44 Paksaan Kedua

1349 Kata
"Kamu ada di mana? Kita harus ketemu." Kata-kata ibunyalah yang menyambut paginya menjadi begitu suram. Bima baru terbangun dengan kepala pening memikirkan kejadian semalam yang menurutnya musibah baru. Pertunangan jelas suatu musibah bagi Bima dan Anya. "Jam berapa?" tanya Bima dengan suara keras khas bangun tidur. "Sekarang. Buka pintu, ibu di depan apartemen kamu." Bima langsung terduduk di ranjang. Mematikan panggilan telepon ibunya dan mengerang sengsara. Ini pagi paling buruk untuknya. Menerima kunjungan ibunya pagi-pagi begini adalah sesuatu yang menguras tenaga tanpa perlu repot-repot olahraga, tetapi jelas efeknya buruk bagi kesehatan. Terpaksa menyeret kakinya keluar dari kamar saat bel terus berbunyi, menegaskan kehiran ibunya. Bima penasaran bagaimana jika dia lebih memilih keluar menyelinap dari jendela agar tidak berhadapan dengan ibunya. Ide buruk jika mencoba turun dari jendela dari lantai sepuluh. Satu sentakan kuat mendorong pintunya ke dalam oleh kekuatan seorang ibu yang tidak sabaran. Bima sudah dapat menduga apa kata pertama yang akan dilontarkan ibu. Tentang pertunangan. "Kalian harus bertunangan. Nggak ada penolakan," ucap ibunya dengan nada hampir berteriak sembari menendang pintu agar tertutup. Bima mengusap wajahnya. Lelah dengan semua tuntutan ini. Seharusnya bukan dia yang disalahkan. Adakah yang pernah menyalahkan Anya dalam urusan perjodohan mereka? Tidak menghiraukan racauan ibunya, Bima pergi ke dapur, sementara ibunya membuntuti langkahnya. Dia menekan mesin pembuat kopi otomatis dan berbalik kepada ibunya yang hampir menabrak bahunya. "Mau kopi? Sarapan?" tanya Bima enteng. Mata ibunya memeletot, lebih lebar lagi sedikit, Bima yakin bola matanya bisa melompat keluar. "Bisa-bisanya kamu tenang kayak gini." Ibunya berdecak kasar. "Aku udah berusaha. Dalam hal ini, jelas yang menolak adalah Anya." Bima tidak sabar menunggu kopinya siap, dia butuh meneguk banyak kafein sekarang. "Bu, urusan kayak gini nggak bisa dipaksa. Dia bukan boneka yang akan menuruti semua keinginan kalian." Bima sengaja memberi penekanan di akhir kata-katanya. Ibunya mengibaskan tangan. "Kamu salah." Memang apa pun yang dikatakan atau dilakukan Bima selalu salah. "Kamu harus ngeyakinin Anya dong. Rayu dia, bikin luluh hatinya," katanya ibunya dengan nada memerintah yang kental. "Selalu minta waktu, mau sampai kapan?" Bima tidak pernah merasa sesesak ini sepanjang paginya. "Kenapa kamu diam? Jawab!" Satu hal lain yang ingin dilakukan Bima dibanding menjawab pertanyaan ibunya adalah melemparkan wanita dengan mantel macan tutulnya keluar jendela apartemennya. Bima menunduk dan menekan tombol mesin kopi dan perlahan air dengan aroma kopi yang pekat jatuh mengisi gelasnya. "Bu, usaha restonya udah melewati ambang kebangkrutan. Aku sudah menolongnya banyak membantu dan akuisisi perusahaan sudah cukup tanpa perlu mengikatnya dengan surat pernikahan." Bima tidak mau membahas tentang perasaan kepada ibunya yang jelas tidak memahami artinya selain kata obsesi dan ambisius. Ibunya tertawa kecil, lalu memicingkan mata dengan sorot mengancam. "Oh, kamu lupa ya? Kalau gadis itu nggak nikah sama kamu, dia bakal-" "Aku udah bersedia ambil resiko posisi itu." Bima menghampiri ibunya, menahan tangannya tetap di sisi tubuh, mencegah cengkeraman menyakitkan di leher ibunya. Utang budi sialan. Rasanya dia yang tercekik oleh semua utang tak kasat mata itu. Ibunya tersenyum puas melihat ekspresi keras anaknya. "Ingat selalu apa yang udah ibu lakukan agar bisa menjadikan kamu seperti sekarang." Tangan ibunya mengusap tegas bahu Bima. "Posisi ini pasti ada bayarannya kan?" Bima menatap ibunya, napasnya mulai berubah cepat. "Tiga hari," putusnya. "Oke. Ibu mau cincin pertunangan udah ada di jari kalian." Bima mengangguk dan membiarkan ibunya pergi. *** Di dalam bak mandinya yang besar, Bima duduk berselonjor. Dia menghabiskan waktu paginya dengan berendam air panas yang sekarang sudah menjadi dingin. Dia menelaah masalahnya sekali lagi, semua jawaban Anya tidak mau menikah cepat-cepat jelas masuk akal bagi Bima. Namun, mengubah pikiran para orangtua sama saja seperti berusaha meindahkan gunung. Bima tahu Anya masih muda, di sisi lain meski dirinya pria matang, tetapi tidak ada keinginan untuk memiliki istri cepat-cepat. "Anya," gumam Bima menyebutkan nama seseorang yang mempengaruhi kehidupannya sebesar ini. Kepalanya masuk ke dalam air lagi, cukup lama hingga dia perlu mengambil oksigen. Semakin lama berendam sama sekali tidak membuat pikirannya lebih jernih. Yang harus dia lakukan sekarang adalah meyakinkan Anya dan membuat kelurganya merasa perjodohan ini berhasil, dan hubungan mereka lanjut ke langkah yang lebih serius. Tangan Bima mengusap cermin kamar mandinya yang berembun. Pantulan dirinya membuat Bima berdiam lama. Meresapi semua perasaan campur aduknya saat ini. Lalu tersenyum sinis kepada dirinya sendiri. "Pengecut!" Rasa frustrasinya mendatangkan lebih banyak kenangan masa lalu. "Aku nggak mau jadi seperti ini," ucapnya kepada dirinya yang berada di cermin. Sebagian kecil dirinya tahu itu tidak sepenuhnya benar. Dari dulu dia selalu berharap dan berangan-angan ingin sukses. Lalu saat ibunya datang dengan membawa sogokan kemewahan, dia menerima tanpa keraguan sedikit pun. Semua ini tentang ibunya. Dia tahu semua ini dimulai dari ibunya. Bima menarik napas dalam-dalam dan pergi berganti baju. *** "Jadi, apa kabar gembiranya?" tanya Tante Shinta yang baru pulang ketika Anya sedang menyiapkan makan siang. "Kabar gembira apa?" gumam Anya tanpa mau menatap tantenya. "Apa maksud Tante?"' tanyanya sembari mengerutkan kening. Tantenya yang sudah melepas sepatu mengkilapnya berjalan menghampiri, mendorong bahu Anya dengan bahunya. "Kemarin kan kalian berduaan di kamar ngomongin hal serius, tapi dari kemarin ditanyain nggak mau jawab." Anya memutar bola mata, tidak terkejut tujuan percakapan ini. Sekarang setiap detiknya pasti ditanya kapan mau nikah sama si Kaleng Biskuit. Anya menata batagor yang baru digorengnya, hanya menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan tantenya. Tentu Tante Shinta tidak puas dengan jawabannya. Dia mecebik. "Kamu tuh yah, sampe kapan mau tutup mata? Laki-laki yang kita jodohin buat kamu itu paling tepat." Tante Shinta mencomot satu tahu goreng dari piring Anya. "Di mana lagi coba, cari yang modelan Nak Bima gitu? Udah kaya, ganteng, baik, suka menolong, nggak sombong." Mendengar cerocosan tantenya, Anya ingin sekali menyumpal mulut tantenya dengan semua makanan di piring. Belum sempat Anya menjawab ketika bel rumahnya berbunyi. Terlihat Omnya berjalan ke pintu, membuat peluang Anya lolos bicara dengan tantenya menjadi nihil. "Hai, Tante!" Mendengar suara Alden membuat Anya dibanjiri kelegaan. Buru-buru mengambil camilan dan sebotol jus jeruk dari kulkas. Anya juga menumpuk dua gelas. "Bye, Tante! Aku ada kerjaan sama Alden di kamar." Tantenya menahan tangan Anya. "Kalian tuh udah gede, nggak boleh berduaan di kamar," ucap Tante Shinta sembari memelotot. Anya menarik tangannya. "Kita nggak bakal aneh-aneh kok! Tante ini mikirnya nggak masuk akal," gumamnya sembari membenarkan letak gelas yang ditelengkupkan ke tutup botol. Tantenya menghadang dengan tubuhnya. "Obrolan kita belum selesai." Anya tidak bisa menahan decakannya. "Oke. Tante. Alden ke sini buat jadi teman konsultasi aku buat nerima perjodohan ini," bisik Anya geram dengan senyum galak. Setelah berjalan pergi, Anya memberi isyarat kepada Alden agar dia mengikutinya. Alden menurut. Anya berjalan mendahului naik tangga menuju kamarnya. Telinganya sempat mendengar Alden yang basa-basi kepada Omnya dengan gaya cengengesannya. Anya hanya bisa mendengkus pelan begitu mereka sampai ke kamarnya. Bunyi piring beradu dengan suara kayu meja, setengah kesal menaruh makanan di meja. Sementara Alden menahan mulutnya dengan kedua tangan. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan simpati. Suara cekikikan pelan keluar dari mulut Alden, dan berusaha keras menahan tawanya yang sudah meledak-ledak. Alden mengangkat tangan menyerah ketika sebuah bantal dilemparkan mengenai wajahnya. Dia berusaha mengatur napasnya. Wajah Anya yang kesal saat ngobrol dengan tantenya benar-benar terlihat lucu bagi Alden. "Kamu oke?" tanyanya tanpa tujuan spesifik. "Menurutmu?" Alden mengacak rambut Anya. "Kamu, oke. Seenggaknya nggak sepucat kemarin-kemarin." Anya menghalau tangan Alden di kepalanya. "Jangan pegang-pegang, belum keramas ini." Alden sontak mengernyitkan hidung. "Pantas bau. Jorok!" Mereka tertawa dan Anya menuangkan segelas jus jeruk yang tadi dibawanya. "Kamu tahu kan gimana kondisi rumahku sekarang?" Segelas jus langsung tandas menyegarkan tenggorokan di tengah udara siang yang panas. "Tiap hari ngomongin tunangan, nikah. Kayak aku udah umur kepala tiga." "Ya udah buruan nikah biar nggak dibawelin lagi," gurau Alden yang langsung mendapat jitakan. "Ogah! Siapa juga yang mau nikah cepat-cepat?" "Aku," jawab Alden yang membuat Anya kaget. "Kalau udah mapan, aku pasti udah lamar Bella." Mulut Anya ternganga, terkejut dengan ekspresi serius Alden. "Ya, udah, kamu nikah aja sama Pak Bima, kan jadi nanti kamu jadi ikutan mapan, baru nikahin Bella." Alden tidak berkomentar, dia hanya mengulurkan tangan kepada Anya. "Sini deh! Sini, Nya! Otak kamu perlu digeser dulu." Anya tertawa, dan menghindari Alden yang berusaha menangkapnya. Setidaknya kehadiran sahabatnya dapat membuat perasaannya sedikit lega dari semua masalah yang sedang dihadapinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN