42 Laporan

1719 Kata
Mendengar suara tangis yang tersedu lirih, dibarengi derasnya air mata yang membuat kemejanya basah, yang kemudian hangatnya air mata terasa samar di dadanya, membuat hati Bima tergetar. Rasa bersalah membuncah di dalam dirinya. Ada kelemahan yang kemudian diakui Bima sebagai satu-satunya kesalahan yang bisa Bima arahkan. Sejak awal, dia sudah merasakan kalau ada yang salah dengan jalanan yang dia lalui. Instingnya meminta Bima mencari jalan lain. Tetapi, rasa percaya dirinya, mengabaikan semua pertanda. Mengakibatkan bencana, tidak hanya tertuju padanya, tetapi juga pada Anya. Bima menyesal untuk itu. Hatinya geram mengingat bahwa dalam tindakan brutal ini, ada Anya yang dilibatkan. Rahangnya merapat, tubuhnya menegang, tatapannya jauh, dan kepalanya berpikir keras, tentang siapa yang berniat mencelakai dirinya. Anya yang tangisnya mulai mereda, bisa merasakan bagaimana tubuh Bima yang dia peluk, menjadi kaku. Dengan kepala yang masih menempel di d**a bidang Bima, Anya mendongak. Dia melihat dagu Bima yang sedikit oval. Dia juga memperhatikan wajah Bima yang terlihat serius dengan tatapan lurus ke depan yang Anya yakini tak ada yang serius Bima lihat. Lelaki yang masih dipeluknya ini, yang masih memberikan kenyamanan ini, sedang berpikir keras atau mungkin sedang memendam amarah. "Pak...." Aneh. Anya tiba-tiba merasa aneh dengan penyapaan Pak atau Bapak untuk Bima di situasi seperti ini. Tapi, memanggil dengan sebutan Om pun akan terdengar jauh lebih aneh. Sekali lagi Anya mendongak karena tidak ada respon jawaban dari Bima. Terkejutlah Anya, karena ternyata Bima sedang menunduk. Kedua bola matanya langsung bersirobok dengan kelamnya kedua mata Bima. Seketika, Anya merasa dirinya terkunci di dalam mata Bima. Tidak bisa berkutik. Bima sendiri menjadi terenyuh melihat sisa air mata yang masih mengambang di kedua bola mata Anya. Terlihat seperti kedua mata Anya dilindungi kaca yang ketika terkena cahaya, memberikan kilauan kelap-kelip. Begitu murni seperti karya mozaik yang mahal kristal. Tangan kiri Bima yang tadi merangkul pundak Anya, berpindah ke pipi Anya yang lembap bekas aliran air mata. Dengan ibu jarinya, dia mengusap lembut pipi yang sedikit bulat itu. Mencoba mengirimkan kehangatan untuk yang diam-diam membuatnya tersayang. Kepasrahan Anya, membuat Bima merasa semakin bersalah atas kejadian malam ini. Dia ingin memeluk gadis itu sekali lagi, meredakan sisa getaran ketakutan yang masih meliputinya. Jika Anya akan marah kepadanya, dia siap menanggungnya tanpa membantah. Satu tindakan gegabah saja bisa membuat mereka celaka malam ini. "Pak. " Suara dari seorang polisi, mengejutkan Bima dan Anya bersamaan. Polisi tersebut tadinya berdiri tidak terlalu dekat dari keduanya. Dia bersama rekannya menunggu Bima bicara dulu dengan Anya. Namun, melihat kedekatan keduanya yang masih dalam keadaan syok tersendiri, yang kemudian membuatnya dirinya dan rekannya jadi ikut salah tingkah, memutuskan untuk menegur halus. Anya langsung melepaskan diri dari Bima. Dia langsung memutar tubuhnya, memunggungi lelaki yang sudah memberikannya kenyamanan. Untuk sementara, perasaan traumatisnya sudah menguap, berganti dengan perasaan malu. Dia melipat bibirnya ke dalam, sembari wajahnya mengerut, mencoba mengusir rasa malu atas sikapnya yang melemah di pelukan Bima. Bima sendiri menarik napas dalam-dalam, mencoba menetralisir perasaannya, menyembunyikan perasaan malunya dari tatapan si polisi, juga dari Anya yang sudah memalingkan wajah. "Iya, Pak?" tanya Bima sembari menghampiri si polisi. Tangannya refleks menggenggam jemari Anya. Keduanya pun mendekati si polisi. "Silakan langsung membuat laporannya, Pak. Agar tidak lama diproses." "Oh, baik, Pak. Ini..., nggg..., pasangan saya bisa dian...." Bima tak melanjutkan kata-katanya, karena Anya menepuk lembut lengan Bima. "Saya nggak mau pulang sendiri," ujar Anya. "Kamu nggak sendiri. Bapak polisi ini nanti antar kamu pulang." "Saya nggak mau pulang dengan polisi. Saya nggak mau ada kehebohan di rumah nanti. Saya mau pulang sama Pak Bima aja." Untuk kalimat terakhir, Anya mengucapkannya lirih dan agak malu-malu. Sikap malu-malunya, menular pada Bima yang tersenyum tipis. Begitu juga si polisi, yang kemudian menduga kalau Bima dan Anya adalah pasangan baru. "Tapi, Pak, Bu..., Anda berdua tidak bisa pulang dulu. Melainkan bersama-sama membuat laporan." "Kamu nggak apa-apa?" tanya Bima khawatir jika Anya akan trauma lagi saat menceritakan ulang peristiwa yang dialami. "Saya tidak apa-apa. Asal kamu tidak jauh dari saya." *** Sepanjang pemeriksaan, Anya dan Bima tidak berjauhan. Bahkan Bima tak melepas pegangannya dari Anya dan Anya juga tak melepaskan jemarinya yang aman dalam genggaman Bima. Beruntungnya para petugas polisi yang mencatat setiap kronologis peristiwa kriminal yang dilaporkan, memahami keadaan psikologi Anya yang terguncang. Tak berapa lama, pengacara pribadi Bima datang, untuk mendampingi Bima dan Anya. Anya cukup heran melihat penampilan pengacara pribadi Bima yang cukup nyentrik, ditambah usianya yang sepertinya tidak beda jauh dari Bima. Melihat bagaimana Bima menyambut kedatangan pengacaranya juga kekraban saat bicara, Anya menduga kalau sebenarnya keduanya adalah juga teman. Santos, pengacara Bima, datang dengan sapaan menggelegar untuk Bima. Pakaian yang dikenakannya cukup berwarna. Kemeja warna bata, dasi warna jingga, jas kotak-kotak kecil perpaduan biru dan jingga, dan celana bahan warna biru gelap. Sebagai pelengkap adalah sepatu dengan warna yang sama dengan celananya. Benar-benar mencolok. Kehadiran Santos dikenali oleh banyak polisi. Dia memang banyak menangani kasus-kasus kriminalitas yang menyeret nama-nama pesohor, termasuk pengusaha. "Ini Anya." Bima mengenalkan Anya setelah bicara singkat dengan Santos perihal apa yang sudah terjadi. "Hai, Nona Manise so cantik bana. Pantas ini kawan bisa begini gelisah. Ternyata Nona mengalami hal tak mengenakkan. Yang sabar dan kuat, ya, Cantik." Santos menggenggam jemari Anya dengan kuat. Genggaman hangat yang akrab. Meski kulit Santos gelap dan perawakannya yang besar khas orang Timur, tetapi keramahannya, tak membuat Anya takut sama sekali. Justru dia senang berkenalan dengan seorang yang begitu santai, tetapi juga serius. "Sebentar, ya, Cantik. Kita urus ini dulu, baru kita berbincang-bincang." Anya mengangguk dan tak ambil pusing melihat gaya dan cara bicara Santos. Setelah beberapa jam dilalui untuk proses panjang pelaporan. Akhirnya ketiganya diperkenankan meninggalkan kantor polisi dan menunggu tinjauan lebih lanjut. Bima dan Santos masih membicarakan perihal yang terjadi. Sangat serius. Anya yang berjalan di sisi Bima, tak keberatan ketika dirinya diabaikan, karena Anya tak benar-benar diabaikan. Jemarinya masih ada dalam lindungan Bima. "Kamu sudah tahu kalau jalan itu ditutup, kenapa masih saja diterjang?" tanya Santos heran. "Saya kira pengembangan di jalan itu sudah rampung. Ditambah, jika melewati jalan itu, selain jalur yang jauh lebih cepat, juga jalan itu adalah jalan pangkas," jawab Bima. "Kamu nggak liat ada tanda perboden? Itu kan harusnya ada dan selalu ada di pembangunan jalan." Bima menggeleng. Setelah mengatakan itu, Bima langsung menyadari sesuatu. Dia dan Santos saling pandang. Masing-masing menyadari hal yang sama, sebuah kesengajaan. "Siapa menurutmu?" tanya Santos tanpa perlu menjelaskan apa yang ada di pikirannya. Dia yakin bahwa Bima memahami. "Ada apa?" tanya Anya yang merasa bahwa ada sesuatu di pikiran dua pria di dekatnya itu. "Masalahnya bukan siapa yang melakukan itu, melainkan siapa yang mereka incar sebenarnya. Saya atau Anya?" tanya Bima. Setelahnya Bima dan Santos sama-sama menatap ke arah Anya. Santos sedikit menyipitkan mata. Dia tak kenal dengan Anya. Melihat Anya untuk pertama kalinya, Santos langsung menduga, Anya bukanlah golongan para gadis dan wanita borjuis. Penampilanya tidak glamour, meskipun tetap cantik. Jika Anya bukan golongan atas, Santos mengira-ngira musuh yang bagaimana yang ingin mencelakai Anya. Berbeda jika incarannya adalah Bima. Sahabatnya itu memiliki sesuatu yang sifatnya materiil untuk dirampas. Seorang pengusaha, memiliki beberapa aset, tampan dan muda. Bima justru berpikir ini tidak ada kaitannya dengan materi. Dia menduga jika ini ada kaitannya dengan asmara. Dari sisinya, sudah sangat jelas, kosong. Dia tak sedang mendekati wanita lain, juga seingatnya, tak ada yang sedang menggodanya. Tapi tentang Anya, Bima tidak tahu banyak. Informasi yang dia dapat adalah, Anya belum memiliki kekasih. Bukan berarti sebelumnya Anya tidak punya kekasih. "Ada apa, sih, ini? Kenapa pada liatin saya kayak gitu? Risih, tau!" dumel Anya denga wajah tegang. Ini karena Anya merasa kalau dua pria itu memiliki pembicaraannya sendiri yang tak melibatkan dirinya sama sekali. Anya diabaikan dalam diskusi keduanya. Bahkan Anya mengira jika kedua pria itu berbicara dengan telepati. "Kamu punya mantan, Anya?" tanya Bima. "Eh, mantan?" Santos bingung kenapa larinya harus ke mantan Anya. Tapi kemudian ia menganalisa kemungkinan lain jika memang ini ada kaitannya dengan Anya. Jika bukan materi maka dipastikan ini perihal cinta. Hanya ada dua pilihan itu saja. "Apa urusannya dengan ini semua?" tanya Anya dengan nada tidak suka. Selain karena dirinya tidak tahu ke mana arah pembicaraan, Anya juga tidak suka jika kehidupan masa lalunya dikorek-korek. "Karena ada kemungkinan mantan kamu yang melakukan ini. Atau ...." "Atau apa?" tanya Anya tertuju pada Santos. "Atau ada seseorang yang kamu tolak. Intinya, adalah seorang yang sakit hati terhadapmu," jelas Santos. "Apa ini karena saya? Dari mana keyakinan kalian itu?" "Ini hanya dugaan Anya." Ganti Bima yang menjelaskan dengan pelan-pelan. Ia bisa merasakan kegusaran yang dirasakan Anya. "Kalau begitu dugaan ini pun bisa mengarah padamu, 'kan?" Pertanyaan kesal Anya pada Bima, diam-diam membuat Santos menyembunyikan kegeliannya. Tak menduga jika wanita di sebelah Bima adalah seorang yang cukup licik, mampu membalikkan situasi tanpa dia harus menjawab. Seorang yang pintar dan seimbang dengan Bima. Santos melayangkan pandangannya pada tangan Bima yang masih menggenggam jemari Anya. Cukup mengherankan, karena Bima yang dia kenal adalah seorang yang teramat dingin. Sangking dinginnya, banyak lelehan air mata dari mereka yang tertolak oleh Bima. "Kalian pikirkan sajalah berdua, sembari jalan pulang. Saya harus ke suatu tempat," ujar Santos sembari menepuk lengan Bima dengan akrab. "Mau ke mana?" "Pesta, Bro," jawab Santos sembari memamerkan deretan giginya yag rapi. "Tak ada pesta kita tak hidup. Ikut?" tawar Santos sembari mengedipkan sebelah mata terarah pada Anya. Seketika Bima menjadi posesif. Ditariknya tangan Anya agar tubuh Anya lebih rapat ke dekatnya. Untungnya Anya menurut meskipun bingung sendiri kenapa harus menurut. "Hahaha.... Tumben dijaga," ucap Santos masih dengan terkekeh. "Diam kamu. Mana kunci?" Santos langsung diam dengan dahi berkerut. Dia diam bukan karena disentak Bima, melainkan pertanyaanya akan kunci. "Kunci apa?" "Kunci mobil. Saya mau pulang." "Lho, mobilmu kan untuk sementara disita dulu untuk jadi barang bukti." "Mobilmu ada kucinya, 'kan," ucap Bima dengan sangat manis dan senyum liciknya. Santos hanya bisa mengerang. Dia ditodong di depan seorang wanita. Sebuah kelemahannya. Dia yang selalu ingin terlihat baik di depa wanita, menjadi terpaksa menyerahkan kunci mobilnya. Bima pun terkekeh dan menepuk pundak Santos dengan geli. "Saya ke pesta pakai apa?" tanya Santos lemah. "Pakai aplikasi taksi online. Oke, saya pulang dulu, ya. Kasihan Anya, nanti dia kelamaan di sini malah vertigo. Aura kantor polisi ini kurang baik. Selamat berpesta!" Bima menarik lembut tangan Anya agar mengikuti langkahnya. Bima sempat melambaikan tangan tanpa memutar tubuhnya. Sedangkan Anya, hanya bisa meringis geli, antara kasihan tetapi juga membiarkan karea dirinya yakin jika Santos pasti bisa ke pestanya dengan baik-baik saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN