Rintik hujan yang turun langsung berubah deras membuat para nyonya-nyonya sosialita berhamburan kembali ke teras rumah dengan kegaduhan seolah yang turun adalah hujan meteor. Acara arisan yang digelar di taman salah satu anggota menjadi berantakan. Hujan turun tiba-tiba, meski langit masih cerah.
Dua orang asisten rumah tangga si tuan rumah bergerak cepat memindahkan nampan besar hidangan untuk para tamu dan menumpuk gelas-gelas. Memindahkn semua makanan ke teras rumah dan bergerak cepat memindahkan kursi-kursi kayu dengan ukiran rumit.
Suara keluhan saling bersahutan. Tante Shinta menarik-narik rambutnya yang berubah keriting seperti anjing pudle karena terkena tetesan air. Ada yang sibuk mengelap tas superr mahal, ada yang sibuk merapikan rok kusut karena berlari ke teras.
"Aduh, Jeng, sebel banget deh, kenapa bisa hujan kayak gini." Si tuan rumah memeriksa riasan dempulan wajahnya di kaca bedak.
"Iya, Jeng, padahal ya terang begini loh," sahut temannya.
"Ya, udah kita kumpul-kumpul di sini aja ya. Nggak apa-apa kan?"
Yang lain langsung setuju, dan semua duduk kembali setelah kursi telah ditata. "Kalau hujannnya makin deras, ya udah kita pindah ke ruang tamu di dalam ya, Jeng." Si pemilik rumah menyuruh asisten rumah tangganya memberikan minuman baru. Dari raut wajahnya terlihat jelas raut sungkan karena acaranya di rumahnya berantakan.
Para nyonya-nyonya sosialita mulai mengobrol lagi seputar basa-basi mengomentari pekerjaan para suami dan juga rasa camilan yang tersaji di meja. Lalu acara berlanjut ke pembayaran uang arisan, masing-masing mengirimkan bukti transfer dan mencatat di buku laporan. Memberi ceklis nama-nama yang sudah bayar.
"Jeng Shinta." Kepala si pencatat mendongak dari catatan dan mencari tante Shinta. "Belum bayar ya? Mau nunggak lagi minggu ini?" ucapnya lantang dengan nada menyindir yang kental.
Perkataan itu mengundang tawa cekikan dan komentar sindiran lainnya. "Maklum aja Jeng, usaha resto Jeng Shinta sama suaminya kan katanya mau bangkrut. Jadi kita harus kasih kelonggoran," ucap si tuan rumah tanpa nada simpati sedikit pun.
"Iya, loh. Saya juga dengar, restonya dicap jelek sekarang. Pasi susah ya, Jeng?"
Tante Shinta langsung mendelik. "Bentar dong, Jeng! Ini kuku cantik saya baru aja rusak gara-gara tadi lari rusuh banget kan kita." Tante Shinta memperlihatkan kuku jari manisnya yang bercat merah patah. "Ini, saya bayar sekarang kok," ucapnya jengkel.
"Duh, Jeng, nggak apa kalau belum ada sekarang. Kita-kita bisa kasih kelonggaran sampai akhir bulan kok," sergah si tuan rumah. "Apalagi kan uang dari si penipu berlian itu juga belum balik lagi."
Seseorang dengan hiasan rambut mutiara yang disanggul ke atas membentuk puncak gunung berapi menepuk tangan Tante Shinta. "Oh, iya, untungnya si pelaku udah ketangkap, ya. Syukur deh."
Tangan tante Shinta terkepal, dadanya terasa panas, hatinya serasa sedang dalam tungku perapian. Dia buru-buru mentransfer bayar uang arisannya, lalu membungkam kata-kata para nyonya manja yang mulutnya suka nyinyir dengan berkata, "Udah saya transfer ya. Nih," tante Shinta menunjukkan jumlah dua kali pembayaran. "Saya bayar untuk minggu depan juga sekalian. Resto kami udah mulai naik lagi dan nggak ada tuh kesulitan ekonomi"
Tante Shinta berdeham bangga dan melanjutkan, "Para Jeng- jeng di sini pasti udah tahu kan resto kita udah jadi bagian dari propertinya perusahaan Bima," Tangannya ikut bergerak untuk menegaskan kata-katanya, "Bima Abian."
"Oh," jemari Tante Shinta menutup mulutnya dengan ekspresi terkejut. "Yang lain udah pada tahu kan, kalau ponakan saya yang urus resto saat ini itu calon istrinya Bima Abian. Pengusaha muda yang sukses dan ganteng banget itu." Tante Shinta tertawa senang sendirian, sementara yang lain mendadak mukanya menjadi masam.
Senyum meremehkan muncul di bibir Tante Shinta. "Jeng siapa yang kemarin jual tas Hermes super gemes itu? Saya mau pesan satu buat kado tunangan ponakan saya."
Seseorang di kerumuman langsung berdiri seperti di kursinya ada per yang langsung membuatnya melompat bangkut begitu mendengar perkataan tante Shinta. "Saya loh Jeng yang minggu lalu nawarin tas branded keluaran terbaru." Dia langsung duduk di sebelah tante Shinta. "Saya bawa kok barangnya, ada di mobil. Jeng Shinta mau lihat sekarang?" Bulu mata yang ditempel bulu mata tebal anti badai mengedip-ngedip penuh harapan.
"Iya, boleh." Senyumnya begitu lebar. Kepala Tante Shinta menoleh ke luar ruangan memberitahu hujan sudah reda dan dia akan menunggu tas-tas cantik itu dibawa ke mari. Tante Shinta mengambil cangkir tehnya, menyesapnya dengan anggun dan menyuap satu scone ke dalam mulut. Mengunyah pastry renyah itu dengan nikmat ditambah ekspresi anggota arisan yang cemburu.
***
Hari ini Anya memilih bekerja di rumah, dia ingin mencoba resep kue baru yang ditemukannya di internet. Crotart dan Quiche pastry yang sedang popular belakangan ini. Setelah memeriksa laporan dari Pak Azka di kamarnya, Anya meregangkan tangan, menguap lebar, dan menarik punggungnya ke atas.
Sinar matahari membanjiri kamarnya dan membuat udara terasa panas. Satu botol air sudah kosong di mejanya. Anya mengusap wajahny yang berkeringat dengan tisu, lalu menatap cincinnya. Berapa kali pun dilihat, Anya tidak bisa menjabarkan perasaan campur aduk apa yang membelit dadanya. Apakah seburuk ini menjalin hubungan serius dengan Bima? Dia belum siap, saat ini rasanya menakutkan.
Sejujurnya Anya juga tidak tahu perasaan sesungguhnya laki-laki itu. Tidak pernah ada pernyataan cinta yang membuat hubungan ini seperti perjodohan dengan tokoh yang penurut. Debaran jantung Anya tiba-tiba berubah cepat ketika memikirkan Bima ingin serius menjalin hubungan dengannya hanya karena tidak enak dengan om dan tantenya atau para orang tua yang sudah sangat antusias menjodohkan mereka. Dia hanya akan ada dalam pikiran Bima sebagai sosok yang dikasihani.
Memikirkan kemungkinan itu membuat hati Anya tidak tenang. Dia sama sekali tidak percaya diri pada hubungan absurd ini. Anya berdiri dan menatap dirinya di depan cermin. Lama dia hanya melihat dirinya sendiri.
"Kenapa seorang Bima Abian mau hubungan serius sama kamu Anya?" tanyanya di depan cermin. "Dia suka sama aku?"
Anya berusaha mengingat perkataan Bima saat datang ke rumahnya tempo lalu dan bicara kepada om dan tantenya ingin melanjutkan perjodohan mereke ke jenjang yang lebih serius. Mencoba mengingat alasan atau ungkapannya pada waktu itu. Namun, Anya sama sekali tidak mengingat apa-apa. Pikirannya mendadak blank. Sekarang ingin marah-marah kesal sendiri.
Masih di depan cermin, Anya mengembuskan napas agar membuatnya lebih tenang. Dagunya terangkat tinggi, lalu mengibas rambutnya. "Anya, kamu cantik, pintar, pokoknnya keren. Semua laki-laki pastinya tertarik, termasuk Pak Bima yang so cool itu." Rasanya Anya ingin menangis begitu kata-kata kepedeannya terlontar. Malu banget. Jelas tak yakin.
Menyerah, Anya mengacak rambutnya dan menyambar botol kosong di meja dan turun ke dapur untuk mengisinya. Di dapur ada omnya sedang mengelap setiap helaian daun dari tanaman kesayangannya. Anya sengaja pura-pura tidak melihat dan cepat-cepat menekan tombol mengisi air ke dalam botol.
"Anya." Om Dedy menoleh ketika mendengar suara kucuran air. "Kamu jemput tante kamu gih."
Mata Anya terpejam, bibirnya merapat sesaat sebelum tubuhnya berbalik menghadap omnya. "Hari ini Anya mau bikin pastry baru. Jadi agak sibuk."
Omnya masih mengelap daun dengan penuh perhatian. "Bentar aja. Tante kamu yang suruh kamu yang jemput." Tangannya bergerak mengelap helaian daun lain. "Om lagi sibuk banget."
Anya memutar bola mata. "Ya udah, kuncinya di mana?"
"Di meja dekat Tv," sahut Omnya, lalu menoleh kepada Anya. "Ganti baju kamu sama yang bagus, terus dandan. Tante kamu lagi arisan di rumah temannya. Jangan malu-maluin."
Gemas sekali rasanya ingin memetik setangkai daun yang sudah dilap sampai mengilap itu. Dia selalu terjebak dengan situasi yang dibuat om dan tantenya begitu mudah. "Oke," jawab Anya singkat, berbalik sembari meniup poninya dan berjalan ogahan-ogahan kembali ke kamarnya untuk berganti baju.
***
Mobil Anya melipir di depan gerbang rumah yang tinggi dengan ulir membentuk ukiran bunga. Dari luarnya, rumahnya sangat besar dengan pilar gaya Italia di muka bangunan, tiga tingkat balkon, cat putih dengan genting berwarna gelap, dan taman cantik terawat nan luas di halaman depan.
Dari dalam mobil, Anya bisa melihat di kejauhan tepat di teras rumah itu ada perkumpulan ibu-ibu dengan pakaian warna-warni yang heboh mengobrol. Namun, pandangannya tidak sampai dapat melihat jelas di mana tantenya. Biasanya tantenya akan mengenakan mantel corak tutul kebanggaannya, rupanya hari ini tidak dipilih.
Paling juga mereka lagi pamer atau gosip. Desahan Anya keluar, menebak perkumpulan masih lama selesai. Anya mengirim pesan ke tantenya dia sudah sampai di depan dan bilang kalau menunggu di mobil. Balasan pesan tantenya masuk selang beberapa menit.
Begitu selesai membaca balasan dari tantenya, Anya mengeluarkan rentetan makian. Barang seberat apa yang akan dibawa tantenya dari acara biang gosip penuh penghamburan uang seperti itu sehingga memintanya untuk bantu membawakan.
"Beras sekilo? Tepung sekarung? Meja Marmer? Emas seton?" Anya mencak-mencak sendiri di dalam mobil. "Haishh!"
Anya menekan bel dan tetap diam ketika beberapa orang menyadari kedatangannya. Pak satpam keluar dari pos dan menanyakan tujuannya. "Saya mau samperin tante Shinta, Pak. Itu yang duduk di situ pakai baju ..." matanya menyipit untuk mengenali tantenya yang duduk di kejauhan, "hijau."
"Oh, ponakannya Bu Shinta ya?" Kumis tebal Pak Satpam itu bergerak. "Biasanya suaminya yang suka jemput." Matanya melirik kepada mobil Anya yang terparkir dan satpam itu tampak mengenali mobil mereka.
Pintu gerbang dibuka, rasanya canggung begitu berjalan masuk. Untungnya, meski rasanya seperti buntung, tantenya langsung berdiri begitu melihat kedatangannya. Tangannya melambai dan berseru kepada teman-temannya kalau Anya adalah ponakannya.
"Anya sayang, sini!" Tante Shinta melambaikan tangan menyuruh Anya cepat ke teras. "Jeng, ini loh, ponakan saya yang jadi calon istrinya Bima."
Bagus kalau pipinya tidak semerah tomat, karena rasanya memalukan. Anya langsung ditarik ke sisi tantenya dan dipertontonkan seperti barang dagangan.
"Cantik banget kan? Dia udah dari kecil diurus saya dan syukur bisa jadi wanita sukses apalagi dapat jodoh yang mapan." Tante Shinta mengangkat tangan kiri Anya untuk memperlihatkan cincin pemberian Bima. "Tuh, lihat, ini cincin tunangannya."
Mulut Anya menganga, lalu menatap kepada tantenya. Rasanya percuma dia membantah dalam situasi panas seperti ini. Dia hanya bisa menunduk malu.
"Nya, lihat deh, Tante mau beliin tas ini buat kado kamu." Tantenya mengambil tas pilihannya kepada Anya. "Suka nggak? Kalau nggak, ini pilihan lainnya."
Anya harus belajar memelotot, tetapi tidak jelas melakukannya di depan orang-orang. Dia menatap lurus ke mata tantenya, lalu menatap ke jajaran tas MAHAL yang berjajar di meja. "Nggak usah, Tan! Makasih banget." Alih-alihkan terus -terang mereka harus tetap berhemat, Anya sengaja berkata, "Calon suami aku pasti marah kalau bikin Tante repot. Dia juga pasti nggak suka kalau barang yang aku pakai bukan dari pemberian dia."
Para nyonya-nyonya sosialita langsung heboh melontarkan godaan. Anya menanggapinya dengan cengiran bercampur malu. "Makasih semuanya. Doain lancar ya!" tenggorannya terasa panas begitu mengatakannya.
"Tenang aja, Jeng, ponakan saya nikah pasti undang-undang semuanya," ucap Tante Shinta yang ditanggapi dengan respons penuh antusiasme.
"Ya udah, semuanya, kita pamit duluan ya." Anya menggamit lengan tantenya.
Buru-buru Tante Shinta mengambil tas tangan miliknya dan minta maaf karena tidak jadi membeli tas itu, lalu mengikuti langkah Anya yang sudah membuat kode untuk segera pergi dari acara ini.