49 Kencan Buta

2497 Kata
“Nggak mau! Nggak ada yang beres. Sudah deh, mending cari cara lain aja!” Anya membanting map ke atas meja kerjanya. Sudah cukup dalam satu minggu ini, dia menuruti semua saran dari Alden. Kencan buta yang betul-betul buta! Tidak bisa memilih pasangan dengan transparan dan info yang nyata. Informasi yang dicantumkan dalam profil semua palsu. Sangat berbanding terbalik dengan realita. “Dicoba dulu, Nya. Ini yang terakhir, deh. Coba kamu lihat foto dan profilnya. Ini idaman kamu banget.” “Sebelum-sebelumnya juga kamu ngomong itu. Tapi selalu nggak ada yang bener!” Anya mendengkus lalu bergidik geli. Diingat kembali kejadian absurd beberapa hari dalam minggu ini. Mulai dari teman kencan om-om, mas-mas kutu buku, ada yang tampan tapi pakai behel warna ungu, sampai penipu. Semua sudah Anya temui. Untung saja tidak sampai berjabat tangan atau sentuhan fisik lainnya karena pandemi. Lalu sekarang Alden masih bersikukuh ingin mencarikannya teman kencan? Bisa-bisa, pria beristri dan beranak lima yang akan Anya temui kali ini. Alden masih ngotot.”Kali ini beda, Nya. Aku sudah cari tahu sedetail mungkin. Sampai ke akun sosial medianya juga aku selidiki.” Tatapan Anya berubah. Yang awalnya acuh tak acuh, kini mulai melirik Alden. “Nih, nih. Lihat! Orang tuanya punya hotel, Nya. Fix dia kaya raya sampai ke tulang-tulangnya.” Alden mulai menyodorkan ponselnya ke arah Anya. Akun sosial media laki-laki bernama Dewa menarik minatnya. Lebih dari 10.000 pengikut cukup membuktikan kepopuleran laki-laki berusia 27 tahun itu. Ratusan foto yang diunggah ke sosial medianya tidak menampakkan kekurangannya sedikitpun. Usianya juga tidak terlalu jauh dari Anya. Dan yang terpenting, keluarga Dewa pasti jauh lebih kaya dari Bima. Tidak ada alasan Tante Shinta akan menolak laki-laki itu. Anya yakin. Alden semringah. Dia sudah membayangkan, jika sahabatnya memiliki kekasih kaya raya, tentu akan lebih menguntungkan untuknya. Setidaknya, Alden punya koneksi untuk menata masa depannya jadi jauh lebih cerah. “Aku sudah atur pertemuan kalian. Tadi, aku pakai akun sosial mediamu buat kirim pesan ke dia. Biar sama-sama yakin. Anya terbelalak. Tidak menyangka, Alden lebih bersemangat ketimbang dirinya. “Kamu pakai HP aku?” selidik Anya. Jari telunjuk Alden bergerak tepat di depan wajah Anya. “No, no, no! Aku Cuma masuk pakai username dan pasword kamu.” Gigi rata Alden kembali terpampang. “Ternyata paswordnya masih belum ganti sejak dulu. Masih alay!” ejek Alden. “Nggak usah memicu pertikaian, deh, Den! Aku lagi nggak semangat untuk berperang,” ucap Anya kembali malas-malasan. Diusap-usapnya dahi beberapa kali, lalu menelungkupkan kepala di bahu kursi. Rasa kantuknya memang tidak pernah absen di jam-jam segini. “Bercanda, Nya. Yailah, sensian amat sekarang! Coba baca, deh. Aku tuh sudah nyaranin ketemuan di kafe. Eh, dia malah minta ketemuan di hotel.” Rasa kantuk Anya mendadak enyah. “Hotel mana?” tanyanya sembari mengangkat kepala. “Marison Hotel, Jakbar. Hotel bintang 4, nih. Dan yang lebih fantastisnya lagi, ni hotel kayaknya punya keluarga dia, Nya.” Anya terbelalak saat telinganya menerima informasi dari Alden. “Seriusan? Tahu dari mana? Jangan bilang menerawang!” Anya mengepalkan tangan tepat di depan wajah Alden. Bogem mentahnya siap-siap mendarat jika Alden memakai jurus perdukunannya lagi. “Enggak! Ini valid. Sudah dua jam aku ngestalk laki-laki ini. Aku juga nyari tahu informasi tentang interior hotel itu. Dan banyak banget yang sesuai dengan spot foto yang diunggah Dewa ke akun sosial medianya. Fix, pasti hotel itu punya dia, Nya!” Alden meletakan kedua telapak tangannya yang saling bertaut di bekang kepala, lalu bersandar pelan. Anya masih diam. Tidak ada respons setuju maupun penolakkan. Otaknya masih mencerna satu persatu perkataan Alden. Sosok Dewa terlalu sempurna untuk dijadikan pasangan, tapi juga sayang untuk dilewatkan. Tidak ada salahnya untuk mencoba. Anya berdiri tiba-tiba lalu berkata, “Oke, kita coba! Ini yang terakhir!” Senyum Alden mengembang setelahnya. “Oke, berarti sekarang bisa dapat makan siang, ‘kan?” *** Anya mendengkus. Diseruputnya segelas capucino yang sudah mulai kehilangan hangat. Dia melemaskan punggung yang lelah akibat seharian bekerja duduk di depan laptop. Alih-alih menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, dia malah memeriksa ponsel. Belakangan ini, entah kenapa seperti ada yang hilang dari dirinya. Entah karena kencan buta yang direncanakan Alden atau karena netranya sudah tidak melihat Bima berhari-hari. Sejak malam itu, Anya akui Bima tidak pernah mengunjunginya lagi. Hikam mengambil alih semua urusan bisnis yang berkaitan dengan Doulliet Resto. Awalnya, Anya senang. Namun, akhir-akhir ini, dia merasa ada yang aneh dengan Bima. Anya mengacak rambut sambil menguap. Ditatapnya wajah kusutnya pada cermin kecil di atas meja. “Tenang, Nya. Nggak usah dipikirin. Malah bagus ‘kan kalau Bima nggak muncul-muncul. Anggap aja dia sudah hilang ditelan bumi. Perjodohan otomatis batal, ‘kan? Dan kamu bisa bebas memilih laki-laki mana yang akan jadi pasanganmu nanti.” Anya bermonolog. Meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja tanpa Bima. Akan lebih baik malah. Diliriknya jam di pergelangan tangan. Sudah pukul empat sore. Berarti, kurang tiga jam lagi dari janji temu dengan Dewa. Anya menyudahi semua aktivitasnya di restoran. Lebih baik pulang cepat, memilih pakaian bagus, berdandan cantik dan menghabiskan waktu untuk berdoa. Memohon agar kencan buta kali ini benar-benar lancar jaya. *** Anya melemaskan kesepuluh jemarinya, lalu menarik napas dalam-dalam saat turun dari taksi online. Dia menyampirkan helaian rambutnya yang menutup telinga dan mulai masuk ke pelataran hotel. Off shoulder dress berwarna pastel dia pilih untuk menyempurnakan penampilannya malam ini. Gaya bahu yang cenderung terbuka membuatnya memutuskan memakai cape blazer. Anya sudah benar-benar bertransformasi seperti sosialita muda yang anggun terlebih lagi karena memakai heels tinggi. Sangat berbanding terbalik dengan gaya pakaian yang dia kenakan sehari-hari. Hiruk pikuk orang berlalu lalang memecah fokus Anya. Kewajiban memakai masker membuat gadis itu susah mengenali wajah. Dia kembali mengeluarkan ponsel. Membaca setiap detail pesan Dewa tentang lokasi bertemu. Interior mewah yang menggambarkan arsitektur ala eropa membuat Anya menganga. Segurat senyumnya timbul. Bukan karena dia matrealistis dan senang karena kemungkinan besar hotel itu milik Dewa. Namun, karena dia cukup yakin Dewa tidak akan mendapat penolakan dari tante Shinta. Anya celingak-celinguk sambil memegang ponsel. Senyum tipisnya timbul saat menemukan apa yang dia cari. Meja resepsionis. Seperti titah Dewa, Anya diminta menyebutkan namanya pada resepsionis hotel. Wanita cantik dengan rambut yang dicepol rapi itu pun memanggil seorang laki-laki yang berdiri tidak jauh darinya. Mereka berdua berbisik. Anya semakin gugup dibuatnya. “Lewat sini, biar saya antar,” ajak laki-laki berseragam dengan nametag Bayu Adrian. Anya hanya bisa menuruti tanpa pertanyaan. Saat mendapati Bayu membawanya menuju lift, rasa gugup Anya berubah jadi kekhawatiran. Beberapa kali dia memperhatikan sekitar dengan cemas. Restoran ada di lantai 1. Kenapa harus naik lift? Bayu menekan angka lima sebelum pintu lift kembali merapat. Kenapa harus di lantai lima? Napas Anya semakin tidak karuan. Berkali-kali dia mencoba menghubungi Alden, tapi tidak ada jawaban. Bahkan ponsel Alden tidak aktif. Entah karena kehabisan daya atau sengaja dia matikan. Pintu lift terbuka. Anya melangkah keluar dengan pelan, menyusul Bayu yang sudah lumayan jauh berada di hadapannya. “Maaf, Mas. Kita mau ke mana, ya?” Anya memberanikan diri untuk bertanya. Bayu tersenyum sambil menunduk hormat. “Sesuai perintah, Pak Dewa menyiapkan privat dinner, Bu. Ruangannya ada di depan.” Bola mata Anya mengikuti arah tangan Bayu yang menjulur. Degup jantungnya meningkat lagi. Dewa benar-benar mapan. Untuk pertemuan pertama saja, dia mengatur privat dinner di lantai 5. Namun, perasaan cemas masih menghantui Anya. Bayu pamit undur diri setelah mengetuk dan membuka pintu. Anya masih tergugu di tempatnya. Belum melangkah masuk sedikitpun. Dari ambang pintu, bisa dilihat jelas seorang laki-laki duduk memunggunginya. Bahu tegap dibalut setelan jas yang Anya yakin terbilang mahal semakin membuat dadanya berdebar. “Anya?” Dewa menoleh ke arahnya. Anya berusaha untuk tetap tenang, meski raut wajahnya tidak berkata demikian. “I—iya, benar.” Anya masuk setelah mengonfirmasi diri. Duduk berhadapan dengan Dewa sangat berbeda rasanya ketimbang berhadapan dengan Bima, apalagi Alden. Ada rasa tidak biasa saat menatap wajah Dewa. Mungkin, karena ini kali pertama. Dewa tersenyum, lesung di pipi kirinya semakin memacu degup jantung Anya. “Naik apa ke sini?” tanya Dewa membuka obrolan. “Emh, naik taksi online, Mas,” jawab Anya, jujur. Awalnya dia ingin mengatakan naik mobil pribadi karena gengsi. Namun, hubungan yang diawali dengan kebohongan tentu tidak baik, bukan? Dewa tersenyum lagi. “Panggil Dewa aja. Jangan panggil mas.” Kesepuluh jemarinya saling bertaut di atas meja. “Kalau tahu, mending aku jemput kamu tadi.” Oh Tuhan. Apakah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? Baru saja digombal seperti itu Anya sudah jadi makhluk tak berdaya. Bagus kalau wajahnya tidak memerah. Tiga orang pelayan memasuki ruangan dengan senyap. Mereka menata hidangan sebaik mungkin di atas meja. Mata Anya berbinar saat melihat tampilan makanan yang begitu cantik dan sayang untuk di makan. “Oh, ya, di profil kamu, kamu punya restoran, ya?” selidik Dewa. Anya mengangguk cepat sambil meneguk ludah. Dia berusaha untuk tetap terlihat elegan. Setelah beberapa kali tarikan napas panjang, Anya mempertahankan senyuman. “Ya, restoran warisan, sih. Aku belum bisa punya restoran sendiri, Mas. Eh, maksudnya Dewa,” ucap Anya, malu-malu. Dewa tersenyum. “Warisan?” Kedua alisnya terangkat saat bertanya. Anya mengangguk lagi. “Orang tua aku sudah meninggal. Jadi, aku yang nerusin bisnis mereka. Ya, masih sambil belajar sih. Pelan-pelan.” Dewa bertepuk tangan pelan. “Wah, aku nggak nyangka kamu sehebat ini. Dan maaf juga ya, aku nggak tahu tentang orang tua kamu. Maaf, kalau sudah menyinggung.” Tangan kiki Dewa menyentuh tangan kanan Anya. Tubuh Anya mendadak kaku sesaat, seakan tersengat listrik ratusan watt. Anya menggeleng cepat sambil pelan-pelan menarik tangannya. Sentuhan tiba-tiba membuatnya merasa tidak nyaman. Namun, Anya juga paham kenapa Dewa menyentuh tangannya barusan. Bentuk kecil dari empati saat mendengar kabar bahwa Anya yatim piatu. Anya yakin itu. “Ya udah, ya udah. Lebih baik, kita makan dulu. Sambil lanjut ngobrolnya. Sudah jam 7. Biasanya perempuan anti makan di atas jam 7 malam, ‘kan?” Anya cengengesan. Diraihnya mocktail di hadapan. Disesap sepelan mungkin. Menikmati rasa manis yang menyapa tenggorokan. Hampir sama dengan rasa manis yang mampir ke hatinya. Dewa memang sangat perhatian. Padahal, Anya sangat sering menyantap makanan di atas jam 10 malam. Lambungnya selalu siap siaga akan hal itu. Kemudian dia beralih ke semangkuk kecil sup hangat. Anya mengaduk-aduk sup dengan perlahan sebelum menyantapnya. Degup jantungnya masih berpacu tatkala mendapati kedua mata Dewa tidak beralih sedikitpun darinya. “Kamu nggak makan?” tanya Anya canggung. Kedua alis Dewa terangkat. Dia tertangkap basah sedang memperhatikan Anya lekat-lekat. Dewa tersenyum lagi. “Aku nggak nyangka, ternyata ada ya, gadis yang terlihat sangat cantik saat dia makan.” Bernapas Anya! Bernapas! Jangan kesenangan dulu. Semburat merah naik ke telinga Anya. Sebisa mungkin dia menahan bibirnya agar tidak tersenyum lebar. “Maksudnya apa, ya?” tanya Anya, sok polos. Dewa terkekeh. “Kamu Anya. Kamu. Kamu terlihat sangat cantik saat makan.” Oh Tuhan. Anya rasa jantungnya sudah merosot hingga ke kaki saat ini. Tidak terdengar lagi degup jantung di dadanya. Apakah Anya sudah mati? Atau dia pingsan karena tidak sanggup menahan diri? Hampir satu jam pertemuan, sama sekali tidak ada yang menyimpang. Beberapa kali Anya tertawa dibuatnya. Dewa cukup humoris. Tidak kaku seperti si Kaleng biskuit. Dari cara menanyakan kabar, Anya yakin Dewa juga cukup hangat. Tidak dingin seperti Bima yang selayaknya kulkas berjalan. “Anya ... boleh aku mengambil foto dengan kamu?” tanya Dewa sangat sopan. Anya langsung semringah. “Tentu.” Dewa mengeluarkan ponsel dari sakunya. Mata Anya memicing. Itu salah satu ponsel impian Anya. Harganya yang cukup membuat kantong jebol mengurungkan niat Anya untuk memilikinya. “Bagaimana posenya?” tanya Anya. Dia menopang lehernya dengan tangan kanan lalu memiringkan kepala sedikit saat Dewa mengarahkan kamera. “Cantik,” puji Dewa saat melihat hasil fotonya. Mereka mengambil foto berkali-kali dengan berbagai gaya. Senyum malu-malu kini berubah jadi tawa. Bahkan kini Anya maupun Dewa tidak segan menunjukkan sisi konyol mereka. Mulai dari berpose mulut bebek, dua jari di atas kepala hingga gestur finger heart ala-ala Korea. Mereka selalu tertawa saat melihat hasil fotonya. “Hmm, Anya. Boleh aku pindah ke samping kamu?” tanya Dewa. Tidak ada yang salah dengan permintaan Dewa, Anya mengangguk cepat menyetujuinya. Dewa menggeser kursi ke sebelah Anya. Beberapa foto sudah mereka abadikan lagi. Anya masih fokus melihat hasil foto saat Dewa menatapnya dengan aneh. Sudut mata Dewa mengarah ke tempat yang tidak seharusnya. “Coba kamu buka aja blazernya, Nya. Bahu kamu indah, lho. Sayang kalau ditutupi.” Dewa memujinya berkali-kali. Anya tergugu sesaat ketika Dewa menurunkan blazernya tanpa persetujuan Anya. Namun, anehnya Anya tidak juga menolak. Dewa merangkulkan tangannya pada bahu Anya yang terbuka. Awalnya, Anya kaget. Dia sangat tidak nyaman dengan sentuhan seperti ini. Degup jantung yang sedari tadi menderu karena jatuh hati, kini berubah jadi rasa was-was yang menghantui. “Sori, Dewa. Tapi nggak usah rangkul-rangkul nggak apa-apa, ‘kan?” tanya Anya ragu-ragu. Raut wajah Dewa seketika berubah. Netra yang awalnya terasa hangat kini berubah menakutkan. Dewa memelototi Anya lekat-lekat. Manik mata Anya bersitatap dengan Dewa yang menjadi liar. Alarm tanda tidak nyaman berdenging di kepala Anya saat tangan Dewa menyusup ke betisnya. Napas Anya semakin memburu saat dress-nya tersingkap. Jari Dewa bergerak pelan menjarah pahanya yang menegang. Tangan Anya yang terlipat di pangkuan mulai gemetar. “Cukup! Apa-apan ini!” Anya tidak tahan. Dia memberanikan diri untuk melawan walau sambil bergetar. Wajah Dewa tidak lagi terkesan ramah. Hanya amarah yang tersisa di sana. Dewa ikut berdiri. Dia mencengkram kedua bahu Anya kuat-kuat hingga Anya terpojok, tidak bisa bergerak. “Kamu sudah setuju bakal nemenin aku malam ini! Jadi nggak usah munafik!” pekik Dewa tepat di telinga Anya. Dia kembali mengelus pipi Anya hingga leher. “Jangan nangis! Kita bersenang-senang aja malam ini. Tenang aja, aku bawa pengaman, kok!” Tubuh Anya menegang. Air matanya luruh saat naluri otaknya membayangkan sesuatu. Sekuat mungkin Anya meronta, tapi percuma. Tenaganya terlalu lemah untuk mengalahkan Dewa. Dewa mengeratkan cengkraman pada kedua lengan Anya yang terpojok di tembok. Anya terus menangis saat bibir Dewa mendekati wajahnya. “Dewa, please. Jangan begini!” ucap Anya sambil menghindar setengah mati. Cengraman Dewa semakin menguat. Tidak ada kelembutan lagi di sana. Hingga akhirnya, Anya mengeluarkan jurus terakhir. Dia meludahi Dewa. Spontan Dewa menunduk memegang wajahnya. “Cewek sialan!” teriaknya penuh amarah. Namun, Anya tidak kalah cepat. Sepatu hak tinggi sudah diarahkan ke bahu Dewa. Dengan kekuatan yang tersisa, Anya mendaratkan dua bahkan tiga pukulan di bahu hingga tengkuk laki-laki berengsek itu. Dewa meringkuk sambil memekik kesakitan. Anya tidak tinggal diam. Dia segera meninggalkan ruangan yang seketika berubah jadi neraka baginya. Dengan bertelanjang kaki, Anya berlari mencari bantuan. Namun, sial! Lantai lima sangat sepi. Anya menekan-nekan tombol lift dengan perasaan was-was. Napasnya terengah sambil terus memperhatikan sekitar. Terus-terusan menengok ke belakang. Siap siaga jika Dewa kembali menyerang. Pintu lift terbuka. Anya diam sesaat. Kedua tangannya meremas dress dengan cemas. Cukup lama dia membeku sebelum pikirannya mengonfirmasi sesuatu. Anya melangkah ke lift. Berhambur masuk ke pelukan Bima yang masih sibuk menatap ponsel. Anya mencoba tetap bernapas. Dia menghidu aroma kemeja Bima dalam-dalam. Jantungnya masih berdegup kencang saat Bima mengeratkan pelukan. Tanpa bertanya, Bima mengusap bahu Anya yang masih ketakutan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN