Keesokan hari, pagi-pagi sekali Om dan Tantenya sudah tidak di rumah. Anya duduk di dapur dan mengambil gelas, dia duduk di depan keranjang buah-buahan yang masih segar. Anya memainkan jari jemarinya dengan gelisah. Dia bingung bercampur cemas. Meski tatapan matanya terfokus pada keranjang berisi buah-buahan di atas meja makan, tetapi pikirannya jauh melayang, pada percakapan dua jam lalu dari sang tante melalui telepon pagi ini. Dia yakin, Tante Shinta sedang merencanakan sesuatu lagi untuknya. Alurnya terlalu mudah ditebak, tetapi Anya tak yakin akan siap jika harus menghadapinya nanti.
Percakapannya dengan sang Tante berputar bak kaset rusak di kepalanya.
“Anya, gimana udah ngobrol lagi dengan Bima?” tanya Tante Shinta lugas dan to the point.
Anya merasa sedikit tak nyaman ditodong pertanyaan seperti itu. Apa yang diharapkan sang tante, tentu jawaban yang mengarah perkembangan hubungan, layak pasangan pada umumnya.
“Ya, baik-baik aja, Tan. Enggak ada masalah, kok.” Jawaban yang Anya berikan seolah-olah tak memahami makna pertanyaan Tante Shinta. Anya hanya sedang berkelit, memanfaatkan pertanyaan yang tidak spesifik arahnya.
Tante Shinta mendesah pelan. Dia gemas karena Anya seperti menghindari terjebak dalam topik yang dilemparkan. Namun, dia tak menyerah begitu saja dan segera putar otak agar Anya tak kabur dari topik mereka saat ini.
“Anya, Tante tahu kamu paham apa maksud pertanyaan Tante tadi.”
Anya diam, Tante Shinta lebih dulu menghentikannya sebelum topik pembicaraan berubah.
"Apa Bima punya kekurangan yang nggak kamu sukai?" desak Tante Shinta cepat sebelum Anya punya kesempatan berkilah.
Tenggorokan Anya tiba-tiba kering mendapatkan pertanyaan itu. Dia yang tengah duduk di pinggir kasur, buru-buru berdiri dan segera keluar kamar. Menuju dapur, mencari air minum. Otak Anya memutar ingatannya saat bersama Bima. Terutama tentang hal yang terjadi akhir-akhir ini.
"Anya?" tanya Tante Shinta, memastikan sambungan telepon mereka belum terputus.
"Em, soal itu …." Anya tidak tahu harus memberikan jawaban seperti apa. Dia kebingungan.
"Tante melakukan semua ini demi kamu. Tante juga nggak akan nyodorin orang yang aneh-aneh, kok. Nggak mungkin, Anya." Tante Shinta menghela napas, yang membuat Anya menjadi merasa bersalah.
"Anya enggak berpikir seperti itu, Tan," balas Anya, berusaha setenang mungkin. Dia gundah pun kesal lagi-lagi terjebak dengan pembahasan serupa dan akan membuat moodnya rusak seharian.
Tangan Anya berhasil meraih sebuah gelas panjang dan dia segera menuangkan air dingin ke dalamnya. Tenggorokan benar-benar butuh pertolongan darurat saat ini. Anya meneguk minumannya dengan cepat, memberi kesempatan kepada Tante Shinta untuk membangun argumen baru untuknya.
"Dari yang Tante lihat, Bima adalah lelaki baik-baik."
Anya bisa merasakan kalau setelah ini tantenya akan mulai menonjol soal kelebihan Bima. Dari segi umum, laki-laki itu memang punya banyak kelebihan yang akan didambakan oleh kebanyakan wanita. Kelebihan tersebut sanggup menutupi bagian kekurangannya.
"Bukan, lebih tepatnya, dia adalah pilihan terbaik, Anya." Tante Shinta menekankan pendapatnya.
Lagi-lagi, Anya hanya bisa diam mendengarkan pendapat sang tante.
"Karena itu Tante berani nyodorin dia buat kamu, Anya. Tante nggak mungkin mau ngasih kamu ke sembarangan lelaki." Suara dan kalimat Tante Shinta berhasil memerangkap Anya.
"Seperti janji yang Tante buat sama orang tua kamu. Tante udah janji akan nyari dan pilihin calon suami terbaik buat kamu."
Anya merasa benar-benar terpojok sekarang. Dari semua alasan yang ada, Tante Shinta memilih yang paling mematikan bagi Anya. Kenapa harus membawa janji sang tante dan orang tuanya di sini. Anya gusar dibuatnya.
Setelah meneguk air dan menarik napas panjang, Anya akhirnya berbicara, "Apa Anya nggak boleh punya pilihan lain?"
"Apa ada orang lain yang sedang dekat dengan kamu?" Tantang Tante Shinta balik. "Apa dia jauh lebih baik dari yang Tante pilihkan?"
"Bukan begitu maksudnya." Anya mendesah pelan.
"Apa dia jauh lebih baik dari Bima?" todong Tante Shinta lagi. Dia yakin, meskipun keponakannya itu punya seorang lelaki yang sedang didekati, tidak akan berhasil mengalahkan pilihannya untuk Anya.
"Apa Anya nggak boleh nolak? Apa harus Bima?"
"Anya, kamu enggak boleh nolak niat baik dari laki-laki yang datang baik-baik ke kamu." Nadasuara Tante Shinta terdengar sedikit histeris. "Pamali, Sayang."
"Pamali?"
"Iya, pamali. Anak gadis, perawan seperti kamu, pamali nolak lamaran dari laki-laki. Bisa-bisa kamu jadi perawan tua nanti!" jawab Tante cepat dan penuh kekhawatiran.
"Meski lamarannya bukan dari Bima?" tanya Anya sedikit ragu-ragu di awal.
"Kalau bukan Bima, Tante akan nilai duluan. Apakah dia beneran pantas dan melampaui Bima," ujar Tante Shinta tegas. "Tapi, kalau lamaran itu datang dari Bima, maka kamu nggak boleh nolak. Kamu harus terima. Tante nggak mau kamu jadi perawan tua gara-gara nolak lamaran, terutama dari orang baik yang udah Tante cek bebet-bobotnya."
Anya hanya bisa menghela napas. Rasanya dia tiba-tiba lelah. Intinya, Tante Shinta maunya Anya bersama dengan Bima.
"Tante mau kamu janji satu hal sama Tante."
Anya meneguk ludahnya. Firasatnya mengatakan kalau Tante Shinta akan membuat dirinya tidak punya jalan kabur sekarang.
"Kalau seandainya Bima datang buat ngelamar kamu, Tante mau kamu terima lamaran itu. Nggak ada penolakan, Anya. Pamali."
"Tapi …," kalimat Anya menggantung.
"Janji?" Tante Shinta seolah mengabaikan nada keberatan Anya.
Anya terdiam, lidahnya kelu untuk menyanggupi janji tersebut.
"Janji, Anya?" ulang Tante Shinta sekali lagi. Menekankan tidak ada bantahan dari permintaannya saat ini kepada Anya. "Ini juga demi janji Tante kepada orang tua kamu bisa segera terwujud."
Kening Anya berkerut, berat sekali untuk mengiyakan permintaan sang tante. Sebelum akhirnya, dia menghela napas panjang. "Baik. Anya janji."
Jawaban Anya seperti tanda kemenangan bagi Tante Shinta. Suaranya seketika semringah. "Terima kasih, Anya. Ingat, janji kamu."
"Iya, Tante. Anya janji."
Sambungan telepon terputus setelah keduanya melempar salam. Tinggallah Anya dengan perasaan gundahnya sekarang. Dia memilih mengisi gelas kosongnya dengan jus kali ini. Kemudian duduk di kursi meja makan.
***
Anya sedang duduk di meja riasnya ketika bel rumah berbunyi nyaring. Dia terheran dan penasaran dengan siapa yang datang. Pasalnya, dia tidak punya janji dengan siapa pun hari ini. Dia buru-buru mengecek pesan, apakah ada yang mengabari akan ke rumahnya atau tidak. Namun, nihil. Kening Anya berkerut.
Anya tetap bergeming hingga bel sekali lagi terdengar. Mau tak mau, dia segera beranjak dan keluar dari kamar. Menuju pintu depan dan menuntaskan rasa penasarannya sekalian.
“Ya! Sebentar!” ujar Anya spontan saat bel kembali berbunyi. Dia sedikit tergesa saat memutar kunci dan membuka pintu rumah.
Dari semua kemungkinan yang dia pikirkan, sosok yang kini berada di hadapannya tidak pernah dalam daftar tersebut. Anya berkedip beberapa kali, memastikan dia tak tengah bermimpi saat ini
“Pak … Bima?” nada keterkejutan kentara pada suara Anya.
Seulas senyum tipis menghiasi bibir Bima. “Siang, Anya.” Matanya lalu bergerak memperhatikan gadis di hadapannya yang memakai baju santai.
Anya masih diam mematung di depan pintu menatap Bima. Otaknya sulit mencerna hal yang sedang terjadi saat ini. “Bapak … kenapa ada di sini?”
“Saya nggak boleh mengunjungi kamu?” Wajah Bima tak berubah, masih tetap ceria.
Anya berkedip beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan Bima. “Bukan begitu.”
Anya memperhatikan Bima yang mengenakan pakaian rapi dan kasual. Rasanya ada yang aneh dengan semua ini, tapi dia tidak menemukan alasan yang tepat untuk hal tersebut.
Wajah Anya yang berkerut dan seperti tengah berpikir tak lepas dari perhatian Bima. Dia mengulum senyum, lalu berdeham. “Boleh saya masuk?”
Anya melirik ke dalam rumah, lalu kembali menatap Bima. Dia menimbang-nimbang mengizinkan Bima masuk atau tetap berada di teras saja. Namun, rasanya kurang sopan melakukan hal tersebut. Anya menghela napas, lalu sedikit bergeser ke samping, tanda memperbolehkan Bima masuk ke rumahnya.
“Silakan masuk,” ucap Anya mempersilakan Bima, meski hatinya tak begitu rela.
“Terima kasih.”
Bima melangkah masuk, lalu mengikuti Anya yang mempersilakannya duduk di sofa ruang tamu. Mata Bima kembali jatuh pada pakaian santai yang dipakai Anya.
Anya yang menyadari tatapan Bima, ikutan memperhatikan pakaiannya. Tidak ada yang salah, tetapi dia tiba-tiba merasa risih. “Mau minum apa?” tanya Anya mengalihkan perhatian Bima.
“Kamu mau bikinin saya minuman apa?”
“Air putih,” jawab Anya tanpa beban.
Bima terkekeh pelan. “Saya tunggu air putihnya.” Dia melihat Anya yang menatap dengan datar. “Em, sekalian … kalau bisa sebaiknya kamu ganti baju.”
Anya mengerutkan keningnya. “Kenapa?” Dia menyipitkan mata, tetapi setelah sebuah alasan terlintas, Anya buru-buru beranjak sambil menggerutu, “Dasar Om-om m***m!”
Bima tergelak, walau sebenarnya ia sedikit salah tingkah sepeninggal Anya. Memang, tidak ada yang salah dengan pakaian gadis itu, tetapi Bima belum pernah melihat Anya dengan pakaian santai tadi.
Anya langsung menuju kamar dan segera mengganti pakaiannya, dia jadi ikutan risih gara-gara komentar Bima menyuruhnya berganti busana. Tiba-tiba ponsel yang dia letakkan di nakas berbunyi. Anya mengecek dan menemukan nama Tante Shinta tertera di layar.
“Hallo? Ya, Tan?” ujar Anya sembari merapikan rambutnya yang berantakan dengan sisir.
“Kamu di rumah, kan? Tante sama Om sedang dalam perjalanan pulang.”
Tangan Anya berhenti menyisir rambut. Bertanya-tanya, apakah ada sangkut pautnya kehadiran Bima dengan sang tante yang sekarang juga menuju rumahnya.
“Oh, ya. Kamu mending pakai baju yang rapi, dandan sedikit kalau perlu.”
Kepala Anya dipenuhi banyak pertanyaan sekarang. “Emang kita mau pergi ke suatu tempat, Tan?”
“Bukan, bukan,” jawab Tante Shinta cepat. “Bima sudah datang?”
Anya menahan napasnya, lalu menggigit bibirnya gelisah. “Ya, udah. Lagi Anya tinggal sendirian di ruang tamu.”
“Ya sudah, kamu buruan siap-siap, yang cantik. Bentar lagi Tante sama Om sampai.”
Anya terpaku menatap cermin. Sambungan telepon dari Tante Shinta sudah terputus, tapi perasaannya jadi gelisah. Apalagi dengan kehadiran Bima yang juga tiba-tiba.
***
Anya duduk manis di samping tante dan omnya di sofa, yang datang sekitar tiga puluh menit lalu. Tante Shinta mengajak mereka pindah posisi ke ruang keluarga. Beberapa minuman dan makanan kecil sebagai camilan pendamping tertata rapi di meja. Membatasi Anya dan Bima yang duduk berseberangan.
Bima memperhatikan Anya yang sudah mengganti pakaiannya. Namun, tidak menghilangkan pesona diri Anya. Bima berdeham, menarik perhatian fokus kepada dirinya.
“Saya minta maaf jika kedatangan saya hari ini terkesan tiba-tiba.” Bima melirik Anya, lalu beralih menatap orang-orang yang juga ada di hadapannya.
“Enggak perlu minta maaf, Bima. Anya hari ini juga tidak ada rencana apa-apa. Iya, kan, Anya?” ujar Tante Shinta menoleh ke arah Anya.”
“Em, iya. Nggak masalah.” Anya tiba-tiba merasa canggung. Dia yakin, firasatnya tak salah.
Apalagi aura yang terpancar dari Bima terasa serius oleh Anya. Menambah rasa gugup dan gelisah yang Anya rasakan, terutama setelah melihat tante dan omnya yang datang setelah kedatangan Bima. Anya meremas pakaiannya tanpa sadar.
“Maksud kedatangan saya hari ini, berhubungan dengan Anya.” Bima menatap lurus ke arah Anya. Kegelisahan gadis itu tak luput dari perhatiannya. “Saya mau minta izin untuk menjalani hubungan yang lebih serius dengan Anya.”
Tante Shinta tampak sangat senang, berbanding terbalik dengan Anya memelotot mendengar kalimat Bima. Telinganya tak sedang bermasalah, kan. Dia benar-benar tak menyangka kalau Bima serius mengatakan niatnya tersebut. Pikiran Anya melayang cepat pada percakapannya dengan Tante Shinta soal harus menerima lamaran di telepon. Anya meneguk ludahnya dengan susah payah.
“Maksud kamu, kamu ingin ngelamar Anya hari ini?” Suara Om Dedy membuyarkan lamunan Anya.
Bima menatap lelaki di hadapannya. “Iya, saya ingin melamar Anya. Saya ingin hubungan kami resmi dan dijalani dengan serius setelah ini. Mendapatkan restu dari orang-orang di sekeliling Anya.” Bima lalu beralih menatap Anya.
Tante Shinta semakin bersemangat. Dia menyenggol Anya yang tampak sangat terkejut dan tak bisa berkata-kata. “Ayo, Anya? Bagaimana menurut kamu?” bisik Tante Shinta.
Anya terpojok. Otaknya kosong. Mau mengiyakan, tetapi bibirnya berat untuk berucap. Meskipun sudah berjanji akan menerima lamaran yang datang kepada sang tante, tetapi saat benar-benar berhadapan dengan situasinya langsung, Anya jadi kebingungan.
Bibir Anya perlahan terbuka. Lalu kembali tertutup dan menggigit bibir bawahnya. Semua ini terlalu tiba-tiba, Anya seperti tidak diberi pilihan apa-apa untuk memberikan jawaban.
“Kalau Tante sendiri, tentu dengan senang hati memberikan izin. Namun, segala keputusan ada pada Anya,” ujar Tante Shinta berbasa-basi. “Gimana menurut kamu, Anya?”
Anya melihat kepada Tante Shinta, yang tersenyum, seolah mengingatkan janji mereka berdua sebelum ini. Dia lalu memilih menunduk, memikirkan harus menjawabnya sekarang atau menunda setidaknya beberapa menit ke depan.