan maskernya sebentar untuk menyapa. “Anya,” ucapnya. Lalu bergegas mengenakan masker kembali. “Eh, ada Nak Bima ganteng di sini. Duh, kebetulan sekali, ya. Ketemu di sini?” ucap Tante Shinta cengengesan. Anya mengangkat sudut bibirnya. Tante Shinta jelas tak pandai berakting. Raut wajah Bima yang kebingungan, memperkuat keyakinan Anya, bahwa tantenya sengaja mengajak Bima bertemu. Cerita lama! “Apa kabar, Tante,” tanya Bima basa-basi. “Baik-baik. Selalu baik. Apalagi kalau ketemu calon mantu.” Tanpa malu, Tante Shinta mengait lengan kiri Bima. “Cuih! Calon mantu dari Hongkong!” ejek Anya tak terima. Terlihat jelas reaksi Bima saat ini. Raut wajah tak nyaman mendominasi. “Ayo, ayo. Kita makan. Daritadi Anya sudah ngajak Tante makan, tapi karena keasyikan belanja Tante sampai lupa.” Tante Shinta mengangkat kedua alisnya saat menatap Anya. “Nggak kok! Anya nggak ada bilang lapar, Tan. Kita pulang aja, deh. Makan di rumah aja. Ngirit!” tolak Anya. Tante Shinta terlihat tidak senang. Sudut bibirnya bergerak-gerak diiringi helaan napas berat tanda kesal. Tidak kehabisan cara, Tante Shinta berkata, “Ya ampun! Tante sampai lupa! Tadi temen Tante kasih kabar, nunggu di butik lantai 1. Kamu makan sendiri aja ya, Nya. Nak Bima bisa temanin Anya makan ‘kan? Kasihan dari tadi dia belum ada makan, karena temanin Tante muter-muter,” rengek Tante Shinta masih bergelayut di lengan Bima. Bima mencoba melepaskan lengannya dari Tante Shinta. Lalu menyelinapkan kedua telapak tangan pada saku celana. “Iya. Nanti saya temani kalau Anya nggak keberatan.” “Pul—“ “Ya nggak keberatan dong. Iya, ‘kan, Nya? Pasti Anya senang.” Anya bungkam. Kalimat tolakannya disanggah dengan cepat. Bibirnya mengatup lagi. Sedangkan caci maki sudah dia layangkan dalam hati. Dengan terpaksa, dia berkata, “Iya.” Lalu memberengut kembali. Tante Shinta bergegas pergi. Disusul Anya dengan sedikit berlari. “Jalan pelan-pelan aja, Nya. Kita mau makan apa?” “Saya nggak laper, Pak,” jawab Anya tanpa basa-basi. “Lagian Bapak ngapain sih ada di sini? Pasti Tante yang nyuruh datang, ‘kan?” tuduh Anya. Bima menggeleng. “Nggak. Saya mau beli bahan makanan. Pas lewat, malah ngeliat kamu masuk butik.” “Ya kenapa harus nyapa? Bisa ‘kan kalau Bapak lewat aja!” Langkah Bima terhenti. Dia menunduk beberapa detik sebelum menatap Anya kembali. “Maaf, kalau sudah buat kamu nggak nyaman.” Anya bersedekap lalu melangkah duluan. Ingatan tentang acara live cooking menggelinjang kembali di pikiran. Anya bergidik, lalu menepuk-nepuk kepalanya sendiri. Sementara itu, Bima mengikuti langkah Anya dari belakang. Bak penguntit, dia sangat memperhitungkan jarak karena hal konyol yang dia lakukan juga terus terngiang dalam ingatan. Bima memperhatikan Anya yang sedang mengangkat telepon. Senyum gadis itu sepenuhnya surut. Jelas terlihat, Anya sedang kesal. Bima mendekat saat Anya buru-buru menutup telepon. “Kenapa?” Anya menggeleng. “Tante Shinta. Pulang duluan! Diajak temennya pergi katanya.” Dalam hati, Bima mengumpat. Padahal, sudah jelas terbaca skenario drama hari ini. Namun, tetap saja Bima ikut geleng kepala. Mulai kemarin sore, pergi ke supermarket memang sudah jadi rencana. Namun, beberapa saat lalu, Tante Shinta menghubunginya. Berbohong tentang sakit kepala tiba-tiba dan tidak ada siapa-siapa. Setelah menerima pesan nama butik tempat Tante Shinta menunggu, Bima segera menghampiri. Namun, siapa sangka dia malah mendapati Anya yang letih sedangkan Tante Shinta sibuk mencoba pakaian sana-sini. Bima mengembuskan napas berat. “Pulang sama saya aja,” tawarnya. “Nggak perlu. Saya naik taksi aja, Pak. Lagian Pak Bima kan mau belanja.” “Kalau gitu ....” Bima ragu-ragu menyelesaikan kalimatnya. Setelah mengulum bibir, dia melanjutkan, “Temani saya belanja untuk isi kulkas, mau? Nanti saya traktir es krim dan camilan favorit kamu.” Cuih! Apakah harga Anya hanya sebatas es krim dan camilan? Namun, jika dipikir-pikir daripada harus membuang ongkos pulang, lebih baik dia menerima tawaran Bima. Jarak mal dari rumah yang jauh pasti cukup memelaratkan kantong Anya. “Ya udah, Bapak mau beli apa?” Kalimat yang harusnya tidak Anya ucapkan. Mereka terlihat seperti pasangan pengantin baru yang mendorong troli belanja bersamaan. Bima dengan teliti membaca tanggal kadaluarsa sebelum memutuskan membeli sedangkan Anya dengan ringan tangan mengambil setiap camilan favorit yang ada dalam jangkauan. Memasukkannya ke dalam troli belanja tanpa permisi. Kapan lagi bisa dapat camilan gratis ditambah tumpangan pulang dengan selamat? Momen langka yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Setelah puas, dua kantong belanja besar terisi penuh. Camilan Anya mendominasi. Sedangkan belanjaan Bima bisa dihitung dengan jari. Anya mendahului Bima menuruni eskalator tanpa menoleh sedikitpun. Anggap saja, ini hukuman kecil tentang sikap Bima tempo lalu. Merampok laki-laki itu tidak akan membuatnya langsung bangkrut, bukan? Toh, Anya hanya membeli camilan, bukan berlian. Keduanya melangkah dalam hening. Sampai ketika ada sesuatu yang memikat atensi Anya. Deretan poster LED film yang sedang tayang di bioskop. Anya menelusurinya dengan perlahan. Dibacanya setiap judul serta pemeran. Langkahnya terhenti pada satu poster film komedi romantis berbalut misteri. Tanpa menghiraukan panggilan Bima, Anya masih menatapnya dengan mulut yang komat kamit tanpa suara. “Ayo kita nonton.” Senyum Bima mengembang saat Anya menoleh ke arahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN