41.1 Nonton Berdua di Bioskop

1257 Kata
Anya menatap terkejut Bima. Laki-laki itu mengajaknya nonton bersama. Inikah yang dinamakan kencan dadakan? Degup jantung Anya rasanya sampai terdengar ke telinganya sendiri. "Mau nonton apa?" tanya Bima santai membuyarkan keterkejutan Anya. Anya mengerjap. Tangannya mengetuk pelan pelipis dan merutuk diri karena berpikir yang bukan-bukan. Mana ada ini acara kencan. Lagian dia tidak akan mau kalau diajak kencan sama om-om gatel ini. Anya mengalihkan tatapan dari Bima dan mengamati kerumunan orang di food corner Bioskop. Bima berjalan masuk sehingga dia tidak punya pilihan selain mengikutinya. Aroma karamel dari pop corn yang dipanggang menguar di udara. "Mau nonton apa?" Anya malah balik bertanya. Tatapan Bima tampak menilai ke layar yang menampilkan deretan film yang sedang tayang. Tanpa menunggu waktu lama, kepalanya sudah menggeleng bingung. "Ada yang mau ditonton?" Tangan Bima menggaruk tengkuknya. Jika Anya juga bingung, dia akan meminta rekomendasi dari petugas tiket. Anya menggigit bibir sebelum menjawab. "Judul yang itu aja," tunjuknya ke salah satu cover film di layar yang dari tadi diamatinya. "Oke." Bima langsung ke tempat pembelian tiket, sementara Anya tetap berdiri . Setelah selesai membeli tiket, dia menghampiri Anya yang duduk di sofa tunggu dengan barang belanjaan mereka. "Ini." Bima memberikan tiketnya kepada Anya. Mata Anya memelotot ketika melihat tiket mereka. Dia mendongak kepada Bima. "Kita ... maksudnya Pak Bima pesan urutan bangku VIP untuk pasangan?" "Kamu keberatan?" balas Bima ringan. "Hanya itu yang tersedia supaya nggak duduk berjauhan." Mulut Anya terbuka. "Terus ... jamnya ...." Mereka dapat jadwal tayang paling akhir. Bima sungguh tidak bisa memesan tiket. Ya ampun, dia baru ingat kalau si Kaleng Biskuit ini belum pernah ke bioskop. Rasanya ingin menepuk dahi karena membiarkannya begitu saja. Anya mengerjap dan menatap laki-laki itu dengan alis terangkat samar. Bertanya-tanya apakah dia orang pertama yang datang ke Bioskop bersama Bima. Helaan napas kecil berembus dari bibirnya. "Kita punya waktu untuk makan malam dulu. Kalau kamu lapar, di bawah ada ...." Bima menangkap eksperesi tidak senang Anya. "Atau kalau mau pulang aja --" "Eh, nggak kok." Anya berdiri. "Sayang udah dipesan tiketnya, cuman nunggu sejam lagi kan?" Dia meraih kantong belanjaan. "Kita cari camilan aja di bawah, ada croffles yang bisa pakai banyak topping. Bapak mau coba?" Anya menggigit bibir karena meracau sendiri. Bima tersenyum dan mengangguk. Dia mengambil barang bawaan mereka dan turun satu lantai untuk singgah di salah satu stand camilan. Setelah memesan Bima pergi sebentar untuk menyimpan barang bawaan mereka ke mobil. Anya duduk di deretan bangku dengan tema taman sembari menikmati potongan croffles yang lembut buttery yang diberi saus biscoff. Rasanya dia bisa menghabiskan tiga potong lagi, padahal sebelumnya perutnya masih terasa penuh. Sesekali kepalanya menoleh mencari keberadaan Bima, ternyata laki-laki itu pergi lebih dari sepuluh menit. Mungkin mobilnya terpakir agak jauh. Jadi suasana canggung bisa terhindarkan. Semoga Bima kembali tepat saat film akan dimulai, supaya mereka tidak perlu ngobrol. Masih teringat jelas saat event demo masak di restonya kemarin, pembawa acara meminta mereka saling menyuapi makanan. Tangan Anya menepuk-nepuk pipinya karena malu. "Kenapa?" Suara bariton itu membuat Anya terkesiap kaget. Kepalanya langsung menoleh dan berhadapan dengan wajah Bima yang mengamatinya lekat-lekat. "Kedinginan?" Alis Bima terangkat bertanya, lalu mengerut. "Tapi pipi kamu semerah tomat." Sebelah sudut bibir Bima tertarik. "Lagi mikir yang aneh-aneh ya?" Mulut Anya ternganga. "Ih, enggak, mana ada?" Cepat-cepat Anya mengusap-usap pipinya. "Pak Bima yang jangan mikir aneh-aneh." "Ini bukan kencan, ganti waktu yang batal waktu itu." Bima mengambil crofflesnya dan menggigit dalam potongan besar, kepalanya mengangguk saat mengunyah camilannya. Rasanya enak. Dia menoleh kepada Anya yang menatapnya dengan cemberut. "Mau?" Bima menyodorkan croffles sisa di tangannya kepada gadis itu dan langsung tertawa karena sudah menebak ekspresi Anya yang langsung sebal dan menolak. "Ogah!" Anya bergidik dan berpaling. Rasa hangat kembali menjalar ke pipinya. Dia menggeser duduknya menjauh dari Bima. Merutuk dalam hati kenapa mau-maunya nonton bioskop sama om-om genit bertopeng kaleng biskuit. "Maaf," kata-kata halus itu membuat Anya menoleh kepada Bima lagi. "Maaf bercandaan saya mungkin keterlaluan, maaf juga untuk yang waktu itu." Bima mengubah posisi duduknya menghadap Anya. "Waktu demo live cooking itu. Kamu dibuat malu karena harus saling suapin." Anya menunduk, lalu menatap mata Bima. Ketulusan itu sampai ke hatinya, rupanya kejadian itu masih dipikirkan laki-laki itu, sama seperti dirinya. "Itu cuman bikin kaget pas MC bilang begitu." Senyum terulas di bibir Anya. "Saya mau bilang makasih buat Pak Bima yang udah bantuin sampai acaranya lancar. Resto kita banyak dapat feedback positif." Bima ikut tersenyum. Senyum puas dan bangga. "Kalian yang kerja keras, itu hasil yang setimpal." Dia menghabiskan sisa camilannya. "Sudah ada karyawan untuk di bar untuk di Douillet Resto, Hikam udah interview. Kamu bisa jadwalkan kapan dia harus test produk." Anya mengerjap, rasanya aneh membiarkan Bima sampai mengurusi karyawannya, tetapi restonya sudah bekerjasama. Anya mengangguk, merasa semua yang dilakukan laki-laki itu untuk restorannya selalu menjadi hasil yang baik. "Makasih. Maaf juga." Alis Bima terangkat. "Saya lakuin itu untuk dapat profit lebih banyak, jadi bukan sesuatu yang merepo---" "Bukan," Anya menyela. "Maaf gara-gara Tante saya jadi Pak Bima mesti ke sini dan habisin waktu luangnya yang super dikit sama saya." Sejenak Bima memperhatikan Anya sebelum tawa ringannya kembali terdengar. "Kadang-kadang saya butuh selingan. Ini juga pertama kali bisa nonton bioskop ... sama kamu." Dia melihat arlojinya. "Ini udah waktunya kan?" Anya ikut melihat jam di layar ponselnya. "Oh iya, nggak kerasa." *** Mereka kembali ke Bioskop. Kejadian tak terduga yang cukup memalukan terjadi di depan pintu studio. Tiket yang dibeli Bima tidak tahu disimpan di mana, laki-laki itu bilang sudah beli tiketnya dan bisa cek pembelian. Namanya tiket bioskop jelas tidak ada siapa nama pembeli atau booking. Anya sampai menepuk jidatnya. Sudah setengah panik juga karena film sudah akan dimulai, dan jika tiketnya tidak ketemu mereka menunggu satu jam secara sia-sia. Beruntung ternyata Bima menyimpan di dompet. "Dasar Om-om katro!" Ledek Anya sembari masuk ke studio. Si pemeriksa tiket sampai senyum-senyum sendiri. Mereka masuk paling akhir karena kasus lupa simpan tiket ini. Baru kali ini juga Anya mendengar Bima mengeluh dengan masalah tiket yang jika hilang, merugikan si pembeli. Tidak ada keamanan dan jaminan katanya. Ya ampun! Selama penayangan film, Anya hanya fokus pada jalan cerita. Tertawa sesekali saat adegan-adegan lucu muncul dan sesekali menyentuh tangan Bima saat ada adegan menegangkan datang tiba-tiba. Secara keseluruhan Anya menikmati film romantis komedi dengan sedikit misteri ini, sementara layar lebar raksasa dengan suara yang kelewat keras bagi Bima terlalu banyak. Bima keluar ruangan sebentar menjauhi kebisingan, lalu kembali dengan mambawa pop corn dan cup minuman dingin. Setidaknya dengan ini dia tidak perlu menatap layar lama-lama. Sebelum masuk ke studio, Bima mengecek pesan masuk di ponselnya dan membalas beberapa pesan penting. Saat duduk kembali di kursinya, dengan senang Anya menerima camilan baru. Bioskop tidak akan menjadi tempat yang disukainya, putus Bima. Suara bising itu mengganggu dan ruangan gelap dengan layar lebar di depannya membuat pusing. Bima berhenti menatap layar sudah dari beberapa menit setelah film diputar, diam-diam mencuri pandang kepada Anya yang beberapa kali senyum-senyum sendiri. Jajaran kursi VIP pasangan ini sepertinya sama sekali tidak mengganggu gadis itu menikmati film. Film sudah berakhir, sepanjang perjalanan ke parkiran mobil, Anya terus berbicara tentang isi film. Untung saja Bima tidak ditanya tentang pendapatnya, karena meski di dalam ikut menonton, dia tidak fokus dan memilih membalas semua pesan masuk di ponselnya. Namun, Bima senang karena Anya tidak kecewa dan menikmatinya. Toko-toko di mall sudah pada tutup karena mereka nonton di jam tayang terakhir. Tangga eskalator dan lift juga sudah dimatikan. Beberapa lorong sudah dimatikan, membuat Anya mendekat kepada Bima dengan gerakan halus. Mencoba tidak menunjukkan ketakutannya pada tempat gelap. Berbeda dengan bioskop yang ramai meski lampu dimatikan saat film diputar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN