43 Sebab Penolakan

1235 Kata
Anya menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Sejak peristiwa itu, sudah dua hari dia mengurung diri di kamar. Dia memejam mata. Merasakan semilir angin sore dari balkon kamar yang membelai wajahnya yang lembap karena air mata. Raut tanpa ekspresi yang sejak tadi melindungi dirinya kini tersibak, menampakkan jejak kerapuhan. Kini, mata Anya kembali basah. Kerinduannya meningkat. “Mama ... Papa .... Anya lelah,” bisiknya. Angin kembali berembus seakan membawa pesan Anya kepada kedua orang tuanya. Detik berikutnya, dia tersenyum. Namun, tidak bertahan lama. Suara pintu yang dibuka paksa dengan keras membuat detak jantungnya meningkat. Anya berbalik. Membuka pintu kaca pemisah balkon dan ruang tidurnya. “Tante ...,” bisiknya. Takut-takut Anya mendekat. “Nggak bisa begini! Kamu mau sampai kapan begini terus! Makanya, biar ada yang jagain kamu tuh, kamu harus cepat-cepat menikah! Sudah ada Bima di depan mata, kamu nunggu apa lagi, sih?” Kalimat panjang yang diteriakkan tante Shinta membuat kedua tangan Anya mengepal. “Tan! Tolong dong! Tolong ngertiin perasaan Anya sedikiiit aja. Kenapa sih yang ada di pikiran Tante itu cuma perjodohan perjodohan perjodohan terus! Kapan Tante bisa ngerti dan peduli sama perasaan Anya!” Anya lepas kendali. Sungguh, tidak adakah yang peduli dengan perasaannya sama sekali? Tante Shinta bersedekap. “Justru karena Tante peduli sama kamu, makanya Tante mau jodohin kamu sama Bima. Coba kamu pikir, kalau kemarin kamu nggak sama Bima, bakal jadi apa kamu sekarang? Untung ada Bima yang jagain kamu ‘kan?” Tante Shinta makin tak mau kalah. “Coba Tante pikir juga! Siapa yang nyuruh Anya pulang sama Pak Bima! Kalau aja Tante nggak ninggalin Anya, Anya pasti sudah pulang ke rumah!” balas Anya tak mau kalah. Tante Shinta mengubah posisi. Kini, dia berdiri tepat di hadapan Anya. “Kamu kok malah nyalahin Tante? Harusnya kamu bersyukur, kita ketemu Bima di mal. Coba aja kalau nggak ada Bima, terus kamu pulang sendirian. Mau jadi apa kamu?” “Anya belum pernah ngalamin kejadian begitu selama Anya naik bus atau taksi, Tan! Selama Anya pulang sendiri, semua baik-baik aja! Justru karena si Bima Bima itu, Anya hampir celaka!” “Cukup Anya!” Tante Shinta mengarahkan telempapnya ke pipi Anya. Nyaris saja. Namun, sigap terhenti. Wanita paruh baya itu menarik napas dalam-dalam. Sambil terengah, dia menurunkan kembali tangannya yang terhenti di udara. Anya geming. Matanya ditutup rapat-rapat. Menit berikutnya, dia terduduk di tempat tidur. Kedua kakinya seakan tidak mampu menahan beban. Tidak bisakah dia bahagia barang sejenak? Tidak bisakah dia menjalani hidup sesuai dengan kemauannya? Tidak bisakah Tante Shinta mengerti, dan membiarkan Anya memilih jalannya sendiri? Anya bukan anak kecil lagi yang hidupnya terkekang dalam kendali. Namun, dia juga tidak sedewasa itu untuk menjalani pernikahan. Apalagi jika dijodohkan. Tante Shinta sudah keluar kamar sejak Anya memutuskan duduk di lantai. Dia menggelamkan wajah di antara kedua lututnya. Meringkuk tanpa suara. Hanya tarikan napas berat yang terdengar. Pintu diketuk. Anya sigap menoleh. Tentu saja, itu bukan tantenya. Tante Shinta tidak mungkin selembut itu jika mengetuk pintu kamar Anya. Seringkali langsung menerobos masuk tanpa peringatan. Seperti tadi. Anya hanya diam, tanpa ada perlawanan. “Boleh saya masuk?” Anya mendesah lalu kembali meringkuk. Suara Bima membuatnya malas untuk menjawab. “Saya ke sini karena mau minta maaf, Nya. Semua memang salah saya.” Mata Bima berkaca-kaca di balik pintu kamar Anya yang belum sepenuhnya terbuka. Kedua tangannya keluar dari saku celana, lalu berjalan pelan ke arah Anya. Pintu menutup tanpa suara. “Kamu nggak perlu jawab apa-apa. Cukup dengarkan saya saja.” Anya menarik napas dalam-dalam. “Mendingan Bapak pulang aja deh!” titah Anya. Bima diam sesaat. Setelah beberapa kali tarikan napas, dia berkata, “Saya minta maaf, Nya. Saya sadar, saya yang sudah bawa kamu ke dalam bahaya.” Anya tersentak. Segera, dia menarik selimut di atas tempat tidur untuk menutupi seluruh tubuhnya. Bayangan ketakutan masih berlarian dalam pikirannya. Bagaimana kejar-kejaran itu terjadi. Klakson motor yang bersahutan bahkan masih terekam jelas di ingatan. “Saya juga minta maaf, karena saya juga nggak bisa menolak perjodohan ini. Masalahnya terlalu pelik untuk dijabarkan. Keputusan seakan sudah bulat dan nggak bisa saya tentang.” “Orang tua Pak Bima juga menginginkan perjodohan ini?” tanya Anya, matanya menatap Bima sinis. Bima hanya mengangguk. Anya menelengkan kepala lalu mendecih. “Saya aja belum pernah ketemu orang tua Pak Bima. Gimana saya bisa nikah sama Pak Bima? Gimana saya bisa jadi menantunya kalau saya aja belum pernah ketemu dengan orang tua Pak Bima.” Anya mengungkapkan alasan yang terdengar masuk akal. Bima terdiam, memperhatikan kondisi kamar Anya. Langit-langit gading dengan perabotan dominan merah muda tentu kontras dengan keadaan Anya sekarang. Tidak ada keceriaan dalam raut gadis itu seperti biasa. “Kita belum menikah, Anya. Jangan berpikir terlalu jauh dan membuat kondisi kamu makin buruk. Saya juga nggak ingin menikah dengan keadaan terpaksa seperti ini. Apalagi kalau itu memaksa kamu dan buat kamu nggak nyaman.” Bima melangkah pelan ke tepi tempat tidur Anya yang lain. Kesepuluh jarinya saling bertaut, dengan siku yang menumpu pada lutut. “Kalau gitu tolong bantu saya! Bicara sama tante Shinta biar perjodohan ini batal! Beban saya sudah terlalu banyak, Pak. Okelah Pak Bima sudah bantu urusan restoran saya. Makasih banyak untuk itu. Tapi untuk pernikahan saya belum bisa, Pak. Dan nggak akan pernah bisa!” Bima tersentak. Diremasnya kedua lutut kuat-kuat sebelum kembali berdiri dan berucap, “Tolong kasih saya satu alasan, kenapa kamu sangat benci dan nggak mau menikah dengan saya?” Keduanya terdiam sesaat. Hening menyerbak. Bahkan detak jam terdengar jelas di telinga. Anya mengetatkan dekapannya pada paha. “Saya masih muda, Pak. Masih banyak impian saya yang ingin saya capai. Masih banyak hal-hal baru yang belum saya coba. Tolong, Bapak ngertiin saya. Kedua orang tua saya meninggal di saat saya masih belasan tahun. Masa remaja saya bisa dibilang suram. Nggak berwarna. Yang saya kerjakan hanya belajar dan belajar. Mencoba bersikap dewasa walau usia masih belia. Mencoba mengerti keadaan di sekitar walau nggak ada satu pun orang yang ngertiin saya!” Air mata Anya terpecah. Susah payah dia menahan, tapi percuma. Sesak di dadanya seakan menerobos keluar. Menghancurkan pertahanannya. “Saya bahkan nggak punya teman selain Alden, Pak. Saya pikir, setelah lulus kuliah dengan nilai baik, saya bisa bebas. Ternyata saya salah. Justru setelah lulus kuliah, beban berat bertambah pada pundak saya. Harapan Om dan Tante, puluhan karyawan Douillet resto yang kini hanya tinggal belasan karena ketidakbecusan saya mengelola restoran. Ditambah lagi dengan perjodohan. Saya capek, Pak! Saya capek! Ini bukan masalah saya benci atau nggak sama Pak Bima. Saya cuma nggak kuat nanggung beban ini! Saya cuma pingin jalanin hari-hari dengan bebas. Seperti gadis lain yang seusia saya!” Tangisan Anya menyeruak. Kembali diremasnya rambut kuat-kuat. Wajahnya memerah setelah mengeluarkan keluh kesah yang selama ini dipendamnya. Anya mendecih. Lalu memukul lantai beberapa kali. Melampiaskan kekesalan karena tidak bisa melawan. Andai saja kedua orang tuanya masih ada, pasti hidup Anya akan baik-baik saja. Tidak seperti sekarang. Bima memijat kening, lalu berlutut di hadapan Anya. Sejenak ragu-ragu mengulur tangan saat melihat bahu gadis itu bergetar. Setelah beberapa kali tarikan napas yang berbuah keyakinan, direngkuhnya Anya dengan lembut. Merebahkan kepala gadis itu tepat di pundaknya. Walau sempat ada perlawanan. Namun, perlahan jemari Bima mengusap bahu Anya. Menepuknya beberapa kali. Menenangkannya dengan sepenuh hati. Mata Bima terpejam erat saat dagunya menyentuh puncak kepala Anya. Ada rasa yang dia sendiri tak mengerti wujudnya seperti apa. Apakah hanya Kekhawatiran? Kecemasan sesaat? Setitik kepedulian? Rasa kasihan? Ataukah kasih sayang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN