Anya memeluk bantal sambil memanyunkan bibirnya. Beberapa kali mendesah menatap Alden yang sibuk dengan telepon pintar di tangan.
"Kenapa?" tanya Alden akhirnya karena tatapan Anya yang semakin menusuk. Dia terganggu, bisa merasakan permohonan tertahan dari mulut gadis itu.
"Kita mesti ngapain," jawab Anya meremas pinggiran bantal di pelukannya dengan kedua tangan.
Alden menatap Anya dengan wajah lugu dan sorot mata polos. "Hmm, apa ya?"
"Katanya mau bantuin!" sungut Anya kesal karena Alden malah sengaja mempermainkannya.
"Hahaha! Iya, iya, maap." Alden terkekeh. "Kata kuncinya, Ibunda Ratu?"
Anya yang tersulut emosi, langsung melemparkan bantal di tangan, juga bantal yang ada di sampingnya ke arah Alden. Lelaki itu buru-buru berdiri sambil tertawa, sekaligus menghindari serangan lemparan bantal bertubi itu.
"Aku seriusan ini!"
"Oke, oke." Alden mengangkat kedua tangannya sambil tersenyum, tanda menyerah serta akan menanggapi serius kali ini. Dia mengambil bantal-bantal yang tergeletak di lantai dan mengembalikannya ke Anya. "Habis manyun mulu kayak bebek itu bibir."
Anya mendelik, lalu mendesah pendek. Dia memilih merebahkan diri sambil bergumam dengan suara yang masih bisa terdengar oleh Alden. "Lama-lama aku gila duluan sebelum berhasil cari cara buat batalin pertunangan ini."
"Nah! Itu ketemu jawabannya. Pura-pura gila aja biar si Bima dan keluarganya jadi mikir ulang buat nerusin lebih jauh dari ini." Alden memainkan kedua alisnya sambil menatap Anya dengan mata berbinar-binar.
Anya sudah bersiap akan melemparkan bantal lagi ke Alden, tetapi sahabatnya itu lebih dulu mengamankan senjata tersebut, sebelum terjadi hujan bantal ronde kedua. Alden menepuk-nepuk susunan bantal di sampingnya, seolah bangga berhasil mengamankannya.
"Ah!" Anya menggeliat sambil kembali duduk menghadap Alden. "Ayo bantu pikirkan, bantuin cari cara gimana pertunangan aku sama tuh om-om bisa dibatalin."
"Kalau dari aku mending cara yang waktu itu pernah aku saranan. Coba cari pacar," ucap Alden santai, "dengan begitu enggak perlu terpaksa ngelanjutin pertunangan."
"Dipikir bisa segampang itu apa? Terutama ini lawannya Bima."
"Kalau gitu kita cari kandidat yang selevel, kalau bisa melewati pesona dia sekalian."
"Cari di mana? Butuh cepat, emang bisa semudah itu?"
"Bisa, kok, bisa." Suara Alden riang, di kepalanya terlintas satu ide yang mungkin bisa mereka pakai sebagai solusi pemecahan masalah Anya.
"Caranya?"
"Gampang."
Alden tidak langsung menjawab, dia justru mengeluarkan ponsel dari sakunya. Lalu gerakan jemari tangannya lincah membuka kunci layar dan sibuk mengetik sesuatu setelah mengusap layar beberapa kali. Kemudian, menyodorkan ponselnya ke arah Anya.
"Pakai itu," ucap Alden yang hanya mendapatkan kerutan kening di dahi Anya.
"Aplikasi apa ini?" Anya menatap bingung, beralih dari layar ponsel ke arah Alden dan kembali lagi ke ponsel.
"Aplikasi kencan, buat nyari teman kencan."
Anya seketika melotot. Dia memperhatikan ekspresi Alden yang tanpa dosa menawarkan hal tersebut.
"Enggak! Enggak!" histeris Anya menolak mentah-mentah. "Masa nyarinya di sini!"
Alden menarik tangannya kembali, lalu memilih menginstal aplikasi tadi ke ponselnya. "Jangan salah, aplikasi ini banyak dipakai orang-orang buat nyari kandidat kencan buta. Banyak juga yang malah sampai berhasil dan nikah bahkan punya anak.”
“Alden! Kamu enggak mikirin resiko negatifnya? Gimana kalau malah ketemu yang enggak-enggak? Penipu atau siapa gitu?”
Anya tidak habis pikir kalau Alden akan memberikannya saran seabsurd ini. Bisa-bisanya kepikiran pakai aplikasi buat mencari pasangan secara daring begini. Apalagi, Anya pernah mendengar gosip-gosip miring dari aplikasi serupa yang ditawarkan Alden. Dipakai lelaki yang tidak pandai berkomitmen dalam hubungan atau para pria penyuka tantangan liar. Ditawarkan oleh para penawar kehangatan sesaat.
Anya menggeleng-gelengkan kepala memikirkan kemungkinan terburuk yang terjadi. Dia tidak sudi menginstal aplikasi aneh itu.
Alden mendecak lidah. Dia bisa menduga apa yang sedang Anya pikirkan. “Coba aja dulu.”
“Nggak mau!” Anya bersikukuh dengan pendapatnya, memandang sengit ke arah Alden yang justru sibuk mengotak-atik ponselnya.
“Terus punya ide lain yang lebih bagus, nggak?” Alden melirik datar Anya yang bersungut-sungut.
“Ya jangan ide begini juga, Alden! Cara yang lebih normal kek.” Anya memijit pelipisnya yang terasa pusing oleh saran sahabatnya.
“Enggak normal gimana? Aplikasi gini justru banyak, nih. Coba lihat aja.” Alden kembali menyodorkan layar ponselnya ke wajah Anya. Gadis itu refleks memundurkan kepala karena kaget. “Coba lihat. Kalau emang enggak laku, enggak bener, pasti sudah lama hilang dan enggak bakalan ada di pencarian toko aplikasi.”
Anya melihat deretan beberapa aplikasi sejenis dengan berbagai bintang dari ulasan pemakainya. Angka yang pernah menginstal dan pengulasnya tak bisa dibilang sedikit.
“Tapi … ngeri tahu pakai aplikasi begituan.” Anya manyun. Di hatinya masih banyak keraguan soal ide memakai aplikasi tersebut.
“Dicoba dulu aja, Anya. Kita kan enggak tahu hasilnya gimana.”
“Gampang banget ngomongnya.”
“Nah, karena aku adalah sahabat kamu yang baik dan budiman. Lelaki gentleman yang patut diacungi jempol, makanya, aplikasinya diinstal lewat HP aku aja.” Alden menggoyangkan tangannya yang memegang ponsel.
Alden tersenyum jahil sambil memainkan alis. Dia lalu mengecek ponsel dan mengulum senyum, sedangkan Anya masih menimbang-nimbang memakai ide tak jelas bin konyol dari Alden atau mencari cara lain.
“Ya sudah kalau ragu. Aku sudah kasih saran, diterima atau enggak, ya tak masalah.” Alden menggidikkan bahu. “Tapi kamu punya ide lain, enggak? Ide aku cukup logis loh.”
Anya menggeleng. Kalau dia sendiri punya ide, dia tidak akan repot-repot bertanya. Dia lalu mendesah dengan wajah lesu.
“Enggak ada salahnya mencoba, Anya.” Alden berusaha meyakinkan. “Biar aku temani selama berinteraksi sama mereka dan pilihin kira-kira yang aman dan cocok. Kalau ada yang jail, aku bakal lindungi dan bantu kamu lari dari sana.”
“Janji?” Anya memperhatikan gurat-gurat wajah Alden, jika sekiranya sahabatnya mencoba berbohong.
“Janji. Tenang aja.” Alden menyodorkan jari kelingkingnya yang seketika ditepis oleh Anya. “Ya mana mungkin aku ngecelakain dan biarin kamu dalam masalah gara-gara ide dari aku.”
“Oke,” jawab Anya singkat dengan nada ragu-ragu. Konyol. Sungguh konyol sekali, batin Anya.
Alden seketika melompat dan duduk di samping Anya. Lalu memamerkan layar ponsel ke Anya. Mata gadis itu melotot saat menyadari beberapa informasi tentang dirinya ada di sana, beserta sebuah foto profil dari foto Anya yang pernah dipotret menggunakan ponsel Alden.
“Tenang aja. Aman, kok,” ucap Alden menenangkan.
Tak menunggu waktu lama, beberapa pesan masuk ke akun buatan Alden. Beberapa sapaan yang seperti pesan bot dan sebagian lagi pesan yang terasa sedikit alay.
“Alden, yakin ini bakal aman?” Kening Anya berkerut. Rasa ragu karena melihat deretan pesan dari nama akun asing yang semakin lama semakin bertambah dengan cepat.
“Biar aku bantu seleksi.”
Alden memeriksa beberapa akun yang menurutnya layak dijadikan pilihan. Terutama dari profil yang jelas latar belakang dan fotonya tidak memakai banyak filter. Alden lalu membalas beberapa pesan dengan sapaan ringan dan ceria. Dia kemudian mengabaikan pesan-pesan yang terkesan seperti bocah ingusan.
Anya memperhatikan dalam diam. Dia bersyukur tidak harus langsung membalas pesan-pesan masuk. Alden juga memblokir beberapa akun yang sudah terlihat tidak baik dari hasil pantauannya.
“Coba yang ini. Gimana menurut kamu?” Alden melirik Anya, menunjukkan foto profil si pemilik akun. “Dari tampilan sih lumayan. Ketikan pesannya juga ramah dan terlihat santai.”
Anya menerima ponsel Alden, menimbang-nimbang melakukan apa. “Terus gimana?”
“Coba aja. Kamu bales pesannya tuh,” saran Alden saat pesan yang sebelumnya dikirim Alden mendapat balasan.
Anya melakukannya sesuai perintah Alden. Dia waswas ketika mengetik beberapa kata singkat sebagai balasan. Namun, setelah beberapa saat, tidak ada hal aneh yang terjadi.
***
Anya merapikan penampilannya dari pantulan cermin toilet yang ada di mal. Pakaiannya kasual dan tas selempang kecil tersandar di wastafel. Anya memeriksa tatanan ramputnya. Setelah yakin tidak ada yang salah, Anya keluar dari sana.
Hari ini, dia akan bertemu dengan seseorang dari aplikasi kencan tersebut. Ditemani Alden tentunya. Mereka memilih tempat terbuka seperti mal, jika ada hal yang tidak beres. Anya akan kabur dengan bantuan Alden.
Tinggal 10 menit lagi sebelum janji temu yang disepakati. Alden menunggu di depan toilet, tersenyum begitu melihat Anya.
“Yuk, orangnya sudah sampai di parkiran katanya.” Alden memberi info dan berjalan di sisi Anya.
Mereka sampai di sebuah tempat yang nuansanya kafe klasik. Setelah masuk, Alden dan Anya memilih tempat duduk berbeda. Alden duduk di meja bersebelahan dari Anya dan memilih menghadap sahabatnya. Lalu mengode Anya kalau pasangan kencan butanya sebentar lagi sampai.
Ada lima orang baru yang datang secara bersamaan. Ada satu pasangan dan tiga orang laki-laki. Anya memperhatikan ketiganya. Salah satu dari ketiganya langsung memilih tempat duduk, sedangkan dua lagi terlihat memperhatikan sekitaran mereka. Namun, tidak satu pun yang terlihat sama seperti foto profil.
Anya memainkan sedotan dari gelas minuman yang diantarkan pelayan barusan. Dia kembali menunggu sampai suara laki-laki yang terdengar menyapanya.
“Permisi. Maaf, benar kamu Anya?”
Anya mendongakkan kepala cepat. Matanya dengan lihai memperhatikan penampilan lelaki di hadapannya. Dia kebingungan melihat wajah asing yang menyapanya.
“Perkenalkan, saya Ilham Perkasa. Kita janjian untuk bertemu di sini.”
Anya yang masih syok menyambut uluran jabat tangan lelaki itu. “Ah … ya, saya … Anya?”
Saking terkejut, Anya tanpa sadar malah seperti orang linglung ketika memperkenalkan diri. Lelaki itu terkekeh pelan dan memilih duduk berhadapan.
“Kamu sudah pesan makanan?” tanya Ilham sambil melambaikan tangan ke arah pramusaji.
Anya tak berani mengeluarkan suara dan mengeleng sebagai jawabannya. Lalu meminum es teh sembari melirik Alden. Ternyata, tak hanya Anya yang memberikan ekspresi terkejut. Wajah sahabatnya jauh lebih menggemaskan, dengan mulut sedikit terbuka.
Bagaimana mereka berdua tidak syok. Lelaki yang datang bahkan jauh lebih tua dari om Anya. Mungkin, cocok dipanggil dengan sebutan kakek. Anya dan Alden meneguk ludah. Anya lalu menatap Alden yang membalas tatapan tersebut, dengan kesal dan mengode sang sahabat. Apa mereka tidak salah orang?
Bahkan Anya hanya bisa menyerahkan soal memesan makanan pada lelaki di hadapannya. Dia sudah tertarik untuk menelan makanan, tapi merasa sungkan jika harus kabur sekarang.
“Kamu ternyata jauh lebih cantik dari di poto,” ucap Ilham tanpa basa-basi.
“Em, terima kasih … Pak?” balas Anya dengan canggung.
“Jangan panggil saya dengan sebutan pak. Cukup nama saya saja.”
“Ah … ya, pak, em maksudnya … Ilham.” Anya semakin bergidik ketika lelaki tua di hadapannya tersenyum. “Wajah kamu tidak terlihat seperti yang ada di foto.”
“Oh, kalau itu, foto saya ketika masih berumur 40 tahun. Anak saya yang membantu memilihkannya.” Ilham tersenyum.
Anya bernapas lega saat pramusaji mengantarkan pesanan makanan yang Ilham pesan. Mereka akhirnya bercakap-cakap sebentar, lalu berpisah dengan alasan Anya mendadak di telepon perihal pekerjaan. Setelah berpisah, Alden seketika melarikan Anya ke mobilnya. Mereka buru-buru kabur dari mal dan tanpa pikir panjang Alden langsung memblokir akun kakek tua tersebut.
Di kencan berikutnya—setelah memastikan dan mengecek seluruh akun calon pasangan kencan Anya—Alden membuat janji baru untuk Anya. Gadis itu setuju setelah tidak ada hal yang mengganjal dari rupa dan foto sehari-hari si laki-laki.
Mereka memutuskan untuk bertemu di salah satu kedai kopi ternama. Menghindari agar Anya tidak perlu tersiksa menelan makanan.
“Siang, Anya?” Seorang lelaki dengan tampilan kasual dan trendi berdiri di sebelah Anya.
Dia dengan cepat mengenali, tidak ada hal yang berbeda antara wajah asli dengan wajah di foto. Kulit wajahnya terlihat eksotis dan dipermanis dengan kacamata berbingkai tipis.
“Endru?” tanya Anya memastikan.
“Ya.” Endru menyalami tangan Anya dengan cara berbeda. Lelaki itu mengangkat tangan Anya dan mengecup bagian punggung tangannya.
Anya buru-buru menarik tangan karena merasa geli dan malu diperlakukan begitu di tempat umum. Beberapa orang sempat melirik mereka.
“Jangan malu-malu begitu, nanti hati saya makin meleleh.”
Anya tertawa canggung dan buru-buru menyeruput kopinya. Endru permisi untuk memesan kopi dan Anya menggunakan kesempatan itu untuk melirik tajam Alden. Namun, tiba-tiba kejadian mengejutkan terjadi.
Seorang wanita tiba-tiba berteriak dan menyiramkan minumannya. Kata-kata makian beserta hujatan lengkap memenuhi isi kafe.
“Dasar laki-laki berengsek! Manusia penipu! Balikin semua uang yang kamu ambil dari aku! Kamu enggak akan bisa kabur kali ini!”
Anya dan Alden tertegun, pasalnya, orang yang menerima hujanan air kopi tersebut adalah Endru. Tidak ingin terlibat jauh dengan hal tersebut, keduanya diam-diam keluar dari kafe dan pergi meninggalkan area tersebut. Sepertinya Anya benar-benar sial dengan aplikasi kencan yang ditawarkan Alden.
“Kok bisa-bisanya milih penipu sih Alden! Katanya udah kamu seleksi!” murka Anya memukul-mukul badan Alden kesal.
“Maaf! Beneran maaf!” balas Alden sambil meringis menahan sakit. “Yang berikutnya, bakalan aku cek sampai latar belakangnya. Janji! Suer, Anya.”
Anya menghela napas panjang dan masuk ke dalam mobil mereka dengan manyun.
“Setidaknya, masih ketahuan di awal kalau tukang tipu,” ujar Alden menyalakan mesin mobil dan melaju keluar dari parkiran.