46 Cincin

2071 Kata
Anya rasa, dia belum lama terlelap. Kepalanya sakit sewaktu menuruni tempat tidur dan mulai berjalan. Beberapa kali, dia terhuyung saat menuju ke kamar mandi. Sambil memegangi kepala, dia membuka pintu kamar mandi. Ada jeda di setiap langkahnya. Anya melihat pantulan dirinya di cermin. Mata sembap, dengan make up yang berantakan. Anya lupa mencuci muka semalaman. Dia mendengkus dengan mata terpejam. Siapa yang menyangka, dalam satu malam garis masa depannya seketika berubah. Anya tidak habis pikir, bagaimana bisa Bima menusuknya dari belakang. Beberapa kali dia meminta bahkan memohon agar Bima menghentikan perjodohan, tapi tidak digubris. Bima malah seperti menembakkan 10 butir peluru ke kepala Anya. Dia kalah telak. Tangan Anya menggenggam kedua sisi wastafel dengan kuat. Dia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya pucat pasi. Seperti zombi yang tidak mengisap darah berhari-hari. Tidak ada tangisan sama sekali. Kesedihannya kini lebih berbentuk jadi emosi. Seperti ingin mencabik-cabik Bima, Om terlebih Tantenya. Sorot matanya berpindah pada benda berkilau di jari. Masih teringat jelas, saat Bima menyematkan cincin sebagai lambang keseriusan di jari manisnya. Masih teringat jelas pula, senyum merekah yang dibarengi tepuk tangan dari om Dedy dan tante Shinta. Seakan semua sudah mereka rencanakan dengan matang. Dan Anya tidak diberi kesempatan untuk menuangkan pendapat. Padahal biar bagaimanapun, dia pemeran utama dalam perjodohan ini. Ah, Anya lupa. Bukan perjodohan namanya jika tidak ada unsur paksaan. Anya mencebik, masih menatap cincin yang melingkar di jari manis, dia berkata, “Mahal nih kayaknya. Mending aku jual!” Anya tersenyum sinis. Ditariknya cincin agar keluar dari jari. Sekuat tenaga. Dahinya sampai mengerut. Napasnya juga ditahan, guna mengumpulkan kekuatan. “Aish! Nih cincin ada lemnya kali, ya?” ungkapnya kesal. Anya mencebik. Jarinya terasa hampir putus. Nyeri. Usaha pertamanya gagal. Tidak kehabisan cara, Anya menyambar sabun mandi. Digosok-gosoknya hingga tangannya memerah. Namun, tetap tidak ada hasil. Cincin masih melekat erat di jari manisnya. Setelah cukup lelah, dia menyalakan shower. Duduk di bawah guyuran air. Diam-diam, Anya menangis. Ingatan tentang wajah kedua orang tua jadi penyebabnya. Ucapan tante Shinta yang menekankan ini adalah bentuk janji pada kedua orang tua Anya, cukup memberatkannya. Sungguh, Anya belum ingin menikah. Terlebih lagi dengan Bima. Tidak ada rasa cinta sedikitpun. Hanya sebatas kagum karena Bima cukup banyak membantunya. Anya melihat Bima sebagai sosok kakak dan penolong. Sosok kakak yang tidak pernah dia miliki sebelumnya. Lalu, bagaimana jika benar-benar harus menikah? Bagaimana mungkin sepasang jiwa tinggal seatap, sedangkan hati tidak pernah menetap? Anya memukul dahi beberapa kali. Coba kamu pikir, orang tua kamu pasti sedih kalau kamu nolak Bima! Di mana lagi cari laki-laki seperti dia. Kamu pikirkan, bagaimana perasaan orang tua kamu kalau kamu terjebak dengan laki-laki yang tidak baik?_ Perkataan Tante Shinta kembali terngiang di telinga. Anya menggeleng keras. Air matanya menderas berbaur dengan guyuran shower. Dia kembali menelungkupkan kepala di antara kedua lututnya. Mendekap kaki erat-erat. Berharap ada keajaiban. Dan dia tidak lagi jadi tokoh utama dalam kisah perjodohan. *** “Den, tau caranya ngeluarin cincin dari jari?” Anya menyesap kopi saat telepon tersambung. Hanya Alden yang dia pikirkan di saat seperti ini. “Ya tinggal tarik aja, Nya. Pertanyaannya random banget, sih. Belum genap jam 6 pagi, lho!” Anya mencebik, “Seriusan ini. Cincinnya keras. Kayak lengket sama jari. Susah banget lepasnya.” “Emang cincin siapa? Cincin kamu? Mau kamu apain? Pasti mau dijual, ya?” Anya terbelalak. Alden memang sohib sejati. Bisa-bisanya dia tahu arah pikiran Anya. “Bisa diem, nggak! Kasih saran yang bener!” bentak Anya, mengalihkan pembicaraan. Diletakkannya segelas kopi di atas meja sepelan mungkin. “Santai! Ngegas mulu kayak bemo! Sudah coba pakai sabun?” Anya mengangguk cepat. “Sudah-sudah. Sudah aku gosok-gosok sampai tangan merah. Aku tarik-tarik sampai jari sakit, tapi tetap nggak berhasil keluar.” “Pakai sabun cuci piring. Terus cincinnya kamu coba putar-putar sampai keluar.” “Sudah! Aku sudah coba, pakai sabun mandi, sabun cuci piring, sabun cuci muka, sampai sabun cuci mobil juga tetap nggak ada hasilnya. Sabun cuci dosa doang yang belum aku pakai. Ada cara lain, nggak?” tanya Anya, frustrasi. Dia mengacak rambut sambil kembali naik ke lantai dua. Dia tidak ingin tante Shinta tiba-tiba memergoki pembicaraannya. Lebih nyaman berada di kamar. Bertemu tante Shinta sepagi ini sama saja seperti ingin mati dua kali. “Ada.” “Seriusan?” Langkah Anya terhenti di anak tangga kedelapan. Wajahnya berbinar. Dalam hati, dia bersorak girang karena masih ada harapan. “Apaaan, Den?” desaknya. “Potong jarinya!” jawab Alden diikuti suara tertawa yang ditahan. “Kampret! Dasar teman dajjal level 5!” teriak Anya, geram. Lalu kembali menutup rapat mulutnya. *** Sudah dua jam, tatapan Anya masih kosong. Berkas-berkas dia tanda tangani tanpa dibaca ulang. Untung saja, Pak Azka sudah mempelajarinya dengan teliti. Beberapa berkas yang memuat nama Bima jadi pemicunya. Kejadian semalam, diingat kembali dengan mudah. Padahal sudah susah payah Anya mencoba melupakannya. Anya mengambil ponsel. Bolak balik memeriksa aplikasi pesan, tapi nihil. Tidak ada pesan masuk satupun untuknya. Hanya ada beberapa pesan acak dari operator yang menawarkan ringtone RBT sampai pesan iseng jasa santet online. Anya mengacak poni. Dia menyeringai tiba-tiba. “Nyantet Pak Bima aja kali, ya.” Pikiran dari alam bawah sadarnya yang bobrok kembali hadir. Menit berikutnya, dia tertawa seram sambil memelotot dan bertepuk tangan. Lalu dia kembali terdiam. Suasana berubah hening. Kelima jarinya mengetuk-ngetuk meja. Lalu memukul kening. “Sudah di dunia susah, masa iya di akhirat juga susah. Lagian, zaman sekarang kok masih percaya dukun dukunan sih, Nya! Apalagi dukunnya online. Nyantet online. Ntar bukan diterawang lewat air-air campur bunga 7 rupa, tapi nerawangnya lewat status media sosial ditambah buka google! Bodoh kok dipelihara, Nya!” Dia memaki diri sendiri. Desahan lesu terurai dari bibir Anya. Dia menelungkupkan kepala di meja. Baru juga lamaran, tapi Anya sudah setengah gila. Apalagi kalau benar-benar menikah? Pintu yang diketuk dengan pelan membuyarkan lamunannya. Anya mendongak. Tatapannya bersirobok dengan Hani yang cengengesan di balik pintu yang terbuka setengah. “Bu Anya. Maaf, ada temannya nyariin di luar.” “Siapa, Han?” “Mas Alden, Bu.” Anya menguap sambil merentangkan kexya tangan. “Suruh ke sini aja, deh. Aku lagi males ke luar.” Selang beberapa menit setelah Hani pergi, pintu kembali terbuka sedikit. Kepala Alden menyembul ke dalam. Anya menatap malas. Sedangkan Alden malah semringah tidak jelas. “Mau apa?” “Aku bawain gergaji sama kapak buat potong jari.” “Sableng! Keluar aja deh. Aku lagi puyeng!” Alden tertawa lebar sambil memegangi perut. Sudah lama sekali dia tidak melihat Anya sekusut ini. “Kenapa malah ketawa, sih?” “Lucu, Nya! Aku jadi inget masa kuliah dulu. Pernah nih, tampilan muka kamu juga begini. Persis!” Alden kembali tertawa. Bahkan hampir terjungkal. Beberapa kali dia memperbaiki posisi duduk, lalu kembali tertawa lagi. Anya menggebrak meja! “Masalah kali ini lebih parah dari itu!” Alden bungkam. Ditatapnya Anya dengan mode serius. Jika sewaktu SMA dulu Anya galau karena kakak kelas yang kutu buku terang terangan menyatakan cinta padanya sambil berteriak, kali ini masalahnya jauh lebih rumit. Dilamar dadakan serta cincin yang tidak mau lepas tentu sangat menganggu fokusnya. Setelah dengan beberapa pertimbangan, Anya menunjukkan tangan kirinya. Kemilau permata dari cincin yang tersemat di jari manis, membungkam Alden cukup lama. Suasana hening beberapa saat sebelum Alden kembali tersadar. “Gila! Ini cincin pasti mahal, Nya. Dapat dari mana? Nyolong, ya? Makanya mau dilepas karena takut ketahuan!” “Setan!” Anya menimpuk kepala Alden dengan beberapa map yang tersusun di atas mejanya. “Jangan tanya-tanya dari mana! Pokoknya aku mau ini dilepas!” Dengkus Anya. Dia menarik tangannya lalu bersedekap sambil meniup poni. “Tapi beneran, sih. Itu pasti mahal. Nggak mungkin dengan keadaanmu yang begini, kamu sanggup beli-beli perhiasan, ‘kan?” selidik Alden. Bibir Anya menyungging. Kalau saja Alden bukan sahabat satu-satu, pasti Anya tidak segan melemparkan laki-laki itu ke kandang buaya. Mode nyinyirnya masih menduduki peringkat 1. Belum ada yang bisa menggeser prestasi Alden. Anya sampai heran, bagaimana bisa Bella tahan dengan Alden maupun sebaliknya. “Ini dari Pak Bima.” Anya menyeletuk. Dari dulu, dia memang tidak pandai menyimpan rahasia dari Alden. Apa pun itu. “What?” Mata Alden terbelalak. Dia menyondongkan kepala ke arah Anya. Membuka telinga lebar-lebar. Memastikan bahwa dia tidak salah dengar. “Coba ulangi?” “Dih, tuli!” balas Anya. “Beneran dari Pak Bima?” “Itu denger! Jangan disebut berulang-ulang bisa ‘kan?” protes Anya. “Kamu mau kawin, Nya?” Mode tukang taboknya memang harus diaktifkan saat berbicara dengan Alden. Namun, Ajaib. Seakan sudah mengetahui hal yang akan terjadi, Alden berkelit cepat. Anya malah terjungkal. “Nggak kena!” ejek Alden. “Eh, tapi seriusan? Kamu beneran mau kawin?” “Apaan, sih. Kawin-kawin! Jijik banget bahasanya. Masih lama! Baru juga lamaran!” protes Anya dibarengi rasa menyesal karena menceritakan semua pada teman minim akhlaknya. “Oh, No! Akhirnya sahabat aku otw sold out! Kawin kawin!!!” “Siapa yang mau kawin, Bu?” Tanpa aba-aba, Hani masuk entah dari mana. Anya maupun Alden yang tidak mendengar suara pintu terbuka sedikitpun seketika menganga. Anya kembali mengusap wajah dengan frustrasi. Jangan sampai ada berita aneh-aneh yang tersebar karena ulah Hani. “Nih, Alden sama Bella mau kawin,” jawab Anya asal. “Lagian, kamu datang dari mana sih? Kok nggak kedengaran suara langkah kakinya?” “Ya masuk dari pintu, Bu. Tadi pintunya nggak tertutup rapat, jadi saya masuk aja. Maaf ya, Bu. Karena bawa nampan, saya nggak ketuk pintu dulu,” ucap Hani sambil mengangkat nampan berisi minuman dan beberapa camilan. “Kan aku nggak ada minta, Han!” protes Anya. Gerakan tangan Hani yang menata gelas minuman di meja terhenti. “Mas Alden tadi yang minta, Bu,” aku Hani sambil cengengesan. Sedangkan Alden malah membuang wajah ke langit-langit saat Anya memelototinya. “Ya udah, deh, kalau keluar tutup pintu rapat-rapat. Sekalian nih, tagihannya kamu buatin. Jangan lupa kasih ke dia sebelum dia keluar!” titah Anya sambil menunjuk Alden dengan gerakan bibir. Tangan Alden terulur, ingin menyentuh gelas berisi minuman dingin saat pintu kembali menutup rapat. Namun, segera ditariknya kembali karena Anya memukulnya dengan penggaris besi. “Jangan sentuh-sentuh makanan dan minuman ini kalau kamu belum kasih aku ide!” “Ide apa lagi sih, Nya?” Kaki Alden menendang nendang lantai sambil menggerutu. Tenggorokannya sudah benar-benar kering. Sedangkan minuman segar di hadapannya sekarang terlihat seperti idol korea. Tidak bisa digapai. “Sekarang kamu bantu aku mikir dulu. Cari cara buat gagalin acara pertunangan aku nanti! Dua bulan lagi bukan waktu yang lama. Kita harus cari cara cepat biar semuanya benar-benar berakhir!” Kerasnya suara Anya membuat Alden spontan menutup telinga. Indra penderannya langsung protes. “Dih, kita?” Bibir Alden menyungging. Anya menghunjamkan tatapan sinis. “Bantu aku, atau aku bakal buat Bella mutusin kamu?” ancam Anya. “Jangan bawa-bawa Bella di antara percintaan kalian bisa, ‘kan?” “Makanya bantuin aku!” desak Anya. “Eh, ini emang kamu nggak kerja? Kok bisa ke sini?” Alden menyeringai. “Lagi jam makan siang, Nya. Mau minta makan.” Rahang Anya terasa ingin menggelinding. Dia langsung mengempaskan bahu pada sandaran kursi. Satu-satunya teman yang dia harap akan berguna sedikit, ternyata malah menambah beban hidupnya. “Mending kamu pergi sekarang! Atau jual aja tuh motor buat dana makan siang!” “Ya kan katanya tadi minta saran. Otakku nggak berfungsi karena aku belum makan, Nya. Ngerti dikitlah!” Alden semakin merapatkan duduknya. Tidak ingin beranjak sedikitpun. “Coba periksakan ke dokter saraf. Siapa tahu otakmu memang sudah nggak ada. Bukan karena belum makan.” “Jahat banget, Nya. Nggak bisa begini, nih. Kamu memang nggak boleh nikah sama Pak Bima!” “Nah, bener kan!” Anya menggebrak meja, bersemangat. Akhirnya ada juga yang sepaham dengannya. “Aku memang nggak boleh nikah sama dia! Aku berhak dapat yang lebih baik.” “Ya maksudnya, kalau kamu nikah sama Pak Bima, kasihan Pak Bimanya. Dia orang baik, malah dapat nenek sihir!” “Sudah bosan hidup?” Alden terbahak. “Becanda-becanda.” Tawa Alden mereda setelah menenggak minuman dingin yang belum tersentuh di atas meja. Wajahnya menampilkan mode serius saat menyondongkan kepala ke arah Anya. “Kamu cari pacar aja, Nya. Yang lebih mapan, lebih ganteng, lebih baik dan lebih segala-galanya dari Bima. Bagaimana?” Alden mengedipkan mata sambil menikmati kacang kenari panggang di hadapannya. Sedangkan Anya masih diam sambil mengulang perkataan Alden dalam hatinya. Cari pacar yang lebih ganteng, lebih mapan, lebih sukses, lebih baik, lebih segala-galanya dari Bima.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN