Keheningan terjadi begitu mereka duduk di dalam mobil seolah topik percakapan sudah habis. Bima berdeham, Anya menoleh, mereka saling tatap, lalu mengalihkan pandangan ke depan. Entah mengapa suasana jadi canggung. Bima menyalakan mesin mobil, sementara Anya sibuk dengan sabuk pengamannya.
Suara radio yang dinyalakan dengan volume rendah menjadi pemecah keheningan. Karena musiknya garing, Anya izin mengganti channel, mengganti-ganti siaran sampai ada lagu barat yang sedang diputar.
Anya bingung bagaimana memulai percakapan di dalam mobil, karena dia sudah banyak bicara sebelumnya. Belum lagi Bima yang tiba-tiba berubah jadi pendiam. Mau bilang makasih, tapi sudah banyak kata itu terlontar hari ini. Akhirnya Anya diam saja.
Jalanan sudah mulai sepi. Mobil mereka berbelok dan suasana lebih sepi lagi, jika kaca mobil dibuka, maka hanya akan terdengar deru angin dan mesin mobil mereka saja. Pohon-pohon yang berjajar di pinggir jalan seolah sedang menatap mobil mereka dan bergosip karena berkendara malam-malam sendiri.
Anehnya suasana hening ini terasa janggal di tempat seperti kota Jakarta ini. Anya menoleh ke belakang, tidak ada mobil lain yang mengikuti mereka. Benar-benar hanya mereka sendiri yang melaju. Lampu kota di depan beberapa padam. Membuatnya mirip berjalan melewati hutan.
Anya meneguk ludah dan menoleh kepada Bima yang berwajah keras. "Pak?" Bima tidak menggubris. Aneh, tentu ada yang aneh. Kejanggalan merebak hingga membuat bulu kuduk Anya merinding. Dari kaca spion ada pantulan cahaya motor, tetapi kehadiran pengendara lain tidak membuatnya lega. "Om?"
"Berpegangan," kata Bima dingin.
Anya terkesiap ketika mobil Bima tiba-tiba menambah kecepatan. Tangannya refleks meraih leher jok dan bertanya panik, "Apa yang ...." Anya berteriak begitu mobil mereka melewati satu belokan dan muncul pengendara motor lain dengan linggis dan memukul kaca bagian belakang.
Suara gerung dua sepeda motor terdengar begitu sangar karena berlomba mengejar mereka.
"Begal." Bima mengetatkan rahang, memaki sekali ketika pukulan kedua mengenai pintu mobilnya dan Anya menjerit lagi. "Seharusnya jalan tadi di perboden, mereka sengaja membuka dan bikin jebakan."
Dua motor masing-masing berboncengan terus mengejar mereka dengan senjata panjang. Jauh di depan mereka ada pertigaan. Bima tidak bisa menebak harus ke arah mana, karena kemungkinan ketiganya dijadikan jalan buntu atau ada gerombolan lain yang sudah menunggu. Tidak ada jalan aman selain kembali itu pun dengan kemungkinan lolos yang kecil jika tidak ada jebakan lain.
"Anya nunduk." Mobil Bima memepet satu motor sampai setir motor menggesek sisi mobilnya, orang bertopeng itu memukul keras kaca mobil dan spion. Spion mobilnya patah dan jatuh ke jalan, Bima menyerempet motor dan semakin mendesak ke sisi jalan hingga si pengendara berhenti dibanding terjatuh.
Anya memejamkan mata erat dan melindungi kepalanya dengan kedua tangan saat menunduk dalam. Jeritan demi jeritan terus keluar dari mulutnya. Adrenalin ini terlalu dahsyat untuk jantungnya.
Gigi Anya gemeletuk saling beradu saking gemetar seluruh tubuhnya. Anya terisak terengah dengan kepala yang mulai terasa pening.
"Bernapas, Anya," ucap Bima tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan. "Kita akan lolos."
Napas Anya terengah keras. Sulit sekali memercayai kata-kata Bima di situasi mereka sekarang. Namun, dia berhasil berkata, "Ya." Lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Kamu bisa ambil uang di tas tangan saya di belakang? Ambil semuanya."
Anya menggeleng sembari terisak. Dia tidak yakin, karena menjawab perkataan Bima saja tidak bisa.
"Kita coba buat mereka berhenti dengan lempar uang ke jalan." Bima menyalakan lampu tembak dan membunyikan klakson. "Kamu bisa?" Bima menoleh sekali dan tampak sangat khawatir.
Dengan tangan gemetar yang terasa kaku, Anya mengulurkan tangan ke jok belakang dan meraih tas tangan Bima. Anya kembali ke posisi duduknya dan menampar pipinya sendiri agar badannya tidak gemetar hebat.
"Anya?" Bima terkejut dengan tindakan Anya. "Kamu ngapain?"
"Lebih baik," ucap Anya dengan bibir gemetar sementara tangannya mengeluarkan uang yang ada di dalam tas tangan Bima. Ada tiga juta cash dengan pecahan seratus dan lima puluh ribu di tangannya.
"Buang pembatasnya. Uangnya akan dibiarkan berhamburan."
Anya menurut melepas kertas pembatas dan membuka kaca mobil sedikit. Tangannya masih mencengkeram uang yang disimpan di ambang kaca. Sebentar lagi mereka sampai kepertigaan jalan, mobil Bima melaju ke sisi kiri, sementara si pengejar sedikit ketinggalan jarak dari mobil mereka.
"Pegangan kuat," perintah Bima, dan memutar setir sampai mobil mereka berbalik arah. Decitan ban terdengar keras dan dalam hitungan beberapa detik mobil mereka melaju seperti angin. Lampu depan yang dibuat menyilaukan membuat si begal kehilangan fokus, tetapi entakan keras dari salah satunya berhasil memecahkan kaca belakang.
Anya berteriak keras. Rasa takut menikam jantungnya begitu kejam hingga membuatnya kesulitan bernapas.
"Lepas sekarang."
Jemari Anya melepaskan uang yang digenggamnya erat membuat lembaran itu bertebaran di jalan. Mereka sudah melewati dua motor yang mengikuti. Namun, sialnya para begal itu tetap mengejar. Suara deru kendaraan, bunyi keras klakson yang beberapa kali ditekan Bima sebagai peringatan.
Akhirnya mobil mereka dapat melaju jauh dan tak terkejar oleh kawanan begal itu. Mereka lolos. Masih dengan melaju cepat, Bima langsung pergi ke kantor polisi. Mobilnya berhenti tepat di depan pintu masuk.
Bima mengempaskan diri ke kursi dan baru bisa bernapas. Napasnya yang tersengal saling bekejaran dengan tarikan cepat. Begitu pun Anya yang masih berusaha mengatur napasnya. Pelan-pelan perasaa lega membanjiri mereka. Setelah beberapa saat dalam upaya menenangkan diri dan mencoba memahami situasi yang baru saja mereka alami, tangan Bima membungkus tangan Anya, menggenggamnya erat.
"Are you oke?"
Perasaannya masih terpecah antara ketakutan dan penuh syukur karena mereka selamat. Dia masih terlalu syok.
"Kita aman," ucap Bima beberapa kali. Perlahan Anya merespons dengan mengangguk. Bima keluar dari mobil ketika satu orang petugas menghampiri mobil mereka.
Anya menyandar kepala ke jok mobil dan memejamkan mata. Bima terdengar menjelaskan kejadian yang baru saja mereka alami kepada petugas itu. Lalu angin yang dingin menerpa kulitnya yang mati rasa saat pintu mobil terbuka. Anya hanya bisa mengangguk sekali saat petugas menanyai kondisinya. Bima muncul di sisinya dan membantunya turun. Lengan atasnya masih dicengkeram kuat oleh Bima untuk menahan tubuh Anya yang lemas.
"Saya akan antar kamu pulang dulu ditemani polisi." Mata Bima menatap lekat wajah pucat Anya. "Semua sudah aman. Kita selamat." Tangan Bima merengkuh bahu Anya dan memeluk gadis itu erat. "Kamu bisa menangis sekarang," gumam Bima di telinga Anya.
Tanpa sadar Anya mencengkeram punggung Bima dan mengubur dalam wajahnya di bahu laki-laki itu. Suara tangisnya perlahan pecah untuk meluapkan emosi tak terkendalinya.